Gedung Arsip Nasional Jakarta

January 02, 2020. Label:
Gedung Arsip Nasional Jakarta di Jl Gajah Mada Jakarta saya kunjungi setelah beberapa hari sebelumnya sempat mencari lokasinya dari dalam Bus TransJakarta ketika dalam perjalanan menuju ke Taman Fatahillah. Meskipun selintas, gedung tua elok itu terlihat dan memudahkan saya ketika berkunjung ke sana ditemani oleh Pak Dayat.

Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia tampaknya sesatunya gedung, tua maupun baru, di sepanjang Jl Gajah Mada dan Jl Hayam Wuruk, yang masih memiliki halaman depan dan belakang yang sangat luas, sebuah kemewahan luar biasa di Kota Jakarta. Tak heran jika gedung ini sempat diincar oleh sementara orang untuk dijadikan mal. Syukur gagal. Petugas di pos jaga memberi tanda untuk langsung mengarah ke kanan, ke tempat parkir kendaraan. Setelah turun dan memasuki ruangan depan gedung, saya menyapa Satpam yang sudah sepuh dan mengisi buku tamu. Karena sedang ada pameran lukisan yang disponsori Kedubes Italia, maka saya pun mencatat nama di dua buku tamu.

Gedung Arsip Nasional Jakarta berbentuk bangunan simetris sempurna, dengan bangunan tambahan di sayap kiri kanannya, serta bangunan yang membentuk huruf U di bagian belakang dengan taman rumput luas. Bangunan tengah sartu bangunan di bagian belakang berlantai dua. Pintu-pintu kayunya yang tinggi berhias ukiran yang indah.

gedung arsip nasional

Tampak muka Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia yang terlihat masih cantik. Gedung dibangun pada 1760 oleh Reiner de Klerk (Middelburg, 19 November 1710 – Batavia 1 September 1780) yang sekaligus menjadi arsiteknya. Reiner, yang menjadi anggota dewan Hindia Belanda, memberi nama Villa Molenvliet pada gedung yang dibangunnya itu.

Reiner yang kemudian menjadi Gubernur Jendral VOC (1777-1780) juga berjasa sebagai pendiri Museum Nasional pada tahun 1778 yang saat itu bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Lebar tanah Gedung Arsip Nasional sekarang ini tinggal 57 m dengan panjang 164 M, menciut dari luas aslinya.

Memasuki ruangan Gedung Arsip Nasional, tidak banyak benda dan perabot tua yang saya jumpai di sana saat itu. Yang sempat membuat semngat terjun bebas adalah adanya tulisan di atas sebuah meja berupa permintaan untuk tidak memotret, yang belakangan saya mendapat ijin untuk melakukannya. Gramafon adalah salah satu dari sedikit koleksi yang disimpan di ruang utama.

gedung arsip nasional

Salah satu ukir kayu yang indah pada bagian atas pintu gedung tinggi itu. Setiap pintu memiliki ukir kayu dengan motif yang berbeda. Semuanya masih terlihat asli, indah dan antik. Pada dinding Gedung Arsip Nasional Jakarta ini menempel pelat-pelat logam penghargaan, diantaranya Penghargaan Karya Arsitektur dari Ikatan Arsitek Indonesia tahun 1999.

Di halaman belakang terdapat sepasang meriam tua berukuran besar menghadap ke Barat di kiri kanan lapangan rumput. Dekat meriam di sisi kiri terdapat lonceng dengan ornamen dedaunan pada bagian atasnya mengapit tulisan melingkar, menggantung pada dudukan beton. Sebuah tengara ditulis pada lempeng logam yang menempel di dindingnya. Halaman belakang ini dan lantai bawah gedung utama, biasa disewakan untuk resepsi pernikahan yang mampu menampung sampai 1500 tamu undangan.

