Candi Plaosan Lor Klaten

November 17, 2019. Label:
aroengbinang.com - Kompleks Candi Plaosan Lor terlihat jauh lebih luas dibandingkan dengan Candi Plaosan Kidul yang saya kunjungi sebelumnya, dan sudah terlihat kecantikan serta keagungannya. Ini karena telah selesai dilakukannya restorasi terhadap dua candi induk yang besar dan indah, serta beberapa buah candi perwara di sekitarnya.

Di bagian depan ada pos jaga dimana pengunjung mengisi buku tamu, dan membayar retribusi. Meskipun ada tulisan yang menyesalkan kelakuan petugas jaga Candi Plaosan, yang meminta uang semaunya tanpa tanda terima, namun saya tidak mengalaminya. Hal buruk bisa menyebar cepat, apalagi di era sosial media. Karena itu pejabat yang di atas harus sering turun ke bawah untuk melihat kondisi lapangan.

Di pelataran depan Candi Plaosan Lor induk terdapat tumpukan batu candi yang tak terhitung jumlahnya, membayangkan pekerjaan rumit yang harus dilakukan untuk menyusunnya kembali. Saya sempat melihat deretan candi- perwara Candi Plaosan Lor yang telah selesai direstorasi. Betapa indahnya jika semua candi perwara telah direstorasi. Candi-candi perwara yang mengelilingi pagar batu di sekeliling setiap candi induk itu jumlahnya 174, tersusun atas 58 candi berbentuk persegi dan 116 berbentuk stupa.

candi plaosan lor klaten

Candi induk sebelah Selatan Candi Plaosan Lor yang diambil dari sekitar Candi Plaosan Kidul. Sebagian tanah di kompleks Candi Plaosan ini masih dimiliki warga setempat, baik berupa sawah atau pun tanah kering. Stupa-stupa pada kemuncak candi memberi petunjuk bahwa Candi Plaosan Lor adalah candi Budha, sebagaimana Candi Borobudur, meskipun ukuran stupa Candi Plaosan Lor jauh lebih kurus.

Mimpi merestorasi Candi Plaosan Lor secara utuh itu sebenarnya mungkin hanya butuh satu orang saja untuk mewujudkannya. Setidaknya satu orang yang memiliki modal finansial dan jaringan yang kuat untuk menarik orang-orang lain, dari mulai jajaran pemerintah, swasta, hingga lembaga internasional untuk ikut urun pikir dan biaya.

Prasasti Cri Kahulunan berangka tahun 842 M yang ditemukan di Magelang menyebutkan bahwa Candi Plaosan Lor dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan, dengan dukungan suaminya. De Casparis menduga bahwa Sri Kahulunan adalah gelar dari Pramodhawardani, putri Raja Samarattungga dari Wangsa Syailendra yang memeluk agama Buddha, yang menikah dengan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya, yang memeluk agama Hindu. Dugaan ini bisa menjelaskan mengenai pengaruh Hindu pada Candi Plaosan yang Buddha ini, dan mengapa kedua candi induk Candi Plaosan Lor seolah merupakan pasangan laki dan perempuan.

Namun pendapat De Casparis disanggah oleh Anggraeni dari Arkeologi UGM, yang berpendapat bahwa Sri Kahulunan adalah ibu Rakai Garung yang memerintah Mataram Kuno sebelum Rakai Pikatan. Menurutnya masa pemerintahan Rakai Pikatan terlalu singkat untuk membangun candi seukuran Candi Plaosan, sehingga kemungkinan Rakai Pikatan hanya membangun candi perwaranya setelah candi induknya selesai.

candi plaosan lor klaten

Sebuah Arca Dwarapala berukuran besar berada di sisi Barat Candi Plaosan Lor Klaten. Sisi ini seharusnya merupakan pintu masuk ke kompleks candi, karena fungsi Dwarapala adalah sebagai penjaga bangunan suci, dan letaknya berada di gerbang masuk. Namun saat itu pengunjung masih masuk melalui pintu samping oleh sebab restorasi candi belum selesai dikerjakan.

Meskipun sebelah bola mata Dwarapala itu telah menggelundung entah kemana, serta hidungnya gompal, namun keindahan karya seninya masih terpampang nyata. Jika abad ke-9, jaman diperkirakannya Candi Plaosan ini berdiri, manusia Jawa telah memiliki kemampuan seni patung tinggi, maka manusia Jawa saat ini mestinya tidak kalah dengan leluhurnya. Setidaknya harus bisa ditunjukkan dengan kemampuan dalam merestorasi Candi Plaosan ini. Lebih indah dari aslinya jika perlu.

