Gua Petruk Kebumen

October 02, 2019. Label:
Tidak terlalu berlebihan jika menyebut Gua Petruk Kebumen sebagai gua alam terindah yang pernah saya kunjungi. Bukan hanya terindah, namun pengalaman menapaki ratusan undakan untuk sampai ke mulut gua, dan pengalaman selama didalam gua, benar-benar meninggalkan kesan mendalam yang sulit dilupakan begitu saja.

Jarak dari Pantai Logending ke tempat parkir Gua Petruk hanya sekitar 3,9 km, arah ke Utara, melewati Jl Raya Jetis dan lalu belok ke Jl Raya Ijo sejauh 1,7 km sebelum belok kanan dan mengikuti jalan 500 meter untuk sampai di area parkir. Tempat parkirnya berukuran sekitar 60 x 40 meter, dengan Pusat Informasi Gua Petruk berada di sisi Timurnya. Di Pusat Informasi Gua Petruk itu saya membayar tiket masuk, dan mendapatkan pemandu jalan tanpa tarif tertentu. Baiknya siapkan uang 50-100 ribu untuk pemandu jalan, jumlah yang pantas untuk sebuah pengalaman yang sangat mengesankan. Pada pusat informasi juga terdapat foto-foto stalaktit dan stalagmit Gua Petruk dengan nama-nama unik.

Keadaan di dalam Gua Petruk sungguh gelap gulita, jika saja tidak ada lampu petromaks, dan itu hal yang menurut saya sangat bagus. Gua yang sangat indah ini hendaknya tetap dipertahankan dalam kondisi alami seperti ini. Cahaya lampu petromaks memberi kesan dan keindahan tersendiri saat berada di dalam gua, dan akan jauh berkurang keelokannya jika ada lampu listrik di sana.

gua petruk kebumen

Pemandangan pada mulut Gua Petruk yang sangat lebar dan tinggi, ditumbuhi tanaman rambat yang hampir menutupi seperempat mulut gua. Terlihat tonjolan-tonjolan yang keluar dari langit-langit gua yang disebut stalaktit. Sedikitnya saya harus menapaki sekitar 350 anak tangga untuk sampai ke mulut gua ini, dengan kemiringan cukup tajam.

Meskipun Gua Mimpi Bantimurung di Maros juga memiliki stalaktit stalagmit indah, namun tak bisa disandingkan dengan Gua Petruk Kebumen ini. Akses serta treking di gua ini jauh lebih menantang. Kondisinya juga masih sangat alami. Suatu keunggulan yang harus terus dijaga.

Bambang Supriadi (0819 3250 0909), mantan supir bus yang menemani saya berkeliling di Kebumen, sudah menyerah ketika baru sampai ke anak tangga seratusan, dan memilih untuk turun kembali. Gua Petruk sepertinya memang hanya untuk orang yang cukup punya semangat, tak takut lelah dan sedikit senang berpetualang, tak peduli berapa pun usianya.

Struktur batuan kapur Gua Petruk Kebumen yang sangat sedap dipandang mata. Pada dinding kapur sebelah kanan tampak lekukan-lekukan menyerupai lempeng yang indah, sedangkan di sebelah kiri terlihat lelehan air kapur yang membeku membentuk garis-garis di bagian bawah. Bagian mulus yang berada di sebelah itu, jika dilihat dari dekat bentuknya terlihat seperti seekor bulus putih.

Pemandangan yang elok terlihat dari dalam gua ke arah mulut gua beberapa saat setelah memasuki Gua Petruk. Tekstur stalaktit di latar depan yang disebut Batu Tirai Pintu, dan stalaktit pada dinding di latar belakang, memukau. Gua ini gelap gulita setelah beberapa meter dari mulut gua. Penerangan di dalam gua memakai petromaks yang dibawa pemandu.

Pemandu saya orangnya masih muda, dan cukup hebat. Sebelumnya ia mendaki deretan anak tangga dengan cepat, jauh meninggalkan saya, dan karenanya sampai lebih dulu di mulut gua untuk mempersiapkan lampu petromaks itu. Saya sendiri melangkah pelan dan konstan serta mengatur nafas agar tak kehabisan tenaga ketika sampai di depan gua.

