Kelenteng Tjo Soe Kong Tangerang

aroengbinang.com -
Kelenteng Tjo Soe Kong Tangerang, yang juga dikenal oleh penduduk setempat dengan sebutan Kelenteng Tanjung Kait dan Rong Jia Yi Da Bo Gong Miao, kami kunjungi setelah beberapa saat sebelumnya meninggalkan area Pantai Tanjung Kait. Kedua tempat itu jaraknya hanya sekitar 500 meter sehingga sayang jika tidak mampir. Kelenteng tua yang memiliki halaman luas itu berada sekitar 100 m dari tepi jalan utama.

Bangunan Kelenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait ini tidak dibuat menghadap ke laut, yang jaraknya ke tepiannya sekitar 200 m, namun menghadap ke arah Barat. Ini agak tak lazim karena biasanya sebuah kelenteng dibuat menghadap ke laut atau memunggungi gunung. Pada atap bangunan utama Kelenteng Tjo Soe Kong ini saya tidak melihat ada patung sepasang naga yang tengah memperebutkan mustika, tidak juga burung Hong. Kelenteng ini terkesan sederhana jika dilihat dari luar.

Di bagian depan kelenteng ada tengara yang mewartakan pembangunan kembali kelenteng yang dimulai pada 21 Maret 1959, lengkap dengan nama-nama panitia serta inspekturnya. Ada pula hiolo Thian untuk memuja Dewa Langit di halaman depan ini, dengan ukiran kepala raksasa di kiri kanannya. Juga sepasang pagoda tempat pembakaran kertas (Kim Lo). Dua pagoda berbentuk segi enam setinggi empat meter ini kabarnya masih aseli. Dulu ada kanopi polikarbonat pada halaman dalam yang merusak pemandangan, namun sudah dibongkar.

kelenteng tjo soe kong tanjung kait
Altar utama kelenteng yang digunakan untuk bersembahyang bagi Kongco Tjo Soe Kong, seorang tabib dari jaman Dinasti Song yang sering menolong orang sakit tanpa meminta imbalan. Ia digambarkan dalam posisi duduk di atas singgasana, mengenakan jubah berwarna merah dengan sulaman benang emas. Tjo Soe Kong, yang lahir dengan nama Tan Ciu Eng, berasal dari Cuanciu di Provinsi Hokkian. Ia wafat pada masa pemerintahan Kaisar Wi Cong dari Dinasti Song. Bisa dimengerti mengapa Kelenteng Tjo Soe Kong tidak dibuat menghadap ke laut, karena tuan rumah utamanya bukanlah Thian Siang Sing Bo, Dewi pelindung para pelaut.

Lagipula Kelenteng Tjo Soe Kong tidak didirikan oleh para pelaut, namun oleh para petani tebu keturunan Tionghoa yang tinggal di daerah Mauk, Tangerang. Di bagian lain Kelenteng Tjo Soe Kong terdapat altar bertuliskan Kongco Obat. Sakit memang tidak menyenangkan, dan sakit bisa membawa maut pada anggota keluarga, sehingga bisa dimengerti jika ada penghormatan dan pemujaan terhadap tabib yang bisa menyembuhkan penyakit. Sedangkan di bagian belakang Kelenteng Tjo Soe Kong terdapat altar pemujaan Budha, terletak di dalam bangunan Dharmasala yang dibuat setengah terbuka, dipisahkan dengan sebuah halaman terbuka dari bangunan induk.

Berdasarkan inskripsi beraksara Tionghoa pada tempat pembakaran kertas, Kim Lo di sisi Utara dibangun pada 1873 dan merupakan sumbangan Huang Qingsog dari Tingzijiao (Pasar Gelap, Batavia). Akan halnya Kim Lo di sisi Selatan dengan tulisan “Pavilion of Precious Protection” dibangun pada 1868, sumbangan Zheng Cheng An. Cerita yang beredar, ketika Gunung Krakatau meletus pada 1883, penduduk banyak yang mengungsi di dalam kelenteng dan terselamatkan dari terjangan tsunami. Cerita ini kemudian dibuat dalam lagu Gambang Kramat Karam yang kabarnya masih dimainkan oleh kelompok gambang kromong.

Salah satu tempat pemujaan utama di dalam Kelenteng Tjo Soe Kong adalah altar Hok Tek Ceng Sin, Dewa Bumi, yang dipuja orang untuk mempermudah dan memperlancar mengalirnya rezeki bagi para pedagang dan petani. Rupang Dewa Bumi diapit oleh sepasang lilin merah raksasa terdapat simbol-simbol Konghucu, yaitu Yin-Yang, Pat Kwa, dan bentuk seperti labu bersayap dengan untaian anggur di lehernya. Di bawahnya terdapat tulisan 7-4-2521 dan 21-5-1870, yang tampaknya merupakan tahun dibuatnya altar ini.