Arca dwarapala yang satunya lagi ada pada posisi berhadapan dengan arca dwarapala di atas. Sebagian hidung arca dwarapala ini juga rompal, namun kedua bola matanya utuh. Hanya saja tangan dan lututnya terlihat 'kudisan'. Tangan sebelah kanan dwarapala ini memegang badan seekor ular, tangan kirinya bertumpu pada gada dan lutut, di pinggangnya terselip belati.

Pada bagian pojok luar candi induk selatan ini terdapat Relief Kala Makara yang halus pada lubang-lubang hawa, berhias relief patung berukuran besar yang kebanyakan menggambarkan tokoh laki-laki. Sedangkan relief dinding luar candi induk utara Candi Plaosan Lor kebanyakan menggambarkan tokoh perempuan. Candi Induk Selatan Candi Plaosan Lor ini dipugar pada 1962, dan candi induk Utara dipugar pada 1990-an oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah (sekarang BP3).

Bangunan candi induk ini berada di atas dudukan setinggi 60 cm tanpa selasar keliling, dan undakannya memiliki pipi dengan ornamen kepala naga pada pangkal. Terlihat banyak sekali patung-patung menghias dinding luar candi dengan detail ukiran halus dan indah, hampir seukuran orang dewasa, meskipun beberapa sambungan patung terlihat kurang pas. Jika dari jauh hanya terlihat kanggunan Candi Plaosan Lor ini, maka dari dekat barulah terlihat keindahan serta kehalusan ukiran dan reliefnya.

Candi induk selatan di Candi Plaosan Lor Klaten bentuknya mirip dengan candi induk utara yang keduanya berjarak sekitar 30 m, dipisahkan oleh tembok batu. Hiasan Kala terlihat pada pintu masuk candi induk selatan Candi Plaosan Lor, menandai pengaruh Hindu pada bangunan candi. Bagian bawah relief Kala yang hilang candi induk selatan diganti dengan batu tanpa relief, sedangkan Kala di pintu masuk candi induk utara Candi Plaosan Lor masih utuh. Bingkai reliefnya berhias bunga dan sulur-suluran.

Di dalam ruangan Candi Plaosana Lor ada dua arca Buddha yang letaknya berdekatan, dengan kaki kanan kedua arca itu menapak di atas cawan besar. Arca Buddha di tengah, yang letaknya lebih tinggi entah hilang kemana. Di ruangan satu lagi ada dua arca Buddha lainnya, yang di tengah juga tak ada, duduk pada padmasana dengan posisi salah satu kaki arca Buddha menapak di atas cawan besar, sedangkan arca Buddha satu lagi kedua kakinya dilipat bersila.

Pada dinding terdapat relung besar, berhias Kala Makara yang indah di bagian atasnya, dan diapit oleh relief Kuwera, yang terlihat pada foto di atas, dan Hariti. Kuwera atau Dewanagari adalah putera resi Wisrawa, seayah dengan Rahwana lain ibu, yang merupakan dewa pemimpin Yaksa (raksasa) pemangsa manusia yang bertobat setelah bertemu Buddha, dan kemudian menjadi Dewa Kekayaan dan Dewa Pelindung Anak-anak. Sedangkan Hariti, isteri Kuwera, semula juga raseksi pemakan manusia namun ikut bertobat setelah bertemu Buddha, dan menjadi pelindung anak-anak.

Percepatan restorasi benda cagar budaya semacam ini sudah semestinya dilakukan dinas purbakala, dengan mempertimbangkan faktor gempa yang kadang mengguncang daerah ini. Tidak saja dukungan pemerintah daerah diperlukan, pemerintah pusat pun perlu turun tangan, karena besarnya skala Candi Plaosan ini yang sangat potensial untuk menjadi ikon Jawa Tengah, bahkan ikon nasional sebagaimana Candi Borobudur.

Mungkin diperlukan seorang menteri pendidikan kebudayaan dengan kepemimpinan dan kepedulian sekelas Dahlan Iskan atau Jokowi, untuk menggalang dukungan berbagai pihak dan bekerja cepat melakukan restorasi bangunan-bangunan cagar budaya di seluruh negeri dan membenahi pengelolaannya, termasuk Candi Plaosan Lor, sehingga bukan saja menjadi sumber penghasilan daerah yang andal, tetapi juga menjadi inspirasi dan ruh bagi kota-kota yang kebanyakan miskin jiwa.

