Gereja Sion Jakarta

January 01, 2020. Label:
aroengbinang.com -
Gereja Sion Jakarta merupakan sebuah bangunan kuno antik peninggalan dari jaman kolonial Belanda yang lokasinya berada di Jl Pangeran Jayakarta No. 1, Jakarta Barat. Jika dari Stasiun Kereta Api Kota (Beos) maka jaraknya hanya sekitar 200 meter, dengan bagian sisi Utara menghadap ke arah Jalan Mangga Dua Raya. Halaman parkir Gereja Sion Jakarta ada di sisi Utara, dimana terdapat genta.

Area parkir juga berada di sisi sebelah Selatan, sedangkan halaman bagian depan terpotong cukup banyak karena terkena pelebaran Jalan Pangeran Jayakarta pada 1984. Ada taman, menyisakan lintasan kendaraan keluar masuk area parkir. Jika taman Gereja Sion Jakarta ini terlihat cukup terawat, tidak demikian dengan gedungnya. Gedung Gereja Sion yang kokoh dan sesungguhnya sangat cantik ini sudah memerlukan perawatan segera. Kesan itu terpampang nyata bahkan sebelum masuk ke dalam gedung. Sisi Utara Gereja Sion Jakarta. Di bawah atap rumahan yang disangga tiang kayu itu terdapat sebuah genta cukup besar.

Sepanjang perjalanan sejarahnya, Gereja Sion pernah mengalami pemugaran pada 1920 serta 1978. Kini Gereja Sion sudah membutuhkan pemugaran lagi. Meskipun tetap digunakan sebagai tempat ibadah, namun bangunan Gereja Sion ini dikelola dan diawasi oleh dinas kebudayaan dan permuseuman bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

gereja sion jakarta

Tengara papan nama, taman, dan tampak muka bangunan cagar budaya ini. Setelah Olyve bertemu dengan penjaga kami pun masuk melewati pintu kayu lengkung diapit pilar dan ornamen bergaya Romawi dengan tulisan "Sion" dan angka 317, serta lambang salib. Angka 317 menunjukkan bahwa Gereja Sion telah berumur 317 tahun saat kami berkunjung awal Februari lalu.

Cat pintu kayu warnanya sudah pudar, demikian juga warna cat di keempat jendela serta temboknya. Ujung bawah pintu kayunya pun rompal. Nama Sion gereja berasal dari kata Zion, yang umumnya diartikan sebagai "kesucian dalam hati". Zion sering digunakan untuk merujuk pada orang-orang Tuhan atau Gereja dan mereka yang memiliki kepentingan dengannya.

Kabarnya Gereja Sion dibangun dengan landasan 10.000 balok kayu bundar, dibuat berdasarkan rancangan E. Ewout Verhagen dari Rotterdam. Bangunan Gereja Sion berbentuk kotak berukuran 24 x 32 meter, dan mampu menampung sampai 1.000 jemaat. Semacam bilik terbuka berada di sisi kiri kanan depan ruangan utama. Di belakangnya terdapat pemisah kayu dengan ornamen bunga, daun, dan sepasang burung.

Di bawah ornamen ada tulisan "Diaienen", sedangkan pada sisi seberangnya terdapat tulisan "Predi an en en ouderlingen". Yang terakhir sepertinya dimaksudkan buat pendeta dan orang tua. Diantara jendela-jendela besar pada dinding Gereja Sion terdapat tengara berisi tulisan-tulisan dalam bahasa Belanda.

Ada tangga kayu pada balkon yang menuju ke ruang paling atas yang tidak saya kunjungi, mungkin karena gelap, mungkin juga karena tidak begitu yakin dengan kondisi tangga yang sebenarnya masih terlihat cukup baik itu.

Pilar penyangga atap Gereja Sion terlihat besar dan kokoh. Pandangan dari bawah balkon memperlihatkan kanopi mimbar dengan tiang ulir bermahkota. Mimbar antik bergaya Barok ini terbuat dari kayu hitam (Ebony), meski sudah terlihat kusam namun merupakan perabot asli Gereja Sion pemberian H. Bruijn. Empat jendela kaca besar masing-masing di kiri kanan ruangan, serta dua jendela lagi masing-masing di bagian depan dan belakang, memberi pencahayaan yang cukup baik.

