Foto Gedung Arsip Nasional

Tampak muka Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia yang terlihat masih cantik. Gedung dibangun pada 1760 oleh Reiner de Klerk (Middelburg, 19 November 1710 – Batavia 1 September 1780) yang sekaligus menjadi arsiteknya. Reiner, yang menjadi anggota dewan Hindia Belanda, memberi nama Villa Molenvliet pada gedung yang dibangunnya itu.



Salah satu ukir kayu yang indah pada bagian atas pintu gedung tinggi itu. Setiap pintu memiliki ukir kayu dengan motif yang berbeda. Semuanya masih terlihat asli, indah dan antik. Pada dinding Gedung Arsip Nasional Jakarta ini menempel pelat-pelat logam penghargaan, diantaranya Penghargaan Karya Arsitektur dari Ikatan Arsitek Indonesia tahun 1999.



Di halaman belakang terdapat sepasang meriam tua berukuran besar menghadap ke Barat di kiri kanan lapangan rumput. Dekat meriam di sisi kiri terdapat lonceng dengan ornamen dedaunan pada bagian atasnya mengapit tulisan melingkar, menggantung pada dudukan beton. Sebuah tengara ditulis pada lempeng logam yang menempel di dindingnya. Halaman belakang ini dan lantai bawah gedung utama, biasa disewakan untuk resepsi pernikahan yang mampu menampung sampai 1500 tamu undangan.



Halaman depan Gedung Arsip Nasional Jakarta yang terlihat elok, dilihat dari lantai dua. Bangunan kuno ini telah dipugar oleh Stichting Cadeu Indonesia, yayasan yang didirikan sekelompok pengusaha Belanda untuk menyelamatkan Gedung Arsip Nasional. Pemicunya adalah tersiarnya kabar bahwa gedung itu akan dibongkar oleh keluarga Soeharto untuk dijadikan pertokoan pada 1992. Tahun itu Arsip Nasional RI pindah ke Jl Ampera Jakarta Selatan. Stichting Cadeu Indonesia mengumpulkan dana pemugaran dan menjadikannya museum.



Memasuki ruangan-ruangan di dalam Gedung Arsip Nasional ini, tidak banyak benda dan perabot tua yang saya jumpai dipajang di sana. Dari yang sedikit itu ada pula tulisan permintaan untuk tidak memotretnya, yang mau tak mau saya turuti. Gramafon adalah salah satu dari sedikit koleksi yang disimpan di ruang utama gedung Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia.



Tengara pada lonceng sumbangan Stichting Oud-Jakarta (Yayayan Kotatua Jakarta) itu. Pada tengara terdapat logo dengan siluet burung berjambul panjang ditoreh pada benda semacam kantung dan tulisan "Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia" mengelilinginya.



Pandangan lebih dekat pada tengara lonceng. Di bagian bawah tertulis "Lonceng ini disumbangkan oleh Stichting Oud-Jakarta kepada Arsip Nasional RI pada tanggal 20 April 1999 dengan dukungan Ballast Nedam International, Decorient-Ballast J.O., Interbeton, Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, Stichting Nationaal Cadeau Indonesie, Werkspoomuseum". Versi Bahasa Inggris ditulis di bawahnya.



Lonceng sumbangan itu yang bagian atasnya terdapat ornamen dedaunan dan ada tulisan melingkar di tengahnya. Tak jelas apakah lonceng ini sering dibunyikan atau hanya sebagai hiasan saja.



Lantai 2 pada bangunan tambahan di bagian belakang ini digunakan sebagai kantor pengelola. Saya sempat naik ke atas untuk menemui Ariani, pengelola Gedung Arsip Nasional ketika itu.



Bangunan cantik di sayap kanan Gedung Arsip Nasional ini masih belum dimanfaatkan. Sementara bangunan simetrisnya di sayap kiri tampaknya tengah dikerjakan untuk digunakan menjadi semacam cafe. Sebuah ide yang baik.



Penghargaan Karya Arsitektur dari Ikatan Arsitek Indonesia untuk kategori Bangunan Pelestarian yang di berikan pada 1999 kepada Gedung Arsip Nasional RI.



