Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran Batang

August 30, 2019. Label:
aroengbinang.com - Tujuan utama perjalanan pagi itu adalah memang untuk berkunjung ke Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran Batang yang dikelola PT Pagilaran. Belakangan saya tahu dari seorang teman di FB bahwa perkebunan ini dikelola UGM melalui PT Pagilaran itu. Dalam perjalan ke tempat ini kami mampir ke beberapa tempat.

Setelah sarapan pagi di Kota Pekalongan dan mampir ke Alun-Alun Batang, Masjid Agung Darul Muttaqin Batang, lalu Situs Prasasti Sojomerto peninggalan dari jaman Syailendra, dan ke Pohon Tua Padomasan, akhirnya kami mengarah ke Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran Batang. Jarak dari situs prasasti ke Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran Batang adalah 11 km, atau 32 km dari Alun-Alun Batang dan 39 km dari Garang Asem H Masduki Pekalongan, mengarah ke Selatan. Akses jalan aspal hingga ke lokasi boleh dikatakan dalam kondisi yang baik, mulus, meski tak begitu lebar dan harus berhati-hati saat berpapasan.

Yang menarik dan sempat saya cicipi di sebuah warung di Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran adalah buah segar kemasan yang disebut Carica, yang rupanya merupakan jajanan khas Dieng yang diproduksi di Wonosobo. Meski bukan makanan khas Pagilaran, namun tak mengapa dicoba, ketimbang harus jauh-jauh pergi ke Dieng. Sejumlah teh merk lokal dalam kemasan plastik juga dijual di warung-warung ini.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Pemandangan elok pada deretan pohon teh di kawasan Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran Batang yang berderet menurun ke lembah sejauh mata memandang diselip deret pepohonan yang membantu memberi keteduhan dan menambah keasrian. Pemandangan seperti ini bisa dinikmati ketika sedang berkendara mendekati lokasi utama tempat wisata ini.

Perkebunan teh ini didirikan oleh perusahaan Belanda pada 1880. Pada 1922 digabung dengan PT Pemanukan and Tjiasem Land setelah dibeli Pemerintah Inggris. Setelah hak guna usaha-nya habis pada 1964, Pemerintah Indonesia menyerahkan pengelolaan perkebunan teh ini ke Fakultas Pertanian UGM, dijadikan PN Pagilaran dan lalu menjadi perseroan.

Pohon tinggi besar elok yang dibalut tanaman rambat rapat sempat saya foto dengan latar bangunan Kantor Bagian Agrowisata Unit Produksi Pagilaran yang berada tepat di samping Wisma Gladiola. Kami lalu mampir di sebuah warung di sisi kiri area parkir Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran Batang. Ada cukup banyak warung sederhana, menawarkan makanan, minuman panas dan dingin, serta berbagai makanan kecil.

Layanan di Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran Batang adalah Tea Walk, Tea Factory, Outbound, Sun Rise View Point, Flying Fox, Kolam Renang Anak, dll. Juga melihat rumah Administratur Pabrik yang khas Eropa, serta bekas kereta gantung yang dulu digunakan oleh sinyo dan noni Belanda untuk melihat keindahan pemandangan Pagilaran.

Ada sebuah patung wanita pemetik daun teh di dekat area parkir Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran Batang yang berada di ketinggian 1000 - 1700 mdpl, lengkap dengan caping dan kain penutup kepala yang melindunginya dari tiupan angin dan sengat matahari dan menggendong keranjang penampung daun di punggungnya.

Prasasti yang ada di depan kaki patung wanita itu sudah tak terbaca lagi isinya, menandai umurnya yang sudah tua termakan cuaca perkebunan yang berubah-ubah. Roda-roda kurus tinggi, serta mesin besar menyerupai mesin pesawat dipajang di area pamer atau museum terbuka ini.

Meski kami diperbolehkan lewat di pos jaga, sayangnya pabrik sedang tidak beroperasi lantaran pada hari itu semua karyawan tengah mengikuti perayaan ulang tahun pabrik. Di Kantor Bagian Agrowisata Unit Produksi Pagilaran juga tak ada petugas yang melayani, karena layanan wisata pada hari itu ditiadakan. Sayang sekali kami kurang beruntung.

Kami kemudian melangkah ke ujung kiri area parkir, dimana terdapat area wisata keluarga yang tidak begitu luas namun asri dan menarik. Di sana ada jembatan gantung untuk menyeberang ke kebun teh dengan kolam di lembahnya yang menyediakan sepeda air. Ada pula flying fox namun tak beroperasi. Jagung rebus dan jagung bakar dijajakan di sana.

