Situs Baron Sekeber Rogoselo Pekalongan

December 02, 2019. Label:
aroengbinang.com - Kunjungan ke Situs Baron Sekeber Rogoselo Pekalongan dipandu Kedi, setelah di warungnya ia berbincang dengan Dodi dan Dodi memberitahu saya. Kesediaan Kedi menemani sangat kami apresiasi, apalagi ia menolak untuk menerima imbalan. Tak selamanya memang uang berbicara.

Nama Baron Sekeber atau Skeber tidak asing di telinga. Barangkali dari sandiwara ketoprak di radio. Dari warung milik Kedi di halaman parkir Makam Ki Gede Penatas Angin kami berjalan beriringan. Lokasi keduanya tak terlalu jauh karena Situs Baron Sekeber Rogoselo Pekalongan itu ada kaitannya dengan tokoh Ki Gede Penatas Angin.

Dahulu, sebutan Ki Gede diberikan pada kepala tanah perdikan, wilayah khusus yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak kepada raja. Kedi menceritakan secara singkat legenda pertempuran antara Ki Gede Penatas Angin dan Baron Sekeber, yang berakhir dengan kekalahan Baron Sekeber dan kemudian dikutuk menjadi arca batu ini. Ada yang menyebut Baron Sekeber adalah orang Spanyol yang mengabdi kepada Belanda, namun Serat Babad Pati menyebutnya sebagai orang Belanda. Baron sendiri adalah gelar kebangsawanan orang Jerman.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Jalan setapak yang kami lalui saat baru saja meninggalkan warung milik Kedi menuju ke Situs Baron Sekeber Rogoselo Pekalongan. Suburnya rerumputan pada jalan setapak memberi petunjuk bahwa lintasan ini boleh dikatakan sangat jarang dilewati orang.

Situs semacam ini memang menarik jauh lebih sedikit pengunjung, ketimbang tempat wisata pada umumnya. Kami berjalan tak terlalu cepat menapaki jalan berumput di tengah hutan karet yang dikelola oleh PTPN IX Unit Kerja Kebun Blimbing. Jalan setapak itu kemudian menurun tajam tanpa dibuat undakan, sehingga kami harus sedikit lebih berhati-hati dalam memilih pancatan kaki untuk melangkah. Beberapa saat berikutnya kami sudah berada di pinggir sebuah sungai.

Namanya Sungai Nggoromanik, sungai berbatu yang kami harus seberangi untuk menuju ke Situs Baron Sekeber Rogoselo Pekalongan, beberapa saat setelah menuruni jalan setapak di atas perbukitan. Beruntung alir air sungainya sedang tidak begitu besar, meskipun demikian saya masih kerepotan untuk memilih tempat berpijak karena ada bagian cukup dalam dan batuannya licin.

Ada akses lain untuk menuju ke Situs Baron Sekeber Rogoselo Pekalongan ini, tanpa harus berkunjung terlebih dulu ke Makam Ki Gede Penatas Angin. Namun saya kira kondisi jalan setapaknya tidak lebih baik dari jalan yang kami lalui. Setelah melewati gerumbul di seberang sungai, kami berbelok ke kiri. Agak jauh di sebelah kanan adalah tebing bukit yang lumayan tinggi.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Kedi dan Doddy berjalan lebih dulu di depan kami menapaki jalan setapak dengan rerumputan yang relatif masih subur, diapit semak belukar hijau yang rapat di kiri kanan jalan. Jelas kami sedang berjalan menuju ke arah lembah.

Setelah melangkahkan kaki beberapa saat menjajari bukit, dengan mengambil jalan menyimpang beberapa meter ke sebelah kiri dari jalur utama yang hendak kami lalui, dan lalu memanjat tebing yang tak begitu tinggi, sampailah kami ke sebuah batu peninggalan yang tampak pada foto di atas. Tak jelas benar apakah itu umpak atau Yoni yang tidak bercerat di bagian atasnya. Lubang persegi di bagian atasnya bisa merupakan tempat dudukan pilar kayu, bisa pula merupakan dudukan bagi sebuah Lingga. Hanya saja Kedi mengatakan bahwa di atas batu ini sebelumnya ada batu lain, yang belakangan kami lihat menggelinding di bawah bukit.