Candi Plaosan Lor Klaten

class="lazyload" alt=Alamat : Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Lokasi GPS : -7.74149, 110.50426, Waze.

Galeri Foto Candi Plaosan Lor Klaten

Penampakan pada candi induk selatan di Candi Plaosan Lor Klaten, bentuknya mirip dengan candi induk utara yang keduanya berjarak sekitar 30 m, dipisahkan oleh tembok batu. Stupa-stupa pada kemuncak candi memberi petunjuk bahwa Candi Plaosan Lor adalah candi Budha, sebagaimana Candi Borobudur, meskipun ukuran stupa Candi Plaosan Lor jauh lebih kurus.

candi plaosan lor klaten

Sebelah kanan adalah salah satu dari dua arca Buddha yang letaknya berdekatan, dengan kaki kanan kedua arca itu menapak di atas cawan besar. Arca Buddha di tengah, yang letaknya lebih tinggi entah hilang kemana. Pada dinding terdapat relung besar, berhias Kala Makara yang indah di bagian atasnya, dan diapit oleh relief Kuwera, yang terlihat pada foto di atas, dan Hariti. Kuwera atau Dewanagari adalah putera resi Wisrawa, seayah dengan Rahwana lain ibu, yang merupakan dewa pemimpin Yaksa (raksasa) pemangsa manusia yang bertobat setelah bertemu Buddha, dan kemudian menjadi Dewa Kekayaan dan Dewa Pelindung Anak-anak.

candi plaosan lor klaten

Tidak ada rotan akar pun jadi. Tidak ada model cantik, Pak Agus pun jadilah 'model' untuk mengambil foto candi induk Utara Candi Plaosan Lor dan gapura paduraksa yang bagian atasnya berbentuk persegi dengan hiasan mahkota-mahkota kecil.

candi plaosan lor klaten

Dengan latar depan reruntuhan candi perwara yang masih menunggu untuk direstorasi, di latar belakang sebelah kiri adalah candi induk Selatan Candi Plaosan Lor yang terlihat megah. Sementara di sebelah kanan adalah salah satu candi perwara yang telah selesai dipugar. Agak jauh ke belakang sebuah stupa besar tampak selesai direstorasi. Stupa itu mestinya berada di puncak sandi.

candi plaosan lor klaten

Arca dwarapala yang posisinya berhadapan dengan arca dwarapala sebelumnya, dengan latar belakang candi induk Selatan Candi Plaosan Lor. Sebagian hidung arca dwarapala ini juga rompal, namun kedua bola matanya utuh. Hanya saja tangan dan lututnya terlihat 'kudisan'. Tangan sebelah kanan dwarapala ini memegang badan seekor ular, tangan kirinya bertumpu pada gada dan lutut, di pinggangnya terselip belati.

candi plaosan lor klaten

Relief Kala di lubang pintu candi induk Selatan Candi Plaosan Lor terlihat sudah hilang di bagian bawahnya. Sungguh perlu didatangkan seorang pemahat piawai untuk merestorasi reliefnya. Pada tingkatan yang lebih tinggi terlihat relief kepala dalam bingkai suluran. Relief manusia utuh pada dinding di badan candi ini, dua diantaranya terlihat di sebelah kiri kanan lubang masuk, merupakan tokoh-tokoh pria. Sementara itu ada relief gajah dalam posisi duduk tampak di dasar pilar pintu masuk candi.

candi plaosan lor klaten

Salah satu pojok luar candi induk utara Candi Plaosan Lor, dengan Relief Kala Makara yang halus pada lubang-lubang hawa, berhias relief patung berukuran besar yang kebanyakan menggambarkan tokoh perempuan. Sedangkan relief dinding luar candi induk Selatan Candi Plaosan Lor kebanyakan menggambarkan tokoh laki-laki.

candi plaosan lor klaten

Berjalan melipir sisi luar candi Plaosan Lor, ada keasyikan menikmati keindahan relief candi yang jarang saya lihat seindah dan sebanyak ini. Rugi sekali jika terintimidasi dengan serakan batu di halaman depan Candi Plaosan Lor dan tidak berjalan mengelilingi candi induk ini untuk menikmati keindahannya reliefnya. Hanya saja jika relief-relief itu bisa bercerita tentu akan sangat mengasyikkan. Caranya? Mengadopsi teknologi.

