Museum Macan Modern and Contemporary Art in Nusantara Jakarta Barat

May 29, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Adalah karena kebetulan melihat tayangan di stasiun televisi tentang Museum Macan Jakarta Barat, singkatan Modern and Contemporary Art in Nusantara, sehingga saya tahu keberadaan museum yang sepertinya sedang ramai di instagram dan sosmed anak muda ini. Bahwa mereka menyukai museum seni rupa kontemporer dan modern adalah suatu hal yang menggembirakan, namun rupanya itu berkat gula-gula manis yang membuat mereka datang menyemut ke sana.

Beruntung di zaman now ini ada Google Maps dan Waze, diakses dengan smartphone yang semakin canggih serta koneksi wireless internet yang makin cepat dan berjangkauan luas, membuat orang mudah untuk menemukan sebuah tempat. Lewat sudah masa-masa dimana orang bergantung pada mulut untuk bertanya arah, apalagi sering terbukti penduduk sekitar pun kadang tak begitu peduli dengan tempat menarik bagi pejalan yang justru tinggal di tempat yang sangat jauh.

Museum Macan Jakarta Barat dibuka pertama kalinya untuk umum pada Jumat 4 November 2017, dan dalam waktu singkat menjadi terkenal. Setidaknya itulah kesan saya setelah sampai ke lokasi museum dan melihat antrian yang begitu ramai, sebagian besar anak muda dan sebagian kecilnya pahmud-mahmud. Foto pertama di area umum Museum Macan menunjuk angka 2:31 pm, beberapa menit setelah tiba dan sebelum mengantri tiket, namun kami baru bisa masuk pada klopeng (kelompok pengunjung) jam 16.00 karena tiket klopeng jam 14.00 sudah habis terjual.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat
Di dekat lift, di samping eskalator, di pojok kanan depan area Museum Macan Jakarta Barat, terdapat ruangan yang disebut Children's Art Space (Ruang Seni Anak). Adalah gadis berkacamata tebal namun cantik dan murah senyum yang mengajak kami datang ke tempat itu untuk mengisi waktu tunggu. Di ruangan ini terdapat beberapa meja bundar dengan tempat duduknya, dimana anak-anak mewarnai, memotong tempel, dan menggesek karya seni untuk membuat gambar, yang semuanya disediakan gratis sebagai bagian program edukasi Museum Macan.

Program ini mempertemukan dunia para seniman dan pendidikan anak-anak melalui pameran seni interaktif. Artis perdana yang digandeng adalah Entang Wiharso dengan karya 'Taman Terapung' (Floating Garden), berupa serangkaian mural dan karya seni yang memungkinkan anak-anak berpartisipasi secara kreatif. Ketika anak-anak asik beraktivitas di meja mengerjakan karya mereka, anak-anak muda berfoto dengan latar dinding ruang yang dipenuhi karya-karya seni Entang yang indah dan imajinatif. Ini salah satu gula-gula, daya tarik, Museum Macan Jakarta yang patut diapresiasi.

Salah satu lukisan menarik di Museum Macan Jakarta lainnya yang saya lihat adalah karya Miguel Covarrubias (1904-1957) berjudul Map of Bali with the Rose of the Winds (Peta Bali dengan Mata Angin). Lukisan tahun 1930 ini dibuat dengan cat air dan gouache (jenis cat air yang dicampuri selapis warna putih, biasanya warna putih seng, litofon atau putih titan) di atas kertas 34x37,5 cm. Peta yang sangat elok dan memperlihatkan Pulau Bali di mata pembuatnya. Ada sawah terasering, Gunung Agung mengepulkan asap, turis memotret wanita bertelanjang dada yang memanggul hasil panen di kepala, pura Besakih, penyu, nelayan, kapal yang merapat ke pelabuhan, dan kota-kota penting di Pulau Bali, serta Banyuwangi.

Klopeng jam 16.00 Museum Macan Jakarta Barat dibuka tepat waktu, dan setelah masuk ke dalam area pamer melewati teater kecil di sisi kiri, salah satu karya seni di sisi ruang museum sebelah kanan yang menarik perhatian saya adalah lukisan karya Raden Saleh (1811-1880) yang dibuat pada 1849 menggambarkan seeokor singa menyerang pria bersorban yang mengangkat tombak di atas kuda hitam yang sedang berderap, mata tombaknya mengincar kepala singa. Lukisan cat minyak di atas kanvas itu berukuran 30x40 cm.