Sembahyang bagi Hok Tek Ceng Sin lazimnya dilakukan pedagang pada tanggal 1 dan 15 Imlek tiap bulan untuk memohon perlindungan dan rejeki, lalu pada tanggal 2 bulan 2 Imlek untuk merayakan ulang tahun Hok Tek Tjeng Sin, dan pada tanggal 16 bulan 12 Imlek yang disebut “Wei ya” (penutup). Sedangkan para petani biasanya bersembahyang pada tanggal 15 bulan 8 imlek sebagai ungkapan rasa syukur.

Hal yang unik di Kelenteng Tjo Soe Kong adalah adanya altar Embah Rahman dan Empe Dato yang terletak di kiri kanan altar Hok Tek Ceng Sin, serta altar bagi Dewi Neng. Dahulu kala Embah Rahman adalah seorang jawara terkenal di wilayah Tanjung Kait, mungkin karena itu altarnya sering didatangi oleh orang yang tengah mencari pesugihan. Dewi Neng adalah orang pribumi di Tanjung Kait yang konon merupakan anak Kongco Tjo Soe Kong.

Sepasang patung Ciok-Say (singa) terbuat dari batu andesit berada di halaman Kelenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait. Singa yang jantan menimang bola itu diletakkan di atas batu dengan relief kuda dan singa serta ornamen lengkung, sedangkan Ciok-Say betina seperti biasa sedang bermain dengan anaknya. Di belakang patung singa ada batu berbentuk bulat dengan ukiran daun dan bebungaan indah, serta rilief binatang. Mungkin ini batu nisan pemberian seorang tuan tanah terkaya di Batavia bernama Andries Teisseire (1746 - 1800), yang dibawanya langsung dari Tiongkok saat kelenteng mulai dibangun. Andries mencatat keberadaan Kelenteng Tjo Soe Kong pada 1792, sedangkan kapan didirikannya tidak diketahui pasti.

Pejalan tampaknya harus membawa kendaraan sendiri karena belum ada angkutan umum ke sana. Selain rute yang disebutkan dalam tulisan Pantai Tanjung Kait, pejalan bisa lewat Jl Daan Mogot, belok kanan setelah Penjara Anak-Anak Tangerang (sebelah kiri jalan), belok kiri ke Jl Buroq, lanjut Jl Dr. Sitanala, belok kiri ke Jl Jembatan Pintu Sepuluh, seberangi jembatan, belok kanan ke Jl Sangego Raya.

Di sini pejalan bisa mampir di Jembatan Pintu Sepuluh di kanan jalan. Setelah itu ikuti terus Jl Sangego Raya, ketemu jembatan pertama belok kiri, lalu langsung belok kanan setelah menyeberangi jembatan ke Jl Karet Kota Bumi, ikuti terus sampai bertemu perempatan dengan Jl Raya Mauk, belok kanan ke Jl Raya Mauk, setelah Pasar Sepatan di sebelah kiri ketemu pertigaan yang ada tugu ditengah2nya ambil arah kanan masuk ke Jl Paku Haji, lewat saluran irigasi belok ke kiri masih di Jl Paku Haji, lurus terus sampai habis Jl Paku Haji sambung ke Jl Desa Kramat, mentok ketemu Jl Kalibaru, belok ke kiri. Ketemu perempatan, belok ke kiri ke Jl Desa Sukawati, ikuti terus jalan ini.

Kelenteng Tjo Soe Kong Tangerang

Alamat : Jalan Raya Tanjung Kait, Dusun Tanjung Anom, Desa Tanjung Kait, Kecamatan Mauk, Tangerang. Lokasi GPS : -6.0161492, 106.539064, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Kelenteng Tjo Soe Kong

Salah satu tempat pemujaan utama di dalam Kelenteng Tjo Soe Kong adalah altar Hok Tek Ceng Sin, Dewa Bumi, yang dipuja orang untuk mempermudah dan memperlancar mengalirnya rezeki bagi para pedagang dan petani. Rupang Dewa Bumi diapit oleh sepasang lilin merah raksasa terdapat simbol-simbol Konghucu, yaitu Yin-Yang, Pat Kwa, dan bentuk seperti labu bersayap dengan untaian anggur di lehernya. Di bawahnya terdapat tulisan 7-4-2521 dan 21-5-1870, yang tampaknya merupakan tahun dibuatnya altar ini.

kelenteng tjo soe kong tanjung kait

Hal yang unik di Kelenteng Tjo Soe Kong adalah adanya altar Embah Rahman dan Empe Dato yang terletak di kiri kanan altar Hok Tek Ceng Sin, serta altar bagi Dewi Neng. Dahulu kala Embah Rahman adalah seorang jawara terkenal di wilayah Tanjung Kait, mungkin karena itu altarnya sering didatangi oleh orang yang tengah mencari pesugihan. Dewi Neng adalah orang pribumi di Tanjung Kait yang konon merupakan anak Kongco Tjo Soe Kong.

