Kelenteng Poo An Bio Demak

September 05, 2019. Label:
aroengbinang.com - Meskipun berada di sekitaran alun-alun, tepatnya di sisi sebelah timur, namun Kelenteng Poo An Bio Demak baru sempat saya kunjungi belakangan sepulang dari Kudus. Nama lokal kelenteng ini adalah Vihara Budhi Luhur, dan adanya nama lokal yang menunjukkan pengaruh kebijakan orba ini memberi indikasi bahwa kelenteng itu juga merupakan tempat ibadah Tri Dharma yang sering disingkat TITD.

Bangunan kelenteng menghadap ke arah barat, arah yang paling dekat ke pinggir laut, yaitu sekitar 15 km ke arah Bonang, area yang di jaman dahulu pernah menjadi salah satu pelabuhan milik Kesultanan Demak Bintoro. Pelabuhan Demak satunya lagi, yang merupakan pelabuhan bagi berlabuhnya kapal-kapal militer, berada di sekitar Teluk Wetan, Jepara. Alasan mengapa Kelenteng Poo An Bio Demak menghadap ke arah laut oleh karena di kelenteng ini terdapat tempat sembahyang bagi Tian Siang Seng Bo (Tian Shang Sheng Mu) yang juga dikenal dengan sebutan Ma Zu atau Mak Co. Ia adalah Dewi Laut, penolong para pelaut, serta pelindung etnis Tionghoa di wilayah Selatan Tiongkok, serta pelindung para imigran di wilayah Asia Tenggara.

Salah satu altar cantik di kelenteng ini tentunya tempat sembahyang bagi Tian Siang Seng Bo, yang merupakan altar utama atau tuan rumah kelenteng ini. Ia digambarkan sebagai seorang dewi cantik dengan tutup kepala berjumbai di depannya. Pemujaan kepada Dewi Laut ini mungkin juga sebagai ungkapan syukur bahwa leluhur mereka tiba dengan selamat ke tempat tujuan setelah mengarungi laut untuk mencari daerah baru.

kelenteng poo an bio demak

Tampak muka Kelenteng Poo An Bio dengan deretan lampion yang digantungi nama para donaturnya, papan nama Vihara Budhi Luhur yang menggantung dan telah pudar, hiolo Thian (Tuhan Yang Mahaesa) di teras depan, serta sepasang singa penjaga (ciok say) yang mungil di dekat tiang kayu. Ornamen pada lubang hawa terlihat dibuat dengan kualitas ukir yang baik.

Donasi ke sebuah tempat ibadah, apakah berupa uang atau benda seperti mimbar, bedug, hiolo, lilin ukuran kati, lampion, patung, atau apa pun memilliki motif yang bermacam-macam. Ada yang benar-benar ikhlas tanpa mengharap balas apa pun dan hanya ingin melakukan kebaikan, dan ada pula yang berharap akan menjadi kucuran pahala atau meringankan beban dosa.

Langit terlihat pucat karena matahari belum lagi mencapai puncaknya sehingga pengambilan foto pada bagian depan kelenteng ini masih malawan sinar kemilaunya. Berbeda dengan kebanyakan kelenteng yang saya pernah kunjungi, hiolo Thian di serambi kelenteng diletakkan pada dudukan berkaki empat, bukan berkaki tiga. Hiolo-nya pun agak unik, bersegi delapan dengan ukiran mengelilingi badannya.

Altar lainnya merupakan tempat sembahyang kepada Budha Gautama, dengan aksara China tegak serta rupang atau patung-patung berukuran besar dan kecil yang tampak memikat. Ada sejumlah ornamen dan ukiran kayu lainnya yang dibuat oleh tangan terampil dan karenanya terlihat indah serta terawat.

Ukiran kayu yang elok dan warna-warni terlihat pada belandar Kelenteng Poo An Bio Demak. Meski warna dominan masih merah dan kuning, namun adanya warna-warna lain seperti tampak pada ukiran ini membuatnya terlihat lebih menarik.

Patung di sebelah kiri berbentuk seekor gajah yang memegang setangkai bunga, sedangkan di sebelah kanan berupa seekor singa betina yang bermain dengan anaknya. Ukiran burung dan lukisan dua ekor ikan terlihat di bagian atasnya.

Meskipun terbilang kecil namun saya suka dengan kelenteng ini karena masih dominan menggunakan struktur kayu dan ada banyak ukiran bermutu yang menghiasinya. Kelemahan kayu tentu karena ada batasan usianya, yang selain semakin mahal juga sangat rentan terbakar di tempat dimana ada banyak sekali lilin dan lampu minyak yang terus menyala di hampir setiap waktu.