Tengara tentang pemugaran Gedung Arsip Nasional oleh Stichting Cadeu Indonesia, sebuah yayasan yang didirikan oleh sekelompok pengusaha Belanda untuk menyelamatkan Gedung Arsip Nasional. Pemicunya adalah tersiarnya kabar bahwa gedung itu akan dibongkar oleh keluarga Presiden Soeharto untuk dijadikan pertokoan pada 1992. Pada tahun itu Arsip Nasional RI pindah ke gedung baru di Jl Ampera Jakarta Selatan.



Tengara lain yang diletakkan di atas tengara pada foto sebelumnya. Tengara ini menyebutkan bahwa bangunan ini direstorasi dan renovasi dalam tahun 1997 – 1998 oleh Tim Han Awal & Partner, Budi Lm & Associates, Passchier & Visser BV, dan Decorient – Ballast Indonesia Construction Jo. Lalu ada ucapan terima kasih kepada Founding Fathers, Pengurus, Panitia Penganjuran, Sponsor Utama, Sponsor, dan Penyumbang Tetap, yang nama-namanya disebutkan satu persatu dalam prasasti itu.

Pada bagian paling atas terdapat lambang burung berjambul namun bertuliskan De Klerk di bawahnya, bukan tulisan Gedung Arsip Nasional RI sebagaimana pada prasasti lain. Gubernur Jenderal VOC Reinier de Klerk adalah yang semula mendiami gedung yang dibangun di abad ke-18 ini. De Klerk kemudian mendirikan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Perhimpunan Batavia untuk Seni dan Ilmu), yang ikut turun tangan menyelamatkan gedung ini. Ada mebel yang dihibahkan Genootschap untuk Gedung Arsip Nasional, namun saya belum mengenali yang mana.



Lalu ada pelat tengara dari UNESCO yang memberikan Award of Excellence pada acara UNESCO Asia-Pacific Heritage Awards 2001 untuk kategori Culture Heritage Conservation.



Pelat dari Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta yang memberi “Penghargaan Sadar Pelestarian Budaya untuk Pemeliharaan dan Pemugaran Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya di Provinsi DKI Jakarta tahun 2005.



Prasasti yang berbunyi "Ter herinnering aan Mr J.A. van der CHIJS den organisator van 's Lands Archief te Batavia Landsarchivaris van 1892 - 1905".



Ornamen ukir antik yang ada di bagian atas salah satu pintu Gedung Arsip Nasional yang berada di dalam gedung utama. Sampai 1925, gedung ini digunakan oleh Departemen Pertambangan pemerintah kolonial Hindia Belanda, dan kemudian dijadikan Lands Archief (Arsip Negeri), yang diteruskan peruntukannya setelah jaman republik dan menjadi Gedung Arsip Nasional.



Sebuah koleksi gramafon, salah satu dari sedikit koleksi yang disimpan di ruang utama gedung. Koleksi lain di ruang utama adalah beberapa buah almari kayu, meja kerja, konsol, sera peti antik. Di dalam ruangan di sisi kanan gedung ada replika kapal-kapal layar yang disimpan di balik kaca lemari dinding.



Tangga kayu yang menuju ke lantai dua dimana pameran lukisan itu tengah diselenggarakan. Gedung Arsip Nasional memang menyediakan tempat untuk pameran semacam ini. Pameran lukisan yang berjudul “Attraversando la Natura” itu berlangsung pada 18 November – 9 Desember 2013, menyajikan karya Salvatore Provino, seorang pelukis kelahiran Bagheria, Palermo, Italia.

Ia merupakan seniman Barat pertama yang karyanya dipamerkan di Museum Nasional China di Beijing pada 2002. Langit-langit lantai dua yang sebelumnya terbuka, kini ditutup dengan balok-balok kayu plitur untuk menutupi pipa-pipa pengalir udara yang digunakan pendingin ruangan, mengakomodasi kebutuhan para penyewa gedung yang ingin memberi kenyamanan kepada tamu undangannya. Saya sempat naik tangga untuk melihat ruang di bawah atap itu.



©2021 Ikuti

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.