candi plaosan lor klaten

Saya masih melanjutkan langkah melipir dinding luar candi untuk menikmati keindahan relief Candi Plaosan Lor. Sayang sekali saya berbalik menuju pintu candi untuk masuk ke bagian dalam, sehingga tidak melihat pelataran Utara dimana terdapat patung-patung Buddha yang diletakkan di tempat terbuka.

candi plaosan lor klaten

Deretan candi-candi perwara Candi Plaosan Lor yang telah selesai direstorasi. Bayangkan betapa indahnya jika kesemua candi perwara telah direstorasi, dengan halaman hijau segar berlapis rumput, dan pohon-pohon rimbun mengelilingi bagian luar candi.

candi plaosan lor klaten

Di ruangan tengah Candi Plaosan Lor terdapat dua arca Buddha, dari yang seharusnya tiga, duduk pada padmasana. Posisi salah satu kaki arca Buddha yang di sebelah kiri menapak di atas cawan besar, sedangkan arca Buddha satu lagi kedua kakinya dilipat bersila.

candi plaosan lor klaten

Pak Agus kembali menjadi model foto untuk memberi gambaran seberapa tinggi ukuran arca Buddha yang ada di dalam ruangan utama candi induk Selatan Candi Plaosan Lor. Menurut catatan, Candi Induk Selatan Candi Plaosan Lor ini selesai dipugar pada tahun 1962.

candi plaosan lor klaten

Relief Kuwera yang berada di sebelah kanan relung ruang tengah Candi Plaosan Lor. Kuwera atau Dewanagari adalah putera resi Wisrawa, seayah dengan Rahwana lain ibu, yang merupakan dewa pemimpin Yaksa (raksasa) pemangsa manusia yang bertobat setelah bertemu Buddha, dan kemudian menjadi Dewa Kekayaan dan Dewa Pelindung Anak-anak.

candi plaosan lor klaten

Penampakan Candi Plaosan Lor yang anggun saat seorang wanita tengah bergaya untuk difoto dengan menggunakan candi sebagai latarnya. Sebuah catatan menyebutkan bahwa candi-candi perwara yang mengelilingi pagar batu di sekeliling setiap candi induk itu jumlahnya 174, tersusun atas 58 candi berbentuk persegi dan 116 berbentuk stupa.

candi plaosan lor klaten

Mencuri foto seorang model cantik yang tengah menanti fotografernya mencari sudut pemotretan yang pas berlatar candi induk Selatan Candi Plaosan Lor. Sebuah gapura paduraksa tampak menjadi gerbang masuk ke dalam candi induk yang dikelilingi pagar batu tinggi. Tidak ingin mengganggu pemotretan, saya pun melangkahkan kaki menuju ke candi induk Utara Candi Plaosan Lor, yang keduanya berjarak sekitar 30 m, dipisahkan oleh tembok batu.

candi plaosan lor klaten

Memang memerlukan kesabaran dan keahlian untuk meletakkan serakan batu yang bentuk dan ukurannya tak jelas untuk untuk bisa kembali berbentuk sebuah candi yang elok seperti tampak di latar belakang sana. Tentu diperlukan dana yang tak sedikit pula. Pagelaran budaya dan konser pengumpulan dana sepertinya perlu dilakukan, agar tak hanya mengandalkan kucuran dana dari pemda dan pemerintah pusat.

candi plaosan lor klaten

Pandangan dekat pada salah satu candi perwara, yang di dalam ruangannya mestinya ada patungnya. Relief Kala di atas pintu masuk terlihat masih dalam kondisi yang relatif sangat baik. Stupa di latar belakang sepertinya tak natural oleh sebab mungkin memakai semen untuk merekat batu-batunya.

candi plaosan lor klaten

Pak Agus kelihatan ngganteng juga saat berdiri di bawah gapura paduraksa dengan relief Kala tanpa rahang yang kondisinya relatif masih baik. Jika ada gapura paduraksa, mestinya ada gapura candi bentar yang memisahkan bagian tengah candi dengan bagian luarnya. Meski masih perlu banyak sekali perbaikan pada detail ornamennya yang telah rusak, Candi Plaosan Lor ini masih terlihat sangat elok.

candi plaosan lor klaten

Sudut pandang yang memperlihatkan kedua candi utama di kompleks Candi Plaosan Lor. Entah sampai kapan serakan batu yang ada di sana itu bisa bersih dan berubah wujud menjadi candi-candi perwara yang elok untuk dilihat. Perlu dipikirkan struktur candi yang bisa lebih tahan goncangan gempa, agar perbaikan yang telah dilakukan dan memakan biaya tak sedikit tidak lantas menjadi sia-sia jika gempa kembali menyapa.