Batu yang menggelinding itu meskipun agak memanjang namun tidak menyerupai Lingga. Kami turun dari bukit rendah itu dan melanjutkan perjalanan. Beberapa saat kemudian dengan menyimpang jalan lagi kami melihat batu persegi dengan bagian atas rata berlumut. Dekat di sebelahnya terdapat batu limasan terpancung dengan lubang agak bulat dan batu tegak pendek menyerupai lingga di dalamnya.

Salah satu pojok batu itu telah pecah. Di sebelahnya teronggok bebungaan di atas daun pisang yang telah mengering. Setelah kembali ke jalur utama dan melanjutkan perjalanan kembali, beberapa saat kemudian terlihat dinding tembok keliling dengan lubang masuk berpagar kawat. Itulah Situs Baron Sekeber Rogoselo Pekalongan. Kami melangkah mendekatinya, pagarnya tidak dikunci sehingga kami bisa masuk ke dalam area situs yang kami tuju itu.

Konon berbekal kesaktiannya, Baron Sekeber datang melurug ke Mataram untuk menantang Panembahan Senopati, namun ia dikalahkan dalam perang tanding dan lari ke Pati. Di Pati, Baron Sekeber menantang Adipati Jaya Kusuma berperang tanding, namun kembali ia dikalahkan dan melarikan diri ke Pekalongan, disusul istrinya yang datang menggendong bayinya.

Kedi berdiri di sebelah arca yang disebut sebagai arca utama di Situs Baron Sekeber Rogoselo Pekalongan. Arca batu yang cukup besar dan tinggi ini baik bentuk muka, tangan dan kakinya sudah tidak begitu jelas. Lumut cukup tebal juga telah menyelimutinya. Entah memang bentuk pahatannya yang sangat kasar atau karena telah aus dimakan waktu dan sebab lainnya.

Di Pekalongan inilah Baron Sekeber berhadapan dengan Ki Ageng Penatas Angin sehingga terjadi pertempuran lagi, yang konon berlangsung di udara, di darat, dan di dalam air. Namun kembali Baron Sekeber dikalahkan, hingga ia dikutuk menjadi arca batu oleh Ki Ageng Penatas Angin, yang makamnya juga saya lihat ada di kompleks Makam Raja-Raja Demak.

Ada arca batu besar lainnya yang lokasinya berada hanya beberapa meter dari arca Baron Sekeber, memperlihatkan pahatan rambutnya yang gimbal, sebagaimana rambut belakang arca Baron Sekeber. Konon arca yang separuh badannya berada di bawah tanah ini adalah isteri Baron Sekeber yang juga dikutuk menjadi batu.

Di dalam kompleks Situs Baron Sekeber Rogoselo Pekalongan juga terdapat beberapa buah batu peninggalan kuno berupa dua buah menhir dan sebuah Lingga yang tertancap pada tanah. Di sekitar arca batu terdapat beberapa buah piring plastik kecil berisi kembang yang sudah layu dan mulai mengering, tampaknya dimaksudkan sebagai sesaji bagi penunggu arca batu ini.

Hampir melekat pada dinding depan tembok keliling terdapat papan tengara nama situs yang sudah terlihat lusuh, dibuat oleh Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan. Kondisi situs sama sekali tidak terawat, dengan semak dan pepohonan dibiarkan tumbuh liar tanpa penataan. Sepertinya sudah cukup lama situs ini dibiarkan terbengkalai.

Bisa diduga bahwa kedua arca batu itu adalah peninggalan dari jaman kebudayaan Hindu, setidaknya di era Kerajaan Majapahit atau bahkan jauh sebelum jaman itu. Kedua arca itu tampaknya adalah arca Dwarapala, yang biasa dibuat dan diletakkan di depan gerbang masuk sebuah tempat suci. Karenanya dahulu di tempat ini mungkin pernah ada sebuah candi. Namun bisa pula arca itu dibuat untuk menghormati seorang tokoh yang dihormati dan dianggap sudah seperti dewa.

