Kelenteng Boen San Bio Tangerang

May 21, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Kelenteng Boen San Bio, yang juga dikenal dengan nama Vihara Nimmala, adalah sebuah kelenteng unik megah berusia tua di Jl. Pasar Baru, Kelurahan Kranjaya, Karawaci, Tangerang. Kelenteng ini merupakan tempat ibadah Tri Dharma (sering disingkat TITD) yang dipergunakan sebagai tempat bersembahyang bagi para penganut agama Kong Hu Cu, Tao dan Buddha (Mahayana).

Halaman samping kelenteng cukup luas, dan mampu menampung beberapa puluh kendaraan. Dalam beberapa tahun lalu, kabarnya kelenteng ini telah memecahkan 11 rekor MURI, mungkin sekarang sudah bertambah, diantaranya dengan menegakkan 1.150 telur dalam waktu hanya beberapa menit yang dilakukan oleh 108 orang.

Seperti kebanyakan kelenteng yang pernah saya kunjungi, di halaman depan Kelenteng Boen San Bio juga terdapat sepasang patung Singa penjaga (Cioksay), yang betina bermain dengan anaknya dan yang jantan tengah memegang bola. Penjaga seperti itu selalu merupakan hal yang dianggap penting, bahkan di tempat ibadah sekalipun. Setidaknya, konon, untuk melindungi dari roh jahat yang gemar bergentayangan.

kelenteng boen san bio tangerang
Atap Kelenteng Boen San Bio dijaga oleh sepasang burung Fenghuang, atau burung Hong (burung api, Phoenix) yang indah dipandang, dengan sebutir mutiara jagad diantara keduanya. Kebanyakan kelenteng yang telah saya kunjungi lebih memilih untuk memasang arca sepasang naga memperebutkan mutiara di puncak atapnya. Fenghuang (Phoenix) adalah burung mitos yang tidak pernah mati, karena jika telah berusia tua ia akan membakar dirinya sendiri dan dari abunya akan terlahir kembali Phoenix muda.

Fenghuang konon tercipta dari paruh ayam jantan, muka burung walet, kening burung, leher ular, dada angsa, punggung kura-kura, bagian kaki belakang dan pinggang rusa jantan, dan ekor ikan. Tubuhnya melambangkan enam benda langit, yaitu kepala adalah langit, mata matahari, punggung bulan, sayap angin, kaki bumi, dan ekor melambangkan planet-planet. Sayapnya memiliki lima warna dasar: hitam, putih, merah, biru dan kuning.

Di sekitar bagian depan Kelenteng Boen San Bio juga ada sebuah Hiolo (tempat meletakkan batang hio yang telah dibakar untuk bersembahyang) yang terbuat dari bahan sejenis batu marmar. Kelenteng memiliki berbagai jenis hiolo dengan ragam ornamen terbuat dari besi atau kuningan yang diletakkan di setiap altar sembahyang, serta satu hiolo Thian di bagian depan untuk menyembah Dewa Langit.

Altar dengan patung Co Su Kong mengenakan topi 5 warna Buddha dan mengenakan jubah (Jia Sha), berada di salah satu tempat utama di Kelenteng Boen San Bio. Co Su Kong, panggilan akrab bagi Ching Cui Co Su, adalah Dewa Pelindung para imigran yang berasal dari Coan Ciu. Ia lahir di pegunungan Feng Chai Shan, Kabupaten Qing Xi, Propinsi Fujian pada tanggal 6 bulan 11 Imlek, tahun 1044 M, pada masa pemerintahan Kaisar Ren Zhong tahun keempat, dari Dinasti Song (960 - 1279).

Di Kelenteng Boen San Bio juga ada altar dengan arca Hok Tek Tjeng Sin, Dewa Bumi yang banyak dipuja para pedagang dan petani untuk mendapatkan kemurahan rizki dan kemudahan dalam perdagangan dan usaha lainnya. Agar doa dikabulkan oleh Dewa Bumi, orang harus terlebih dahulu gemar membuat amal baik kepada sesama. Mungkin karena itu terkadang terlihat banyak pengemis menunggu derma di depan kelenteng.

