Kelenteng Hok Hien Bio Kudus

November 15, 2019. Label:
aroengbinang.com - Langit sudah mulai pucat ketika kami tiba di lokasi Kelenteng Hok Hien Bio Kudus karena matahari sudah memanjat sekira 45 derajat menuju titik puncak, dan bangunan kelenteng menghadap ke utara, sedikit ke timur laut, arah Puncak Gunung Muria. Umumnya kelenteng memunggungi gunung dan menghadap laut, namun laut di selatan sangat jauh, lebih dekat laut di sebelah barat dan utara, di belakang gunung.

Itu karena Kudus berada di kaki semenanjung Jepara yang berbentuk menyerupai punuk Unta, dengan sisi sebelah kiri curam hingga Kota Semarang, dan kaki sebelah kanan curamnya lebih pendek dan melandai hingga Rembang. Gunung umumnya dianggap sebagai tempat dimana dewa pelindung bersemayam, sedangkan laut adalah sumber datangnya pengaruh jahat yang harus ditangkal.

Halaman Kelenteng Hok Hien Bio Kudus yang cukup luas ditutup dengan paving blok rapi. Ada sedikit tanaman perdu di sebelah kanan dan pohon tanggung agak ke belakang yang sedikit membantu pemandangan agar tak terlihat sangat gersang. Tak ada patung sepasang naga berebut mustika di puncak atap, yang lazim terlihat di banyak kelenteng seperti ini.

kelenteng hok hien bio kudus

Tampak muka Kelenteng Hok Hien Bio Kudus dengan wuwungan datar memanjang, dan ada wuwungan kedua di belakangnya yang berbentuk pelana. Warna dominan merah dan kuning mewarnai keseluruhan penampakan luar kelenteng ini, dengan gelantungan lampion pada langit teras dan tulisan dalam huruf Tionghoa di atas ketiga pintu masuknya.

Jika saja pengurus Kelenteng Hok Hien Bio Kudus membuat terjemahan dari tulisan tentu akan lebih bermanfaat bagi pengunjung karena biasanya memiliki nilai filosofis yang dalam. Lagi pula sangat boleh jadi ada warga keturunan Tionghoa sendiri yang tak begitu mahir membaca tulisan itu.

Pada teras pintu masuk sebelah kanan terdapat sepasang arca singa penjaga (Ciok say) terbuat dari porselen berwarna, yang jantan memegang bola dan yang betina memegang anak mereka. Di tengahnya terdapat hiolo kaki tiga untuk menancapkan batang hio setelah sembahyang kepada Thian, Dewa Langit. Di sebelah kanan terlihat tempat pembakaran kertas uang (Kim Lo) yang berbentuk labu besar.

Sebagaimana di kelenteng lainnya, setelah berakhirnya orde baru, setiap tahun baru Imlek Kelenteng Hok Hien Bio Kudus juga mengarak rupang Toa Pe Kong dan menampilkan kesenian liang liong dan barongsai. Perayaan Bee Gwee yang diselenggarakan sejak 2006 oleh kelenteng ini diikuti perwakilan kelenteng dari berbagai daerah di tanah air.

kelenteng hok hien bio kudus

Altar Hok Tek Ceng Sien (Dewa Bumi) di Kelenteng Hok Hien Bio Kudus, dewa yang dipuja oleh para petani dan pedagang agar panen melimpah dan usaha perdagangan untung besar. Di tanah leluhurnya orang Tionghoa banyak yang bertani menanam padi, namun di negeri ini kebanyakan keturunan Tionghoa hidup dengan berdagang. Jika pun ada yang bertani, sangatlah jarang. Jika pun ada mereka hanya menjadi tuan tanah, sebagai warisan dari jaman kolonial.

Di Propinsi Hok Kian Tiongkok, juga di Taiwan dan di sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia, para petani dan pedang melakukan sembahyang kepada Hok Tek Cin Sin pada tanggal 2 dan tanggal 16 penanggalan Imlek setiap bulan, agar hasil panen dan usahanya lancar. Upacara Sembahyang ini disebut Cuo Ge (Zuo Ya).

Sembahyang di altar Hok Tek Cin Sin pada tanggal 2 bulan 2 Imlek disebut Sembahyang Awal Tahun Thao Ge. Sedangkan sembahyang tanggal 16 bulan 12 Imlek disebut Sembahyang Akhir Tahun Be Ge, sebagai pernyatakan syukur atas berkah panen dan lancarnya usaha dagang selama setahun. Pada saat itu, para pedagang biasanya mengundang pelanggan dan karyawannya untuk hadir dalam jamuan pesta.

