Museum Macan Modern and Contemporary Art in Nusantara Jakarta Barat

Adalah karena kebetulan melihat tayangan di stasiun televisi tentang Museum Macan Jakarta Barat, singkatan Modern and Contemporary Art in Nusantara, sehingga saya tahu keberadaan museum yang sepertinya sedang ramai di instagram dan sosmed anak muda ini. Bahwa mereka menyukai museum seni rupa kontemporer dan modern adalah suatu hal yang menggembirakan, namun rupanya itu berkat gula-gula manis yang membuat mereka datang menyemut ke sana.

Beruntung di zaman now ini ada Google Maps dan Waze, diakses dengan smartphone yang semakin canggih serta koneksi wireless internet yang makin cepat dan berjangkauan luas, membuat orang mudah untuk menemukan sebuah tempat. Lewat sudah masa-masa dimana orang bergantung pada mulut untuk bertanya arah, apalagi sering terbukti penduduk sekitar pun kadang tak begitu peduli dengan tempat menarik bagi pejalan yang justru tinggal di tempat yang sangat jauh.

Museum Macan Jakarta Barat dibuka pertama kalinya untuk umum pada Jumat 4 November 2017, dan dalam waktu singkat menjadi terkenal. Setidaknya itulah kesan saya setelah sampai ke lokasi museum dan melihat antrian yang begitu ramai, sebagian besar anak muda dan sebagian kecilnya pahmud-mahmud. Foto pertama di area umum Museum Macan menunjuk angka 2:31 pm, beberapa menit setelah tiba dan sebelum mengantri tiket, namun kami baru bisa masuk pada klopeng (kelompok pengunjung) jam 16.00 karena tiket klopeng jam 14.00 sudah habis terjual.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat
Di tulisan ini ada 4 foto, 90 (sembilan puluh) foto lainnya di sini. Di dekat lift, di samping eskalator, di pojok kanan depan area Museum Macan Jakarta Barat, terdapat ruangan yang disebut Children's Art Space (Ruang Seni Anak). Adalah gadis berkacamata tebal namun cantik dan murah senyum yang mengajak kami datang ke tempat itu untuk mengisi waktu tunggu. Di ruangan ini terdapat beberapa meja bundar dengan tempat duduknya, dimana anak-anak mewarnai, memotong tempel, dan menggesek karya seni untuk membuat gambar, yang semuanya disediakan gratis sebagai bagian program edukasi Museum Macan.

Program ini mempertemukan dunia para seniman dan pendidikan anak-anak melalui pameran seni interaktif. Artis perdana yang digandeng adalah Entang Wiharso dengan karya 'Taman Terapung' (Floating Garden), berupa serangkaian mural dan karya seni yang memungkinkan anak-anak berpartisipasi secara kreatif. Ketika anak-anak asik beraktivitas di meja mengerjakan karya mereka, anak-anak muda berfoto dengan latar dinding ruang yang dipenuhi karya-karya seni Entang yang indah dan imajinatif. Ini salah satu gula-gula, daya tarik, Museum Macan Jakarta yang patut diapresiasi.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat
Klopeng jam 16.00 Museum Macan Jakarta Barat dibuka tepat waktu, dan setelah masuk ke dalam area pamer melewati teater kecil di sisi kiri, salah satu karya seni di sisi ruang museum sebelah kanan yang menarik perhatian saya adalah lukisan karya Raden Saleh (1811-1880) yang dibuat pada 1849 menggambarkan seeokor singa menyerang pria bersorban yang mengangkat tombak di atas kuda hitam yang sedang berderap, mata tombaknya mengincar kepala singa. Lukisan cat minyak di atas kanvas itu berukuran 30x40 cm.