Di sebelah kiri mulut Gua Petruk terdapat sebuah kolam kecil dangkal dengan air jernih yang disebut Sendang Pamijikan. Sesuai namanya, sendang ini digunakan untuk mencuci kaki, baik sebelum masuk ke dalam gua, maupun setelah keluar dari dalam gua. Sebuah sulur pohon menggelantung pada dinding batu di samping sendang ini.

Kontur dasar Gua Petruk Kebumen tidak beraturan, naik turun bergelombang dengan jalur sangat alami namun elok. Sering saya harus sangat berhati-hati dan sabar dalam melangkah serta melipir bibir dinding, apalagi dengan membawa kamera telanjang yang tersambung tripod. Di beberapa tempat kami melewati genang air jernih, dan lorong rendah.

Pemandangan sangat indah juga saya lihat di Sendang Katak Gua Petruk Kebumen. Tak ada katak pada sendang di atas tebing rendah dengan tekstur elok yang airnya sangat bening dan dingin segar itu. Mungkin bentuk batuan sekitar sendang itu yang mirip katak. Lelehan air mengandung kalsium karbonat dan mineral lain yang membeku telah menciptakan bentuk sangat memukau ini.

Begitu pun nasib gua alami seperti Gua Petruk Kebumen yang sangat indah ini bisa sangat bergantung pada kebijakan pemerintah daerah setempat. Pergantian pucuk pimpinan setiap lima tahun sekali, atau paling lama sepuluh tahun sekali, bisa membawa dampak perubahan yang besar, baik ke sisi yang positif maupun sebaliknya.

Saya memuji kesabaran si mas muda pemandu Gua Petruk, lantaran lambatnya saya berjalan dan sering pula berhenti memotret. Kecepatan shutter rendah membuat saya memakai timer untuk mencegah goyang. Dan itu memperlama. Saya hanya masuk sampai ke bagian kedua gua lantaran bagian ketiga lebih berat dan badan akan terendam air.

Membutuhkan waktu 1 jam 46 menit, terhitung sejak di depan mulut gua hingga kembali ke mulut gua lagi. Untuk naik sampai ke mulut gua membutuhkan waktu sekitar 20 menit, dan sekitar separuhnya saat turun. Bagaimana pun, ini perjalanan yang luar biasa memuaskan dan menyenangkan. Anda harus pergi ke sana untuk membuktikannya sendiri.

Gua Petruk Kebumen

Alamat : Dukuh Mandayana, Desa Candirenggo, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Lokasi GPS : Parkir -7.70395, 109.39799, Waze. Harga tiket masuk : Rp. 8.000, parkir mobil Rp 5.000.

Galeri Foto Gua Petruk Kebumen

Pemandangan yang elok dari dalam gua ke arah mulut gua beberapa saat setelah memasuki Gua Petruk. Tekstur stalaktit di latar depan yang disebut Batu Tirai Pintu, dan stalaktit pada dinding di latar belakang, memukau. Gua ini gelap gulita setelah beberapa meter dari mulut gua. Penerangan di dalam gua memakai petromaks yang dibawa pemandu.

gua petruk kebumen

Pemandangan sangat indah di Sendang Katak. Tak ada katak pada sendang di atas tebing rendah dengan tekstur elok yang airnya sangat bening dan dingin segar itu. Mungkin bentuk batuan sekitar sendang itu yang mirip katak. Lelehan air mengandung kalsium karbonat dan mineral lain yang membeku telah menciptakan bentuk sangat memukau ini.

gua petruk kebumen

Struktur batuan kapur yang sangat sedap dipandang mata. Pada dinding kapur sebelah kanan tampak lekukan-lekukan menyerupai lempeng yang indah, sedangkan di sebelah kiri terlihat lelehan air kapur yang membeku membentuk garis-garis di bagian bawah. Bagian mulus yang berada di sebelah itu, jika dilihat dari dekat bentuknya terlihat seperti seekor bulus putih.

