Kelenteng Talang Cirebon

January 13, 2019. Label:
aroengbinang.com - Kelenteng Talang Cirebon ini letaknya sangat dekat dengan Gedung BAT, namun Kelenteng Talang Cirebon ini memang sengaja dilewatkan ketika kami berkunjung ke Gedung BAT karena menunggu seorang teman yang baru bisa pergi berkeliling di Cirebon keesokan harinya.

Baru dua hari kemudian kami berkunjung ke Kelenteng Talang ini dengan menumpang becak. Di Cirebon, becak merupakan alat transportasi yang sangat praktis dan murah untuk mengunjungi tempat-tempat menarik di dalam kota, apalagi jika cuaca agak sedikit bersahabat. Tepat sebelum sampai di Gedung BAT, becak yang kami tumpangi berbelok ke kanan, dan sesaat kemudian bangunan Kelenteng Talang pun sudah terlihat di sebelah kanan jalan.

Konon Kelenteng Talang ini sebelumnya bernama Sam Po Toa Lang. Toa-Lang artinya adalah orang-orang besar. Nama itu diambil untuk menghormati tiga tokoh besar muslim utusan dinasti Ming yang pernah singgah di Cirebon, yaitu Laksamana Cheng Ho, Laksamana Kung Wu Ping, dan Laksamana Fa Wan.

kelenteng talang cirebon

Tampak depan bangunan utama Kelenteng Talang Cirebon. Tidak ada ornamen sepasang naga atau pun burung Hong di atas wuwungani. Tulisan yang berada di atas pintu gerbang kelenteng menunjukkan bahwa kelenteng ini adalah sebuah Kelenteng Konghucu. Karena yang saya kunjungi biasanya adalah kelenteng Tri Dharma (Buddha, Konghucu, dan Tao), maka kelenteng ini sepertinya merupakan kelenteng Konghucu pertama yang pernah saya kunjungi.

Ada tulisan pada papan yang menempel pada dinding kelenteng yang berbunyi "Di dunia ini ada dua hal yang susah, memanjat langit itu susah, meminta bantuan orang lain lebih susah. Dalam kehidupan manusia ada dua hal yang pahit, buah Huang-lian itu pahit, hidup orang miskin lebih pahit.

Di dunia ini ada dua hal yang rawan, dunia Kang-ouw itu rawan, hati manusia lebih rawan. Dalam kehidupan manusia ada dua hal yang tipis, kertas itu tipis, nurani manusia lebih tipis." Dunia Kang-ouw adalah dunia persilatan, istilah yang tidak asing bagi mereka yang hobi membaca cerita silat Cina karya Asmaraman S Kho Ping Hoo. Dunia Kang-ouw juga sering disebut rimba hijau.

kelenteng talang cirebon

Tulisan di atas pintu gerbang Kelenteng Talang Cirebon, berbunyi Lithang Konghucu, Majelis Agama Konghucu Indonesia. Lithang adalah nama tempat ibadah penganut Konghucu, sebagaimana masjid bagi penganut agama Islam, atau gereja bagi orang Kristen.

Di atas kusen pintu masuk ke dalam Kelenteng Talang terdapat tulisan "Pintu Memasuki Kebajikan", dan di sebelah kiri bawah berbunyi "Kesusilaan", dan di sebelah kanannya berbunyi "Cinta Kasih". Sebuah silsilah yang menempel di tembok Kelenteng Talang yang sangat menarik perhatian. Papan di tembok Kelenteng Talang ini berisi silsilah dari Hayam Wuruk, Raja terbesar Kerajaan Majapahit, sampai ke pendiri Kelenteng Talang, Tan Sam Cay.

Silsilah ini, jika benar, membuktikan kedekatan tali darah Raja-raja Jawa dan keturunannya dengan para Tionghoa perantauan dan keturunannya di tanah Jawa ini. Raden Patah misalnya, Sultan Demak pertama yang memerintah 1455 - 1518, disebut-sebut sebagai Pangeran Jin Bun, dan dikatakan sebagai anak Kertabumi (Raja yang memerintah Majapahit pada 1474 - 1478) dari seorang isteri Cina, anak babah Ban Hong. Sunan Gunung Jati, Sultan Cirebon pertama yang memerintah pada 1552 - 1578, tertulis di sana sebagai anak Sultan Trenggana dari seorang isteri Cina, anak perempuan Swan Liong.