Relief keemasan terlihat pada dinding kiri di bawah balkon. Relief itu rupanya tengara kubur atau nisan kubur Belanda. Pada tahun 1790 saja kabarnya ada 2.381 orang yang dimakamkan di area Gereja Sion, namun hanya sedikit kubur yang masih tersisa saat ini. Menanam jasad orang mati di sekitar gereja merupakan hal yang lazim pada masa itu.

Skripsi Prita Nur Aini Sandjojo dari Fakultas Pengetahuan Budaya Program Studi Arkeologi Universitas Indonesia menyebut tulisan itu berbunyi "Hier Rvst Ontslapen Inden Heer Op Acht Ienden Mey 1653 Den EDL: Heer Carel Reniersen Insyn Leveen Goveernevr Generael Van Indea", yang diterjemahkan Prita "Di sini beristirahat di sisi Tuhan pada tanggal 18 Mei 1653 Yang Mulia Tuan Carel Reniersen Semasa hidupnya Gubernur Jenderal Hindia".

Sedangkan tulisan di sebelah kanan berbunyi "Hier Leyt Begraven D:Eerbaere Joff Judith Barra Van Amstel Dam Huysvrouw Van Dee Heer Carel Reniers Raadt Van Indien Sterf Intjaarons Heeren Jesu Christi MDC XlVI Den XXI Julii MDC XLVI Den XXI Julii Oudt Xxv Jaaren X Maenden" yang diterjemahkan Prita "Di sini berbaring dimakamkan Nyonya Judith Barra van Amstel Dam Istri dari Tuan Carel Reniers Anggota Dewan Hindia yang telah meninggal dalam tahun Masehi pada tanggal 21 Juli 1656 pada usia 25 tahun 10 bulan".

Saya sempat memotret Orgel yang ada di balkon Gereja Sion Jakarta pemberian putri pendeta John Maurits Moor. Tulisan pada pelat kuningan yang menempel pada kayu orgel berbunyi "Bekker - Lefebre, Weltevreben". Organ Pipa (Orgel) adalah organ akustik yang memiliki pipa-pipa besar untuk menghasilkan bunyi. Masih di atas balkon terdapat terdapat sebuah roda dengan ban karet melingkari roda kecilnya, namun saya lupa menanyakan apa fungsinya.

Di ujung ruang utama Gereja Sion Jakarta terdapat sebuah pintu dan di atasnya ada balkon kaya ornamen, disangga empat pilar kayu. Pada balkon terdapat organ pipa (orgel). Empat lampu gantung besar antik terbuat dari tembaga menggantung rendah diantara pilar, namun cukup tinggi untuk tidak menyentuh kepala orang.

Dulu Gereja Sion dikenal dengan nama De Nieuwe Portugeesche Buitenkerk atau Gereja Luar Portugis Yang Baru, menandai bahwa lokasinya berada di luar dinding kota Batavia ketika itu. Pada masa itu Gereja Sion Jakarta juga dikenal dengan nama Belkita, dan karena semula diperuntukkan bagi para Mardijkers (Portugis Hitam) maka orang bule juga menyebutnya sebagai Black Portuguese Church.

De Mardijkers adalah sebutan bagi mantan serdadu Portugis keturunan India dan Afrika yang menjadi tawanan Belanda di Batavia dan kemudian dibebaskan setelah bersedia beralih agama dari Katolik menjadi Protestan. Keturunan mereka bisa dijumpai di Kampung Tugu, Koja, Jakarta Utara, dengan ikon Gereja Tugu yang dibangun pada 1661. Di tempat itu, setiap pertengahan tahun, diselenggarakan Festival Kampung Tugu untuk menjaga dan menghidupkan kebudayaan leluhur para Mardijkers itu.

Dari dekat mimbar saya masuk ke ruangan bagian belakang Gereja Sion melewati pintu kayu dengan lukisan kaca patri "The Last Supper", acara makan malam terakhir Yesus bersama duabelas rasul sebelum hari kematiannya. Ruangan belakang Gereja Sion ini berukuran 6 x 18 m, dengan meja panjang antik yang kursinya tersisa tujuh dan sudah di'museum'kan.

