Gua Jatijajar Kebumen

October 01, 2019. Label:
Gua Jatijajar Kebumen sudah saya kenal sejak kecil dan telah lebih dari sekali berkunjung ke tempat itu. Namun itu sudah sangat lama, mungkin lebih dari 30 tahun lalu. Jadi kunjungan hari itu adalah pembaruan dan penyegaran ingatan dari apa yang masih tersisa dari gua kedua di wilayah Kebumen yang sempat saya kunjungi.

Setelah ke Gua Petruk yang indah alami , saya tidak berharap terlalu banyak pada kealamian Gua Jatijajar. Ingatan bahwa di dalam gua ini ada sejumlah patung besar yang bercerita tentang legenda Raden Kamandaka masih tetap menempel kuat. Dan itu tangan manusia, bukan alam. Jarak parkiran Gua Petruk ke Gua Jatijajar Kebumen adalah sekitar 6,1 km, arah ke Timur Laut atau pada lokasi diantara Utara dan Timur. Area parkir Gua Jatijajar boleh dikatakan luas, jauh lebih luas dari parkir Gua Petruk, sebuah indikasi perbandingan jumlah pengunjung ke masing-masing gua. Dengan kata lain, Gua Jatijajar jauh lebih laku.

Indikasi lainnya adalah jumlah warung makanan serta kios yang menjual cindera mata serta berbagai barang dagangan lainnya. Jika di Gua Petruk nyaris tidak ada, maka di Gua Jatijajar Kebumen ini jumlah warung dan kios dagangan sangat berlimpah, dan sebagian diantaranya berukuran cukup besar. Kedekatan lokasi ke kota mungkin juga berpengaruh.

gua jatijajar kebumen

Pemandangan pada jalur lintasan menuju ke Gua Jatijajar Kebumen beberapa saat setelah meninggalkan area parkir kendaraan, dan sesudah mengganjal perut di sebuah warung. Lintasan jalan semen ini pada awalnya cukup landai dan mudah dilalui. Tengara berdasar warna biru di sebelah kanan menunjukkan arah jalan ke masjid serta ke WC dan kamar mandi.

Sesaat kemudian ada jalan simpang, kanan ke Monumen Tobong Kapur, Gua Dempok, Gua Intan dan Gua Titikan, dan kiri ke Gua Jatijajar Kebumen. Monumen Tobong Kapur menjadi simbol bahwa Jatijajar merupakan daerah penghasil batu kapur. Saya berniat ke tempat itu setelah dari gua. Namun itu tak pernah terjadi. Tujuan utama baiknya dikunjungi terakhir.

Selang beberapa saat setelah belok ke kiri, sebuah patung dinosaurus berukuran raksasa terlihat mencolok mata. Semakin dekat melangkah ke mulut Gua Jatijajar Kebumen semakin tajam undakannya. Menjelang pelataran gua, di ujung atas undakan, terdapat pintu gerbang candi bentar yang dijaga sepasang arca Dwarapala dengan gada di tangan.

Di Gua Jatijajar Kebumen ada Sendang Mawar yang diberi cahaya sinar merah, serta Sendang Kantil dengan satu patung diletakkan berendam di dalam kolam. Sedangkan Sendang Jombor dan Sendang Puser Bumi masih belum ada penerangan serta aksesnya masih sulit. Ada pula 3 sungai lain yang mengalir di dalam gua yang belum dibuka akses jalannya.

Mulut Gua Jatijajar Kebumen memiliki pelataran yang sudah disemen rapi hingga ke bagian dalam gua. Bagi yang menyukai keaslian alami gua kapur, ini menyedihkan. Namun bagi kebanyakan orang lain, itu menyenangkan. Barangkali karena kebanyakan manusia sudah tak senang lagi untuk bersahabat dengan alam, dan lebih menyukai polesan tangan.

"Eloknya", hampir seluruh permukaan dinding Gua Jatijajar yang tinggi itu penuh coretan. Tentu saja coretan tangan manusia, karena monyet yang tak berbudaya tak bisa membuat coretan "beradab" semacam itu. Merusak memang kesenangan manusia, dan karena itu dibuat aturan, untuk dilanggar. Sebagai hiburan, coretan itu juga dilakukan oleh bule "beradab".

