Makam Sunan Muria Kudus

November 15, 2019. Label:
Perjalanan selanjutnya pada hari itu adalah untuk mengunjungi Makam Sunan Muria Kudus, yang lokasinya berada di sebuah puncak perbukitan di lereng bawah Gunung Muria. Sebenarnya ada sedikit keraguan apakah sanggup mendaki anak tangga yang kabarnya sangat banyak. Namun dengan pengalaman pernah menaklukkan 600-an anak tangga Puncak Gajah Mungkur membuat hati sedikit tenang.

Kendaraan mengarah lurus ke utara dari Alun-alun Kota Kudus, sesudah sesaat sebelumnya kami meninggalkan Masjid Menara Kudus dan Makam Sunan Kudus. Setelah menempuh perjalanan sejauh 19 km, atau kurang dari 40 menit perjalanan, kami sampai dan berhenti di halaman Masjid As-Saidiyyah Colo dengan menanjak tajam dari jalan utama.

Ketika turun dari kendaraan kami sudah dikerubungi beberapa pengendara motor yang menguntit saat mobil masuk Colo. Tukang-tukang ojek berseragam itu menawarkan jasa dengan tarif resmi untuk mengantar ke puncak Colo dimana Makam Sunan Muria berada, tanpa harus lelah menaiki ratusan anak tangga. Mengingat waktu, tenaga, dan untuk pengalaman, kami naik ojek.

makam sunan muria kudus

Pemandangan kelok jalan yang saya ambil sesaat setelah sampai di pangkalan ojek-2 di puncak Colo, sebelum masuk ke Makam Sunan Muria Kudus. Jalan yang berkelok sempit, dengan jurang di sisi sebelah, dihajar kencang pengemudi ojek yang membuat jantung berjoged dan tangan harus berpegang kuat.

Pemandangan indah di jalan jadinya tak bisa sepenuhnya bisa dinikmati, tak pula bisa berhenti memotret karena cukup beresiko untuk berhenti dan turun dari sepeda motor di lintasan jalan yang sempit itu. Inilah yang disebut pengalaman. Merasakan sendiri sensasinya menumpang jago balap ojek Makam Sunan Muria.

Jalan ojek ini memutari pinggang bukit dan jaraknya lebih jauh dibanding jika menapaki undakan, namun jauh lebih hemat waktu dan tenaga. Sebelumnya, setidaknya tiga atau empat kelok jalan tajam juga kami lalui sekitar 2 km hingga tiba di lokasi Masjid As-Saidiyyah.

Sangat sedikit informasi sahih yang tersedia tentang siapa dan apa kiprah Sunan Muria. Umumnya menyebut bahwa beliau adalah Raden Umar Said, putera Sunan Kalijaga. Ada yang menyebut ibunya sebagai Dewi Soejinah puteri Sunan Ngudung, namun pendapat lain menyebut bahwa ibunya adalah Dewi Saroh, puteri Syekh Maulana Ishak atau adik dari Sunan Giri.

makam sunan muria kudus

Deretan sepeda motor di pangkalan ojek-2 puncak Colo yang saya lihat sebelum masuk ke Makam Sunan Muria Kudus. Seorang tukang ojek terlihat menggunakan seragam ungu bertulis "Angkutan Muria Colo" dengan nomor registrasi 07. Rata-rata sepeda motor di sana ber-cc kuat agar sanggup menaklukkan jalanan yang berkelok dan menanjak tajam menuju ke lokasi ini.

Untuk menuju ke Makam Sunan Muria kami berjalan menapaki jalan menanjak dan melewati kios-kios penjual pakaian, suvenir dan makanan. Kami juga melintas di depan ujung atas lorong pejalan kaki yang kiri kanannya dipenuhi deret lapak pedagang.