Di belakang kiri meja ada bangku asli Gereja Sion yang tersisa. Sedangkan bangku pada ruang utama merupakan bangku baru. Bisa dimaklumi karena Gereja Sion sudah sangat tua, diresmikan pada 23 Oktober 1695. Pemberkatannya dilakukan oleh Pendeta Theodorus Zas. Peletakan batu pertama pembangunan gedungnya dilakukan dua tahun sebelumnya oleh Pieter van Hoorn pada 19 Oktober 1693.

Setelah puas melihat-lihat saya melangkah menuju dekat ke pintu keluar, mengisi buku tamu, dan hendak memberikan tips kepada penjaga. Namun penjaga meminta saya untuk memasukkan uang itu ke dalam kotak. Setelah saya memasukkan derma ke dalam kotak, barulah ia bersedia menerima tips.

Melangkah keluar pintu saya baru melihat ada beberapa buah prasasti kubur di halaman Gereja Sion, salah satunya adalah tengara kubur yang terbuat dari bahan tembaga milik Gubernur Jenderal Hendrick Zwaardecroon yang meninggal 1728. Tengara kubur lainnya ada yang masih bisa dibaca, namun ada pula yang sudah hilang sama sekali aksaranya, rata dengan lempeng tembaganya.

Gereja Sion Jakarta

Alamat : Jl Pangeran Jayakarta No 1, Jakarta Barat. Telp./Fax. 021-6267457. Lokasi GPS : -6.138237, 106.817646, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Video Gereja Sion Jakarta



Galeri Foto Gereja Sion

Mohon maaf, kadang foto muncul sedikit perlu waktu.

Pilar penyangga atap Gereja Sion terlihat kokoh. Kanopi mimbar dengan tiang ulir bermahkota dan bergaya Barok terbuat dari Ebony, merupakan perabot asli Gereja Sion pemberian H. Bruijn. Ada empat jendela kaca besar di kiri kanan ruangan, serta dua jendela di bagian depan dan belakang.

mimbar kayu gereja sion jakarta

Ruang utama Gereja Sion Jakarta dilihat dari area di depan mimbar. Di ujung ruangan ada pintu yang di atasnya terdapat balkon dimana terdapat organ pipa (orgel). Empat lampu gantung besar antik dari tembaga menggantung diantara pilar di gereja yang dulu namanya "De Nieuwe Portugeesche Buitenkerk" atau Gereja Luar Portugis Yang Baru.

orgel gereja sion jakarta

Orgel di balkon Gereja Sion Jakarta pemberian putri pendeta John Maurits Moor, dengan tulisan "Bekker - Lefebre, Weltevreben". Organ Pipa memiliki pipa-pipa besar untuk menghasilkan bunyi.

orgel gereja sion jakarta

Empat dari enam pilar penyangga atap tinggi bangunan Gereja Sion terlihat besar dan kokoh di tengah deretan kursi kebaktian. Dua pilar lainnya berada di kanan kiri tempat saya berdiri.

gereja sion jakarta

Mimbar antik bergaya Barok ini terbuat dari kayu hitam (Ebony). Balkon mimbarnya terlihat berjarak sangat dekat dengan langit-langit. Mimbar yang mestinya cantik namun sudah terlihat kusam ini merupakan perabot asli Gereja Sion pemberian H. Bruijn.

mimbar gereja sion jakarta

Lukisan kaca patri “The Last Supper”. Replika lukisan karya Leonardo da Vinci ini bisa dijumpai di atas pintu yang menghubungkan ruang utama Gereja Sion dengan ruangan bagian belakang, melewati mimbar.

gereja sion jakarta

Sebuah meja panjang antik yang kursinya hanya tersisa tujuh saya jumpai di ruangan belakang Gereja Sion. Rantai merah yang melilit kursi menandakan bahwa meja kursi yang biasa digunakan rapat gereja ini mungkin sudah di’museum’kan. Di belakang kiri meja ini, merapat pada dinding, adalah bangku asli Gereja Sion yang masih tersisa.

gereja sion jakarta

Ruang utama Gereja Sion dilihat dari belakang mimbar. Nama Sion gereja berasal dari kata Zion, yang umumnya diartikan sebagai "kesucian dalam hati". Zion sering digunakan untuk merujuk pada orang-orang Tuhan atau Gereja dan mereka yang memiliki kepentingan dengannya.