Keberadaan kedua arca di Situs Baron Sekeber Rogoselo Pekalongan itu sempat mengingatkan saya kepada Arca Joko Dolog Surabaya, meskipun keduanya tak bisa diperbandingkan kehalusan tatahan batunya. Jika saja kedua arca itu dibersihkan dan diletakkan dengan semestinya, barangkali bentuknya akan lebih jelas terlihat. Baiknya dinas purbakala segera melakukan langkah konservasi, dan menunjuk seorang penanggung jawab untuk merawat situs kuno ini.

Situs Baron Sekeber Rogoselo Pekalongan

Alamat : Dukuh Kaum, Desa Rogoselo, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan. Lokasi GPS : -7.06911, 109.67, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Situs Baron Sekeber Rogoselo Pekalongan

Setelah melangkahkan kaki beberapa saat menjajari bukit, dengan mengambil jalan menyimpang beberapa meter ke sebelah kiri dari jalur utama yang hendak kami lalui, dan lalu memanjat tebing yang tak begitu tinggi, sampailah kami ke sebuah batu peninggalan yang tampak pada foto di atas. Tak jelas benar apakah itu umpak atau Yoni yang tidak bercerat di bagian atasnya. Dugaan saya itu adalah Yoni, karena kecil kemungkinannya ada bangunan dengan umpak sebesar itu di tempat seperti ini.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Penampakan Sungai Nggoromanik yang kami harus seberangi untuk menuju ke Situs Baron Sekeber Rogoselo Pekalongan, beberapa saat setelah menuruni jalan setapak di atas perbukitan. Beruntung alir air sungainya sedang tidak begitu besar, meskipun demikian saya masih kerepotan untuk memilih tempat berpijak karena ada bagian cukup dalam dan batuannya licin.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Kedi berdiri di sebelah arca yang disebut sebagai arca utama di Situs Baron Sekeber Rogoselo Pekalongan. Arca batu yang cukup besar dan tinggi ini baik bentuk muka, tangan dan kakinya sudah tidak begitu jelas. Lumut cukup tebal juga telah menyelimutinya. Entah memang bentuk pahatannya yang sangat kasar atau karena telah aus dimakan waktu dan sebab lainnya.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Pandangan lainnya pada batu yang saya duga adalah Yoni itu, yang tentunya merupakan peninggalan dari jaman ketika kebudayaan Hindu Buddha masih berjaya di Pulau Jawa, sebelum masuknya agama Islam yang membuat kepercayaan Hindu Buddha terdesak mundur secara sangat signifikan.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Wid tampak tengah menerobos di bawah pohon dan semak dengan dedaunan yang cukup rapat. Tanpa ditemani Kedi memang tak mungkin kami bisa menemukan lokasi batu-batu peninggalan jaman dulu yang sebagian masih terserak di sejumlah titik terpisah lumayan jauh itu.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Doddy dan Kedi di dekat batu peninggalan lainnya dari jaman kebudayaan Hindu Buddha itu. Jika terus dibiarkan pada keadaanya seperti itu lambat laun batu-batu itu jika tidak hilang karena diambil orang maka bisa pula rusak, baik disengaja oleh tangan manusia atau pun tidak.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Sebuah batu yang permukaan atas dan sampingnya sudah hampir tertutup oleh lumut hijau, menyembunyikan dengan rapih bentuk aselinya. Tak jelas benar itu batu jenis apa dan digunakan untuk keperluan apa. Yang jelas bukan Yoni, dan bukan pula Lingga.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Sudut pandang lainnya pada batu misterius itu dengan latar pohon tua yang berada cukup dekat dengan lokasi batu. Jika pun dulu batu tersebut digunakan sebagai tempat untuk meletakkan sesajen, maka sudah tak ada bekas-bekasnya yang terlihat.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Batu peninggalan berikutnya yang kami jumpai atas petunjuk Kedi. Jelas ini adalah Yoni dengan cerat yang sudah pecah entah oleh sebab apa. Batu yang di tengah mestinya adalah Yoni, namun bentuk dan ukurannya bisa dikatakan tidak lazim oleh karena terlalu kecil dan sangat pendek. Bunga dan bungkus daunnya yang telah mengering tampak menggeletak di sebelah batu.