gua petruk kebumen

Selain peta, ada pula foto-foto yang disertai keterangan nama, ditempel pada dinding depan pusat informasi Gua Petruk. Adanya foto-foto ini, bersama dengan peta gua petruk, lebih mempermudah saya untuk mengidentifikasi batuan yang saya lihat. Meski semua nama yang disebut hanyalah sekadar nama yang diberikan orang, mungkin secara serampangan, sesuai dengan iterpretasinya pada bentuk stalaktit stalagmit yang ia lihat.

gua petruk kebumen

Satu ruas undakan yang akan saya lewati saat menuju ke mulut Gua Petruk. Jumlah undakan yang jumlahnya 350-an itu masih kalah jauh dengan 600-an anak tangga yang pernah saya tapaki ketika menuju ke Gardu Pandang Gajah Mungkur di Gunung Kelud, Kediri. Pengalaman sangat berat di Kediri itulah yang membuat perjalanan mendaki anak tangga Gua Petruk menjadi tidak menggentarkan.

gua petruk kebumen

Pemandangan pada stalaktit di mulut Gua Petruk. Stalaktit adalah batuan kapur yang terbentuk dari tetesan air yang mengandung kalsium karbonat dan mineral lainnya, yang berlangsung selama ribuan tahun. Di langit-langit gua yang tinggi tak jauh dari mulut Gua Petruk ini saya melihat sejumlah kelelawar yang bergelantungan. Namun tidak sebanyak yang saya lihat di Pura Gua Lawah Klungkung. Bau kotoran kelelawar juga tercium pada saat sudah masuk beberapa meter di dalam gua.

gua petruk kebumen

Sendang Pamijikan yang berada di sebelah kiri mulut Gua Petruk, berupa kolam kecil dangkal dengan air jernih segar. Sesuai namanya, sendang ini digunakan untuk mencuci kaki, baik sebelum masuk ke dalam gua, maupun setelah keluar dari dalam gua. Sebuah sulur pohon menggelantung pada dinding batu di samping sendang ini.

gua petruk kebumen

Beberapa paku-pakuan tampak tumbuh pada dinding kapur di mulut gua yang warnanya belang-belang abu tua keunguan dan krem. Sementara di sebelah kanan terlihat deretan stalaktit pada langit-langit gua yang berwarna putih kehijauan.

gua petruk kebumen

Pemandangan pada mulut gua yang mengarah ke Gua Windu. Gua ini merupakan percabangan dari Gua Petruk, yang akses masuknya tidak jauh dari mulut Gua Petruk.

gua petruk kebumen

Sisi lain pada stalaktit Gua Petruk yang disebut Batu Tirai Pintu itu. Warna pada stalaktit bisa terpengaruh pada sumber cahaya yang digunakan. Tonjolan-tonjolan kecil terlihat di sebelah kiri bawah.

gua petruk kebumen

Sebuah batuan kapur elok di Gua Petruk yang bentuknya menyerupai harimau, sehingga disebut Batu Sardulo Seto atau Macan Putih. Batuan kapur ini lokasinya sebelum Sendang Katak.

gua petruk kebumen

Warna keputihan yang ada di tengah adalah karena disorot senter oleh pemandu jalan untuk memperlihatkan batuan kwarsa yang gemerlap ketika terkena cahaya. Mungkin bagian ini yang disebut sabagai Waringin Kurung. Garis-garis merah itu mungkin adalah binatang terbang yang menjadi berbentuk seperti itu karena kecepatan kamera yang rendah.

gua petruk kebumen

Dua stalaktit dan stalagmit Gua Petruk yang bertemu membentuk kolom gemuk di tengah di sebuah area yang disebut sebagai Sendang Mangun Srono, karena ada kolam dangkal jernih di sana.

gua petruk kebumen

Bentuk batuan karst yang entah dilihat dari sisi mana, namun menurut yang empunya kuasa dipandang mirip seekor buaya putih, sehingga disebutlah batuan ini dengan mana Batu Bajul Putih, atau Batu Buaya. Si mas pemandu itu dengan sabar menunjukkan satu persatu bentuk-bentuk batuan menarik yang semuanya terlihat indah dalam cahaya lampu petromaks.