Ada baiknya kereta gantung itu direvitalisasi dengan menggunakan standar kereta gantung gondola modern, atau menggunakan bentuk yang sama seperti yang digunakan pada jaman kolonial dulu, untuk memberi nuansa wisata heritage. Meski ingatan tentang jaman kolonial bukan merupakan ingatan yang enak untuk dilestarikan.

Ada Teh Alami Cap Candi KUB Sekar Langit, ada pula Teh Alami industri rumahan Desa Ngadirejo, Teh Hitam Super Sigma Rasa produksi PT Pagilaran, serta sejumlah merk teh lainnya. Minum teh panas di tempat yang hawanya dingin ini terasa sangat pas.

Sebelum meninggalkan area Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran Batang, kami mampir ke salah satu titik pandang terbaik ke kebun teh di kawasan ini. Tempat itu berada di halaman deret villa milik PT Pagilaran yang disewakan dengan tarif Rp.750.000. Ada pula kamar dengan sewa Rp. 210.000. Jajar pohon tinggi rimbun menambah kenyamanan area ini.

Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran Batang

Alamat : Desa Keteleng, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang. Telp 0285 7909486, 7991031. Lokasi GPS : -7.11066, 109.85453, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran Batang

Patung wanita pemetik daun teh di dekat area parkir Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran Batang yang berada di ketinggian 1000 - 1700 mdpl, lengkap dengan caping dan kain penutup kepala yang melindunginya dari tiupan angin dan sengat matahari dan menggendong keranjang penampung daun di punggungnya. Prasasti yang ada di depan kakinya sudah tak terbaca lagi isinya.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Kami kemudian melangkah ke ujung kiri area parkir, dimana terdapat area wisata keluarga yang tidak begitu luas namun asri dan menarik. Di sana ada jembatan gantung untuk menyeberang ke kebun teh dengan kolam di lembahnya yang menyediakan sepeda air. Ada pula flying fox namun tak beroperasi. Jagung rebus dan jagung bakar dijajakan di sana.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Pohon tinggi besar elok yang dibalut tanaman rambat rapat dengan latar bangunan Kantor Bagian Agrowisata Unit Produksi Pagilaran yang berada tepat di samping Wisma Gladiola. Kami lalu mampir di sebuah warung di sisi kiri area parkir Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran Batang. Ada cukup banyak warung sederhana, menawarkan makanan, minuman panas dan dingin, serta berbagai makanan kecil.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Daun-daun teh muda segar di latar depan sudah siap dipetik. Pucuk daun teh merupakan bagian yang paling disukai untuk dijadikan bahan minuman teh premium. Sayang sekali tidak ada sama sekali pemetik daun teh yang sedang bekerja pada hari itu.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Instalasi cagkir teh dan poci yang dipasang di bundaran di dekat kantor pengelola Agrowisata Pagilaran, di ujung area parkir. Tulisan pada poci berbunyi "Teh Pagilaran".