Di kelenteng ini ada sebuah genta besar berwarna kuning terang dengan ornamen dan tulisan Tionghoa berwarna merah, di dekat meja berukir dengan warna abu-abu keunguan kuat indah. Di pojok ada pula naga indah menunggu waktu yang tepat untuk beraksi di jalanan pada acara ritual tahunan kelenteng. Penampilan Barongsai Kelenteng Talang Cirebon kabarnya sangat menarik dan aksinya selalu ditunggu masyarakat Cirebon.

Patung Nabi Kong Hu Cu yang duduk diantara para muridnya terlihat di salah satu altar utama Kelenteng Talang. Di belakangnya terdapat ornamen naga hijau yang indah. Di atas altarnya ada tulisan yang berbunyi: "Kebajikannya Menunggal dengan Langit dan Bumi". Ada pula sebuah tulisan yang berbunyi: "Kebajikan Mengharukan Malaikat". Bangunan kelenteng Talang ini diperkirakan didirikan sejaman dengan dibangunnya Masjid Agung Demak.

Ada pula sebuah altar yang digunakan untuk memuja Tan Sam Cay, atau Haji Mohamad Sjafi’i, Menteri Keuangan Kesultanan Cirebon tahun 1569-1585, yang diberi gelar oleh Sultan Cirebon sebagi Tumenggung Aria Dipa Wira Cula. Bangunan Kelenteng Talang ini didirikan Tan Sam Tjay pada 1450 M sebagai tempat ibadah umat Islam Tionghoa dari Mahzab Hanafi. Di atasnya tertulis: "Mengurus Keuangan dengan Jujur". Kata-kata ini bisa dimengerti, karena semasa hidupnya ia berurusan dengan keuangan kerajaan.

Konon karena kegiatan Muslim Tionghoa di Kota Cirebon waktu itu semakin berkembang pesat, maka Pusat Pengembangan Muslim Tionghoa kemudian dipindah ke Desa Sambung. Bangunan Kelenteng Talang Cirebon lalu lama kelamaan dijadikan sebagai tempat ibadah penganut Konghuchu. Tan Sam Cay sendiri akhirnya kembali ke agamanya semula, Konghucu.

Di taman samping Kelenteng Talang, terdapat patung monyet dengan kedua tangan masing-masing menutupi mulut, mata dan telinga, yang bisa diartikan sebagai mengendalikan indera dari hal-hal yang bisa merusak pikir, rasa, jiwa, dan raga. Sedangkan di sebelah kanan depan Kelenteng Talang terdapat sebuah sumur tua dan bekas tempat berwudlu yang ditutup pagar dan sudah tidak digunakan lagi. Tan Sam Cay, atau Aria Dipa Wira Cula, meninggal pada tahun 1817 M di Puri Sunyaragi karena menenggak racun saat bersama haremnya, dan makamnya berada di Jalan Sukalila Utara, Cirebon.

Sebagaimana terlihat, kondisi Kelenteng Talang saat itu berada dalam keadaan yang cukup baik dan terawat, setelah sebelumnya sempat dikabarkan dalam keadaan menyedihkan dan terlantar. Tampaknya memang ada masa dimana pengurus dan dinas terkait seperti membiarkan Benda Cagar Budaya tidak terurus, sebelum akhirnya muncul dewa penyelamat. Seperti sebuah siklus hidup tanpa akhir.