Lukisan ini adalah salah satu dari 90 karya 70 seniman, dari 800 koleksi Haryanto Adikoesomo, yang dipajang pada pameran yang diberi tema ART TURNS WORLD TURNS, berlangsung hingga 18 Maret 2018. Saat bertanya kepada petugas apakah itu berarti pada bulan Maret museum akan tutup, jawabnya tidak, oleh sebab gedungnya milik sendiri, hanya pada bulan Maret seluruh koleksi akan diganti dengan karya seni lain.

Covarrubias adalah drafter peta di Departemen Komunikasi di Kota Meksiko pada 1819 sebelum ia pindah ke New York pada 1923 untuk bekerja sebagai ilustrator, karikaturis dan perancang panggung. Pada 1937 Covarrubias memakai lukisan Peta Bali itu sebagai sampul bukunya yang berjudul "Island of Bali" berdasar pengalamannya selama berkeliling di pulau para dewata, lengkap dengan dokumentasi foto yang dibuat oleh Rosemonde Cowan. Buku yang banyak mendapat pujian itu dianggap menyumbang pada popularitas Pulau Bali di Amerika.

Lukisan berikutnya yang dipamerkan di Museum Macan Jakarta Barat adalah karya Dullah (1919-1996) yang berjudul Bung Karno di Tengah Perang Revolusi, dibuat pada 1966 dengan cat minyak di atas kanvas ukuran 200x300 cm. Lukisan itu mirip dengan suasana saat Bung Karno membuat pidato yang epik di Lapangan IKADA (ikatan Atletik Djakarta) pada 19 September 1945. Dullah mungkin ingin mengingatkan penguasa militer saat itu akan jasa Bung Karno. Sayang, suara lukisannya tak cukup bergema kuat untuk bisa menyelamatkan Bung Karno.

Selain karya-karya pelukis kenamaan kelas dunia, di Museum Macan juga dipajang sejumlah patung serta karya instalasi yang indah, dan beberapa diantaranya menggelitik pikir. Seperti misalnya patung seekor babi gemuk yang tengah menggeletak tiduran sambil menyusui anak-anaknya. Yang membuat patung babi itu menjelma menjadi sebuah pesan politik adalah karena pada kulitnya bergambar bendera sebuah negara adikuasa, dan pada kulit anak-anak babi yang tengah menyusu itu juga digambari bendera negara-negara berkuasa lainnya, semua menyusu pada induk yang sama.

Selain barangkali ingin melihat mahakarya seni di Museum Macan, namun sepertinya orang rela datang berduyun ke tempat ini dengan membayar tiket masuk yang relatif mahal adalah karena adanya gula-gula legit yang disediakan museum, yaitu Infinity Room, ruang selfie Instagramable memikat yang membuat orang rela mengantri dalam hitungan jam. Sebuah pelajaran, bahwa bungkus dan gula-gula itu penting, meski tak menjamin orang menikmati sajian utamanya.

Museum Macan Jakarta

Alamat : Wisma Akr, Jl. Panjang No.5, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Telp : 021-22121888. Lokasi GPS : -6.1914299, 106.7679048, Waze. Jam buka 10.00 - 19.00. Harga tiket masuk : Rp 50.000, untuk pelajar dan mahasiswa Rp 40.000, anak-anak Rp 30.000. Rombongan minimal 10 orang ada harga khusus.