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Salah satu instalasi mesin tua pabrik teh di ruang pamer terbuka, di sekitar patung wanita pemetik teh. Bentuknya mengingatkan saya pada mesin pesawat terbang.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Mesin tua lainnya dengan roda-roda besar yang dihubungan dengan besi semacam gardan mobil. Sayang sekali tidak dibuat keterangan di dekatnya untuk mengedukasi pengunjung tentang peralatan pabrik teh kuno ini.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Pemandangan pada Kantor Bagian Agrowisata Unit Produksi Pagilaran, dimana pengunjung harus mendaftar untuk mengikuti paket kunjungan pabrik. Untuk rombongan besar ada baiknya telepon lebih dahulu.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Di sebelah kiri adalah deret warung makanan dan minuman, yang di tengahnya dibuat sebagai area parkir. Sedangkan di ujung sana adalah area wisata yang tak begitu besar namun asri, cocok buat anak muda dan keluarga.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Peralatan yang dipajang di sisi sebelah kiri meyerupai sebuah kincir, namun tak ada roda putarnya, sedangkan di bagian depan seperti sebuah dinamo besar, dengan roda putar di belakangnya.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Pemandangan dari arah belakang patung pemetik daun teh, memperlihatkan bakul penampung daun teh yang digendong di punggung wanita itu. Sejumlah perlengkapan pabrik tua tampak dipasang di sekitar patung.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Wid dengan pakdenya di depan patung wanita pemetik daun teh, berlatar pohon tinggi besar yang saya kira sudah berusia ratusan tahun. Kehidupan para wanita pemetik daun teh ini merupakan cerita yang menyedihkan. Dengan hasil petik 30 kilogram dan upah Rp 400 per kilo mereka hanya bisa membawa pulang Rp12.000 - Rp15.000 setelah seharian bekerja.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Wid dengan latar warung makanan, yang meskipun tidak ada layanan wisata pada hari itu namun mereka tetap buka, karenanya kenyataannya memang cukup banyak pengunjung yang datang pada hari itu.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Pohon besar tinggi yang sangat cantik, dengan bagian atas daunnya telah meranggas habis, namun bagian bawahnya telah mulai tumbuh dengan warna daun hijau orange yang amat cantik.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Sejumlah teh merk lokal dalam kemasan plastik juga dijual di warung-warung ini. Ada Teh Alami Cap Candi KUB Sekar Langit, ada pula Teh Alami industri rumahan Desa Ngadirejo, serta sejumlah merk teh lainnya. Minum teh panas di tempat yang hawanya dingin ini terasa sangat pas.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Kemasan 90 gr Teh Hitam Super Sigma Rasa produksi PT Pagilaran. Penelitian Joseph McLaughlin dari National Cancer Institute menunjukkan bahwa Teh hitam sangat efektif dalam melindungi tubuh dari kanker esofagus, saluran dari mulut ke lambung. Perokok dan peminum alkohol yang minum teh hitam 5 cangkir setiap hari resiko kankernya menurun 20% pada pria dan 50% pada wanita. Bagi bukan perokok atau peminum alkohol, resiko kanker turun 57% pada pria dan 60% pada wanita.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Wid berdiri di samping pohon tinggi besar elok yang dibalut tanaman rambat rapat dengan latar bangunan Wisma Gladiola yang berada tepat di samping Kantor Bagian Agrowisata Unit Produksi Pagilaran. Di kantor itu juga tak ada petugas yang melayani, karena layanan wisata pada hari itu ditiadakan. Sayang sekali kami kurang beruntung.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Yang menarik dan saya sempat cicipi di warung samping area parkir adalah buah segar kemasan yang disebut Carica, jajanan khas Dieng yang diproduksi di Wonosobo.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Ibu penjaga dan pemilik warung membuka satu kemasan Carica, yang juga disebut pepaya hutan, dan menambahkan es batu sebelum menyajikan untuk saya cicipi. Rasanya agak manis aneh tapi enak juga. Rasa buah aslinya kabarnya sepet, sehingga dibuat sebagai manisan.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Pos awal flying fox dimana pejalan membayar Rp10.000 untuk sekali "terbang", sedangkan untuk menyeberang lembah melewati jembatan gantung cukup membayar Rp2.500 saja. Jika tak mau memakai jembatan gantung, pengunjung bisa turun ke lembah untuk menyeberang.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Pemandangan lembah dan perbukitan hijau kebiruan elok yang kami lihat dalam perjalanan menuju ke Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Lembah dengan lintasan penyeberangan ke bukit sebelah jika tak hendak menggunakan jembatan gantung. Terlihat ada sebuah perahu genjot di bawah sana, namun kondisinya sepertinya kurang begitu baik. Ada banyak orang terlihat tengah duduk-duduk menikmati pemandangan serta merasakan hawa dingin pegunungan di tempat ini.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Di bawah sana adalah pos yang menjadi ujung lintasan flying fox. Baik juga sebenarnya dibuat lintasan pada arah berlawanan, jika orang ingin kembali ke tempat semula dengan cara "terbang". Jika jaman Belanda saja sudah bisa dibuat kereta gantung, maka mestinya sekarang bisa dibuat yang jauh lebih baik lagi, agar orang bisa menikmati keindahan Pagilaran dari atas.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Perbukitan yang ditanami teh di seberang sana dibuat secara bertingkat untuk menghindari longsor. Sepasang remaja tampak duduk di keteduhan di sebelah kiri tebing. Di sebelah atas ada lagi pengunjung lainnya yang tengah menikmati suasana.