Ada altar sembahyang di Kelenteng Poo An Bio Demak bagi Kwan Im Po Sat, Dewi Welas Asih, yang dipercayai akan mengabulkan doa setiap orang yang memintanya dengan hati bersih dan bekerja keras untuk mendapatkannya. Selain dihias arca sepasang naga emas berebut mustika di puncak atap rumahannya, pada kedua tiangnya juga melilit naga yang elok.

Juga ada altar sembahyang bagi Hok Tek Tjeng Sin di Kelenteng Poo An Bio Demak yang digambarkan mengenakan pakaian kebesarannya, berkumis dan berjanggut hitam lebat, mengenakan topi, serta memegang tongkat berkepala naga. Di kanan kirinya tampak ada rupang lain dengan roman wajah yang berbeda. Sebagian badan dari sepasang patung naga berwarna keemasan tampak pada sudut kiri kanan atas foto.

Arti harafiah Hok Tek Ceng Sin adalah "dewa bumi atas kemakmuran dan jasa". Ia merupakan sosok dewa yang menjadi pelindung masyarakat serta dianggap sebagai dewa bumi secara keseluruhan, pemberi rizki bagi petani dan pedagang.

Sebelum bersembahyang orang dianjurkan untuk berbuat kebaikan agar doanya mudah terkabul, karena kebaikan akan membawa kebaikan lain. Di bawah altar ini terdapat altar Panglima Harimau (Houw Tjiang Kong/Kun) yang adalah pengawal Dewa Bumi.

Kelenteng Poo An Bio Demak dibangun pertama kali pada tahun 1690 dan direlokasi ke tempatnya yang sekarang ini pada tahun 1968 dengan menempati area yang sedikit lebih luas. Perpindahan kelenteng dan tempat ibadah lazim dilakukan oleh karena alasan luas tempat yang tak lagi memadai dengan semakin bertambahnya jamaah yang datang untuk bersembahyang.

Kelenteng Poo An Bio Demak

Alamat : Jl Siwalan No.3, Kota Demak. Lokasi GPS : -6.8941972, 110.6395018, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Kelenteng Poo An Bio Demak

Ukiran kayu yang elok dan warna-warni pada belandar Kelenteng Poo An Bio Demak. Meski warna dominan masih merah dan kuning, namun adanya warna-warna lain seperti tampak pada ukiran ini membuatnya terlihat lebih menarik. Patung di sebelah kiri berbentuk seekor gajah yang memegang setangkai bunga, sedangkan di sebelah kanan berupa seekor singa betina yang bermain dengan anaknya. Ukiran burung dan lukisan dua ekor ikan terlihat di bagian atasnya.

kelenteng poo an bio demak

Altar sembahyang bagi Hok Tek Tjeng Sin di Kelenteng Poo An Bio Demak yang digambarkan mengenakan pakaian kebesarannya, berkumis dan berjanggut hitam lebat, mengenakan topi, serta memegang tongkat berkepala naga. Di kanan kirinya tampak ada rupang lain dengan roman wajah yang berbeda. Sebagian badan dari sepasang patung naga berwarna keemasan tampak pada sudut kiri kanan atas foto.

kelenteng poo an bio demak

Altar sembahyang di Kelenteng Poo An Bio Demak bagi Kwan Im Po Sat, Dewi Welas Asih, yang dipercayai akan mengabulkan doa setiap orang yang memintanya dengan hati bersih dan bekerja keras untuk mendapatkannya. Selain dihias arca sepasang naga emas berebut mustika di puncak atap rumahannya, pada kedua tiangnya juga melilit naga yang elok.

kelenteng poo an bio demak

Lampion-lampion dengan nama donatur penyumbangnya. Nama kelenteng menempel pada cermin, dengan penampakan pemotretnya yang biasanya saya hindari. Namun itu mengingatkan bahwa pada waktu itu saya memakai ikat kepala model Sunan Kalijaga dengan kuncir panjang di belakangnya, yang dengan kumis dan jenggot membuat saya terlihat seperti seorang paranormal :)). Di sebelah kiri adalah nama, alamat, serta foto kelenteng di kota-kota lain.

kelenteng poo an bio demak

Kimlo berbentuk pagoda sebagai tempat untuk membakar kertas sembahyang, sebagai kiriman amalan bagi leluhur. Pada jaman dahulu, pembakaran kertas sembahyang adalah merupakan cara seorang kaisar untuk membantu ekonomi orang miskin.

