Masjid Wali Loram Kulon Kudus

November 17, 2019. Label:
Matahari masih terasa hangat menerpa kulit saat kami turun di halaman depan Masjid Wali Loram Kulon Kudus, dengan taman asri dan bundaran air mancur di depannya. Sedikitnya ada dua hal menarik dengan masjid ini, yaitu bangunan aslinya didirikan pada 1596-1597 oleh seorang Tionghoa Muslim asal Campa bernama Tjie Wie Gwan, dan yang kedua adalah adanya kori agung gapura paduraksa bergaya Majapahitan di bagian depannya.

Meski di jaman Orde Baru nama masjid diganti menjadi Masjid Jami At-Taqwa, dengan alasan harus diberi nama khusus untuk memenuhi kebutuhan administrasi, namun masyarakat setempat masih menyebutnya Masjid Wali Loram Kulon. Memberi nama lokal sebuah masjid buat saya terasa lebih pas, merdu dan membumi ketimbang memakai nama asing.

Setidaknya asing yang diindonesiakan akan lebih baik. Sebagaimana umumnya masjid pada jaman dahulu, bangunan asli masjid dibuat dari kayu jati dan sudah ada menara, sumur tempat wudlu, serta bedug. Pada awal 1990-an, masjid dipugar dengan mengganti dinding papan dan tiang kayu yang telah rapuh karena usia menjadi dinding tembok dan rangka beton, namun tetap mempertahankan gapura tradisionalnya yang unik itu.

masjid wali loram kulon kudus

Masjid Wali Loram Kudus dilihat dari samping taman memanjang yang menjadi pembagi jalan dan ditanami palm serta tanaman hias yang cukup membantu menyegarkan pandang. Masjid yang tetap mempertahankan warisan arsitektur Jawa Hindu dan mengkombinsikannya dengan gaya bangunan model Timur Tengah itu adalah masjid ketiga yang saya lihat di Kota Kudus setelah Masjid Menara dan Masjid Nganguk Wali.

Aksara Arab pada gapura paduraksa berbunyi "Allahumma baariklana bil khoir", dan di bawahnya ada aksara Latin "Ya Allah, berkahilah kebaikan kepada kami". Tjie Wie Gwan konon kemudian menjadi orang kepercayaan Sultan Hadlirin, suami Ratu Kalinyamat, dan dipercaya untuk menyebarkan agama Islam di Kudus.

Sebagai penghargaan bagi jasa-jasanya yang besar, Ratu Kalinyamat memberi gelar Sungging Badar Duwung kepada Wie Gwan. Sungging artinya ahli ukir, badar batu, dan duwung tanah. Konon beliau inilah yang menjadi cikal bakal munculnya keterampilan seni ukir berkelas tinggi di Kudus yang terkenal hingga ke mancanegara itu.

masjid wali loram kulon kudus

Di sebelah depan pintu gapura paduraksa tambahan yang berada di sisi kiri diletakkan dua batu di atas tatanan bata. Yang di sebelah atas seperti Lingga Yoni namun dengan bentuk tak lazim, hanya saja cerat untuk mengalirkan air sangat jelas terlihat. Sedangkan batu yang berada di bawahnya memiliki lekukan setengah bola yang tampaknya digunakan sebagai penampung air suci.

Pada jaman dahulu, sebelum Islam masuk dan berkembang di tanah Jawa, di masa tanam padi dan palawija orang melakukan ritual dengan merapal doa dan menyiramkan air suci atau susu pada lingga, mengalir melalui cerat ke batu penampungan untuk kemudian airnya dicipratkan ke sawah dan ladang agar subur dan memberi hasil melimpah.

Sebuah lampu gantung yang terlihat elok dipasang di depan serambi masjid. Ornamen pada dinding depan serambi juga terlihat cantik. Bagian bawah tiang pilar memiliki ornamen elok serta umpak yang biasanya terbuat dari batu namun diganti dengan tatanan bata merah yang cantik. Di Desa Loram Kulon juga ada gentong antik sepanjang 4 meter, namun sayang saya tak melihatnya.

Saat berada di serambi Masjid Wali Loram Kulon dan melihat ke arah luar, secara tak sengaja saya melihat adanya lekukan cukup dalam pada dinding gapura paduraksa yang membentuk angka dalam aksara Arab, namun tak yakin saya bagaimana membacanya. Gapura itu adalah salah satu peninggalan yang masih asli, selain saka guru, mustaka cungkup masjid, sumur, pintu bertulis, dan bedug.

Mestinya ada pintu kayu bertulis yang diletakkan di ujung depan teras, namun saya tak melihatnya saat itu. Tulisan pada pintu itu berbunyi, "Ini peninggalan tokoh-tokoh berupa pintu. Yang membuat pintu ini, pertama kiai ... (belum terbaca), kedua Petinggi Serjoyo, ketiga Petinggi Trendeto, keempat Petinggi Sliwongso dan kelima Petinggi Wirjoyo. Pintu ini dibuat Hari Senin Legi, 8 Dzulhijjah 1248 Hijriyah."

