Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon

January 13, 2019. Label:
aroengbinang.com - Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon (Kelenteng Tiao Kak Sie) letaknya berada di Jl. Kantor No. 2, Kampung Kamiran, Cirebon, di sebelah kiri Gedung Bank Mandiri, atau di seberang kanan Gedung BAT Cirebon. Kelenteng Dewi Welas Asih ini merupakan salah satu kelenteng tertua di Cirebon, selain Kelenteng Talang dan Vihara Pemancar Keselamatan.

Di depan pinggir jalan terdapat penanda Benda Cagar Budaya Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon dengan tahun berdiri 1595. Di sebelah kanannya gerbang masuk ke dalam Kelenteng Dewi Welas Asih yang berbentuk candi bentar. Candi bentar lazimnya ditemui pada bangunan Candi atau Pura Hindu.

Pada dinding depan kelenteng terdapat lukisan-lukisan Tionghoa berukuran kecil berwarna biru muda yang indah menempel mengelilingi lingkaran-lingkaran merah kuning biru, dengan ornamen lengkung yang saling berbelit cantik di tengahnya. Di luar lingkaran, di keempat sudutnya, terdapat ornamen bunga berwarna pink yang tidak kalah indahnya.

kelenteng dewi welas asih cirebon

Bangun simetris Kelenteng Dewi Welas Asih dengan ornamen naga dalam posisi ekor di atas seperti tengah menari di wuwungan. Sepasang singa (Ciok say) berjaga di samping menara pendek tempat pembakaran kertas uang untuk leluhur, dan ornamen lingkaran-lingkaran bulat di dinding kiri kanan.

Wuwungan Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon berbentuk melengkung seperti pelana, khas bangunan Tionghoa. Di bagian tengahnya terdapat ornamen binatang berkaki empat, bertanduk dan bercula, badan bersisik, ekor bergerigi, dan di punggungnya terdapat semacam cakra api, yang sepertinya adalah Kilin.

Ada pula empat ornamen berjajar di bagian bawah wuwungan yang bentuknya menyerupai benteng bertingkat, dengan balkon berpagar bambu dan di bagian di kiri kanannya terdapat masing-masing dua menara bersusun. Patung-patung berukuran kecil dengan pedang terhunus di kedua tangan, tampak seperti tengah mempertahankan bangunan itu dari sebuah serangan musuh.

kelenteng dewi welas asih cirebon

Sepasang lampion coklat bergaris berbentuk silinder dengan ornamen naga hijau berkepala dan bersirip kuning tampak menghias pintu masuk ke Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon. Di belakangnya terdapat dua lampion lagi berwarna merah keemasan dengan ukuran lebih kecil. Ornamen di sekeliling pintu masuk Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon ini cukup indah dipandang mata.

Altar tengah merupakan altar utama di Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon, yang digunakan sebagai tempat pemujaan bagi Dewi Kwan Im Posat, atau Dewi Welas Asih, yang namanya dijadikan nama kelenteng ini. Menjelang akhir Dinasti Han, jauh sebelum masuknya agama Buddha ke Tiongkok, Kwan Im Pho Sat telah dikenal di Tiongkok kuno dengan sebutan Pek Ie Tai Su, atau Dewi Berbaju Putih Yang Welas Asih.

Altar Kwan Tee Kun berada di kanan ruang utama Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon. Kwan Tee Kun, atau Kwan Seng Tee Kun, atau Kwan Kong, adalah Panglima Perang masyhur pada jaman Sam Kok (Tiga Kerajaan, 165 – 219 M), yang mencapai kesempurnaan dengan gelar Bodhisatva Satyakalamayang.

Kwan Kong adalah Dewa Pelindung Kuil bagi penganut Buddha, Malaikat Pelindung Peperangan bagi kaum Tao, dan teladan dalam hal kesetiaan, kebenaran dan keberanian bagi penganut Konghucu. Altar pemujaan Thian Siang Seng Bo juga ada di kelenteng ini. Rupang Dewi Pelindung Laut ini selalu ditampilkan sebagai dewi cantik berpakaian layaknya seorang permaisuri kerajaan, dan dikawal oleh dua iblis yang pernah ditaklukkannya, yaitu Qian Li Yan (Si Mata Seribu Li) dan Sun Feng Er (Si Kuping Angin Baik).