Video Museum Macan Jakarta



Galeri Foto Museum Macan Jakarta

Salah satu karya seni yang menarik adalah lukisan karya Raden Saleh (1811-1880) yang dibuat tahun 1849 berjudul "Singa Menyerang Seorang Penunggang yang Memegang Tombak di Atas Kuda yang Berderap", menggambarkan seekor singa yang tengah menyerang pria bersorban yang mengangkat tombak di atas kuda hitam yang sedang berderap kencang, mata tombaknya mengincar kepala singa. Lukisan cat minyak di atas kanvas itu berukuran 30x40 cm.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Lukisan di Museum Macan karya Miguel Covarrubias (1904-1957) berjudul "Map of Bali with the Rose of the Winds (Peta Bali dengan Mata Angin)" tahun 1930, dibuat dengan cat air dan gouache di atas kertas 34x37,5 cm. Peta indah ini menggambarkan Pulau Bali dari pengamatan pembuatnya.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Lukisan karya Dullah (1919-1996) di di Museum Macan Jakarta berjudul "Bung Karno di Tengah Perang Revolusi", dibuat tahun 1966 dengan cat minyak pada kanvas 200 x 300 cm, mirip suasana ketika Bung Karno berpidato di Lapangan IKADA pada tanggal 19 September 1945.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Berdiri di samping sebuah lukisan berukuran raksasa dari sebuah mahluk imajiner bermata empat dengan tetes-tetes darah dan seorang mahluk perempuan kecil telanjang di dahinya, duduk bertekuk lutut menghadap sebuah panci yang tak jelas berisi apa. Lukisan karya Entang Wiharso (lahir 1967) itu terdiri dari tiga bagian, dibuat dengan akrilik, cat semprot, cat mobil, kolase detil foto dan cat minyak di atas kanvas 300 x 600 cm (trptych).

entang wiharsa museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Lukisan di area umum Museum Macan lainnya berupa tangan-tangan yang seperti berebut dollar, mungkin mengekspresikan kegelisahan seniman pada pemujaan terhadap harta benda duniawi. Karya Keith Haring (1958-1990), pelukis kelahiran AS, dibuat pada 1985 dengan cat minyak dan akrilik di atas kanvas dan terpal 302 x 295 cm.

keith haring museum macan

Seorang anak muda tengah difoto oleh temannya di depan lukisan karya Entang Wiharso itu, sebuah lukisan berukuran raksasa yang terdiri dari tiga bagian, diletakkan di ruang umum yang bisa dinikmati pengunjung saat menunggu antrian masuk.

entang wiharsa museum macan

Berfoto dengan latar instalasi boneka udara dengan sosok menyerupai Hulk namun dengan wajah jenaka, yang tengah mendorong gerobak beroda tunggal berisi setumpuk bunga elok. Di ujung sana adalah antrian Infinity Room.

infinity room museum macan

Pandangan lainnya pada patung plastik "Hulk" yang diletakkan di ruang umum, dan pengunjung yang rela menunggu antrian Infinity Room di ujung sana.

hulk museum macan

Instalasi sebuah mobil VW kodok asli yang dilipat membentuk bola bundar besar. Instalasi seperti ini saya pernah lihat di sebuah mal di Jakarta, namun lupa dimana, mungkin disekitaran Casablanca. Masih antrian Infinity Room di ujung sana.

vw kodok museum macan

Pemandangan saat kami baru masuk ke dalam Ruang Seni Anak-Anak yang cukup dipadati pengunjung sambil menunggu antrian masuk ke museum. Pada dinding menempel bulatan-bulatan akrilik dengan berbagai lukisan yang kebanyakan abstrak, hanya beberapa terlihat ada bunga, mahluk manusia dan binatang. Pada pilar menempel lukisan hitam putih semacam vignet hingga ke langit ruangan.

ruang seni anak museum macan

Si mbak cantik berkacamata tebal yang ramah tengah meletakkan kertas-kertas untuk digambar dan dipotong tempel, yang kemudian bisa dipakai untuk ikat kepala. Semuanya gratis.

children art space museum macan

Pelat-pelat dengan lukisan relief itu sepertinya karya Entang Wiharsa yang bisa digunakan oleh anak-anak untuk membuat lukisan, dengan menempelkan kertas kosong di atasnya dan lalu menggeseknya memakai pensil warna sesuai selera.

instalasi entang wiharsa museum macan

Sebuah karya seni dengan detail elok menempel pada dinding yang berada di ujung ruangan. Pada karya cor itu ada sejumlah hewan hutan seperti harimau dan burung hantu, serta dua sosok manusia dengan gestur tubuh yang berbeda.

hewan hutan museum macan

Karya Entang Wiharsa lainnya yang menggambarkan seorang penyelam dengan karang dan satwa dasar laut.