Perolehan dari penyewaan gedung inilah yang rupanya digunakan pengelola untuk membiayai perawatan gedung sehingga tak lagi meminta subsidi dana dari pemerintah. Saya berbincang cukup lama seputar Gedung Arsip Nasional dengan Ariani, pengeloa gedung saat itu, di ruangan kantornya yang menghadap taman. Kantornya cukup sejuk, meski tidak dipasang pendingin. Ariani pula yang mengijinkan saya mengambil foto koleksi gedung. Sayang seluruh koleksi di lantai dua tengah disimpan, lantaran sedang digunakan untuk pameran.

UNESCO memberi Award of Excellence pada UNESCO Asia-Pacific Heritage Awards 2001 kategori Culture Heritage Conservation. Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta memberi "Penghargaan Sadar Pelestarian Budaya untuk Pemeliharaan dan Pemugaran Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya di Provinsi DKI Jakarta tahun 2005". Semua itu mungkin untuk membendung nafsu pengembang untuk menyulap gedung ini menjadi lahan bisnis.

Koleksi lain yang berada di dalam ruangan utama Gedung Arsip Nasional Jakarta adalah beberapa almari kayu, meja kerja, konsol, serta peti antik. Semuanya benda antik, yang entah berumur berapa tahun. Di dalam ruangan di sisi kanan gedung ada replika kapal layar yang disimpan di balik kaca lemari dinding.

Halaman depan Gedung Arsip Nasional Jakarta terlihat elok jika dilihat dari lantai dua. Bangunan kuno ini telah dipugar oleh Stichting Cadeu Indonesia, yayasan yang didirikan sekelompok pengusaha Belanda untuk menyelamatkan Gedung Arsip Nasional. Pemicunya adalah tersiarnya kabar bahwa gedung itu akan dibongkar oleh keluarga Soeharto untuk dijadikan pertokoan pada 1992.

Tahun itu Arsip Nasional RI pindah ke Jl Ampera Jakarta Selatan. Stichting Cadeu Indonesia mengumpulkan dana pemugaran dan menjadikannya museum. Pemugaran selesai awal 1998. Ketika pada 13 Mei tahun itu terjadi kerusuhan, karyawan bank yang kantornya bersebelahan berlindung di dalam gedung.

Perusuh yang mengejar ke dalam Gedung Arsip Nasional diusir para pekerja yang tengah menyelesaikan perbaikan gedung. Sampai 1925, gedung ini digunakan oleh Departemen Pertambangan pemerintah kolonial, dan kemudian dijadikan Lands Archief (Arsip Negeri), dan setelah jaman republik menjadi Gedung Arsip Nasional.

Sejak pertengahan 2000, halaman gedung dibuka oleh pengurus untuk bisa digunakan oleh masyarakat umum, khususnya bagi warga sekitar agar mereka melakukan kegiatan olah raga senam pagi. Karenanya pagar gedung telah dibuka oleh petugas jaga sejak jam 6 pagi.

Setelah jam 4 sore, anak-anak juga diperbolehkan untuk bermain di halaman gedung bersama orang tuanya yang sering dilakukan sambil menyuapi makan. Warga biasanya baru pulang menjelang maghrib. Sebuah upaya yang baik untuk lebih mendekatkan diri dengan warga, sesuatu yang membawa manfaat bagi kedua belah pihak.


Informasi Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia

Alamat : Jalan Gajah Mada Nomor 111, Jakarta Barat. Lokasi GPS : -6.153718, 106.817391, Waze. Jam buka : Setiap hari 08.00 - 17.00. Harga tiket masuk : tidak dipungut biaya. Hotel di Jakarta Barat, Hotel Melati di Jakarta Barat, Nomor Telepon Penting, Peta Wisata Jakarta, Peta Wisata Jakarta Barat, Rute dan Jadwal Lengkap KRL Commuter Line Jabodetabek, Rute Lengkap TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Barat, Trayek Bus Damri Bandara Soekarno - Hatta