Di kelenteng ini ada pula altar dengan arca Buddha Sakyamuni yang juga disebut Jie Lay Hud atau Ru Lai Fo. Hari lahir Buddha Sakyamuni diperingati setiap tanggal 8 bulan 4 Imlek. Buddha Sakyamuni atau Buddha Gautama adalah Sidharta Gautama yang lahir pada 560 SM di Kapilavastu, dekat Nepal. Raja Sidhodana, ayahnya, adalah dari Suku Sakya sehingga ia kemudian dikenal dengan sebutan Buddha Sakyamuni.

Ada patung Dewi Kwan Im setinggi sekitar 3 meter yang berada di bagian belakang Kelenteng, di depan ruang Dhammasala yang merupakan tempat utama umat Buddha untuk melakukan ibadah. Kwan Im atau Kwan She Im Phosat adalah Avalokitesvara Bodhisattva, Dewi Welas Asih di Tiongkok. Kwan Im adalah sebutan dalam dialek Hokkian dan Hakka yang dipergunakan mayoritas warga keturunan Tionghoa di Indonesia.

Di bagian belakang Kelenteng Kelenteng Boen San Bio terdapat pendopo bernama Pecun. Pecun merupakan sebuah upacara tradisional Tiongkok yang melambangkan penghormatan bagi jasad seorang tokoh berpengaruh yang tenggelam dan tewas di sebuah sungai di Tiongkok. Pecun merupakan sebuah upaya pencarian yang dilakukan dengan memakai perahu dayung. Perayaan Pecun digelar pertama kali di Tangerang pada tahun 1910.

Kelenteng Boen San Bio pertama kali dibangun pada tahun 1689 oleh seorang pedagang yang berasal dari China bernama Lim Tau Koen, dan ia menempatkan patung Kim Sing Kongco Hok Tek Tjeng Sin yang dibawanya dari Banten. Kelenteng Boen San Bio mengalami beberapa kali renovasi sesudah itu, terutama setelah terjadi kebakaran pada tahun 1998. Bangunan Kelenteng Boen San Bio ini berbentuk empat persegi panjang, yang berdiri di atas tanah seluas 1.650 m2.

Kelenteng Boen San Bio Tangerang

Alamat : Jl. Pasar Baru, Kelurahan Kranjaya, Karawaci, Tangerang. Lokasi GPS : -6.16788, 106.62899, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Kelenteng Boen San Bio

Altar dengan arca Co Su Kong dengan topi 5 warna Buddha dan mengenakan jubah (Jia Sha) ini berada di salah satu tempat utama di Kelenteng Boen San Bio. Co Su Kong, panggilan akrab bagi Ching Cui Co Su, adalah Dewa Pelindung para imigran yang berasal dari Coan Ciu. Ia lahir di pegunungan Feng Chai Shan, Kabupaten Qing Xi, Propinsi Fujian pada tanggal 6 bulan 11 Imlek, tahun 1044 M, pada masa pemerintahan Kaisar Ren Zhong tahun keempat, dari Dinasti Song (960 - 1279).

kelenteng boen san bio tangerang

Di Kelenteng Boen San Bio juga ada altar dengan arca Hok Tek Tjeng Sin, Dewa Bumi yang banyak dipuja para pedagang dan petani untuk mendapatkan kemurahan rizki dan kemudahan dalam perdagangan dan usaha lainnya. Agar doa dikabulkan oleh Dewa Bumi, orang harus terlebih dahulu gemar membuat amal baik kepada sesama. Mungkin karena itu terkadang terlihat banyak pengemis menunggu derma di depan kelenteng.

kelenteng boen san bio tangerang

Patung Dewi Kwan Im setinggi sekitar 3 meter yang letaknya berada di bagian belakang Kelenteng, di depan ruang Dhammasala yang merupakan tempat utama umat Buddha untuk melakukan ibadah. Kwan Im atau Kwan She Im Phosat adalah Avalokitesvara Bodhisattva, Dewi Welas Asih di Tiongkok. Kwan Im adalah sebutan dalam dialek Hokkian dan Hakka yang dipergunakan mayoritas warga keturunan Tionghoa di Indonesia.