Sebelum kios-kios itu ada tengara ke arah Makam Pangeran Gadung, Pangeran Gading, dan Nyai Ratu, namun tak kami kunjungi. Pangeran Gadung Sosrokusumo adalah paman Sunan Muria. Di lorong Makam Sunan Muria peziarah harus mencopot dan menjinjing alas kaki, karena keluar di tempat berbeda.

Ada tulisan "Tata Tertib di Makam Raden Umar Sa'id Kangjeng Sunan Muria", berisi empat aturan dan empat larangan, serta jadwal kunjung untuk bisa masuk ke makam inti dan aturan menginap. Masuk ke cungkup makam inti hanya bisa Kamis Wage dan Kamis Legi dari jam 06.00 s/d 24.00, serta Jumat Kliwon dan Jumat Pahing dari jam 06.00 s/d 16.00, sedangkan kami datang hari Sabtu.

Diantara peninggalan Sunan Muria adalah tembang Kinanti dan Sinom yang berisi nasihat agar yang tua menyayangi yang muda dan yang muda menghormati yang tua, serta pesan agar pemimpin mendahulukan kepentingan rakyat. Lalu ada Tapa Ngeli yang mengajarkan agar ilmu diperoleh dengan laku sungguh-sungguh dan menjernihkan pikir, serta agar rendah hati, mengalir dan tidak macam-macam.

Ajaran Sunan Muria lainnya adalah agar pengikutnya saleh sosial, yang berarti bertakwa kepada Allah dan bertanggung jawab terhadap sesama mahluk. Ajaran ini menjadi inti ajaran sang sunan yang dikenal dengan "pagerono omahmu kanthi mangkok" atau pagarilah rumahmu dengan mangkuk (derma).

Sunan Muria diperkirakan lahir pada paruh akhir abad ke-15, dan wafat pada 1551, lebih pendek dari usia Sunan Kalijaga yang lahir pada 1455 dan wafat 1586, meski tak ada petunjuk pasti soal kebenaran angka ini. Yang banyak dipercayai adalah bahwa keduanya menggunakan pendekatan budaya dan seni yang hidup di masyarakat untuk menyebarkan agama Islam. Menjadi Islam memang tak mesti menjadi Arab.

Seluruh dinding pada bangunan inti ini tertutup, sehingga tak bisa tidak pengunjung akan memusatkan perhatian pada arah kelambu cungkup. Demikian pula lorong masuk dan lorong keluar. Semuanya tertutup. Saya hanya bisa membayangkan indahnya panorama pinggang Gunung Muria, jika saja dinding makam dibuat dari kaca tebal tembus pandang.

Pada lorong keluar kami melihat ada dua orang petugas menyediakan air yang diambil dari gentong keramat peninggalan Sunan Muria dan dimasukkan ke dalam cangkir-cangkir kecil dan botol plastik bekas aqua. Peziarah bisa memakainya untuk mencuci tangan, membasuh muka, meminum atau membawanya pulang. Ada lembaran uang yang terserak di sana yang berasal dari derma pengunjung.

Kami sempat menikmati suasana di sekitar halaman masjid, yang sempit sudut pandangnya namun masih bisa melihat panorama perbukitan. Atap masjid berupa kubah separuh bulatan besar warna keemasan diapit menara kembar. Turun dari kompleks makam kami sempat melihat buah Parijoto, yang konon pernah menjadi kegemaran isteri Sunan Muria saat mengandung.

Kami turun dari makam tidak dengan ojek namun berjalan kaki menuruni anak tangga yang jumlahnya ada 432 undakan dan kiri kanannya dipenuhi kios. Ada banyak penjual pecel dan aneka rupa makanan lain dan dagangan, tanpa menyisakan satu lubang pun untuk menikmati panorama pegunungan. Sayang sekali.

Makam Sunan Muria Kudus

Alamat : Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Lokasi GPS : -6.6660888, 110.8989452, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : sepanjang waktu. Harga tiket masuk : cungkup gratis. Di gerbang bawah dikutip Rp.2.000, mobil Rp.10.000.