Lukisan ini adalah salah satu dari 90 karya 70 seniman, dari 800 koleksi Haryanto Adikoesomo, yang dipajang pada pameran yang diberi tema ART TURNS WORLD TURNS, berlangsung hingga 18 Maret 2018. Saat bertanya kepada petugas apakah itu berarti pada bulan Maret museum akan tutup, jawabnya tidak, oleh sebab gedungnya milik sendiri, hanya pada bulan Maret seluruh koleksi akan diganti dengan karya seni lain.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat
Lukisan menarik di Museum Macan Jakarta karya Miguel Covarrubias (1904-1957) berjudul Map of Bali with the Rose of the Winds (Peta Bali dengan Mata Angin) berangka tahun 1930, dibuat dengan cat air dan gouache (jenis cat air yang dicampuri selapis warna putih, biasanya warna putih seng, litofon atau putih titan) di atas kertas 34x37,5 cm. Peta yang sangat elok dan memperlihatkan Pulau Bali di mata pembuatnya. Ada sawah terasering, Gunung Agung mengepulkan asap, turis memotret wanita bertelanjang dada yang memanggul hasil panen di kepala, pura Besakih, penyu, nelayan, kapal yang merapat ke pelabuhan, dan kota-kota penting di Pulau Bali, serta Banyuwangi.

Covarrubias adalah drafter peta di Departemen Komunikasi di Kota Meksiko pada 1819 sebelum ia pindah ke New York pada 1923 untuk bekerja sebagai ilustrator, karikaturis dan perancang panggung. Pada 1937 Covarrubias memakai lukisan Peta Bali itu sebagai sampul bukunya yang berjudul "Island of Bali" berdasar pengalamannya selama berkeliling di pulau para dewata, lengkap dengan dokumentasi foto yang dibuat oleh Rosemonde Cowan. Buku yang banyak mendapat pujian itu dianggap menyumbang pada popularitas Pulau Bali di Amerika.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat
Lukisan lainnya yang dipamerkan di Museum Macan Jakarta Barat adalah karya Dullah (1919-1996) yang berjudul Bung Karno di Tengah Perang Revolusi, dibuat pada 1966 dengan cat minyak di atas kanvas ukuran 200x300 cm. Lukisan itu mirip dengan suasana saat Bung Karno membuat pidato yang epik di Lapangan IKADA (ikatan Atletik Djakarta) pada 19 September 1945. Dullah mungkin ingin mengingatkan penguasa militer saat itu akan jasa Bung Karno. Sayang, suara lukisannya tak cukup bergema kuat untuk bisa menyelamatkan Bung Karno.

Selain karya-karya pelukis kenamaan kelas dunia, di Museum Macan juga dipajang sejumlah patung serta karya instalasi yang indah, dan beberapa diantaranya menggelitik pikir. Seperti misalnya patung seekor babi gemuk yang tengah menggeletak tiduran sambil menyusui anak-anaknya. Yang membuat patung babi itu menjelma menjadi sebuah pesan politik adalah karena pada kulitnya bergambar bendera sebuah negara adikuasa, dan pada kulit anak-anak babi yang tengah menyusu itu juga digambari bendera negara-negara berkuasa lainnya, semua menyusu pada induk yang sama.


Selain barangkali ingin melihat mahakarya seni di Museum Macan, namun sepertinya orang rela datang berduyun ke tempat ini dengan membayar tiket masuk yang relatif mahal adalah karena adanya gula-gula legit yang disediakan museum, yaitu Infinity Room, ruang selfie Instagramable memikat yang membuat orang rela mengantri dalam hitungan jam. Sebuah pelajaran, bahwa bungkus dan gula-gula itu penting, meski tak menjamin orang menikmati sajian utamanya.

Museum Macan Jakarta

90 (sembilan puluh) foto lainnya ada di sini. Alamat : Wisma Akr, Jl. Panjang No.5, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Telp : 021-22121888. Lokasi GPS : -6.1914299, 106.7679048, Waze. Jam buka 10.00 - 19.00. Harga tiket masuk : Rp 50.000, untuk pelajar dan mahasiswa Rp 40.000, anak-anak Rp 30.000. Rombongan minimal 10 orang ada harga khusus. Rujukan : Hotel di Jakarta Barat, Hotel Melati di Jakarta Barat, Peta Wisata Jakarta Barat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta.

Author : . Updated :
Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Pejalan musiman yang senang tempat bersejarah dan panorama elok. Subscribe aroengbinang's Youtube Channel.

Kirim ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Email. Subscribe. .

Versi Mobile | Kembali ke atas

Posting Komentar