Kelenteng Boen Hay Bio Tangerang

Kelenteng Boen Hay Bio Tangerang adalah satu dari tiga kelenteng tua di Tangerang yang saya kunjungi beberapa tahun lalu. Berbekal koordinat GPS yang saya peroleh melalui Google, dan kemudian diperiksa ulang di Google Map, saya pun meluncur ke Kelenteng Boen Hay Bio mengandalkan perangkat navigasi GPS (Waze masih belum populer saat itu).

Kendaraan masuk tol JORR, berlanjut ke tol Jakarta - Serpong, dan keluar di pintu tol Serpong terakhir. Hanya beberapa puluh meter setelah keluar tol, kami belok ke kiri masuk ke jalan kecil sejauh 1,3 km sampai bertemu Jl. Raya Serpong di ujung jalan, dan lalu belok ke kiri. Menyusur Jl. Raya Serpong, saya melihat sebuah gapura di kiri jalan di kaki bukit yang berbunyi Kramat Tajug, Kelurahan Cilenggang, Kecamatan Serpong. Sayang saya tidak sempat mampir lantaran hujan masih turun.

Tidak lama kemudian saya bertemu pertigaan dengan tugu di tengahnya, dan saya berbelok kanan yang mestinya putar balik sehingga sampai melewati jembatan Sungai Cisadane, dan berbalik arah. Jalan masuk ke Kelenteng Boen Hay Bio hanya beberapa meter dari tugu di pertigaan itu. Mestinya saya bisa memotong jalan, tidak perlu sampai di tugu pertigaan itu.

kelenteng boen hay bio tangerang
Foto di atas adalah bagian depan Kelenteng Boen Hay Bio, dengan tulisan pada gerbang berbunyi "Vihara Karunayala, Boen Hay Bio Serpong". Halaman kelenteng cukup luas, dengan warung penduduk terletak di sebelah kanan depan, di bawah pohon beringin. Menempel di atas wuwungan gerbang Kelenteng Boen Hay Bio ada kepiting raksasa. Ornamen yang baru pertama kali saya lihat di kelenteng ini. Rupanya kepiting dalam budaya Tionghoa dipercaya dapat melindungi kuil dan mampu mengusir roh-roh jahat.

Di atas gerbang dan wuwungan kelenteng umumnya hanya ada sepasang naga berebut mustika, yang di kelenteng ini terlihat di atas wuwungan gedung utama. Namun ada pula yang memasang sepasang burung Hong, meski sangat jarang. Di bagian depan Kelenteng Boen Hay Bio terdapat deretan lampion lambang keberuntungan, serta dua buah Kim Lo, menara pembakar kertas sembahyang bersusun lima. Sebuah hiolo untuk sembahyang Dewa Langit diletakkan diantara kedua menara.

kelenteng boen hay bio tangerang
Tuan rumah Kelenteng Boen Hay Bio adalah Kongco Kwan Kong (Kwan Seng Tee Kun) atau Satyadharma Bodhisattva, yang altarnya terlihat pada foto di atas, dilihat dari samping. Kwan Kong dipuja karena keteladanannya sebagai kesatria sejati yang selalu menepati janji, setia pada sumpah, dan jujur. Ia juga dipuja sebagai Dewa Pelindung Perdagangan, pelindung kesusastraan, dan pelindung rakyat dari malapetaka akibat peperangan.

Di depan altar ada arca naga berukuran besar dengan detail elok melilit pilar, lalu di ujung sana ada tempat menancapkan lilin berupa deret pipa pendek tiga baris dengan lebih dari sepuluh kolom. Lelehan lilin merah pada pipa membentuk tekstur tak beraturan yang unik. Lilin berbagai ukuran dan pelita minyak terlihat menyala, karena merupakan lambang kehidupan yang tak boleh mati. Di bagian depan meja altar terdapat lukisan burung hong indah dalam posisi berhadapan, dan di atas meja tergeletak peralatan bebunyian berusia tua yang digunakan sebagai perlengkapan upacara sembahyang.

kelenteng boen hay bio tangerang
Altar sembahyang di Kelenteng Boen Hay Bio Tangerang bagi Kwan Im, dewi welas asih yang dipuja karena selalu memberi berkah kepada yang meminta kepadanya. Kwan Im merupakan sebutan dalam dialek Hokkian dan Hakka yang merupakan mayoritas warga keturunan Tionghoa di Indonesia. Jauh sebelum masuknya agama Buddha ke Tiongkok, Kwan Im Pho Sat telah dikenal di Tiongkok kuno, di akhir Dinasti Han, sebagai Pek Ie Tai Su atau Dewi Berbaju Putih Yang Welas Asih. Selanjutnya ia menjadi Kwan She Im Phosat atau Avalokitesvara Bodhisattva.

Altar Thay Sui, dewa yang menguasai perputaran waktu, juga bisa ditemui di Kelenteng Boen Hay Bio. Pemujaan pada Thay Sui, yang biasanya dilakukan ketika suatu pekerjaan besar dan penting akan dikerjakan, dimulai pada masa Dinasti Yuan (1280-1368). Di ruangan selanjutnya ada altar Dewa Kwe Sen Ong yang disebut sebagai dewa keberkahan, dengan sebuah patung pengawal mengenakan baju zirah.

kelenteng boen hay bio tangerang
Foto di atas adalah altar pemujaan di lantai dua bagi penganut agama Buddha (Mahayana), oleh sebab Kelenteng Boen Hay Bio Tangerang adalah tempat ibadah Tri Dharma (TITD), yaitu tempat sembahyang bagi para penganut Tao, Konghucu, dan Buddha. Kunjungan saya ke kelenteng ini sudah lama, sehingga sudah ada banyak perubahan pada ruangan dan patungnya, termasuk patung Buddha yang ada di altar ini. Umumnya menjadi lebih baik dan rapih.

Di dekat altar Kwan Kong ada altar pemujaan bagi Tu Ti Kong (Tu Di Gong), Dewa Bumi dengan kekuasaan lokal yang diletakkan dekat lantai. Ada dua patung diletakkan berdekatan dengan tulisan mantra Dewa Bumi yang berbunyi "Namo samanto motonam om turu turu tiwei soha". Altar Dewa Bumi dengan kekuasaan lebih luas dan dipuja untuk mendapatkan berkah rizki, yaitu Hok Tek Ceng Sin, juga ada di kelenteng ini.

Saat menunggu hujan reda di teras kelenteng, seorang petugas kelenteng memainkan kencreng kuningan dengan irama ritmis. Tambur besar di depan pria itu kabarnya telah berusia tua. Kelenteng Boen Hay Bio yang dibangun pada 1694 itu melambangkan samudera tanpa batas, sedangkan Kelenteng Boen Tek Bio ( 1684) melambangkan kebajikan setinggi gunung sedalam lautan, dan Kelenteng Boen San Bio (1689) melambangkan gunung. Perayaan ulang tahun Kelenteng Boen Hay Bio Tangerang dilakukan setiap tanggal 24 bulan enam (Lak Gwee) dalam Kalender Tionghoa.

Kelenteng Boen Hay Bio

24 (dua puluh empat) foto lainnya ada di sini. Alamat : Jalan Pasar Lama Serpong, Desa Cilenggang, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan. Lokasi GPS : -6.311833, 106.659511, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Rujukan : Hotel di Tangerang, Hotel di Tangerang Selatan, Tempat Wisata di Tangerang, Peta Wisata Tangerang.

Author : . Updated :
Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Pejalan musiman yang senang tempat bersejarah dan panorama elok.

.