kelenteng poo an bio demak

Ukiran sepasang ikan mas dalam lingkaran dengan ornamen yang semuanya ada dalam keseimbangan. Dalam agama Buddha, ikan mas melambangkan kebahagiaan oleh sebab mereka memiliki kebebasan yang sempurna di dalam air. Ikan juga melambangkan kesuburan, kekayaan yang melimpah, serta kesatuan dan kesetiaan dalam hubungan perkawinan.

kelenteng poo an bio demak

Lampion yang disumbangkan oleh sebuah keluarga di Demak. Kelangsungan hidup tempat ibadah memang bergantung pada umatnya, karenanya sangat tidak bijaksana membawa urusan politik ke tempat ibadah. Tempat ibadah bukan tempat berkampanye dengan membawa-bawa nama Tuhan untuk menakut-nakuti orang. Yang berbahaya adalah jika gagal menakut-nakuti, maka mereka bisa berlagak dan bertindak jadi Tuhan untuk adili dan sakiti orang lain, serta tak merasa bersalah sama sekali. Itu karena mereka yakin telah membela Tuhan, padahal yang mereka bela adalah kebodohan sendiri.

kelenteng poo an bio demak

Aksara Tionghoa pada blandar kayu dikelilingi ornamen suluran yang halus. Jika saja ada terjemahannya akan lebih bermanfaat bagi pengunjung, karena bahkan keturunan Tionghoa pun mungkin ada yang tak bisa membaca tulisan itu.

kelenteng poo an bio demak

Hiolo Thian yang antik itu. Tak jelas benar apa yang terukir pada badan hiolo itu, namun ada ukiran burung di sana serta mungkin huruf Tionghoa.

kelenteng poo an bio demak

Dua buah ukiran yang menempel di bawah aksara Tionghoa itu tampaknya adalah Kilin, binatang mitos yang konon hanya muncul mengiringi peristiwa besar.

kelenteng poo an bio demak

Altar cantik yang diperuntukkan bagi Tian Siang Seng Bo, yang merupakan altar utama atau tuan rumah kelenteng ini. Ia digambarkan sebagai seorang dewi cantik dengan tutup kepala berjumbai di depannya. Pemujaan kepada Dewi Laut ini mungkin juga sebagai ungkapan syukur bahwa leluhur mereka tiba dengan selamat ke tempat tujuan setelah mengarungi laut untuk mencari daerah baru.

kelenteng poo an bio demak

Relief naga berwarna keemasan yang sangat elok ini menghiasi bagian depan meja altar Thian Siang Seng Bo.

kelenteng poo an bio demak

Penampakan utuh pada altar Hok Tek Tjeng Sin dengan rumahan dan ornamen yang terlihat elok.

kelenteng poo an bio demak

Altar pemujaan bagi Houw Tjiang Kong atau Houw Tjiang Kun, Panglima Harimau yang menjadi pengawal setia Hok Tek Tjeng Sin.

kelenteng poo an bio demak

Altar selanjutnya adalah tempat sembahyang kepada Budha Gautama, dengan aksara China tegak serta rupang atau patung-patung berukuran besar dan kecil yang tampak memikat. Di sana ada Buddha Tertawa yang wajahnya membawa kedamaian.

kelenteng poo an bio demak

Pandangan dekat pada rupang atau patung Tian Siang Seng Bo (Tian Shang Sheng Mu) yang juga dikenal dengan sebutan Ma Zu atau Mak Co. Ia adalah Dewi Laut, penolong para pelaut, serta pelindung etnis Tionghoa.

kelenteng poo an bio demak

Ornamen ini mestinya ada nama dan maknanya, namun tak saya tanyakan kepada penjaga. Bentuknya menyerupai pasu, tempat untuk menyimpan abu jenazah setelah dikremasi.

kelenteng poo an bio demak

Sebuah tambur yang kondisinya masih cukup baik tampak menggantung di ruangan kelenteng. Tambur dan genta biasa ditabuh untuk memberitahu umat akan dimulainya suatu ritual. Ketika loud speaker belum menjamur seperti sekarang ini, kebanyakan masjid juga mengandalkan bedug untuk menandai awal waktu ibadah salat yang kemudian diikuti oleh adzan.

kelenteng poo an bio demak

Tengara nama Vihara Budhi Luhur atau Kelenteng Poo An Bio di Jl Siwalan No 3 Demak yang tekah mulai pudar.

kelenteng poo an bio demak

Info Demak

Hotel di Demak, Peta Wisata Demak, Tempat Wisata di Demak.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengbinang ! Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.