Keunikan tradisi di Desa Loram Kulon adalah adanya ritual Nganten Mubeng, yaitu para pengantin wajib melewati gapura paduraksa di sisi barat dan timur Masjid Loram Kulon setelah mereka selesai melaksanakan ijab qobul. Ketika masih hidup, karena banyaknya pasangan pengantin, maka Tjie Wie Gwan meminta agar para pengantin yang telah sah untuk mengelilingi gapura dan didoakan dari depan masjid dengan disaksikan warga.

Di ruang utama masjid, satu-satunya yang menarik di sana adalah ornamen pada sekitar relung tempat imam dan mimbar, yang berwarna keemasan dan terkesan mewah. Mimbarnya terlihat biasa saja dengan plitur gelap. Di tengah ruangan yang lelangitnya tinggi terdapat lampu gantung besar. Selebihnya tampak polos saja.

Di serambi kiri dan kanan masjid terdapat masing-masing satu bedug. Yang sudah terlihat tua nampaknya yang asli. Untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, warga Loram Kulon biasanya menyelenggarakan tradisi ampyang Maulid pada 12 Robiulawal, yang sudah dimulai sejak Tjie Wie Gwan masih hidup. Pada 1996 Balai Pelestarian Peningalan Purbakala Jawa Tengah telah menetapkan Gapura Masjid Wali Loram Kulon sebagai Benda Cagar Budaya.

Ada sebuah tradisi di Desa Loram Kulon yang unik, yaitu bersedekah dengan mengirim nasi kepel ke Masjid Wali Loram Kulon. Warga yang punya hajatan menikahkan anak, sunat, membangun rumah, melahirkan dan hajatan lainnya membawa sedekah nasi kepel dan lauk bothok masing-masing 7 bungkus. Nasi kepel adalah nasi yang dibungkus dengan daun jati atau daun pisang, berbentuk bulat dan diikat. Angka tujuh (Jawa: pitu) menjadi perlambang bagi Pitulung (pertolongan), Pitutur (nasihat), Pituduh (petunjuk) dalam menjalani hidup.

Kunjungan ke Masjid Wali Loram Kulon Kudus kembali menjadi pengingat untuk senantiasa merawat budaya dan melestarikannya. Juga mengingatkan pada apa yang pernah disampaikan oleh Bung Karno bahwa "Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, Kalau jadi Islam jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen jangan jadi orang Yahudi...Tetaplah jadi orang Nusantara dengan adat-budaya Nusantara yang kaya raya ini".

Masjid Wali Loram Kulon Kudus

Alamat : Desa Loram Kulon, Kcamatan Jati, Kabuoaten Kudus, Jawa Tengah. Lokasi GPS : -6.83148, 110.84323, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Kudus

Sebuah lampu gantung yang terlihat elok dipasang di depan serambi masjid. Ornamen pada dinding depan serambi juga terlihat cantik. Bagian bawah tiang pilar memiliki ornamen elok serta umpak yang biasanya terbuat dari batu namun diganti dengan tatanan bata merah yang cantik. Di Desa Loram Kulon juga ada gentong antik sepanjang 4 meter, namun sayang saya tak melihatnya.

masjid wali loram kulon kudus

Di ruang utama masjid, satu-satunya yang menarik di sana adalah ornamen pada sekitar relung tempat imam dan mimbar, yang berwarna keemasan dan terkesan mewah. Mimbarnya terlihat biasa saja dengan plitur gelap. Di tengah ruangan yang lelangitnya tinggi terdapat lampu gantung besar. Selebihnya tampak polos saja.

masjid wali loram kulon kudus

Tampak muka bagian bawah Masjid Wali Loram Kulon dengan latar depan bundaran kolam air mancur dimana di tengahnya ada tengara nama masjid. Bundaran ini dibuat simetris dengan gapura, namun bangunan masjidnya sendiri tampaknya tak dibuat simetris dengan gapuranya.

masjid wali loram kulon kudus

Pandangan lebih dekat pada tengara nama masjid. Huruf Arab di bagian atas bunyinya sama dengan huruf Latin di bawahnya, yaitu Masjid Jami' At Taqwa. Matinya air mancur mudah-mudahan hanya upaya penghematan, bukan karena rusak.

masjid wali loram kulon kudus

Tengara yang menjadi bukti tertulis di lokasi bahwa Gapura Masjid Loran telah dijadikan Benda Cagar Budaya yang keberadaan dan kelestariannya dilindungi oleh undang-undang.

masjid wali loram kulon kudus

Pada bagian kiri bawah foto tampak Kasmudi tengah mengamati, bahkan memegang yang mestinya tak dilakukannya, batu Yoni dan Lingga yang ada di sayap kiri masjid. Berkibarnya bendera Merah Putih di depan masjid mungkin memberi pentunjuk bahwa pengurusnya setia pada NKRI. Hal yang menenteramkan.

masjid wali loram kulon kudus

Pandangan pada sisi sebelah kanan Masjid Wali Loram Kulon. Tak jelas apakah pintu tengah gapura paduraksa itu dibuka pada hari-hari tertentu, misalnya jika ada tamu penting datang atau pada hari-hari raya keagamaan.