entang wiharsa museum macan

Pandangan mengarah pada pojok ruangan dengan instalasi karya seni pada tembok ruangan dengan penataan yang sangat baik.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Pandangan pada pilar dengan lukisan yang kebanyakan berupa torehan figuratif hitam putih yang memenuhi seluruh permukaan pilar hingga ke langit ruangan.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Pandangan pada pilar lainnya di Chldren's Art Space Museum Macan dengan pengunjung yang asik melihat hasil jepretannya, serta ada pula yang masih asik memotret.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Karya Entang Wiharsa lainnya dalam tema Floating Garden yang tampaknya menggambarkan kehidupan dasar laut.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Saat anak-anak asik menggambar, pengunjung lainnya asik saling memotret dengan latar dinding yang dipenuhi karya seni indah.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat



Anak-anak tampak masih asik dengan pensil dan kertas yang telah ada gambarnya, tinggal memberi warna sesuai kreasi. Orang tuanya pun bisa ikut pula membantu, atau menggambar sendiri.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Pandangan pada pintu masuk ke Children's Art Space Museum Macan. Akronim Macan tampaknya sengaja dibuat agar lebih mudah diingat dan dibicarakan di sosial media.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Di pojok area terbuka terdapat sebuah coffee shop kecil yang menjadi salah satu tempat untuk menunggu bagi pengunjung Museum Macan.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Pengunjung masih terus berdatangan karena museum memang baru tutup pada jam 7 malam, meski antrian pembelian tiket bisa ditutup lebih awal, jika pengunjung membludak.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Tiket masuk dengan barcode, satu diambil saat masuk, satu lagi saat keluar. Pengunjung bisa masuk lagi dengan cap di tangan jika hendak keluar sebentar dari area museum.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Kami keluar dari Children's Space Art tepat waktu dan langsung mengantri klopeng jam 16.00, hingga berada di antrian masuk agak di depan. Di sebelah kanan adalah antrian di belakang kami.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Bidang hitam di sebelah kiri adalah ruang pemutaran video kecil yang sempat kami masuki sebentar, namun tak melihat film yang diputar hingga tuntas. Tulisan pada dinding ini menceritakan isi pameran Lini Masa Sejarah Pameran dari tahun 1900 hingga 1965, yang berada di bagian awal museum, di sebelah kiri ruangan.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Kotak-kotak kaca yang berisi riwayat lini masa pameran seni itu.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Isi salah satu kotak kaca pada bagian Kelahiran (1914-1941) dan Konsolidasi (1942-1945). Sebelumnya ada era Pra-lembaga (1900-1913) dimana pameran dalam periode ini terselenggara menyusul penerapan Politik Etis, utamanya untuk menyebarkan kebudayaan Belanda di tanah jajahan.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Bumi, Kampung Halaman, Manusia, di bagian sebelah kanan Museum Macan dengan pameran berbagai karya lukis, lengkap dengan penjelasannya.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Potret Diri, karya Raden Saleh (1811-1880) tahun 1835 dengan cat minyak di atas kayu mahogani berukuran 37 x 31 cm.

potret diri raden saleh

Baguio Market Place (1934) karya pelukis asal Filipina bernama Fernando C Amorsolo (1892 - 1972), cat minyak di atas kardus 47,5 x 64,5 cm

baguio market place fernando c amorsolo

Seorang Ibu dari Bali Menggendong Bayi di Pinggulnya (Balinese Mother Carrying Baby on Her Hip), karya Miguel Covarrubias (1904-1957) yang tak diketahui tahun pembuatannya, dibuat dengan cat air dan gouche di atas kertas 52,5 x 36,5 cm.

miguel covarrubias

Lukisan berjudul Njoman Pegug (1938) karya pelukis asal Belanda bernama Willem Gerard Hofker, menggunakan cat minyak di atas kanvas di atas papan 33 x 27 cm.

njoman pegug willem gerard hofker

Lukisan berjudul Penenun Bali (1941) karya pelukis asa China, Lee Man Fong (1913 - 1988), dengan cat minyak di atas Masonite 61 x 83 cm.

penenun bali lee man fong

Karya I Gusti Nyoman Lempad (1862 - 1978) dibuat tahun 1960 namun judulnya tak diketahui dibuat dengan tinta di atas kertas 34 x 39,5 cm.

i gusti nyoman lempad

Keluarga Bahagia (1979) dibuat dengan cat minyak di atas kanvas 248,5 x 138,5 cm karya Hendra Gunawan (1918 - 1983).

hendra gunawan keluarga bahagia

Gaya khas coretannya tak akan membuat orang salah menebak bah itu adalah lukisan Affandi (1907 - 1990), berjudul Andong dibuat tahun 1968 menggunakan cat minyak di atas kanvas 99 x 142,5 cm.