kelenteng tjo soe kong tanjung kait

Salah satu dari sepasang patung Ciok-Say (singa) terbuat dari batu andesit di halaman Kelenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait. Singa yang jantan menimang bola itu diletakkan di atas batu dengan relief kuda dan singa serta ornamen lengkung, sedangkan Ciok-Say betina seperti biasa sedang bermain dengan anaknya. Di belakang patung singa ada batu berbentuk bulat dengan ukiran daun dan bebungaan indah, serta rilief binatang. Mungkin ini batu nisan pemberian seorang tuan tanah terkaya di Batavia bernama Andries Teisseire (1746 - 1800), yang dibawanya langsung dari Tiongkok saat kelenteng mulai dibangun. Andries mencatat keberadaan Kelenteng Tjo Soe Kong pada 1792, sedangkan kapan didirikannya tidak diketahui pasti.

kelenteng tjo soe kong tanjung kait

Jika dari jauh tampak seperti batu, maka pandangan lebih dekat pada bentuk bulat dengan ukiran daun dan bebungaan indah serta relief binatang itu seperti terbuat dari logam. Mungkin benar bahwa inilah batu nisan pemberian seorang tuan tanah terkaya di Batavia bernama Andries Teisseire (1746 - 1800), yang dibawanya langsung dari Tiongkok saat kelenteng mulai dibangun.

kelenteng tjo soe kong tanjung kait

Meskipun berada di dekat laut, Kelenteng Tjo Soe Kong tidak didirikan oleh para pelaut, namun oleh para petani tebu keturunan Tionghoa yang tinggal di daerah Mauk, Tangerang.

kelenteng tjo soe kong tanjung kait

Di bagian depan altar Tjo Soe Kong terdapat patung sepasang penjaga yang disebut Pek How Pek Cuah atau Pek Houw (harimau putih) Pek Coa (ular putih).

kelenteng tjo soe kong tanjung kait

Di bagian depan ini ada pula sebuah tengara yang mewartakan pembangunan kembali kelenteng yang dimulai pada 21 Maret 1959, lengkap dengan nama-nama panitia serta inspekturnya.

kelenteng tjo soe kong tanjung kait

Di bagian lain Kelenteng Tjo Soe Kong terdapat altar bertuliskan Kongco Obat. Sakit memang tidak menyenangkan, dan sakit bisa membawa maut pada anggota keluarga, sehingga bisa dimengerti jika ada penghormatan dan pemujaan terhadap tabib yang bisa menyembuhkan penyakit.

kelenteng tjo soe kong tanjung kait

Hiolo Thian yang digunakan untuk menancapkan hio yang telah dibakar bagi Dewa Langit ini berada di halaman dalam Kelenteng Tjo Soe Kong, dengan ukiran kepala raksasa di kiri kanannya. Hiolo itu berangka tahun 1971, disumbang oleh Li Hui Chun, Chen Chun Zhang, Li Chen Hwa, Li Xing Ye, Li Bao Ye, dan Li Zhan Ye. Di kanan belakang adalah altar Thian Thi Kong.

kelenteng tjo soe kong tanjung kait

Altar Empe Dato yang berada di sebelah kanan altar Dewa Bumi. Nama asli Empe Dato adalah Empe Sui Hong. Ia adalah biokong atau orang yang bertugas membersihkan, mengurus, dan memberi teh kepada Kongco Tjo Soe Kong, Hok Tek Tjeng Sin, dan Embah Rahman.

kelenteng tjo soe kong tanjung kait

Sebuah prasasti berukuran 1,6x1 meter pada dinding timur ruang suci, terbuat dari batu hitam dengan nama-nama penyumbang saat pendirian kelenteng yang ditulis dengan warna keemasan.

kelenteng tjo soe kong tanjung kait

Bangunan ini ada di belakang bangunan utama, dengan Tathagata Buddha, relief Matrya Buddha, dan pada dinding kiri dan kanannya terdapat relief Guan Di (Koan Te), Zhong Tan Yuan Shuai, Si Da Tian Wang (Empat Raja Langit), Er Lang Shen (Malaikat Pelindung Kota Sungai), Wei Tuo Pu Sa, Qi Tian Da Shen (Ce Thian Tay Seng), Xuan Tan Yuan Shuai (Dewa Kekayaan), Tri Ratna Buddha, Lao-Tzu, serta relief Kong Hu Cu.

kelenteng tjo soe kong tanjung kait

Ruang tengah (Jin Ji Le Thie Sin) berbentuk segi panjang dengan relief huruf Tionghoa pada dindingnya. Ada pula tulisan dalam huruf Latin yang berbunyi "Apa yang sendiri tidak ingin lain orang berbuat janganlah berbuat pada lain orang", serta daftar kelenteng di Banten berikut foto-fotonya.

kelenteng tjo soe kong tanjung kait

Tampak muka Kelenteng Tjo Soe Kong dengan sepasang pagoda tempat pembakaran kertas di halaman depan yang menjadi ciri kelenteng ini. Kedua pagoda ini kabarnya masih aseli, yang dibuat bersamaan dengan berdirinya kelenteng, yaitu sebelum tahun 1792.

kelenteng tjo soe kong tanjung kait

Info Tangerang

Hotel di Tangerang, Hotel di Tangerang Selatan, Tempat Wisata di Tangerang, Peta Wisata Tangerang.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.