Foto Boen San Bio

Atap Kelenteng Boen San Bio dijaga oleh sepasang burung Fenghuang, atau burung Hong (burung api, Phoenix) yang indah dipandang, dengan sebutir mutiara jagad diantara keduanya. Kebanyakan kelenteng yang telah saya kunjungi lebih memilih untuk memasang arca sepasang naga memperebutkan mutiara di puncak atapnya. Fenghuang (Phoenix) adalah burung mitos yang tidak pernah mati, karena jika telah berusia tua ia akan membakar dirinya sendiri dan dari abunya akan terlahir kembali Phoenix muda.



Altar dengan patung Co Su Kong mengenakan topi 5 warna Buddha dan mengenakan jubah (Jia Sha), berada di salah satu tempat utama di Kelenteng Boen San Bio. Co Su Kong, panggilan akrab bagi Ching Cui Co Su, adalah Dewa Pelindung para imigran yang berasal dari Coan Ciu. Ia lahir di pegunungan Feng Chai Shan, Kabupaten Qing Xi, Propinsi Fujian pada tanggal 6 bulan 11 Imlek, tahun 1044 M, pada masa pemerintahan Kaisar Ren Zhong tahun keempat, dari Dinasti Song (960 - 1279).



Di Kelenteng Boen San Bio juga ada altar dengan arca Hok Tek Tjeng Sin, Dewa Bumi yang banyak dipuja para pedagang dan petani untuk mendapatkan kemurahan rizki dan kemudahan dalam perdagangan dan usaha lainnya. Agar doa dikabulkan oleh Dewa Bumi, orang harus terlebih dahulu gemar membuat amal baik kepada sesama. Mungkin karena itu terkadang terlihat banyak pengemis menunggu derma di depan kelenteng.



Patung Dewi Kwan Im setinggi sekitar 3 meter yang letaknya berada di bagian belakang Kelenteng, di depan ruang Dhammasala yang merupakan tempat utama umat Buddha untuk melakukan ibadah. Kwan Im atau Kwan She Im Phosat adalah Avalokitesvara Bodhisattva, Dewi Welas Asih di Tiongkok. Kwan Im adalah sebutan dalam dialek Hokkian dan Hakka yang dipergunakan mayoritas warga keturunan Tionghoa di Indonesia.



Fenghuang konon tercipta dari paruh ayam jantan, muka burung walet, kening burung, leher ular, dada angsa, punggung kura-kura, bagian kaki belakang dan pinggang rusa jantan, dan ekor ikan. Tubuhnya melambangkan enam benda langit, yaitu kepala adalah langit, mata adalah matahari, punggung adalah bulan, sayap adalah angin, kaki adalah bumi, dan ekor melambangkan planet-planet. Sayapnya memiliki lima warna dasar: hitam, putih, merah, biru dan kuning.



Seperti kebanyakan kelenteng, di halaman depan Kelenteng Boen San Bi juga terdapat sepasang patung Singa penjaga (Cioksay), yang betina bermain dengan anaknya dan yang jantan memegang bola.



Di sekitar bagian depan Kelenteng Boen San Bio juga ada sebuah Hiolo (tempat meletakkan batang hio yang telah dibakar) yang terbuat dari bahan sejenis batu marmar. Lazimnya, kebanyakan kelenteng memiliki berbagai jenis hiolo dengan berbagai ornamen yang terbuat dari besi atau kuningan.



Delapan Dewa adalah dewa-dewa Tao yang hidup di masa berbeda dan semuanya dapat mencapai kekekalan hidup. Mereka menggambarkan Kemiskinan, Kekayaan, Kebangsawanan, Kejelataan, Kaum Tua, Kaum Muda, Kejantanan dan Kewanitaan. Mereka dihormati dan dipuja karena menunjukkan kebahagiaan.

Moral dari kisah Delapan Dewa adalah bahwa manusia bisa mencapai kehidupan abadi dalam kebahagiaan melalui tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri dan dengan melakukan perbuatan baik. Mereka adalah Zhongli Quan (Chung-li Chuan), Zhang Guolao (Chang Kuo-lao), Lu Dongbin (Lu Tung-pin), Li Tieguai (Li T'ieh-kuai), Cao Guojiu (Ts'ao Kuo-chiu), Lan Caihe (Lan Tsai-ho), Han Xiangzi (Han Hsiang-tzu), He Xiangu (Ho Hsien-ku).



Bedug dan tambur yang biasa ditabuh saat berlangsung upacara dan arak-arakan juga bisa dijumpai di Kelenteng Boen San Bio. Seingat saya belum pernah saya mendengar tambur atau bedug ini dipukul dikelenteng untuk memulai sebuah ritual ibadah.



Altar dengan arca Buddha Sakyamuni yang juga disebut Jie Lay Hud dan Maitreya Buddha. Hari lahirnya diperingati pada tanggal 8 bulan 4 Imlek.



Pecun merupakan sebuah upacara tradisional Cina yang melambangkan penghormatan bagi jasad seorang tokoh berpengaruh yang tenggelam dan tewas di sebuah sungai di Cina. Pecun merupakan sebuah upaya pencarian yang dilakukan dengan memakai perahu dayung. Perayaan Pecun digelar pertama kali di Tangerang pada tahun 1910.



Dua ekor naga dengan bentuk badan unik yang ada di dalam pendopo Pecun di Kelenteng Boen San Bio Tangerang. Pendopo seperti itu baru pernah saya lihat di kelenteng ini, atau mungkin bentuknya berbeda di kelenteng yang lain.



Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.

©2021 Ikuti Saya