Kelenteng Talang Cirebon

Alamat : Jl. Talang No. 2 Cirebon. Lokasi GPS : -6.7197, 108.56957, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Kelenteng Talang

Sebuah tulisan pada papan yang menempel pada dinding Kelenteng Talang yang berbunyi "Di dunia ini ada dua hal yang susah, memanjat langit itu susah, meminta bantuan orang lain lebih susah. Dalam kehidupan manusia ada dua hal yang pahit, buah Huang-lian itu pahit, hidup orang miskin lebih pahit. Di dunia ini ada dua hal yang rawan, dunia Kang-ouw itu rawan, hati manusia lebih rawan. Dalam kehidupan manusia ada dua hal yang tipis, kertas itu tipis, nurani manusia lebih tipis."

kelenteng talang cirebon

Sebuah lampion berbentuk seperti tong menggantung di bawah atap kelenteng. Lampion semacam ini biasanya merupakan sumbangan dermawan, namun ada pula yang memang dipasang sendiri oleh pengurus kelenteng. Di belakang kanan atas sana, di atas belandar kayu, terlihat ada patung seekor harimau.

kelenteng talang cirebon

Pintu masuk ke dalam Kelenteng Talang yang disebut "Pintu Memasuki Kebajikan", dan di sebelah kiri bawah berbunyi "Kesusilaan", dan di sebelah kanannya berbunyi "Cinta Kasih"

kelenteng talang cirebon

Sebuah silsilah yang menempel di tembok Kelenteng Talang yang sangat menarik perhatian. Papan di tembok Kelenteng Talang ini berisi silsilah dari Hayam Wuruk, Raja terbesar Kerajaan Majapahit, sampai ke pendiri Kelenteng Talang, Tan Sam Cay.

kelenteng talang cirebon

Pada silsilah ini disebutkan bahwa Putri Hayam Wuruk yang bernama Kusuma Wardhani menikah dengan Hyang Wisesa Wikramawardhana (Yang Wi Si Sa, Raja Majapahit 1389-) dan berputeri Rani Suhita (Ratu Majapahit 1437-1447) yang menikah dengan Hyang Parameswara. Hyang Wisesa dengan seorang perempuan Cina menurunkan Arya damar (Swan Liong, Jaka Dilah) yang menikah dengan perempuan Cina anak Babah Ban Hong dan menurunkan Raden Kusen (Kin San, Adipati Terung).

kelenteng talang cirebon

Raden Kusen (Adipati Terung) adalah tokoh yang membunuh Sunan Ngudung, setelah sebelumnya Sunan Ngudung membunuh Pangeran Handayaningrat (Ki Ageng Pengging Sepuh) dengan keris beracun dalam pertempuran antara Majapahit melawan Demak. Saudara perempuan Raden Kusen menikah denga Raden Trenggana menurunkan Raden Mukmin (Sunan Prawata) dan To A Bo (Pangeran Timur, Syarif Hidayatullah, Fatahillah, Sunan Gunung Jati).

kelenteng talang cirebon

Silsilah yang menyebut nama Bong Tak Keng, seorang pemimpin masyarakat Cina di Nan Yang (Asia Tenggara) yang berkedudukan di Campa, menurunkan Maulana Ibrahim (Malik Ibrahim, Raden Surya, Makdum Ibrahim) dan Maulana Wali Lanang (Maulana Iskak, Malik Iskak).

Maulana Ibrahim menikah dengan puteri Campa menurunkan Raden Santri dan Raden Rahmat (Bong Swi Hoo, Sunan Ampel). Sedangkan Maulana Iskak menikah dengan seorang perempuan Cina dari Blambangan dan menurunkan Raden Giri (Sunan Giri).

kelenteng talang cirebon

Silsilah yang menyebut bahwa Sunan Ampel menikah dengan Nyai Rara Ngunjun (puteri Bupati Tuban) menurunkan Jafar Sidik (Ja Tik Su, Sunan Kudus). Sunan Ampel juga menikah dengan Ni Gede Manila menurunkan Sunan Bonang.

kelenteng talang cirebon

Silsilah yang menyebut nama Tan Eng Hoat (Imam Sembung Maulana Ifdil Hanafi, Pangeran Adipati Wirasenjaya) yang menurunkan Tan Hong Tin Nio (yang menikah dengan Sunan Gunung Jati) dan Tan Sam Cai (Tumenggung Aria Dipa Wira Cula (Menteri Keuangan/Bendahara Kesultanan Cirebon).