affandi andong

Pasar (1958) dibuat dengan cat minyak di atas kanvas 137 x 135 cm karya Hendra Gunawan (1918 - 1983).

pasar hendra gunawan

Lukisan berjudul Pasar Burung dibuat tahun 1969 dengan cat minyak di atas kanvas 129 x 114,5 yang merupakan karya pelukis Soetopo.

pasar burung soetopo

Karya Djoko Pekik (1937) berjudul WTS Dandan dibuat tahun 1996 dengan cat minyak di atas kanvas 74 x 80,5 cm.

wts dandan djoko pekik

Birth Record (1984) karya Luo Zhongli, pelukis kelahiran China 1948, dibuat dengan cat minyak di atas kanvas 77,5 x 103 cm.

birth record luo zhongli

Pandangan pada lorong msueum dengan karya lukis yang kebanyakan berukuran besar. Pencahayaan bagus dan pendingin ruangan di museum juga bekerja sangat baik.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Menonton Sepak Bola (1981) karya H Widayat (1919 - 2002) dibuat dengan cat minyak di atas kanvas 128,5 x 109 cm.

menonton sepak bola h widayat

Catatan tentang Pergulatan Bentuk dan Isi.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Lelehan Emas Pada Relief Gunungan, dibuat tahun 1973 dengan media campuran di atas kanvas 100 x 100 cm, karya Ahmad Sadali (1918 - 1983).

lelehan emas ahmad sadali

Karya Yukinori Yanagi (lahir di Jepang 1959) berjudul ASEAN +3 dibuat tahun 2017 khusus untuk Museum Macan, dengan menggunakan pasir berwarna, kotak plastik, dan koloni yang terdiri dari lima ribu semut yang dimasukkan ke dalam kotak-kotak bendera, berukuran 128 x 310 cm.

yukinori yanagi

The Inventor of Mirrors dibuat tahun 1999 oleh Juan Munoz (Spanyol, 1953 - 2001) dengan menggunakan resin poliester di atas kanvas, kayu dan logam, berukuran 250,2 x 128,3 x 92,7 cm.

the inventor of mirrors juan munoz

Massacre (pembantaian) dibuat tahun 2016 dengan menggunakan pensil dan cinnabar di atas kertas 188 x 114,5 cm, karya Zai Kuning (lahir di Singapore 1964).

massacre zai kuning

My Monologue (2008) karya Ay Tjoe Christine (lahir di Indonesia 1973) dibuat dengan akrilik di atas kanvas 135 x 135 cm.

ay tjoe christine

Ascending (Menaiki) dibuat tahun 2002 oleh Cai Guo-Qiang (lahir di China 1957) dengan menggunakan bubuk mesiu dan tinta di atas kertas 400 x 600 cm.

ascending cai guo-qiang

Lukisan berjudul 2001.9.23 yang dibuat pada tahun 2001 oleh Fang Lijun (lahir di China 1963) dengan menggunakan cat minyak di atas kanvas 270 x 120 cm.

fang lijun

Patung seekor babi gemuk yang tengah menggeletak tiduran sambil menyusui anak-anaknya. Yang membuat patung babi itu menjelma menjadi sebuah pesan politik adalah karena pada kulitnya bergambar bendera sebuah negara adikuasa, dan pada kulit anak-anak babi yang tengah menyusu itu juga digambari bendera negara-negara berkuasa lainnya, semua menyusu pada induk yang sama.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Seorang pengunjung wanita tengah mengamati lukisan kartun yang memuat sejumlah pesan, seperti "No Nukes! Love and Peace", "No Fun".

no nukes

Karya Ai Weiwei (lahir di China 1957) berjudul Graphic Work for Baby Formula yang dibuat pada tahun 2013 dibuat dengan c-print di atas alumunium 120 x 300 cm.

ai weiwei graphic work for baby formula

Masih karya Ai Weiwei dengan judul yang sama dibuat dengan c-print di atas panel alumunium.

ai weiwei

Karya James Resenquist (1933 - 2017) berjudul The Xenophobic Movie Director or Our Foreign Policy yang dibuat pada 2004 dengan cat minyak di atas kanvas 152,4 x 411,48 cm.