Terkabulnya doa yang dipanjat adalah keinginan dari setiap orang yang menyadari bahwa ada kekuatan tak terlihat yang mampu menjadikan hitam putihnya kehidupan seseorang. Baik itu menyangkut keberhasilan di sekolah, rejeki, pangkat, kemajuan usaha, kehidupan perkawinan dan anak, serta keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di alam langgeng nanti.

Sebelum masuk ke dalam ruang utama kami sempat berbincang dengan biokong atau penjaga kelenteng, seorang pria dengan kumis hitam yang lebat bernama Khundori yang telah berusia lebih dari setengah abad, ditemani seorang pria lain. Usia kelenteng dikatakan telah lebih dari 260 tahun namun saya tak menemukan prasasti yang menyebut tahun berdirinya.

Ada pula altar Kwan Im Hud Cow di Kelenteng Hok Hien Bio Kudus, sesuai tengara nama yang dipasang di sana. Di tengah ada tiga rupang (patung) Kwan Im dalam posisi meninggi, dengan dua terendah berwajah menyerupai pria memakai baju yang hampir mirip dengan rambut diikat di atas kepala, dan yang paling atas berwajah menyerupai wanita dengan dua tangan di depan perut dan dua tangan menangkup di depan dada, serta ada sekitar sepuluh atau sebelas tangan di masing-masing kanan dan kiri badannnya.

Kwan Im Hut Co atau Dewi Kwan Im atau Buddha Avalokitesvara, juga disebut sebagai Kwan Si Im Pho Sat karena sifatnya yang amat welas asih. Banyaknya tangan pada rupang yang paling tinggi boleh jadi merupakan perwujudannya sebagai Chien Chiu Kwan Im atau Kwan Im Tangan Seribu yang sanggup mengabulkan semua permohonan umatnya.

Altar lainnya di Kelenteng Hok Hien Bio Kudus diperuntukkan bagi pemujaan Hian Thian Siang Tee. Patungnya digambarkan sebagai seorang raja dengan mata setengah menutup, kumis dan jenggot hitam panjang, mengenakan pakaian kebesaran dan mahkota pendek, diapit sepasang naga emas, dan di belakangnya ada pengawal berwajah kemerahan. Pada bagian depan kiri kanan ada ornamen binatang mistis, menyerupai singa, dan di belakangnya lagi sepertinya Kilin.

Kedudukan Hian Thian Siang Tee di kalangan Dewa Langit sangat tinggi, setingkat di bawah Kaisar Giok atau Giok Hong Tay Te yang adalah penguasa surga dan semua alam lain di bawahnya, termasuk alam manusia dan neraka. Hian Thian Siang Te berkuasa di Langit bagian Utara dan merupakan salah satu dari Empat Maha Raja Langit. Altarnya dianggap penting karena ia adalah dewa yang memegang wewenang urusan kekuatan gaib, ilmu gaib dan makhluk gaib.

Kelenteng Hok Hien Bio Kudus

Alamat : Jalan Ahmad Yani No 10, Kudus, Jawa Tengah. Lokasi GPS : -6.8172862, 110.8388355, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Kelenteng Hok Hien Bio

Altar Kwan Im Hud Cow di Kelenteng Hok Hien Bio Kudus, sesuai tengara nama yang dipasang di sana. Di tengah ada tiga rupang (patung) Kwan Im dalam posisi meninggi, dengan dua terendah berwajah menyerupai pria memakai baju yang hampir mirip dengan rambut diikat di atas kepala, dan yang paling atas berwajah menyerupai wanita dengan dua tangan di depan perut dan dua tangan menangkup di depan dada, serta ada sekitar sepuluh atau sebelas tangan di masing-masing kanan dan kiri badannnya.

kelenteng hok hien bio kudus

Altar Hian Thian Siang Tee di Kelenteng Hok Hien Bio Kudus. Patungnya digambarkan sebagai seorang raja dengan mata setengah menutup, kumis dan jenggot hitam panjang, mengenakan pakaian kebesaran dan mahkota pendek, diapit sepasang naga emas, dan di belakangnya ada pengawal berwajah kemerahan. Pada bagian depan kiri kanan ada ornamen binatang mistis, menyerupai singa, dan di belakangnya lagi sepertinya Kilin.

kelenteng hok hien bio kudus

Sisi sebelah kanan kelenteng Hok Hien Bio Kudus yang memperlihatkan hiolo Thian berkaki tiga di tengah, diapit oleh sepasang Ciok say (singa penjaga). Tempat pembakaran kertas uang bagi arwah leluhur (Kim lo) berbentuk labu merah bergaris kuning tampak di sebelah kanan. Plang sebuah rumah sakit tampak di belakang sana.