gereja sion jakarta

Foto yang memperlihatkan posisi lukisan kaca patri yang ada di atas pintu lipat dengan kaca tekstur warna biru. Perjamuan Terakhir adalah merupakan acara makan malam terakhir Yesus bersama duabelas rasul sebelum hari kematiannya.

last supper gereja sion jakarta

Semacam bilik terbuka dengan dua buah kursi berada di sisi kiri kanan depan ruangan. Di belakangnya terdapat pemisah terbuat dari kayu dengan ornamen bunga dan daun, serta sepasang burung. Di bawah ornamen pada foto ada tulisan "Diaienen".

diaienen gereja sion jakarta

Tulisan pada bilik ini berbunyi "Predi an en en ouderlingen". Yang ini sepertinya dimaksudkan buat pendeta dan orang tua. Jika bulatan oval di tengah ornamen kayu pada foto di atas sudah hilang, maka pada kayu pemisah satunya lagi ornamennya masih utuh, berbentuk seperti batu akik yang besar.

predi an en en ouderlingen gereja sion jakarta

Di samping dan diantara jendela-jendela besar pada dinding Gereja Sion terdapat tengara dinding berbentuk kotak berisi tulisan-tulisan dalam bahasa Belanda. Namun karena pencahayaan yang kurang baik, dan saya tidak mengeluarkan lensa tele, maka tulisan pada papan tengara itu tidak bisa terbaca.

prasasti gereja sion jakarta

Dua dari enam pilar penyangga atap tinggi bangunan Gereja Sion terlihat besar dan kokoh di dekat mimbar gereja. Pemandangan ruang utama Gereja Sion ini dilihat dari bawah balkon, memperlihatkan kanopi mimbar yang memiliki tiang ulir dan bagian atasnya menyerupai mahkota. Mimbar antik bergaya Barok ini terbuat dari kayu hitam (Ebony).

mimbar gereja sion jakarta

Sebuah relief tengara berwarna keemasan saya temui pada dinding sebelah kiri di bawah balkon. Meskipun tulisannya masih bisa dibaca, namun karena ruang antar hurufnya tidak jelas, maka bagi saya yang tidak faham bahasa Belanda sulit untuk menuliskannya dengan benar. Beruntung saya menemukan tulisan skripsi Prita Nur Aini Sandjojo dari Fakultas Pengetahuan Budaya Program Studi Arkeologi Universitas Indonesia.

Tulisan di sebelah kiri berbunyi “Hier Rvst Ontslapen Inden Heer Op Acht Ienden Mey 1653 Den EDL: Heer Carel Reniersen Insyn Leveen Goveernevr Generael Van Indea”, yang diterjemahkan Prita “Di sini beristirahat di sisi Tuhan pada tanggal 18 Mei 1653 Yang Mulia Tuan Carel Reniersen Semasa hidupnya Gubernur Jenderal Hindia”

Sedangkan tulisan yang di sebelah kanan berbunyi “Hier Leyt Begraven D:Eerbaere Joff Judith Barra Van Amstel Dam Huysvrouw Van Dee Heer Carel Reniers Raadt Van Indien Sterf Intjaarons Heeren Jesu Christi MDC XlVI Den XXI Julii MDC XLVI Den XXI Julii Oudt Xxv Jaaren X Maenden” yang diterjemahkan Prita “Di sini berbaring dimakamkan Nyonya Judith Barra van Amstel Dam Istri dari Tuan Carel Reniers Anggota Dewan Hindia yang telah meninggal dalam tahun Masehi pada tanggal 21 Juli 1656 pada usia 25 tahun 10 bulan.

prasasti makam gereja sion jakarta

Hiasan diantara jendela besar yang berisi lambang dan tulisan yang sulit untuk dibaca. Jika melihat dari ujudnya memang terlihat sudah sangat tua.

gereja sion jakarta

Posisi duduk pemain piano dibuat bisa melihat ke arah mimbar dengan jelas, sehingga bisa menyesuaikan dengan acara yang tengah berlangsung di sana. Organ Pipa (Orgel) adalah organ akustik yang memiliki pipa-pipa besar untuk menghasilkan bunyi.

orgel gereja sion jakarta

Orgel pada balkon Gereja Sion dilihat dari samping, memperlihatkan dimensi balkon, ornamen motif bunga daun berwarna keemasan di depan orgel, dan tangga kayu menuju ke balkon. Jam digital berwarna merah di bawah balkon menunjukkan angka 09:02:13. Foto ini juga menunjukkan pilar yang menyangga dan menjadi dudukan tiang kayu.