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Wid disamping batu Yoni yang sudah pecah menjadi beberapa bagian itu. Keberadan pohon besar di sebelahnya memberi semacam legitimasi bagi keberadaan batu-batu ini sebagai kelengkapan ritual pemujaan di jaman dahulu.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Semoga saja pohon yang terlihat sudah tua ini bisa tetap lestari, tidak ditebang karena keserakahan manusia, atau pun tumbang karena angin ribut. Sudah semakin langka pohon tua di jaman ini, karena yang di atas perbukitan dan di dasar lembah pun sekarang sudah habis ditebang orang, dan belum terlihat ada usaha untuk menanaminya kembali.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Bahwa batu-batu peninggalan itu dibiarkan tetap pada posisinya, yaitu di tengah lintasan jalan setapak, sudah merupakan hal yang sangat baik. Mudah-mudah sudah ada usaha untuk melakukan langkah konservasi pada batu-batu peninggalan ini.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Kedi terlihat tengah memegang sebuah batu yang menurutnya dulu posisinya berada di dekat batu yang sebelumnya kami lihat. Batu itu menggelundung ke bawah bukit entah oleh karena sebab apa.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Wid di jalan setapak, entah apa yang sedang dilihat dan menarik perhatiannya di atas gerumbul pohon yang cukup lebat itu.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Akhirnya kami sampai di lokasi situs utama yang kami hendak kunjungi. Kedi tampak sudah lebih dahulu masuk ke dalam area Situs Baron Sekeber yang telah dibangun tembok keliling. Terlihat sudah cukup bagus temboknya. Semak di sekeliling tempat ini menjadi indikasi bahwa sudah lama tak ada orang yang merawat area situs ini.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Situs Baron Sekeber seperti dinaungi alam dengan rimbun pepohonan yang cukup lebat, membuat areanya menjadi agak temaram karena sinar matahari yang terhalang masuk dan hawanya menjadi lembab, menambah kesan angker bagi yang mempercayainya.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Kedi di samping arca utama di Situs Baron Sekeber. Tak jelas apakah ketika tembok keliling dibuat, arca ini pernah dibersihkan dari lumut. Jika pun pernah maka memang arca itu akan terus ditumbuhi lumut rapat seperti ini jika tidak dibuat cungkup untuk melindunginya dari curah hujan yang sepertinya cukup tinggi di tempat ini.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Bagian belakang arca di Situs Baron Sekeber, memperlihatkan gulungan rambut ikalnya menggantung di belakang kepalanya, mirip dengan Arca Joko Dolog di Surabaya. Saya duga akan terlihat adanya ornamen pada badan arca jika lumutnya dibersihkan.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Wid berjongkok di dekat arca lainnya di Situs Baron Sekeber yang tampak berukuran lebih kecil dibanding arca pada foto sebelumnya. Namun boleh jadi karena sebagain badan arca ini telah tertanam di bawah permukaan tanah.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Batu dengan permukaan cukup mulus namun tidak memiliki bentuk yang jelas. Bisa merupakan batu sandaran, batu untuk duduk, atau batu untuk meletakkan sesaji.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Pandangan pada bagian belakang arca yang badannya tertanam sebagian di dalam tanah itu, dengan bentuk gelung rambutnya hampir sama dengan arca yang satu lagi. Adanya pring dan mangkok di tempat ini boleh jadi karena masih ada yang melakukan ritual penghormatan atau semacamnya pada leluhur atau arca-arca ini.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Penampakan posisi batuan dan arca kecil di Situs Baron Sekeber. Bahwa telah dibangun tembok keliling di situs ini sebenarnya sudah cukup baik. Hanya perlu dididirkan cungkup, yang dibuat dari bampu dan atap daun rumbia pun tak apa, jika belum tersedia dana yang cukup.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Foto yang memperlihatkan posisi relatif kedua arca utama yang ada di area Situs Baron Sekeber. Batu berbentuk nyaris silindris dengan permukaan halus di dekat arca di sebelah sana itu hampir menyerupai sebuah Lingga.