kelenteng talang cirebon

Silsilah yang menyebut Raden Patah (Pangeran Jin Bun) yang menikah dengan Retna Mulia (puteri Sunan Giri) dan menurunkan Adipati Yunus (Dipati Unus, Pangeran Sabrang Lor) dan Raden Trenggana yang menurunak Raden Mukmin (Sunan Prawata). Putera ketiga Raden Patah, Pangeran Sekar Seda Lepen (ayah Arya Penangsang yang dibunuh Raden Mukmin), tidak disebut dalam silsilah ini.

kelenteng talang cirebon

Foto yang lebih jelas pada bagian sisi kiri silsilah yang menyebutkan bahwa perempuan Cina yang dinikahi Arya Damar (menurunkan Raden Kusen) sebelumnya merupakan isteri Kertabhumi yang menurunkan Raden Patah. Bagian ini juga menyebutkan nama Raja-Raja Majapahit mulai dari Bhre Daha hingga Kertabhumi.

kelenteng talang cirebon

Silsilah yang menyebut keturunan Gan Eng Wan (Wira), Bupati Tuban 1430-1448 yang salah satu puterinya menikah dengan Raden Santri (putera Maulana Malik Ibrahim), dan satunya lagi menikah dengan Sunan Ampel.

kelenteng talang cirebon

Silsilah yang menyebut bahwa kedua putera Maulana Malik Ibrahim menikah dengan anak-anak perempuan dari Bupati Tuban Wira (Gan Eng Wan).

kelenteng talang cirebon

Silsilah yang menyebut bahwa Raden Said (Gan Si Cang, Sunan Kalijaga) adalah putera Arya Teja dengan Raden Ayu Teja, puteri Bupati Tuban. Namun sumber lain menyebut bahwa Arya Teja adalah kakek Sunan Kalijaga, dan ayahnya bernama Aria Wilatikta.

kelenteng talang cirebon

Menurut riwayat, Arya Teja berhasil mengislamkan Bupati Tuban Arya Dikara dan kemudian mengawini anaknya menurunkan Aria WIlatikta yang kemudian menurunkan Raden Said (Sunan Kalijaga).

kelenteng talang cirebon

Lampion lainnya yang menghiasi Kelenteng Talang dengan ornamen berwarna keemasan dengan dasar warna dominan merah.

kelenteng talang cirebon

Sebuah lukisan foto diapit dengan tulisan Cina, namun sayangnya tanpa ada terjemahan dalam bahasa Indonesia. Paras wajahnya mengingatkan saya pada Jengis Khan.

kelenteng talang cirebon

Lukisan foto lainnya yang juga diapit aksara Cina. Melihat paras wajah dan dandanannya maka tampaknya ini adalah Kong Hu Cu atau Konfusius, yang kadang disebut Kongcu.

kelenteng talang cirebon

Sebuah genta besar berwarna kuning terang dengan ornamen dan tulisan Cina berwarna merah, di dekat meja berukir dengan warna abu-abu keunguan kuat indah yang berada di depan altar Kelenteng Talang.

kelenteng talang cirebon

Pandangan lebih dekat pada genta dan ornamen kayu ukir yang ada di belakangnya. Genta Rohani ini merupakan lambang Majelis Tinggi Agama Konghucu di Indonesia, berdasar ayat Lun Yu (Sabda Suci) III 24 : 3, yang berbunyi "Saudara-saudaraku mengapa kalian bermuram durja karena kedudukan? Sudah lama dunia ingkar dari Jalan Suci, kini Tuhan YME menjadikan Guru(Kongzi) selaku Bok Tok (Genta)."

kelenteng talang cirebon

Naga indah tanpa baju yang tengah beristirahat menunggu waktu yang tepat untuk beraksi di jalanan pada acara ritual tahunan Kelenteng Talang Cirebon. Penampilan Barongsai Kelenteng Talang Cirebon ini kabarnya sangat menarik dan indah, sehingga aksinya selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat Cirebon.