orgel gereja sion jakarta

Masih di atas balkon terdapat terdapat sebuah roda dengan ban karet melingkari roda kecilnya, namun saya lupa menanyakan kepasa Alex apa fungsi roda ini.

balkon gereja sion jakarta

Pemandangan ruang utama dari atas balkon ke arah kanopi mimbar, yang tak sanggup memperlihatkan keenam pilar besarnya. Perbedaan dengan arsitektur Jawa adalah tiang kayunya yang panjang dan umpak beton atau batunya pendek. Jika saja kayu besar yang dibuat menjadi soko guru, maka itu akan lebih mengesankan. Sayangnya pohon besar semakin langka.

mimbar gereja sion jakarta

Tangga pada balkon yang menuju ke ruang paling atas yang tidak saya kunjungi, mungkin karena gelap, mungkin juga karena tidak begitu yakin dengan kondisi tangga yang sebenarnya masih terlihat cukup baik itu.

gereja sion jakarta

Pintu kayu lengkung tua yang terlihat sudah rompal di bagian bawahnya dengan palang pintu kayu dan grendel atas sebagai penutupnya. Pintu ini kiri kanannya sudah tidak simetris lagi, yang akan mengganggu mata pengurus jika saja mereka jeli dan peduli pada kesempurnaan simetri.

pintu kayu gereja sion jakarta

Di luar pintu Gereja Sion saya baru melihat adanya beberapa buah prasasti kubur terbuat dari logam berukir megah seperti ini. Entah mengapa tengara yang ini telah retak cukup besar pada bagian atasnya. Tulisan adalah "Hier leyt Begraven deneer Bare Juffrouw Rageltitise in Haarleven gewesen Huys vrouw van titisan thonise Obyt den 3 October anno 1701 out seynde. Jaren Drie Maanden enthien dagen mitsgaders. Deszelfs overleden man titusan thonys zynleven vryinlants Koopman alhier obiit 21 October A 1720."

prasasti kubur gereja sion jakarta

Prasasti kubur megah milik Gubernur Jenderal Hendrick Zwaardecroon yang meninggal 1728. Tulisannya berbunyi "Hier Onder Rust De Weledele Heer Henric Zwaadecroon oud Gouverneur Generaal Van Nederlands India Gebooren tot Rotterdam den 26 Ianuary 1667 Enoverleden tot Batavia den 12 Sugusstus A 1728."

prasasti kubur gubernur jenderal hendrick zwaardecroon gereja sion jakarta

Prasasti kubur yang tulisannya telah hilang sama sekali, rata dengan lempeng besinya, menyisakan sebaris tulisan dan ornamen yang sangat samar.

gereja sion jakarta

Prasasti kubur yang hanya menyisakan lambang pada bagian atasnya berupa burung dengan kedua sayap sedikit terpentang, dedaunan, dan sebuah logo lengkung dengan dua baris kotak selang-seling.

prasasti kubur gereja sion jakarta

Jalan menuju pintu masuk Gereja Sion diapit taman di kanan kirinya. Di atas pintu terdapat tulisan "SION" dan di atasnya lagi ada angka tahun yang menyatakan umur gereja. Lambang Salib menempel pada jendela di atasnya lagi.

gereja sion jakarta

Bagian pojok Gereja Sion dengan halaman di sisi Utara yang menghadap ke arah Jalan Mangga Dua Raya. Halaman ini menjadi tempat parkir jemaat dan tamu yang datang berkunjung. Di sebelah kiri terdapat sebuah rumahan dengan lonceng di dalamnya.

lonceng gereja sion jakarta

Lonceng Gereja Sion dengan tali penggeraknya. Ada sebuah tali yang masuk ke dalam gedung lewat jendela, yang mungkin bisa digunakan untuk membunyikan lonceng tanpa harus keluar dari dalam ruangan.

lonceng gereja sion jakarta

Info Jakarta

Hotel di Jakarta Barat, Tempat Wisata di Jakarta Barat, Hotel Melati di Jakarta Barat, Peta Wisata Jakarta Barat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Nomor Telepon Penting.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.