candi plaosan lor klaten

Bentuk-bentuk stupa di Candi Plaosan Lor ini memang akan mengingatkan orang pada Candi Borobudur, meskipun ukuran stupa yang ada di sini jauh lebih kecil dan lebih sedikit.

candi plaosan lor klaten

Pandangan samping pada candi induk selatan di Candi Plaosan Lor. Batu-batu silindris terpancung diantara serakan batu candi tampaknya adalah bagian dari puncak stupa.

candi plaosan lor klaten

Keelokan relief pada dinding candi induk utara di Candi Plaosan Lor. Perhatikan relief Kala di atas lubang hawa yang ventuknya agak berbeda dengan relief Kala lainnya. Jika saja setiap relief orang itu diberi nomor, dan kemudian ada catatan yang memberi penjelasan, tentu akan sangat bermanfaat dan menarik.

candi plaosan lor klaten

Pandangan dekat pada Arca Dwarapala untuk melihat detail ukiran pada kepala, anting, badan, dan kakinya. Dengan teknologi dan kepiawaian seniman pahat, hidup Dwarapala ini suatu saat nanti saya kira akan bisa kembali utuh seperti semula.

candi plaosan lor klaten

Pandangan dekat pada Arca Dwarapala yang satu lagi, yang juga mengalami nasib sama rusaknya pada bagian hidungnya. Mengagumi patung ini, sungguh patut dipuji seniman pahat yang telah begitu hebat membuat patung ini dari sebuah batu utuh.

candi plaosan lor klaten

Pandangan lebih dekat pada bagian di sekitar lubang pintu masuk candi induk Selatan di Candi Plaosan Lor, memperlihatkan ragam ukir yang elok walau di sana-sini sudah ada yang tak utuh lagi.

candi plaosan lor klaten

Salah satu relief tokoh pria di candi induk selatan Candi Plaosan Lor. Meski bagian lengannya sudah tidak utuh lagi, dan bagian kaki yang terlihat juga masih kurang klop, keindahan relief orang ini masih cukup jelas terpancar.

candi plaosan lor klaten

Melihat segmen ukir pada pojok bangunan candi utama Utara di Candi Plaosan Lor, yang kebanyakan mengambil tokoh wanita pada reliefnya. Masih terlihat sangat cantik dan menawan.

candi plaosan lor klaten

Segmen dinding lainnya di candi induk Utara Candi Plaosan Lor yang memperlihatkan keindahan ragam ukir candi ini. Sayang memang oleh sebab masih cukup banyak kerusakan yang harus diperbaiki.

candi plaosan lor klaten

Membayangkan bagaimana para empu pahat membuat dan memasang relief ini bisa membuat perut orang terasa mulas, oleh sebab sungguh tak mudah. Selain memerlukan keahlian seni yang luar biasa, juga perlu totalitas pengabdian yang lahir dari penghormatan dan kepercayaan kepada raja dan para dewata.

candi plaosan lor klaten

Potongan relief candi induk utara Candi Plaosan Lor lainnya. Cukup mudah membedakannya, yaitu dari jenis kelamin tokoh yang diukir pada dindingnya.

candi plaosan lor klaten

Melihat keindahan relief di Candi Plaosan Lor ini saya hanya bisa membayangakan betapa megah dan indahnya kawasan ini ketika raja yang memerintah saat itu meresmikan selesainya pembangunan candi. Boleh jadi saat itu tak sembarang orang bisa masuk ke dalam candi.

candi plaosan lor klaten

Melihat keindahan relief di Candi Plaosan Lor ini hanya bisa membayangakan betapa megah dan indahnya ketika raja meresmikan selesainya pembangunan candi ini pada jaman dahulu.

candi plaosan lor klaten

Sudut pandang lainnya pada candi perwara dan candi induk yang sudah dipugar. Ada pula serakan batu yang menunggu ditata oleh para ahli. Prasasti Cri Kahulunan berangka tahun 842 M yang ditemukan di Magelang menyebutkan bahwa Candi Plaosan Lor dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan, dengan dukungan suaminya.

candi plaosan lor klaten

Info Klaten

Peta Wisata Klaten, Tempat Wisata di Klaten, Hotel di Klaten

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengbinang !
Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.