kelenteng hok hien bio kudus

Hiolo Thian (Dewa Langit) diapit oleh rak tempat lilin di depan pintu sebelah kanan, yang menjadi pintu masuk ke dalam kelenteng. Masuk dan keluarnya orang di kelenteng diatur berdasar suatu kepercayaan yang berbasis filosofi. Ada baiknya tulisan Tionghoa pada pintu dibuat terjemahannya, karena bahkan orang Tionghoa sendiri mungkin banyak yang tidak bisa membacanya.

kelenteng hok hien bio kudus

Masih di pintu masuk yang berada di sisi sebelah kanan, memperlihatkan lukisan harimau yang berada pada dinding. Ini agak aneh karena harimau biasanya diletakkan di pintu keluar karena melambangkan lepas dari segala bentuk bahaya, juga lambang keuletan dan rendah hati. Lazimnya orang masuk ke dalam kelenteng melalui pintu naga, dan keluar melalui pintu harimau, dimana naga melambangkan kemakmuran, keselamatan, dan naik derajat atau pangkat.

kelenteng hok hien bio kudus

Sebuah lemari hias elok tempat untuk meletakkan hiolo dan ciamsi. Pada bagian depan terdapat kotak-kotak berisi relief lukisan berwarna keemasan yang indah. Ada relief celeng, harimau, dewa naik burung dilihat dua dewa lainnya, Kilin, dan relief anjing. Di bawahnya adalah relief bunga dan suluran, dan di bawahnya lagi ada relief sepasang naga indah yang tengah berebut mustika.

kelenteng hok hien bio kudus

Pandangan pada altar sembahyang Hok Tek Ceng Sin dengan ditarik lebih ke belakang, memperlihatkan sejumlah bendera dan umbul-umbul yang dipasang di depan kayu pemisah berukir. Ada lukisan harimau dan naga pada bendera. Rupang Dewa Bumi sendiri diapit oleh dua dewa di kiri kanannnya, dan satu lagi di belakangnya.

kelenteng hok hien bio kudus

Sepasang kayu berbentuk khusus yang biasa dipakai dalam upacara ritual ciamsi terlihat diletakkan di depan sebuah hiolo. Posisi masing-masing kayu itu memberi arti tertentu pada pembacaan, yang membuat orang harus mengulang lemparan atau tidak.

kelenteng hok hien bio kudus

Altar pemujaan Houw Ciang Kun (Jendral Harimau) yang letaknya berada di bawah altar Hok Tek Ceng Sin karena memang merupakan harimau pengawalnya. Ia membantu kerja Dewa Bumi untuk mengusir roh jahat dan melindungi rakyat serta anak-anak. Harimau adalah lambang pembawa kebaikan.

kelenteng hok hien bio kudus

Altar Kong Tik Cun Ong yang terkenal sebagai dewa pelindung masyarakat Nan An dan kaum perantauan. Hari lahirnya diperingati tanggal 22 bulan 8, dan wafatnya tanggal 22 bulan 2 Imlek. Ia melambangkan anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, sehingga diangkat menjadi dewa dalam usia 16 tahun.

kelenteng hok hien bio kudus

Altar Tee Cong Pou Sat (Bodhisattva Ksitigarbha) yang tangannya memegang Cintamani (permata kebijaksanaan) untuk menerangi kegelapan neraka, dan satu tangan lagi memegang Tongkat yang dapat membuka pintu neraka. Ia menyeberangkan, menyelamatkan makhluk-makhluk yang menderita hingga tiba di Nirvana.

kelenteng hok hien bio kudus

Altar Jie Lay Hud, atau Buddha Tertawa, yang sering digambarkan sebagai biksu gendut yang menggenggam tasbih dengan wajah ceria. Ia dikagumi lantaran kebahagiaan, rasa puas dan kebijaksanaannya. Ada kepercayaan bahwa memegang perutnya akan membawa kekayaan, keberuntungan dan kemakmuran.

kelenteng hok hien bio kudus

Ciauw Kun Kong adalah Dewa Dapur karena pada jaman dahulu altarnya sering diletakkan di dapur. Ia juga sering dipuja sebagai Dewa Api, dan kini diletakkan di ruang sembahyang bersama dewa lainya. Perayaan Dewa Dapur diselenggarakan pada tanggal 3 bulan 8 Imlek. Dewa ini memiliki kedudukan tinggi karena juga sebagai sebagai Dewa Pelindung Rumah Tangga, yang bertugas memberi berkah, melindungi rumah tangga, serta menghukum penghuni rumah sesuai kesalahan dan dosanya.

kelenteng hok hien bio kudus

Altar Sun Go Kong di sebelah kiri, dan altar Cow Su Kong di sebelah kanan. Sun Go Kong merupakan tokoh utama kisah Perjalanan ke Barat, menemani biksu Tong Sam Cong. Ia amat gagah, membawa tongkat sakti Ruyi Jingu Bang yang beratnya 13.500 kati (8.100 kg), memiliki berbagai mantra untuk menghembuskan angin, membelah air, menyulap lingkaran untuk melindungi dari ancaman setan. Sedangkan Co Su Kong adalah Dewa Pelindung para imigran yang berasal dari Coan Ciu.