kelenteng boen san bio tangerang

Fenghuang konon tercipta dari paruh ayam jantan, muka burung walet, kening burung, leher ular, dada angsa, punggung kura-kura, bagian kaki belakang dan pinggang rusa jantan, dan ekor ikan. Tubuhnya melambangkan enam benda langit, yaitu kepala adalah langit, mata adalah matahari, punggung adalah bulan, sayap adalah angin, kaki adalah bumi, dan ekor melambangkan planet-planet. Sayapnya memiliki lima warna dasar: hitam, putih, merah, biru dan kuning.

kelenteng boen san bio tangerang

Seperti kebanyakan kelenteng, di halaman depan Kelenteng Boen San Bi juga terdapat sepasang patung Singa penjaga (Cioksay), yang betina bermain dengan anaknya dan yang jantan memegang bola.

kelenteng boen san bio tangerang

Di sekitar bagian depan Kelenteng Boen San Bio juga ada sebuah Hiolo (tempat meletakkan batang hio yang telah dibakar) yang terbuat dari bahan sejenis batu marmar. Lazimnya, kebanyakan kelenteng memiliki berbagai jenis hiolo dengan berbagai ornamen yang terbuat dari besi atau kuningan.

kelenteng boen san bio tangerang

Delapan Dewa adalah dewa-dewa Tao yang hidup di masa berbeda dan semuanya dapat mencapai kekekalan hidup. Mereka menggambarkan Kemiskinan, Kekayaan, Kebangsawanan, Kejelataan, Kaum Tua, Kaum Muda, Kejantanan dan Kewanitaan. Mereka dihormati dan dipuja karena menunjukkan kebahagiaan.

Moral dari kisah Delapan Dewa adalah bahwa manusia bisa mencapai kehidupan abadi dalam kebahagiaan melalui tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri dan dengan melakukan perbuatan baik. Mereka adalah Zhongli Quan (Chung-li Chuan), Zhang Guolao (Chang Kuo-lao), Lu Dongbin (Lu Tung-pin), Li Tieguai (Li T'ieh-kuai), Cao Guojiu (Ts'ao Kuo-chiu), Lan Caihe (Lan Tsai-ho), Han Xiangzi (Han Hsiang-tzu), He Xiangu (Ho Hsien-ku).

kelenteng boen san bio tangerang

Bedug dan tambur yang biasa ditabuh saat berlangsung upacara dan arak-arakan juga bisa dijumpai di Kelenteng Boen San Bio. Seingat saya belum pernah saya mendengar tambur atau bedug ini dipukul dikelenteng untuk memulai sebuah ritual ibadah.

kelenteng boen san bio tangerang

Altar dengan arca Buddha Sakyamuni yang juga disebut Jie Lay Hud dan Maitreya Buddha. Hari lahirnya diperingati pada tanggal 8 bulan 4 Imlek.

kelenteng boen san bio tangerang

Pecun merupakan sebuah upacara tradisional Cina yang melambangkan penghormatan bagi jasad seorang tokoh berpengaruh yang tenggelam dan tewas di sebuah sungai di Cina. Pecun merupakan sebuah upaya pencarian yang dilakukan dengan memakai perahu dayung. Perayaan Pecun digelar pertama kali di Tangerang pada tahun 1910.

kelenteng boen san bio tangerang

Dua ekor naga dengan bentuk badan unik yang ada di dalam pendopo Pecun di Kelenteng Boen San Bio Tangerang. Pendopo seperti itu baru pernah saya lihat di kelenteng ini, atau mungkin bentuknya berbeda di kelenteng yang lain.

kelenteng boen san bio tangerang

Info Tangerang

Hotel di Tangerang, Hotel di Tangerang Selatan, Tempat Wisata di Tangerang, Peta Wisata Tangerang.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.