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Pepohonan teh dengan latar bukit tinggi yang menggunung. Suasana dan hawa di daerah Pagilaran ini masih cukup baik, dengan pepohonan besar yang lumayan banyak. Jika saja pertumbuhan hunian bisa dibatasi, dan jumlah pohon ditambah, maka area ini akan bisa terjaga keasriannya.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Bukan hanya persawahan, namun perkebunan teh juga dibuat terasering yang terlihat cantik. Dulu sekali kawasan ini mungkin merupakan kawasan hutan, seperti lazimnya daerah pegunungan. Jika tanpa pepohonan area perkebunan teh memang akan menjadi tempat yang sangat panas dan tak nyaman di siang hari.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Diantara pepohonan teh ini terdapat jalur terbuka cukup lebar yang tampaknya digunakan sebagai kendaraan pengangkut daun teh setelah dipetik oleh para wanita, atau akses untuk melakukan kegiatan pemeliharaan tanaman teh. Pemandangan ini saya peroleh dari area di halaman depan villa.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Halaman depan villa yang cukup luas dibatasi dengan tanaman perdu yang biasa disebut sebagai tetean, mungkin dari kata teh-tehan, atau tumbuhan perdu yang mirip pohon teh.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Di pinggiran halaman villa juga terdapat deret pepohonan besar yang memberi keteduhan dan hawa lebih sejuk yang sebagian tampak di sebelah kanan foto. Warna kekuningan pada permukaan daun tetean adalah tumbuhan parasit yang disebut tali putri (Banyumas: maskumambang; Sunda: sangga langit) yang memiliki manfaat sebagai obat tradisional.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Tak salah jika area di depan villa merupakan salah satu area pandang terbaik di kawasan Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran, karenanya tak rugi jika menginap di tempat yang bisa menampung sampai 12 orang ini dengan membayar Rp750.000 per malam.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Pemandangan memikat lainnya pada area perkebunan teh Pagilaran. Jika saja ada persewaan sepeda gunung, tentu akan menyenangkan untuk bersepeda diantara pohon teh di pagi atau sore hari, saat matahari sudah berkurang keganasannya.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Deret pepohonan besar yang bukan saja memberi pemandangan yang elok, namun juga memberi keteduhan dan membawa hawa yang segar di area sekitar villa Pagilaran ini.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Halaman villa Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran Batang yang cukup lega untuk menampung mobil besar dan kecil. Hanya sayangnya kondisi villa sudah memerlukan perawatan. Setidaknya jika melihat bagian luarnya karena kami tidak bisa melihat dalamannya.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Penampakan pada villa yang berada paling ujung. Selain villa, pengelola juga menyediakan kamar dengan sewa Rp210.000 per malam. Unit Produksi Pagilaran ini luasnya mencapai 1.113,25 ha, terbagi menjadi Afdeling Pagilaran yang menghasilkan 40 ton pak/hari teh hitam, Afdeling Kayulandak, dan Afdeling Andongsili. Unit Produksi Pagilaran juga menghasilkan cengkeh dan kina.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Salah satu yang saya sangat suka dengan kawasan Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran adalah banyaknya pohon tua besar yang elok. Ada baiknya pengelola mulai menanam pohon baru lagi agar area ini semakin elok, rindang, dan membuat betah pengunjung.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Ada baiknya di tempat Dodi duduk di atas rerumputan itu dipasang sebuah gazebo, dari bambu pun tak apa asal didesain dengan cantik dan elegan. Gazebo akan menjadi tempat yang nyaman untuk duduk menikmati suasana, utamanya saat matahari belum atau tak lagi terik.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Pemandangan pada jalan masuk ke arah deret villa, dengan pepohonan tinggi besar di sisi sebelah kanan, yang melindungi dari pagi hingga jelang siang. Perlu adanya sebuah pohon besar di tengah untuk memberi keteduhan saat matahari tepat di atas kepala.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Jika saja punya waktu cukup, maka menginap di salah satu villa di Agrowisata Perkebunan Teh Pagilaran ini akan sangat menyenangkan, karena bisa menelusuri dan menikmati semua keindahan yang ada. Pemandangan elok seperti ini akan terasa berbeda ketika dinikmati di pagi hari yang dingin, dan lain lagi di kala senja dan saat malam hari.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Rontoknya dedaunan menyisakan dahan ranting telanjang menjadikan puncak pepohonan ini terlihat lebih artistik. Musim kering dan musim hujan memiliki daya tariknya sendiri-sendiri, jika saja bisa menemukan apa yang bisa dinikmati.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Berfoto dengan latar belakang perkebunan teh, pepohonan dan perbukitan di kejauhan menjadi hiburan ketika berkunjung ke kawasan Perkebunan Teh Pagilaran di Batang. Ada banyak spot menarik yang mesti dieksplorasi sendiri. Pastikan saja tidak datang ke tempat ini saat matahari sedang bersinar dengan kejam di siang hari.

agrowisata perkebunan teh pagilaran batang

Info Batang

Hotel di Batang, Tempat Wisata di Batang, Peta Wisata Batang.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengbinang ! Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.