kelenteng hok hien bio kudus

Pandangan tegak pada altar Kwan Im Hud Cow yang memperlihatkan keelokan patung dan rumah-rumahan yang menaunginya. Sepasang pengawal tampak berdiri di sisi kiri kanannya. Dewi Kwan Im digambarkan pada posisi duduk di atas bunga teratai yang indah.

kelenteng hok hien bio kudus

Sudut pandang lainnya pada altar Hian Thian Siang Tee, dengan kawalan sepasang naga berwarna keemasan di sebelah kanan kirinya. Dua buah kotak bambu tampak mewadahi bilah-bilah kayu atau bambu yang digunakan dalam ritual ciamsi.

kelenteng hok hien bio kudus

Altar sembahyang bagi Kwan Tee Kun (Kwan Seng Tek Kun), yang lebih terkenal sebagai Kwan Kong, jenderal terkenal yang hidup pada zaman Tiga Negara (Sam Kok, 165 – 219 M). Ia mencapai kesempurnaan dengan gelar Bodhisatva Satyakalama, yang setingkat dengan Bodhisatva.

kelenteng hok hien bio kudus

Altar sembahyang bagi Sakyamuni Buddha atau Ji Lay Hud. Beliau adalah Sidharta Gautama atau Buddha Gautama yang lahir pada tahun 560 SM di Kapilavastu dekat Nepal. Dalam semedinya di bawah pohon Bodhi, di hutan Buddha Gaya, ia memperoleh pencerahan ketika berusia 35 tahun, dan sejak itu disebut sebagai Buddha Gautama. Hari lahirnya diperingati pada tanggal 15 bulan 4 Imlek yang disebut hari Waisak.

kelenteng hok hien bio kudus

Altar sembahyang bagi Thay Sang Law Cin. Ia adalah dewa tertua pertama yang berkali-kali turun ke dunia, menciptakan TAO yang jujur menjadi aliran utama. Mula-mula ia menjadi Ban Ku She si pembuka dunia, lalu menjadi Hwang Tee raja kesatria, dan kemudian menjadi Lau Tze seorang ahli filsafat, pendiri Taoisme. Lao Tse biasanya didampingi Er Lang Shen dan Kiu Thian Hian Li sebagai pengawalnya.

kelenteng hok hien bio kudus

Altar sembahyang bagi Nabi Kong Hu Cu atau Konfusius (551 SM – 479 SM). Beliau adalah filsuf yang mementingkan moralitas pribadi dan pemerintahan. Ajarannya meluas hingga ke Jepang, Korea dan Vietnam, melalui Konfusianisme, doktrin yang dikompilasi dan dikembangkan oleh murid-muridnya.

kelenteng hok hien bio kudus

Sudut pandang yang memperlihatkan deretan altar sembahyang bagi Buddha, Lao Tze, dan Kong Hu Cu yang berada paling ujung. Di sebelah kiri tampak berbagai senjata kuno dengan tangkai panjang dan mata logam yang bermacam-macam.

kelenteng hok hien bio kudus

Altar sembahyang bagi Sun Pin Lo Cow, yang sayangnya tak saya temukan informasi tentang siapa dewa ini. Ia digambarkan berwajah merah, berkumis dan berjanggut hitam lebat, serta mengenakan pakaian kebesaran berwarna dominan merah dan kuning.

kelenteng hok hien bio kudus

Di dalam kelenteng, tambur dan genta digunakan sebagai tanda sebelum dimulainya perayaan sembahyangan. Jugauntuk memberitahukan kepada para Shen míng bahwa akan ada upacara peribadatan, karena suara genta dan tambur dipercaya bisa terdengar sampai ke alam lain.

kelenteng hok hien bio kudus

Pandangan lebih dekat pada arca-arca yang ada di altar pemujaan bagi Hok Tik Cing Sien (Hok Tek Ceng Sin, Dewa Bumi). Di setiap altar memang biasanya ada lbih dari satu patung, yang dibuat dari berbagai bahan dengan gestur yang sama atau berbeda.

kelenteng hok hien bio kudus

Pandangan dekat pada altar Hian Thian Siang Tee, dengan sepasang naga keemasan, ornamen beberapa binatang di sisi depan, kotak ciamsi, dan hiolo yang dibuat dari pualam.

kelenteng hok hien bio kudus

Info Kudus

Hotel di Kudus, Hotel Murah di Kudus, Peta Wisata Kudus, Tempat Wisata di Kudus.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengbinang ! Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.