masjid wali loram kulon kudus

Pandangan dekat pada gapura paduraksa utama dengan tulisan Arab "Allahumma baariklana bil khoir" dan huruf Latin "Ya Allah, berkahilah kebaikan kepada kami". Beginilah mestinya dakwah, tidak menghancurkan apa yang ada, namun mengisi yang ada dengan kebaikan.

masjid wali loram kulon kudus

Pandangan pada bagian bawah tiang pilar dengan ornamen elok serta umpak yang biasanya terbuat dari batu namun diganti dengan tatanan bata merah yang cantik.

masjid wali loram kulon kudus

Menurut catatan sebelumnya ada sebuah pintu kayu bertulis yang diletakkan di ujung depan teras, namun saya tak melihatnya saat itu. Tulisan pada pintu itu berbunyi, "Ini peninggalan tokoh-tokoh berupa pintu. Yang membuat pintu ini, pertama kiai ... (belum terbaca), kedua Petinggi Serjoyo, ketiga Petinggi Trendeto, keempat Petinggi Sliwongso dan kelima Petinggi Wirjoyo. Pintu ini dibuat Hari Senin Legi, 8 Dzulhijjah 1248 Hijriyah."

masjid wali loram kulon kudus

Kasmudi tengah mengamati tulisan yang ada di pintu gapura Kori Agung Masjid Wali Loram Kulon, sementara seorang anak pelajar SD melintas entah mau kemana oleh karena pelajaran sekolah mestinyta sudah dimulai sejak sejam lewat. Aksara Arab pada gapura itu berbunyi "Allahumma baariklana bil khoir", dan di bawahnya ada aksara Latin "Ya Allah, berkahilah kebaikan kepada kami".

masjid wali loram kulon kudus

Pandangan pada ukiran aksara Arab pada dinding gapura paduraksa itu, dengan ditarik sudut pandangnya lebih ke belakang dari foto yang sebelumnya.

masjid wali loram kulon kudus

Saat berada di serambi Masjid Wali Loram Kulon dan melihat ke arah luar, secara tak sengaja saya melihat adanya lekukan cukup dalam pada dinding gapura paduraksa yang membentuk angka dalam aksara Arab, namun tak yakin saya bagaimana membacanya. Gapura itu adalah salah satu peninggalan yang masih asli, selain saka guru, mustaka cungkup masjid, sumur, pintu bertulis, dan bedug.

masjid wali loram kulon kudus

Pandangan lebih dekat pada mihrab dan mimbar, memperlihatkan keindahan pada kedua pilar serta ornamen dinding berwarna emas itu.

masjid wali loram kulon kudus

Ruangan utama Masjid Wali Loram Kulon ini memang terlihat sepi, kecuali pada bagian mihrabnya. Lubang kaca pada dinding juga terkesan sangat sederhana dan seadanya.

masjid wali loram kulon kudus

Pandangan pada lampu gantung dan langit-langit masjid yang tinggi. Bagian dalam kubah yang biasanya cantik tak terlihat di masjid ini. Mungkin belum.

masjid wali loram kulon kudus

Bedug dan kentong yang tampak sudah tua. Inilah yang saya kira bedug asli peninggalan dari jaman dahulu. Namun kulit bedugnya saya kira sudah pernah diganti.

masjid wali loram kulon kudus

Bedug lainnya yang diletakkan pada bagian yang berbeda dan kelihatan masih relatif baru serta lebih indah, dengan ukiran nama masjid pada batang bedugnya.

masjid wali loram kulon kudus

Satu foto lagi dari arah depan sempat saya ambil beberapa saat sebelum meninggalkan Masjid Wali Loram Kulon.

masjid wali loram kulon kudus

Foto tampak depan Masjid Wali Loram Kulon dengan menarik pandangan lebih ke belakang lagi yang memperlihatkan taman di tengah jalan dan masjid di latar belakang sana.

masjid wali loram kulon kudus

Ragam relief pada bagian bawah pilar berupa sulur melingkar memusat ke dalam dan ada bentuk benjolan di bagian atasnya yang entah berupa apa. Namun ragam relief di masjid biasanya tak menggunakan hewan dan manusia.

masjid wali loram kulon kudus

Pandangan lebih dekat pada ornamen pada dinding yang membatasi relung tempat imam dengan tembok sekitarnya berupa bentuk pilar berwarna keemasan dengan ragam hias suluran.

masjid wali loram kulon kudus

Keindahan Masjid Wali Loram Kulon adalah karena dipertahankannya corak tradisional Jawa Majapahitan pada struktur bagian depan masjid. Jika saja itu hilang atau dihilangkan, maka hilang pula daya tarik utamanya oleh sebab akan menjadi masjid berpenampilan sangat biasa saja.

masjid wali loram kulon kudus

Info

Hotel di Kudus, Hotel Murah di Kudus, Peta Wisata Kudus, Tempat Wisata di Kudus.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