Lemo Tana Toraja

Lemo di Tana Toraja salah satu obyek wisata yang menurut saya wajib dikunjungi jika mendatangi Tana Toraja Sulawesi Selatan. Wisata di Tana Toraja kebanyakan adalah wisata yang berhubungan dengan kematian dan arwah demikian pula dengan Lemo, namun itulah yang menjadi daya tariknya. Lemo adalah rumah para arwah di tebing batu yang di kikis, secara keseluruhan sangat unik sebuah perpaduan antara kematian dan nilai seni yang kental dengan aura mistiknya.

Lemo Tana Toraja terletak di Desa Lemo Kabupaten Tana Toraja, sekitar 7 kilometer dari Kota Makale dan dari pusat Kota Rantepao berjarak tempuh 20 menit dengan kendaraan bermotor. Di depan area wisata Lemo, terdapat lahan parkir yang cukup luas dan ketika kami datang suasananya sepi pengunjung hanya ada satu kendaraan yang parkir.

Menyaksikan jejak kematian yang terdapat di Lemo, berkaitan erat dengan adat kebudayaan masyarakat Toraja. Adapun menurut catatan sejarah, Lemo Tana Toraja diperkirakan sudah ada sejak abad ke 16. Lemo awalnya adalah makam para raja dan kepala Suku Toraja, dan kemudian menjadi tempat wisata yang menarik dan artistik.

lemo tana toraja
Lemo Tana Toraja, merupakan kuburan yang dibentuk di atas tebing. Puluhan lubang di dindingnya untuk menyimpan peti mati dan patung kayu manusia yang di sebut Tau tau, sebagai gambaran dari mereka yang sudah meninggal. Tidak semua orang Toraja bisa dibuatkan Tau tau hanya di kalangan bangsawan saja yang berhak dibuatkan Tau tau dan itu pun setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh adat setempat.

Setiap lubang dipakai untuk satu keluarga, peti mati di dinding tebing Lemo disimpan secara ditumpuk. Pernah ada peti mati yang terjatuh dari lubang tebing, untuk itu baiknya berhati-hati siapa tahu ada tulang-belulang yang berserakan jangan sampai terinjak atau memindahkannya. Di depan tebing Lemo Tana Toraja terdapat 2 rumah adat Toraja yaitu Tongkonan dengan ciri khas ukiran Toraja.

lemo tana toraja
Lemo dalam bahasa setempat berarti jeruk, karena lubang atau gua yang terbesarnya berbentuk bundar menyerupai buah jeruk, lubang kuburan tersebut menyerupai pori-pori buah jeruk. Begitu yang saya dengar dari seorang Bapak menjual Tau tau di area Lemo, walaupun saya sendiri sebenarnya tidak begitu paham bentuk jeruk yang bagaimanakah yang dimaksud. Menurut penuturannya pula dan juga dari berbagai sumber yang saya baca bahwa kuburan tertua yang terdapat di Lemo Tana Toraja adalah seorang ketua adat bernama Songgi Patalo.

Lemo Tana Toraja sebuah pemandangan yang unik, tebing Lemo dan dua rumah adat Toraja menjadi menyatu. Anak saya bilang suasana magis di Lemo terasa olehnya, dan saya sendiri membayangkan bagaimana mereka melakukan ritual adat yang diyakininya dengan taat sesuai ketentuan adat dan kepercayaan. Sebuah cara yang unik mengabadikan kematian dan melalui proses ritual yang panjang.

lemo tana toraja
Beberapa meter sebelum tebing Lemo Tana Toraja, ada kios yang menyerupai gubuk dari bilik bambu tepat berada di depan pematang sawah setelah menuruni beberapa anak tangga. Kios itu menjual patung kecil dan ukuran sedang, selain itu ada dua Tau tau yang terbuat dari kayu nangka berbentuk manusia dengan ukuran yang sama dengan manusia. Tau tau dibuat untuk jenasah yang akan dimakamkan di Lemo, dan pada saat proses pembuatannya diharuskan dekat dengan jasad jenasah selain itu wajahnya harus menyerupai wajah jenasahnya.