Galeri Foto Makam Sunan Muria Kudus

Prasasti yang ditandatangani Gus Dur sewaktu ia masih menjabat sebagai Presiden RI. Struktur kayu mendominasi bagian dalam area Makam Sunan Muria Kudus, berbeda dengan bagian luarnya yang lebih bergaya Eropa dan terbuat dari beton.

makam sunan muria kudus

Sepotong suasana yang tertangkap pada ruangan dimana para peziarah duduk bersila di atas lantai berlapis deretan balok kayu berplitur menghadap ke arah cungkup Makam Sunan Muria yang ditutup kelambu putih di ujung sana. Mengambil foto di ruangan ini mesti berhati-hati agar tidak mengganggu kekhusyukan dzikir dari para pengunjung.

makam sunan muria kudus

Sepotong pandangan ke arah mihrab Masjid Sunan Muria yang sayangnya saat itu sedang dilakukan pekerjaan renovasi, sehingga kami tak bisa masuk ke ruang utama dan hanya bisa mengintip dari sela jendela dengan sudut pandang sangat terbatas. Begitupun masih lumayan karena bisa melihat ornamen cantik pada bagian pengimaman masjid.

makam sunan muria kudus

Tengara di bagian atas sudah mulai kusam dan agak sulit dibaca, namun tengara di bawahnya masih sangat jelas. Jika saja ada informasi bahwa jalan ke Makam Pangeran Gadung, Pangeran Gading dan Nyai Ratu, itu tak begitu jauh mungkin saya akan mampir dulu. Lokasi tanda ini tak jauh dari pangkalan ojek-2.

makam sunan muria kudus

Suasana di dalam area yang menjadi akses masuk ke dalam lorong bagian dalam yang mengarah ke cungkup Makam Sunan Muria. Hari menjelang siang dan sudah cukup banyak peziarah yang datang dan pergi.

makam sunan muria kudus

Awal lorong bersih yang menuju ke cungkup Makam Sunan Muria dimana peziarah harus melepas dan menjinjing alas kaki, karena nanti akan keluar di pintu yang berbeda. Tempat wudlu ada di dekat area ini.

makam sunan muria kudus

Struktur kayu mendominasi bagian dalam area makam, berbeda dengan bagian luarnya yang lebih bergaya Eropa dan terbuat dari beton. Di ujung sana ada himbauan agar peziarah hanya berdoa atau memohon kepada Allah Swt.

makam sunan muria kudus

Tengara "Selamat Datang" di lorong Makam Sunan Muria ini kami jumpai setelah sebelumnya berjalan kaki dari pangkalan ojek-2 melewati jalan menanjak dengan melewati kios-kios penjual pakaian, suvenir dan makanan. Kami juga melintas di depan ujung atas lorong undakan pejalan kaki yang kiri kanannya dipenuhi deretan lapak pedagang.

makam sunan muria kudus

Suasana di sekitar kelambu cungkup Makam Sunan Muria dimana semua peziarah duduk menghadap khusyuk dan membaca dzikir serta memanjat doa. Tulisan Arab di ujung sana kalau tak salah berbunyi "Maqom wali Allah Syaikh Umar Sa'id Sunan Muriya", sedangkan tulisan Latin di bawahnya berbunyi "Makam Raden Umar Said Sunan Muria"

makam sunan muria kudus

Dua orang pria yang melayani peziarah dengan menyediakan air dalam cangkir warna warni dan dalam botol plastik bekas aqua. Gentong keramat peninggalan Sunan Muria yang berlapis logam di depannya adalah tempat dari mana air diambil dengan gayung. Airnya berasal dari mata air mbelek Laren yang disalurkan lewat pipa.

makam sunan muria kudus

Sebuah pohon besar dan terlihat sangat tua sempat kami lihat beberapa saat setelah meninggalkan area gentong keramat. Meskipun tak jelas namanya, namun melihat pohon tua dan besar seperti ini selalu terasa menyenangkan.