kelenteng talang cirebon

Sebuah altar yang digunakan untuk memuja Tan Sam Cay, atau Haji Mohamad Sjafi’i, Menteri Keuangan Kesultanan Cirebon tahun 1569-1585, yang diberi gelar oleh Sultan Cirebon sebagi Tumenggung Aria Dipa Wira Cula. Bangunan Kelenteng Talang ini didirikan Tan Sam Tjay pada 1450 M sebagai tempat ibadah umat Islam Tionghoa dari Mahzab Hanafi.

kelenteng talang cirebon

Patung Nabi Kong Hu Cu yang berada di altar utama Kelenteng Talang yang duduk diantara para muridnya. Di belakangnya terdapat ornamen naga hijau yang indah. Bangunan kelenteng Talang ini diperkirakan didirikan sejaman dengan dibangunnya Masjid Demak.

kelenteng talang cirebon

Tiga diantara murid Konghucu yang nama-namanya terbaca disamping adalah RS Tjeng Tju, RS Ganjan, dan RS Tjusu. Patung naga hijau terlihat menghias dinding di belakang patung.

kelenteng talang cirebon

Di atas altar ini terdapat sebuah tulisan yang berbunyi: "Kebajikan Mengharukan Malaikat".

kelenteng talang cirebon

Di atas altar Nabi Kong Hu Cu di Kelenteng Talang Cirebon juga ada tulisan yang berbunyi: "Kebajikannya Menunggal dengan Langit dan Bumi".

kelenteng talang cirebon

Pandang tengah lainnya pada altar utama di Kelenteng Talang. Bangunan Kelenteng Talang Cirebon setelah tak lagi digunakan sebagai masjid lama kelamaan dijadikan sebagai tempat ibadah penganut Konghuchu.

kelenteng talang cirebon

Di atas altar Tan Sam Cay Kong tertulis: "Mengurus Keuangan dengan Jujur". Kata-kata ini bisa dimengerti, karena semasa hidupnya Tan Sam Cay Kong adalah Menteri Keuangan Kasultanan Cirebon. Tan Sam Cay akhirnya kembali memeluk Konghucu.

kelenteng talang cirebon

Penampakan pada dua altar di Kelenteng Talang. Sebelah kanan adalah altar sembahyang bagi Konghucu. Dibanding kelenteng Tao, kelenteng Konghucu memiliki jenis dan jumlah patung yang tampaknya jauh lebih sedikit.

kelenteng talang cirebon

Ketiga altar pemujaan di ruang utama Kelenteng Talang Cirebon. Seingat saya, belum pernah saya menemukan tulisan yang menyerupai tulisan bijak yang ada di Kelenteng Talang ini.

kelenteng talang cirebon

Sudut pandang berbeda pada ketiga altar memperlihatkan pilar kayu bangunan , lampion serta ornamen ukir pada kayu-kayunya.

kelenteng talang cirebon

Foto lainnya pada ketiga altar utama di Kelenteng Talang. Bisa dikatakan bahwa kelenteng ini dirawat dengan baik, dengan arsitektur tradisional yang sangat kental.

kelenteng talang cirebon

Tampak depan Kelenteng Talang. Di sebelah kiri ada tulisan yang berbunyi "Berpeganglah pada welas asih dan hati suci sebagai dasar pedoman hidup. Berpeganglah pada kejujuran dan kasih sayang sebagai wujud lapang dada."

kelenteng talang cirebon

Sudut pandang lainnya pada bagian depan Kelenteng Talang Cirebon. Tulisan yang menempel di tembok sebelah kanan sudah disebutkan pada salah satu foto sebelumnya.

kelenteng talang cirebon

Dua diantara empat monyet bijak, "do no evil" dan "speak no evil".

kelenteng talang cirebon

Dua patung monyet bijak lainnya, "hear no evil" dan "see no evil" di Kelenteng Talang.

kelenteng talang cirebon

Di sebelah kanan depan Kelenteng Talang terdapat sebuah sumur tua dan bekas tempat berwudlu yang ditutup pagar dan sudah tidak digunakan lagi.

kelenteng talang cirebon

Info Cirebon

Hotel di Cirebon, Hotel Murah di Cirebon, Tempat Wisata di Cirebon, Peta Wisata Cirebon.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengbinang !
Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.