Altar Wei Tho Posat juga ada di Kelenteng Dewi Welas Asih. Wei Tho Posat (Wi To Pho Sat, Wei Tuo Pu Sa), adalah Bodhisatva Pelindung Dharma, Pelindung Wihara, kelenteng, dan bangunan-bangunan suci, serta Pelindung Kitab Suci Buddha, dan menjadi salah satu dari 8 Jendral Langit bagian Selatan. Menurut legenda, Wi To Pho Sat memiliki 6 kepala dan 12 lengan, menunggang burung merak dengan tangan memegang anak panah.

Dua buah genta tua atau lonceng yang menggantung di langit-langit ruangan juga saya temukan di Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon ini. Sejauh ini saya belum pernah melihat bagaimana genta-genta ini dibunyikan atau dipergunakan dalam sebuah acara ritual kelenteng. Halaman depan Kelenteng Dewi Welas Asih bisa dibilang luas dan biasa digunakan untuk penyelenggaraan acara ritual Cap Go Meh dan upacara tahunan Imlek. Salah satu kelenteng tertua di Cirebon ini dibangun di atas tanah seluas 1.857 m2 dengan luas bangunan sekitar 1.600 m2.

Meskipun tahun pembuatannya Kelenteng Dewi Welas Asih ini bisa diperkirakan, yaitu sekitar tahun 1595, namun tidak ada catatan mengenai siapa pendiri Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon ini. Di Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon ini hanya bisa ditemui catatan mengenai dermawan yang pernah memberi sumbangan, serta tahun pemugaran ruang utama yang dilakukan pada 1791, 1829, dan 1889.

Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon

Alamat : Jl. Kantor No. 2, Kec Lemah Wungkuk, Cirebon. Lokasi GPS : -6.71813, 108.57037, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Kelenteng Dewi Welas Asih

Altar tengah ini merupakan altar utama di Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon, yang digunakan sebagai tempat pemujaan bagi Dewi Kwan Im Posat, atau Dewi Welas Asih, yang namanya dijadikan nama kelenteng ini. Menjelang akhir Dinasti Han, jauh sebelum masuknya agama Buddha ke Tiongkok, Kwan Im Pho Sat telah dikenal di Tiongkok kuno dengan sebutan Pek Ie Tai Su, atau Dewi Berbaju Putih Yang Welas Asih.

kelenteng dewi welas asih cirebon

Altar Wei Tho Posat di Kelenteng Dewi Welas Asih. Wei Tho Posat (Wi To Pho Sat, Wei Tuo Pu Sa), adalah Bodhisatva Pelindung Dharma, Pelindung Wihara, kelenteng, dan bangunan-bangunan suci, serta Pelindung Kitab Suci Buddha, dan menjadi salah satu dari 8 Jendral Langit bagian Selatan. Menurut legenda, Wi To Pho Sat memiliki 6 kepala dan 12 lengan, menunggang burung merak dengan tangan memegang anak panah.

kelenteng dewi welas asih cirebon

Penanda Benda Cagar Budaya Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon dengan tahun berdiri 1595. Di sebelah kanan adalah gerbang masuk ke dalam Kelenteng Dewi Welas Asih yang berbentuk candi bentar, terbuat dari batu andesit abu-abu. Candi bentar lazimnya ditemui pada bangunan Candi atau Pura Hindu.

kelenteng dewi welas asih cirebon

Mustika yang diperebutkan sepasang naga yang biasanya menggeletak begitu saja, di kelenteng ini berada di punggung binatang mistis Kilin. DI bawahnya ada relief naga dan burung Hong (Phoenix).

kelenteng dewi welas asih cirebon

Ornamen sepasang naga yang terlihat seperti tengah menari atau berakrobat di atas wuwungan Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon yang berbentuk melengkung seperti pelana. Di bagian tengahnya terdapat ornamen binatang berkaki empat, bertanduk dan bercula, badan bersisik, ekor bergerigi, dan di punggungnya terdapat semacam cakra api.

kelenteng dewi welas asih cirebon

Kelenteng ini memiliki dua lapis wuwungan berbentuk pelana yang masing-masing terdapat dua ekor naga di sayap kiri dan sayap kanannya. Salah satu dari empat ornamen berbentuk menyerupai benteng bertingkat terlihat pada foto ini.

kelenteng dewi welas asih cirebon

Lampion dengan lukisan naga indah di sebelah kiri dan di sebelah kanan belakangnya ada lagi lampion dengan bentuk berbeda berhias naga emas di keempat sisinya. Keduanya berada di depan pintu masuk.