Tempat duduk beton yang kurang bercita rasa tampak tengah dipakai pengunjung. Sementara pengunjung lainnya sedang memotret arca yang diletakkan tidak jauh dari mulut gua. Penilaian subyektif saya, selera pengelola Gua Jatijajar Kebumen saat kunjungan saya itu menyedihkan. Pemilihan cat pada dinding anak undakan, misalnya, terkesan norak.

Dalaman Gua Jatijajar Kebumen masih cukup indah, meski bagian bawahnya sudah hampir semuanya tertutup semen bagi akses jalan pengunjung di gua sepanjang 250 meter ini. Sejumlah stalaktit dan stalagmit serta kolom yang menarik masih bisa ditemui di sana. Kontur gua juga tidak membosankan, serta ada berkas sinar matahari masuk lewat lubang di langit gua.

Salah satu dari delapan adegan diorama menggambarkan legenda Raden Kamandaka / Lutung Kasarung yang konon pada suatu ketika pernah bertapa di gua ini. Di tahun 70-an kisah legenda ini merupakan cerita rakyat populer yang rekaman sandiwaranya disiarkan secara bersambung melalui stasiun radio di Purwokerto dan daerah lain di sekitarnya.

Langit gua yang tinggi, umumnya sekitar 12 meter, juga memberi suasana sangat lega dan nyaman. Sejumlah kelelawar kekenyangan, lantaran tak terbang mencari makanan, bisa dijumpai menggelantung di beberapa area. Lampu-lampu listrik aneka warna yang dipasang pada beberapa titik memberi nuansa artifisial yang lebih menarik ketika langit gelap.

Ada sebuah kolom kapur cukup besar dan gemuk yang terlihat masih cukup indah. Jika dilihat dari variasi konturnya, Gua Jatijajar sebenarnya lebih kaya dibandingkan dengan Gua Petruk. Hanya saja stalaktit dan stalagmit di Gua Jatijajar telah mengalami pengrusakan yang sangat parah.

Gua Jatijajar Kebumen konon ditemukan secara tak sengaja oleh Jayamenawi pada 1802 saat ia mengambil rumput dan tetiba terperosok ke dasar gua lewat lubang yang ada di langit gua yang tingginya 24 meter. Nama Jatijajar diberikan oleh Bupati Ambal saat berkunjung ke sana lantaran melihat dua pohon jati tegak sejajar bersisian di dekat mulut gua.

Gua Jatijajar Kebumen

Alamat : Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Lokasi GPS : -7.668349, 109.426203, Waze.

Galeri Foto Gua Jatijajar Kebumen

Mulut Gua Jatijajar Kebumen dengan pelataran yang sudah disemen rapi hingga ke bagian dalam gua. Bagi yang menyukai keaslian alami gua kapur, ini menyedihkan. Namun bagi kebanyakan orang lain, itu menyenangkan. Barangkali karena kebanyakan manusia sudah tak senang lagi untuk bersahabat dengan alam, dan lebih menyukai polesan tangan.

gua jatijajar kebumen

Salah satu dari delapan adegan diorama yang menggambarkan legenda Raden Kamandaka / Lutung Kasarung yang konon pada suatu ketika pernah bertapa di gua ini. Di tahun 70-an kisah legenda ini merupakan cerita rakyat populer yang rekaman sandiwaranya disiarkan secara bersambung melalui stasiun radio di Purwokerto dan daerah lain di sekitarnya.

gua jatijajar kebumen

Sebuah kolom kapur cukup besar dan gemuk terlihat masih cukup indah. Jika dilihat dari variasi konturnya, Gua Jatijajar sebenarnya lebih kaya dibandingkan dengan Gua Petruk. Hanya saja stalaktit dan stalagmit di Gua Jatijajar telah mengalami pengrusakan yang sangat parah.

gua jatijajar kebumen

Sebatang pohon tua dengan batang cukup besar terlihat menarik di jalan menuju Gua Jatijajar karena daunnya tengah meranggas . Waktu itu memang ada di ujung musim panas, sehingga pepohonan sudah lama tidak merasakan siraman air hujan yang memberi kehidupan.