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Pandangan dekat pada arca utama di Situs Baron Sekeber. Kedua mata arca ini sepertinya dibuat dengan kelopak tertutup, hidungnya tinggal tersisa sedikit, dan bibir atasnya agak maju, mungkin ada kumis di sana.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Sudut pandang lainnya pada arca di Situs Baron Sekeber dengan batu yang menyerupai Lingga terlihat berada tak jauh di depannya. Gerumbul pepohonan di area ini terlihat cukup lebat membuat suasana menjadi agak wingit.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Sudah terlihat ada usaha untuk melakukan konservasi pada situs ini. Hanya saja sepertinya terkendala pada minimnya tenaga perawatan, dan tentunya karena pengawasan yang lemah. Semoga saja saat ini kondisinya sudah jauh lebih baik dibandingkan ketika kami berkunjung ke sana.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Papan tengara yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Pekalongan, Kantor Pariwisata dan Kebudayaan, menyebut nama Patung Baron Skeber, dengan lokasi di Desa Rogoselo, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan. Kalimat di bawahnya adalah kutipan tentang Undang-Undang RI No.5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Foto yang memperlihatkan lingkungan sekitar serta jalan setapak yang kami lalu di sekitar area Situs Baron Sekeber.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Ini adalah pemandangan yang diambil saat kami menuruni perbukitan menuju ke sungai yang kami seberangi untuk menuju ke Situs Baron Sekeber. Moga-moga saja saat ini sudah ada jembatan untuk menyeberangi sungainya.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Pandangan lainnya pada Yoni yang sudah dipenuhi oleh lumut dan ditinggalkan entah kemana oleh Lingga pasangannya yang mestinya menancap pada lubang di atasnya itu.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Foto ini memperlihatkan secara lebih jelas penampakan wajah pada arca yang separuh badannya tertanam di bawah permukaan tanah ini. Berbeda dengan arca yang satunya lagi, arca ini memiliki bola mata yang terbuka penuh.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Sudut pandang yang memperlihatkan rambut gimbal pada Arca Baron Sekeber, dengan posisi siku tangan yang menekuk. Tak jelas apakah di tangan arca ini dahulu ada benda yang dipegang olehnya, sebuah gada misalnya.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Wid pada jalan setapak pada arah menuju ke Situs Baron Sekeber yang terlihat relatif jarang dilalui orang. Kedi dan Doddi tampak masih melangkah ke depan dan sudah berada agak jauh di depan kami.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Suasana lainnya yang sempat saya foto pada jalan setapak yang kami lalui saat masih menuju ke lokasi Situs Baron Sekeber, sebelum menyeberang sungai.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Kedi dan Wid berdiri di samping Yoni yang Lingganya entah sudah berada dimana saat itu. Lokasi ini saat itu bisa dibilang cukup jauh dari permukiman penduduk, namun entah pada jaman dahulu kala. Boleh jadi dulu ada semacam perguruan atau pertapaan di sekitar tempat ini.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Foto yang memperlihatkan posisi relatif dari bebatuan dan arca di Situs Baron Sekeber. Bahwa sudah ada tembok yang memagari arca dan bebatuan yang ada di sana itu saya kira sudah cukup baik. Hanya saja perubahan personil pada dinas purbakala sepertinya yang membuat situs ini menjadi terbengkalai.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Foto tegak ketika Kedi sedang berdiri di samping arca utama di Situs Baron Sekeber. Jika melihat patung pada kondisi seperti ini, sepertinya matanya memang terpejam. Namun entah memang terpejam atau sebenarnya terbuka jika lumut yang menutupi wajahnya itu dibersihkan.

situs baron sekeber rogoselo pekalongan

Info Pekalongan

Hotel di Pekalongan, Tempat Wisata di Pekalongan, Peta Wisata Pekalongan.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengbinang ! Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.