gua petruk kebumen

Pemandangan lebih dekat pada kolom batuan kapur yang berada di lokasi Sendang Mangun Srono. Konon pertumbuhan rata-rata stalaktit adalah 0,13 mm hingga paling cepat 3 mm per tahun. Sangat lambat, dan sepanjang umur manusia stalaktit bisa hanya tumbuh sepanjang 9 mm.

gua petruk kebumen

Sebuah stalagmit yang menyerupai orang tidur dengan kepala dan badan seperti berbalut kain mori, sehingga disebut Layon atau Batu Mayat. Area di sekitarnya relatif rata tanpa ada tonjolan. Stalagmit terbentuk dari kumpulan kalsit yang berasal dari air yang menetes dari langit gua.

gua petruk kebumen

Dua atau tiga kolom batuan kapur di Gua Petruk yang dinamai Batu Lukar Busono, atau ganti baju. Kolom adalah pertemuan stalaktit dan stalagmit yang membutuhkan waktu ratusan atau ribuan tahun. Nama Petruk diberikan karena dulu ada stalaktit panjang yang menyerupai hidup Petruk, dan meskipun sudah tidak ada lagi namun nama Petruk tetap digunakan.

gua petruk kebumen

Sebuah lubang gua dengan hiasan stalaktit di atas pintu masuknya yang dinamai Kori Gua Sembodro. Seingat saya, kami tidak masuk ke dalam lubang gua ini. Stalaktit berasal dari bahasa Yunani stalasso yang berarti "yang menetes". Stalaktit merupakan mineral sekunder (speleothem) yang menggantung di langit gua kapur.

gua petruk kebumen

Ada bagian dinding batuan kapur yang disorot dengan senter oleh pemandu jalan yang menyerupai dua buah kantung yang berjejer. Di sebelah kirinya terdapat undakan yang sepertinya merupakan bagian dari Kua Petruk yang disebut Regol Kaki.

gua petruk kebumen

Ada sekitar lima atau lebih stalagmit yang berdempetan yang kerut-kerut pada puncaknya menyerupai bentuk otak manusia, sehingga dinamai orang Batu Otak. Bentuk stalagmit dipengaruhi oleh kecepatan dan besarnya tetesan air, ketinggian langit gua, kondisi lingkungan di dalam gua, serta kandungan karbonat dalam tetesan airnya.

gua petruk kebumen

Stalagmit lainnya yang berbentuk seperti tugu atau pal batu, berdiri sendirian di sebuah gundukan kapur. Stalagmit ini sepertinya belum punya nama. Stalagmit mempunyai bentuk bermacam-macam. Bisa lebar gemuk, pendek, tinggi, kurus atau menjulang seperti menara.

gua petruk kebumen

Sebuah stalagmit yang menyerupai tugu dengan lelehan air kapur yang membeku mirip pancuran, sehingga diberi nama Tugu Pancuran. Melihat bentuknuya, tetesan air yang turun dari gua tentulah dalam jumlah cukup besar sehingga stalagmit ini berbentuk gemuk seperti itu. Mineral dominan dalam pembentukan stalagmit adalah kalsit atau kalsium karbonat.

gua petruk kebumen

Ada sekitar enam buah stalagmit berdekatan dengan bentuk yang berbeda-beda. Ada yang menyerupai lingga, dan ada satu yang agak kurus tinggi melengkung menyerupai anjing yang sedang duduk, sehingga disebut sebagai Batu Serigala. Stalagmit yang melengkung seperti ini mungkin terjadi akibat bergesernya tetesan.

gua petruk kebumen

Stalagmit yang bentuknya seperti singa laut ini tampaknya belum punya nama. Tidak begitu mudah untuk meletakkan tripod pada kontur bawah gua yang sering tidak rata, sehingga tak jarang memakan waktu. Akan cukup sulit untuk mendapatkan foto yang baik di dalam gua jika tidak membawa tripod.