gua jatijajar kebumen

Seorang bapak tampak menggendong anaknya meninggalkan sebuah patung Dinosaurus berukuran sangat besar diletakkan pada sisi jalan menuju ke Gua Jatijajar. Patung ini nampaknya hanya sebagai hiasan, karena tak jelas apa hubungannya dengan gua.

gua jatijajar kebumen

Sisi pandang berbeda pada patung dinosaurus yang mulutnya menjadi aliran keluar bagi air yang berasal dari Sendang Kantil dan Sendang Mawar. Kedua sendang itu kabarnya selalu mengeluarkan air sepanjang tahun.

gua jatijajar kebumen

Warna-warni dinding undakan menuju Gua Jatijajar yang terlihat sama sekali tidak memiliki cita rasa. Akan lebih baik tanpa warna warni itu, atau menggunakan pasangan batu yang disusun rapi. Lebih dekat ke warna dan suasana alam lebih baik.

gua jatijajar kebumen

Gapura Candi Bentar serta sepasang arca Dwarapala pada ujung atas undakan. Warna-warna alam seperta pada arca dan gapura akan lebih baik ketimbang warna-warni tak jelas yang mecolok mata itu.

gua jatijajar kebumen

Sebuah batu prasasti yang terkesan dibuat sederhana dan seadanya. Bagaimana pun itu sudah lebih baik ketimbang tidak ada penjelasan sama sekali tentang obyek wisata ini.

gua jatijajar kebumen

Adanya diorama legenda Lutung Kasarung itu mungkin dimaksudkan untuk menambah daya tarik Gua Jatijajar bagi wisatawan domestik, karena terkenalnya kisah legenda itu di kalangan rakyat di daerah Banyumas, Kebumen dan sekitarnya. Entahlah jika corat-coret pada dinding kapur itu juga dianggap sebagai daya tarik.

gua jatijajar kebumen

Beberapa orang pengunjung tampak melintas pada jalur jalan beton serta berpagar besi di dalam gua yang diterangi lampu bohlam, ditambah warna warni cahaya bohlam di beberapa titik. Stalaktit di bagian atas pun tak lolos dari coretan tangan jahil.

gua jatijajar kebumen

Di sebelah kanan adalah stalaktit yang sudah membentuk kolom, sedangkan dinding kapur di sebelah kirinya terlihat membentuk pola tak beraturan, dengan warna merah berasal dari cahaya lampu yang dipasang dibalik relung gua.

gua jatijajar kebumen

Bagian Gua Jatijajar yang terlihat masih cukup alami, baik di bagian atas maupun di bagian bawahnya. Cahaya di sisi kanan berasal dari lubang di langit gua. Bagian seperti ini hendaknya dipertahankan, jangan lagi ditambahi apa pun dan dirusak.

gua jatijajar kebumen

Meskipun mungkin ada bagian-bagian yang telah rusak karena ulah tangan manusia, namun secara umum kontur bagian bawah dan sejumlah stalaktit masih enak untuk dilihat dan dinikmati di bagian ini. Penempatan bola lampu listrik serta pilihan warnanya perlu dikaji ulang.

gua jatijajar kebumen

Area lapang cukup luas dengan lantai yang dipasangi paving blok, sementara dinding di sisi sebelah kanan sepertinya telah mengalami pengrusakan, dan dinding di bagian kiri masih relatif cukup baik. Adanya patung menjadi pengalih perhatian pengunjung pada kondisi dinding dan langit gua.

gua jatijajar kebumen

Sebuah adegan diorama yang memperlihatkan saat Adipati Pasir Luhur memerintahkan pengawal untuk menangkap Raden Kamandaka. Pengerjaan patung boleh dikatakan cukup baik, hanya saja keterangan nama pada setiap patung perlu ditambahkan.

gua jatijajar kebumen

Sebuah kolom kapur cukup besar dan gemuk terlihat masih cukup indah. Jika dilihat dari variasi konturnya, Gua Jatijajar sebenarnya lebih kaya dibandingkan dengan Gua Petruk. Hanya saja stalaktit dan stalagmit di Gua Jatijajar telah mengalami pengrusakan yang sangat parah.