makam sunan muria kudus

Sebuah tanda yang kami lihat saat keluar dari lorong dalam kompleks makam Sunan Muria. Kedua pangeran itu adalah keturunan dari sang sunan, hanya saja saya tak sempat berkunjung ke makam mereka.

makam sunan muria kudus

Pintu Masjid Sunan Muria yang tertutup rapat karena sedang ada renovasi saat itu. Kain putih dipasang dibalik pintu berjeruji yang mestinya tembus pandang itu, sehingga praktis menutupi pandangan pengunjung.

makam sunan muria kudus

Menara kembar masjid dengan kubah setengah bulatan yang dicat warna keemasan. Saya akan lebih terkesan jika saja atapnya berbentuk limasan tumpang serta menaranya dibuat seperti di Masjid Menara Kudus.

makam sunan muria kudus

Foto tegak ini memberi gambaran posisi kami berada saat mengambil foto kubah masjid, dimana ada lorong lengkung di bawah atap yang menjadi jalur keluar pengunjung.

makam sunan muria kudus

Sepotong pemandangan perbukitan yang masih bisa kami nikmati dari bagian depan Masjid Sunan Muria, sementara di punggung kami semuanya telah tertutup dengan bangunan.

makam sunan muria kudus

Sudut pandang lainnya yang sempat saya ambil mengarah ke kubah masjid dengan latar belakang gunung di ujung sana. Jika dilihat di peta, letak Makam Sunan Muria ini berada di pinggang gunung bagian bawah, dengan kaki gunung.

makam sunan muria kudus

Pemandangan pada sebuah kios yang menjual pakaian dan kaos untuk suvenir. Di salah satu kios ini saya membeli ikat kepala model Sunan Kalijaga dengan ekor yang menjuntai panjang di belakang punggung. Memakai ikat kepala ini, dengan kumis dan jenggot, orang bisa menyangka saya seorang paranormal.

makam sunan muria kudus

Rombongan peziarah tampak baru saja meninggalkan mulut gerbang yang menjadi akses keluar masuk ke dan dari bagian dalam kompleks Makam Sunan Muria.

makam sunan muria kudus

Pandangan pada jalan menurun sesaat setelah keluar dari gerbang pada foto sebelumnya. Papan nama pangkalan ojek tampak di ujung sana. Di sisi sebelah kiri banyak pedagang yang menjual buah parijoto.

makam sunan muria kudus

Penampakan buah Parijoto yang tak saya cicipi karena wanita penjualnya mengatakan rasanya pahit asam. Lantaran digemari isteri sang sunan saat hamil, orang percaya bahwa buah parijoto baik untuk janin. Kabarnya buah ini memiliki kandungan saponin, kardenolin, dan flavonid sebagai anti-oksidan, serta ada pula beta karoten.

makam sunan muria kudus

Pandangan tegak pada suasana di ruangan yang menjadi tempat duduknya para peziarah saat berdoa dengan menghadap ke arah cungkup Makam Sunan Muria yang ditutupi oleh kelambu renda warna putih.

makam sunan muria kudus

Pandangan tegak pada pangkalan ojek yang berada di area atas kawasan Makam Sunan Muria, dicapai dengan melewati jalan yang memelipir lereng gunung berkelok dan relatif sempit yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor..

makam sunan muria kudus

Sudut pandangan lainnya pada bagian dalam masjid di dalam kompleks Makam Sunan Muria. Meski bagian luarnya buat saya tak begitu mengesankan karena atapnya telah menggunakan kubah, bukan tajug tumpang, namun bagian mihrab yang terlihat di sana itu cukup mengesankan.

makam sunan muria kudus

Info Kudus

Hotel di Kudus, Hotel Murah di Kudus, Peta Wisata Kudus, Tempat Wisata di Kudus.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