james resenquist the xenophobic movie director

Instalasi bola dunia yang sebagian tampak seperti terbenam di dalam lantai Museum Macan.

bola dunia

Lukisan bernama Global Hunter, karya Jules de Balincourt (lahir di Perancis 1972), dibuat pada tahun 2007 dengan cat minyak di atas papan 43,2 x 34,3 x 3 cm.

jules de balincourt global hunter

Karya Heri Dono, pelukis Indonesia kelahiran 1960, berjudul Pejalan Kaki yang Bermain Wayang, dibuat pada tahun 1988 dengan cat minyak di atas kanvas 99 x 99 cm.

heri dono pejalan kaki

Lingga-Yoni, karya Arahmaini (Indonesia, 1966) yang dibuat pada tahun 1994 dengan akrilik di atas kanvas 182 x 140 cm, menggambarkan simbol penciptaan dan regenerasi dalam agama Hindu, namun dengan visualisasi yang tak lazim.

arahmaini lingga yoni

Karya Jean-Michel Basquiat (1960 - 1988, kelahiran AS) dengan judul LF yang dibuat pada tahun 1984 dengan akrilik dan kolase di atas kanvas 218,5 x 172,5 cm.

jean-michel basquiat

Suasana di lorong Museum Macan. Banyaknya orang yang antri di Infinity Room membuat ruang museum yang luas ini masih terasa lega.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Karya Robert Rauschenberg (AS, 1925 - 2008) berjudul Rush 20 (Cloister) yang dibuat pada 1980 dengan solventr transfer, kain, kertas dan kayu dalam kotak plexiglass 248,9 x 182,9 cm.

robert rauschenberg rush 20

Karya Kaboel Suadi (1935 - 2010), Tanpa Judul dibuat tahun 1963 dengan cat minyak di atas kanvas 33 x 43 cm.

kaboel suadi tanpa judul

Karya Andy Warhol (AS, 1928 - 1987) berjudul Portrait of Madame Smith dibuat pada tahun 1974 dengan cat polimer sintetis dan sablon di atas kanvas 101,8 x 101,8 cm.

andy warhol portrait of madame smith

Masih karya Andy Warhol (AS, 1928 - 1987) berjudul Portrait of Madame Smith dibuat pada tahun 1974 dengan cat polimer sintetis dan sablon di atas kanvas 101,8 x 101,8 cm.

andy warhol portrait of madame smith

Lukisan karya Walter Spies (1895 - 1942) berjudul Sawahlandschaft mit Gunung Agung yang dibuat pada 1939 dengan cat minyak di atas kanvas 62 x 91 cm.

walter spies sawahlandschaft mit gunung agung

Indische Lanschaap karya Raden Saleh (1811 - 1880) yang dibuat pada tahun 1853 dengan cat minyak di atas kanvas 58 x 47 cm.

raden saleh indische lanschaap

Karya Raden Saleh lainnya yang berjudul Javanese Mail Station, dibuat pada tahun 1879 dengan cat minyak di atas kanvas 51 x 72,5 cm. Kedua lukisan ini dibuat setelah Raden Saleh pulang kembali ke Jawa pada tahun 1852.

raden saleh javanese mail station

Goresan khas lukisan karya S. Sudjojono (1913 - 1985) berjudul Pertemuan di Tjikampek jg Bersedjarah, dibuat pada tahun 1964 dengan cat minyak di atas kanvas 153,5 x 106 cm.

s sudjojono pertemuan di tjikampek

Masih karya S. Sudjojono yang berjudul Ngaso, dibuat pada 1964 dengan cat minyak di atas kanvas 140 x 100 cm.

s sudjojono ngaso

Lukisan karya Henk Ngantung (1921 - 1991) berjudul Rumah Affandi yang dibuat pada tahun 1938 dengan cat minyak di atas papan.

henk ngantung rumah affandi

Karya Henk Ngantung lainnya yang berjudul Pemandangan Batavia, dibuat pada tahun 1939 dengan cat minyak di atas papan 45 x 58,5 cm.

henk ngantung pemandangan batavia

Karya Sudjana Kerton (1922 - 1994) yang berjudul Akibat Pemboman di Lengkong Besar bandung, 1945. Lukisan ini dibuat pada tahun 1979 dengan cat minyak di atas kanvas 198 x 298 cm.