gua jatijajar kebumen

Sudut pandang pada lorong yang indah. Membayangkan Gua Jatijajar pada kondisi aslinya mungkin akan jauh lebih menarik dan mengesankan, tanpa distraksi patung-patung yang hanya menjadi pemanis tanpa alur cerita yang bisa dipahami.

gua jatijajar kebumen

Bagian gua yang menurun diantara tebing kapur yang cukup tinggi. Tidak semua orang berpikiran sama tentamg bagaimana mengelola kekayaan alam yang langka seperti ini. Perubahan yang merusak keaslian Gua Jatijajar ternyata mendatangkan pengunjung lebih banyak ketimbang Gua Petruk yang masih dipertahankan keasliannya.

gua jatijajar kebumen

Bagian dinding kapur Gua Jatijajar dengan sejumlah stalaktit yang masih elok untuk dilihat. Bentuk dinding dan relung semacam ini menjadi kelebihan dari Gua Jatijajar yang sebaiknya dipertahankan keasliannya.

gua jatijajar kebumen

Benda-benda hitam yang menempel pada langit gua adalah sebagian kelelawar yang menghuni Gua Jatijajar. Entah mereka masih kenyang sehingga tidak keluar mencari makan, atau telah pulang mendahului rombongannya.

gua jatijajar kebumen

Sebuah judul adegan yang mungkin cocok untuk orang dewasa, meskipun anak-anak sekarang lebih cepat dewasa dibanding generasi sebelumnya karena ketersediaan sumber informasi yang melimpah.

gua jatijajar kebumen

Sebuah adegan adu jago antara Raden Kamandaka dengan Silih Warni berlatar belakang stalaktit yang terlihat agak kurang menarik. Jika saja bagian atas gua tetap terpelihara lingkungannya, maka tetesan air kapur akan terus berlangsung yang pada suatu ketika akan memperindah gua ini lagi.

gua jatijajar kebumen

Salah satu dari tujuh sendang atau sungai bawah tanah yang ada di dalam Gua Jatijajar. Warna lampu yang merah memberi kesan tersendiri pada sendang ini. Banyak orang yang turun ke sendang ini untuk membasuh muka.

gua jatijajar kebumen

Sebuah adegan diorama kisah Lutung Kasarung dan Dewi Ciptoroso yang bertemu Raja Pule Bahas dengan lampu sorot yang cukup kuat menempel pada dinding. Lutung yang mestinya berbulu hitam pada diorama ini digambarkan secara berbeda.

gua jatijajar kebumen

Sebuah instalasi diorama yang menggambarkan pertarungan antara Pule Bahas dengan Lutung Kasarang. Dalam kisah legenda itu, Lutung Kasar adalah merupakan jelmaan Raden Kamandaka.

gua jatijajar kebumen

Pemandangan pada undakan menurun menuju ke arah Sendang Kanthil. Airnya terlihat bening, dengan sebuah patung wanita tengah berendam di kolamnya. Kondisi langit gua di tempat ini relatif masih baik.

gua jatijajar kebumen

Penampakan lainnya pada dinding kapur di Gua Jatijajar serta instalasi legenda Raden Kamandaka. Keberadaan gua kapur seperti ini menjadi petunjuk bahwa daerah ini pada jaman dahulu kala pernah berada di dasar laut.

gua jatijajar kebumen

Tekstur dinding kapur yang beraneka rupa terbentuk dari tetesan air kapur yang kemudian membeku dan mengeras dengan berlalunya waktu. Kawasan kars di Indonesia diperkirakan luasnya sampa 15,4 juta hektare yang tersebar hampir di seluruh wilayah kepulauan Indonesia.

gua jatijajar kebumen

Sejumlah foto dalam bentuk poster yang memperlihatkan sebagian fragmen yang ada di dalam Gua Jatijajar. Lubang keluar pada foto kanan bawah yang berbentuk Kala tak sempat saya ambil fotonya.

gua jatijajar kebumen

Info Kebumen

Hotel, Tempat Wisata, Peta.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