kelenteng dewi welas asih cirebon

Pada dinding depan kelenteng terdapat lukisan-lukisan Tionghoa berukuran kecil berwarna biru muda yang indah menempel mengelilingi lingkaran-lingkaran merah kuning biru, dengan ornamen lengkung yang saling berbelit cantik di tengahnya. Di luar lingkaran, di keempat sudutnya, terdapat ornamen bunga berwarna pink yang tidak kalah indahnya.

kelenteng dewi welas asih cirebon

Sebuah bedug atau tambur digantung di langit-langit sebelah kiri ruangan. Tambur dan genta merupakan perlengkapan ritual yang hampir selalu ada di setiap kelenteng. Merapat pada tembok terdapat kursi-kursi khas tTiongkok dan dua buah joli.

kelenteng dewi welas asih cirebon

Dua buah genta tua atau lonceng yang menggantung di langit-langit ruangan juga saya temukan di Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon ini. Sejauh ini saya belum pernah melihat bagaimana genta-genta ini dibunyikan atau dipergunakan dalam sebuah acara ritual kelenteng.

kelenteng dewi welas asih cirebon

Altar Seng Hong Ya di Kelenteng Dewi Welas Asih. Ia merupakan penguasa alam baka dan dunia fana. Seng Hong Ya diteladani sebagai pejabat tinggi yang jujur dan baik. Orang yan berselisih akan pergi ke altar Seng Hong Ya untuk saling bersumpah. Seng Hong Ya dipercaya sebagai dewa pelindung dari semua hal yang tidak baik.

kelenteng dewi welas asih cirebon

Altar Kwan Tee Kun berada di kanan ruang utama Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon. Kwan Tee Kun, atau Kwan Seng Tee Kun, atau Kwan Kong, adalah Panglima Perang masyhur pada jaman Sam Kok (Tiga Kerajaan, 165 – 219 M), yang mencapai kesempurnaan dengan gelar Bodhisatva Satyakalamayang. Kwan Kong adalah Dewa Pelindung Kuil bagi penganut Buddha, Malaikat Pelindung Peperangan bagi kaum Tao, dan teladan dalam hal kesetiaan, kebenaran dan keberanian bagi penganut Konghucu.

kelenteng dewi welas asih cirebon

Lilin yang menyala di sepanjang waktu masih dijumpai di banyak kelenteng, meskipun ada juga yang menggunakan lampu minyak dan bahkan bohlam listrik. Lilin di kelenteng selain sebagai alat penerang juga untuk memberi aroma pada ruang kelenteng. Ada pula yang percaya bahwa jika bersembahyang memakai lilin berukuran besar, maka akan mendatangkan rejeki besar pula.

kelenteng dewi welas asih cirebon

Altar pemujaan Thian Siang Seng Bo, Dewi Pelindung Laut, yang selalu ditampilkan sebagai dewi cantik berpakaian seorang permaisuri, dan dikawal oleh dua iblis yang pernah ditaklukkannya, yaitu Qian Li Yan (Si Mata Seribu Li) dan Sun Feng Er (Si Kuping Angin Baik).

kelenteng dewi welas asih cirebon

Pintu Gerbang ke-2 Kelenteng Dewi Welas Asih khas bangunan Tionghoa dengan semua ornamennya, setelah gapura Candi Bentar.

kelenteng dewi welas asih cirebon

Pandangan lebih dekat ke rupang Kwan Im Posat yang menjadi altar pemujaan utama di Kelenteng Dewi Welas Asih. Kwan Im melambangkan welasasih dan penyayang. Dalam wujud pria, Kwan Im disebut Kwan Sie Im Pho Sat. Dalam Maha Karuna Dharani disebutkan bahwa ada 84 perwujudan Kwan Im Pho Sat sebagai simbol Bodhisattva dengan kekuasaan yang besar.

kelenteng dewi welas asih cirebon

Ornamen di bagian bawah kiri wuwungan yang bentuknya menyerupai sebuah kelenteng atau benteng bertingkat, dengan balkon berpagar bambu dan di bagian di kiri kanannya terdapat masing-masing dua buah menara bersusun. Patung-patung berukuran kecil dengan pedang terhunus di kedua tangan, tampak seperti tengah mempertahankan bangunan itu dari sebuah serangan musuh.

kelenteng dewi welas asih cirebon

Info Cirebon

Hotel di Cirebon, Hotel Murah di Cirebon, Tempat Wisata di Cirebon, Peta Wisata Cirebon

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengbinang !
Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.