sudjana kerton akibat pemboman

Potret Diri, lukisan tahun 1965 oleh S. Sudjojono yang dibuat dengan cat minyak di atas papan 62 x 47 cm.

s sudjojono potret diri

Potret Diri, lukisan Trubus Soedarsono (1926 - 1966)yang dibuat pada tahun 1961 dengan cat minyak di atas kanvas 22,5 x 17 cm.

trubus soedarsono potret diri

Lukisan karya Hendra Gunawan (1918 - 1983) yang berjudul Aku, dibuatnya pada tahun 1968 dengan cat minyak di atas kanvas 55 x 46,5 cm.

hendra gunawan aku

Le Visage (1963) karya Karel Appel (Belanda, 1921 - 2006) dibuat dengan cat minyak di atas kanvas 130 x 97 cm.

karel appel le visage

Potret Diri (1964) oleh AD Pirous (lahir 1932) dibuat dengan cat minyak di atas kanvas 30 x 50 cm.

ad pirous potret diri

Run Until You Burn (2010) karya I Nyoman Masriadi (1973) dengan akrilik di atas kanvas 150 x 200 cm.

i nyoman masriadi run until you burn

Karya I nyoman Masriadi lainnya yang berjudul Sofa, dibuat pada tahun 2005 dengan akrilik di atas kanvas 129 x 200 cm.

i nyoman masriadi sofa

Karya I Nyoman Masriadi berjudul Juling, dibuat pada tahun 2005 dengan media campuran di atas kanvas 150 x 200 cm.

i nyoman masriadi juling

Wipe Out #1 karya FX Harsono (kelahiran 1949) dibuat pada tahun 2011 dengan akrilik di atas kanvas 160 x 200 cm.

fx harsono wipe out

Karya Zhang Xiaogang (lahir di China 1958) berjudul Amnesia and Memory, Book and Pen, yang dibuat pada tahun 2003 dengan cat minyak di atas kanvas 40 x 50 cm.

zhang xiaogang amnesia and memory

A Father is Trying to Collect the Memories of His Family, karya I Dewa Ngakan Made Ardana (lahir 1980), dibuat pada tahun 2016 dengan cat minyak di atas kanvas 200 x 300 cm.

i dewa ngakan made ardana

Untitled (Jokes Painting) dibuat tahun 2009 karya Richard Prince (Republic of Panama, 1949) dengan akrilik di atas kanvas 307,5 x 200 cm.

richard prince

Sepasang pengunjung tengah melihat lukisan karya Andy Warhol.

andy warhol

Karya Takashi Murakami (lahir 1962) berjudul Do Not Rule My Dreams. My Dreams Rule Me. Dibuat pada 2010 dengan akrilik di atas kanva 141 x 120 cm.

takashi murakami do not rule my dreams

Karya Damien Hirst (UK, 1965) berjudul Beautiful Magnificent Heaven Never Fails for Surprise painting (with Butterflies and Diamonds. Dibuat pada 2007 dengan kupu-kupu, kubik zirkonia, dan gloss rumahan di atas kanvas 121,9 x 121,9 cm.

damien hirst beautiful magnificent heaven

Suasana di ujung ruangan Museum Macan. Pengaturan jumlah pengunjung membuat suasana di dalam museum menjadi nyaman karena ada cukup ruang untuk bergerak dan cukup waktu untuk melihat lukisan sepuasnya.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Karya Hadniwirman Saputra (kelahiran 1975) berjudul Tutur Karena Merem. Dibuat pada tahun 2008 dengan akrilik di atas kanvas 195 x 220 cm.

hadniwirman saputra tutur karena merem

Sebuah boneka lucu, salah satu dari sedikit karya seni yang bisa disukai oleh anak-anak di Museum Macan. Jika membawa anak-anak mungkin perlu datang dua kali ke tempat ini, lantaran konsentrasi sedikit banyak akan terbagi untuk mengawasi anak.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Suasana saat kami keluar dari Museum Macan. Masih ramai. Ambien di museum memang bisa membuat orang betah, jika saja sedang tak ada keperluan lain. Jika lapar dan haus ada kafe.

museum macan modern and contemporary art in nusantara jakarta barat

Info Jakarta

Hotel di Jakarta Barat, Hotel Melati di Jakarta Barat, Peta Wisata Jakarta Barat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Nomor Telepon Penting.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.