Melihat mimik muka tau tau dengan posisi duduk di bangku kayu, rada seram juga tetapi tidak menghilangkan penasaran untuk melihat-lihat barang di dalam kios yang tidak terawat. Di dinding bilik tertera tulisan "ambil gambar Rp.2000/ orang". Tau tau dibuat kerap dengan tangan tangan kanan menghadap ke atas sedangkan tangan kiri menghadap ke bawah. Posisi tangan seperti itu memiliki arti, yaitu meminta dan memberkati serta mencerminkan bahwa antara mereka yang masih hidup dan yang sudah meninggal dunia saling membutuhkan. Mereka yang meninggal membutuhkan bantuan dari keturunannya yang masih hidup, untuk melakukan ritual adat agar arwah mereka dapat mencapai surga. Sedangkan ritual adat ini bagi yang hidup dimaksudkan agar mereka mendapatkan berkah hingga turun temurun.

lemo tana toraja
Sebelum memasuki area Lemo Tana Toraja, kami melihat beberapa rumah adat Tana Toraja Tongkonan yang telah berumur ratusan tahun sebagian badannya dipenuhi tanaman liar dan lumut hijau. Terlihat unik dan mengagumkan, rumah tua Tongkonan perlu diganti kayu-kayu yang lapuknya dengan tidak merubah keasliannya dan baiknya tanaman liar dan lumut tetap dipertahankan karena mengundang daya tarik.

Tongkonan rumah adat dengan ciri khas rumah panggung dari kayu, kolong di bawah rumah biasanya dipakai untuk kandang kerbau. Atapnya rumah tongkonan berbentuk melengkung seperti perahu, dan Lemo Tana Toraja yang dilengkapi Tongkonan adalah keunikan sekaligus menyimpan misteri. Sawah di depan tebing Lemo pada saat kami datang Bulan Juli 2017, sedang menguning dan padi-padi menunggu untuk dipanen.

lemo tana toraja
Sebelum meninggalkan Lemo Tana Toraja, kami sempat mencari-cari barang khas Toraja untuk suvenir. Vanya anak saya tertarik pada pakaian adat Toraja yang terbuat dari manik-manik, sepintas seperti baju adat Suku Dayak. Satu set baju adat seperti ini setelah ditawar harganya 350 ribu. Sedangkan Raka anak sulung saya membeli beberapa tas selempang motif kain Toraja seharga 40 ribu.

Wisata kematian begitulah kami menyebutnya, dan masyarakat Tana Toraja sangat menjunjung adat istiadat yang dihubungkan dengan keyakinan yang mereka anut. Secara turun temurun memperlakukan jenasah dengan ritual-ritual yang rumit dan memerlukan biaya yang tidak sedikit, adalah salah satu cara masyarakat adat Tana Toraja menghargai para leluruhnya. Selain itu diyakini bahwa cara memakamkan jenasah seperti itu dapat menjadi media untuk berhubungan dengan arwah.

Lemo Tana Toraja adalah makam, peti mati, jasad, tulang-belulang, tau tau, sawah, bukit dan pepohonan menjadi situasi yang indah dan berbeda, sehingga Lemo menjadi tempat yang cukup memukau. Tana Toraja primadona destinasi wisata di Sulawesi Selatan setelah Makasar, wajib menjaga kelestarian Lemo Tana Toraja sebagai adat dan budaya yang tumbuh di masyarakat Tana Toraja, menjaganya dengan baik seperti yang dilakukan sebagian masyarakat setempat. Kaya budaya ragam budaya, itulah negeriku Indonesia.

Lemo Tana Toraja

Jalan Poros Makale, Rantepao, Kecamatan Makale Utara, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Lokasi GPS : -3.0420294, 119.8743796, Waze. HTM Rp 5.000 (wisatawan domestik) Rp 15.000 ( wisatawan asing)




. Updated :

Versi Mobile | Kembali ke atas