gua petruk kebumen

Stalagmit yang saling berdekatan dalam jumlah cukup banyak. Sebagian besar permukaannya memiliki kerutan seperti otak, namun ada satu bagian datar di sebelah bawah pada foto yang permukaannya melingkar-lingkar menyerupai usus, sehingga dinamai Batu Usus.

gua petruk kebumen

Pada bagian tengah foto terlihat sebuah stalagmit terang yang menyerupai kepala orang dengan jenggot menggelantung, sehingga dinamai Batu Jenggot atau Batu Bapak Jenggot. Selain kalsit, pada stalaktit juga ada mineral karbonat lainnya, opal, kalsedon, limonit dan beberapa jenis sulfida.

gua petruk kebumen

Sekumpulan stalagmit yang bentuknya gemuk-gemuk, sehingga dinamai Taman Gajah. Agak dekat di atasnya juga terdapat stalakmit, yang mungkin suatu ketika akan bertemu membentuk kolom. Tempat ini kira-kira ada di separuh perjalanan kami menyusur dalaman Gua Petruk.

gua petruk kebumen

Di atas sendang ini terdapat stalagmit yang bentuknya seperti kuncup kembang terbalik, sehingga disebut Batu Bunga Kuncup. Tetesan air kapur di tempat ini tampaknya cukup banyak dan merata, jika melihat bekuan batu kapur yang bentuknya memanjang.

gua petruk kebumen

Peta yang memperlihatkan nama-nama tempat atau stalaktit stalagmit yang ada di dalam Gua Petruk. Penjelasannya cukup detail, meskipun masih agak susah bagi saya untuk memplot informasi yang ada di peta ini dengan bentuk-bentuk batu yang saya lihat di dalam gua.

gua petruk kebumen

Bentuk stalagmit bertingkat sangat indah dengan permukaan lengkung seperti mengalir sangat halus. Bagian bawahnya menyerupai penyu besar. Sendang di sini bertingkat dengan kolam lebih kecil di bagian atas. Tempat ini disebut Kali Pelangi, mungkin karena ada bias sinar yang terlihat ketika difoto.

gua petruk kebumen

Kali Pelangi dilihat dari sudut yang sedikit berbeda, dengan kepala penyu terlihat lebih jelas dengan sendang kecil di punggungnya. Kata stalagmit (Inggris: Stalagmite) berasal dari bahasa Yunani stalagmias uyang berarti menetes. Stalagmit tertinggi di dunia yang sejauh ini ditemukan ada di Gua S?n Doong, Vietnam, setinggi 70 meter.

gua petruk kebumen

Pemandangan sangat indah pada sendang bertingkat yang disebut Sendang Wulung. Adanya genang air di dalam Gua Petruk menandakan bahwa pembentukan stalaktit dan stalagmit masih terus berlangsung. Di beberapa tempat memang masih ada tetesan air ketika saya lewat, sehingga harus berhari-hati untuk melindungi kamera.

gua petruk kebumen

Bentuk seperti ini mungkin adalah bentuk gabungan antara stalaktit dan stalagmit, karena tumbuh ke atas dan juga ke bawah, meskipun tidak menggantung di langit gua. Bentuk ini mengingatkan saya pada ubur-ubur.

gua petruk kebumen

Stalaktit dengan kerutan yang menyerupai permukaan otak namun bagian bawahnya meruncing mirip cakar harimau raksasa. Di bagian bawahnya bentuk stalaktitnya menyerupai penyu raksasa. Apa pun namanya, stalaktit dan stalagmit Gua Petruk sangatlah indah, ditambah pengalaman yang mengesankan ketika berada di dalam gua.

gua petruk kebumen

Deretan stalaktit dan stagalmit yang nyaris bertemu membentuk kolom di salah satu sudut Gua Petruk. Entah mengapa orang menamainya sebagai Batu Perangko, mungkin karena mirip tepian perangko yang berlekuk-lekuk.

gua petruk kebumen

Stalaktit Gua Petruk paling kiri berbentuk seperti buah pisang yang masih kuncup yang di Jawa disebut "jantung". Oleh orang setempat stalaktit ini disebut Batu Kristal.

gua petruk kebumen

Menurut yang memberi tanda, stalagmit Gua Petruk ini bernama Batu Semar. Ujung atas batuan kapur ini memang menyerupai kepala dengan mata tertutup dan mulut terbuka, sedangkan bagian bawahnya gemuk besar.

gua petruk kebumen

Stalagmit Gua Petruk di sebelah kanan ada yang berbentuk seperti lingga (sebelah kiri), dan disebelahnya seperti cendawan bertumpuk. Stalagmit di bagian tengah bawah foto dinamai Batu Pesawat Tempur, mungkin karena yang memberi nama terobsesi menjadi pilot, atau baru saja main game perang-perangan ....

gua petruk kebumen

Pemandangan pada deretan stalakmit runcing yang jumlahnya mungkin lebih dari seratusan, menandai banyaknya titik tetesan air kapur yang turun dari langit Gua Petruk ini. Di bawahnya ada pula sekelompok stalagmit namun dalam jumlah yang jauh lebih sedikit. Bagian ini terlihat basah, namun tak ada genangan air di sana.

gua petruk kebumen

Pemandangan dari sudut pandang berbeda pada stalaktit runcing yang jumlahnya ratusan itu. Stalaktit bisa juga terjadi dari lava yang menetes lalu membeku, dan juga bisa terbentuk dari tetesan air yang membeku di udara yang sangat dingin. Beton yang meleleh juga bisa membentuk stalaktit. Stalaktit terpanjang di dunia ada di sebuah gua di Lebanon yang panjangnya mencapai 8,2 meter.

gua petruk kebumen

Sekumpulan stalagmit Gua Petruk yang kurus panjang ini menyerupai bentuk lilin, dan mungkin karena itu ada yang menamainya Taman Maria, namun ada pula yang menamainya Taman Sari. Posisinya hampir ke ujung bagian kedua Gua Petruk.

gua petruk kebumen

Diantara stalaktit dan stalagmit yang bentuknya bermacam-macam itu ada satu yang membentuk kolom berukuran cukup besar. Stalaktit tidak selalu berupa speleothem (mineral sekunder), meskipun speleothem merupakan stalaktit yang paling umum karena banyaknya gua kapur.

gua petruk kebumen

Lelehan air kapur yang membeku di bagian tengah yang berwarna cckolat tua memang menyerupai harimau dengan perut ramping, sehingga dinamai Batu Harimau Kumbang. Penamaan ini, selain bagus untuk menandai batu-batuan kapur yang indah, juga bisa menjadi tengara seberapa dalam kita telah masuk ke dalam Gua Petruk ini.

gua petruk kebumen

Deretan stalaktit ini tampaknya merupakan bagian paling eksotis di Gua Petruk, selain karena memang indah, juga nama yang diberikan orang kepadanya, yaitu Batu Payudara. Ini juga merupakan salah satu stalaktit terujung di bagian kedua Gua Petruk.

gua petruk kebumen

Sejumlah stalaktit terlihat di langit Gua Petruk, mirip Batu Payudara pada foto sebelumnya. Kolam kecil air jernih di bawahnya pertanda bahwa stalaktit itu masih terus tumbuh. Ini adalah sendang dan tempat terujung yang saya tempuh bersama pemandu. Membutuhkan waktu satu setengah jam dari mulut gua untuk sampai ke tempat ini, lantaran banyak berhenti memotret.

gua petruk kebumen

Pemandangan pada dinding Gua Petruk yang saya ambil saat kembali menuju mulut gua setelah selesai menjelajah. Di langit gua sekitar tempat inilah saya melihat sejumlah kelelawar yang terlihat kecil karena cukup tinggi tempatnya.

gua petruk kebumen

Mulut Gua Petruk dilihat dari dalam. Perhatikan tinggi gua dibandingkan dengan tinggi pemandu. Tak diragukan lagi, Gua Petruk merupakan tempat yang wajib dikunjungi oleh siapa saja yang masih punya semangat untuk menikmati keindahan dan keajaiban alam asli yang masih terjaga dengan baik.

gua petruk kebumen

Info Kebumen

Hotel, Tempat Wisata, Peta.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