Curug Dago Bandung

Curug Dago Bandung adalah sebuah air terjun setinggi 18 meter yang berada di Kampung Curug Dago, Kecamatan Cidadap, di bagian utara kota Bandung, dekat terminal angkot Dago di ujung Jl.Ir.H. Juanda. Saya mengunjungi curug ini beberapa saat setelah meninggalkan Taman Hutan Raya Ir.H. Juanda sekitar tengah hari.

Sesudah memastikan arah, beberapa meter sebelum sampai terminal Dago, saya berbelok ke kanan (dari arah utara) masuk ke jalan yang turun tajam ke arah lembah, dan memarkir mobil di tepi jalan menurun itu, beberapa meter sebelum sampai ke jembatan di dasar lembah. Tidak terlihat papan tanda ke arah Curug Dago Bandung.

Setelah bertanya arah pada penduduk yang kebetulan lewat, saya masuk ke jalan selebar 1 meter yang disemen rapi, arah ke kiri kalau dari atas, dan mengikuti jalan kecil itu sampai tiba di percabangan jalan dimana terlihat tempat teduh terbuka di sebelah kanan. Saya berbelok ke cabang jalan menurun ke kanan melewati taman itu, mengikuti jalan menurun lagi dan tiba di tepian Sungai Cikapundung. Ada warung sederhana, dan sebuah jembatan tepat di atas curug.

curug dago bandung

Ada sebuah bangunan kecil di bagian bawah Curug Dago dimana orang bisa menemukan dua buah prasasti yang dibuat pada tahun 1896, dikenal sebagai prasasti Dago atau prasasti Thailand, karena berhubungan dengan kunjungan keluarga kerajaan ke tempat itu. Mereka adalah Raja Chulalongkorn dan Pangeran Prajattiphok Paramintara, raja ke-5 dan ke-7 dari Dinasti Chakri.

Aliran air pada Curug Dago Bandung diapit oleh dinding batu andesit yang berwarna abu-abu tua. Kekeruhan sungai Cikapundung saat itu tampaknya selain dipengaruhi oleh musim hujan yang curahnya masih tinggi, juga oleh tingkat kerusakan lingkungan resapan air di kawasan hulu sungai.

Derasnya aliran Curug Dago Bandung juga bisa dilihat dari sela batang-batang bambu di tepian sungai. Aliran Sungai Cikapundung ini mengalir ke selatan dan bermuara di Sungai Citarum. Sedangkan di sebelah hulunya melewati daerah Lembang dan membuat air terjun lainnya yaitu Curug Omas di kawasan wisata Maribaya. Kata pundung berasal dari sejenis buah-buahan bernama kapundung atau kepundung (Baccaurea spp.).

curug dago bandung

Pandangan lainnya pada awal Curug Dago Bandung yang debit air lumayan besar karena membawa limpahan air hujan yang tak teresap sejak dari hulu. Saat melangkah lebih dekat ke bibir sungai bisa terlihat pusaran air di bagian bawah air terjun yang kekuatan hentaknya selama beratus tahun sanggup membentuk kedung air yang dalam.

Belakangan saya turun ke sebuah tempat di tebing sungai Curug Dago yang dipadati oleh pohon bambu dan semak. Tanah yang lembab dan basah dan ketiadaan trap-trapan membuat saya terpeleset dan jatuh terduduk ketika turun, meski sudah beruaha menapak dengan sangat hati-hati. Tanah kotor pun menempel tanpa malu di bokong celana yang membuat saya meringis kecut.

Merangsek ke mendekati tebing sungai dengan menyibak semak belukar yang agak padat di bawah rumpun bambu yang rimbun sampailah saya ke bibir tebing untuk mendapatkan beberapa buah foto. Terlihat pada curug ada aliran kecil yang jatuh ke atas batu hitam besar. Kabut air tampak memutihkan udara di atas saung dimana terdapat prasasti Dago.

Setelah mengamati beberapa jenak daerah di sekitar bangunan kecil di bawah sana, akhirnya saya memutuskan untuk tidak turun ke bawah, karena derasnya air terjun menciptakan tirai air yang saya kira akan membuat basah kamera, meski di sana merupakan salah satu tempat terbaik untuk memotret Curug Dago Bandung.

Tampaknya akan lebih baik jika berkunjung ke Curug Dago pada akhir musim penghujan, sekitar pertengahan Mei sampai bulan Juni, sehingga pengunjung bisa turun ke bawah dengan aman, ke rumah kecil di tepian sungai untuk melihat Prasasti Thailand dan menikmati pemandangan ke arah curug yang lebih baik.

Sesaat sebelum meninggalkan area air terjun, saya sempatkan mampir ke warung yang ada di tepi sungai di bagian atas curug, membeli dua buah botol air mineral untuk meneguk sedikit isinya dan sisanya dipakai untuk membersihkan kotoran. Pemilik warung berbaik hati meminjamkan secarik kain bersih untuk menyingkirkan kotoran tanah liat yang melekat di bokong saya.....

Curug Dago Bandung

Alamat : Kampung Curug Dago, Kecamatan Cidadap, Bandung Utara. Lokasi GPS : -6.865246, 107.618895, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : sepanjang waktu. Harga tiket masuk : gratis.

Galeri Foto Curug Dago Bandung

Merangsek ke depan dengan menyibak semak belukar yang agak padat di bawah rumpun bambu yang rimbun sampailah saya ke tebing sungai dan mendapatkan foto di atas. Terlihat di sana ada aliran kecil yang jatuh ke atas batu hitam besar. Kabut air tampak memutihkan udara di atas saung dimana terdapat prasasti Dago.

curug dago bandung

Derasnya aliran Curug Dago Bandung dilihat dari sela batang-batang bambu. Aliran Sungai Cikapundung ini mengalir ke selatan dan bermuara di Sungai Citarum. Sedangkan di sebelah hulunya melewati daerah Lembang dan membuat air terjun lainnya yaitu Curug Omas di kawasan wisata Maribaya. Kata pundung berasal dari sejenis buah-buahan bernama kapundung atau kepundung (Baccaurea spp.).

curug dago bandung

Melihat batuan hitam di tepian Curug Dago itu saya membayangkan besarnya aliran lahar hingga sampai ke tempat ini dan membeku dalam jumlah yang begitu banyak. Karena konon semua batuan berasal dari magma gunung berapi yang muntah saat meletus.

curug dago bandung

Pemandangan yang terlihat saat melangkah lebih dekat ke bibir tebing. Jika saja menggunakan tongkat selfie mungkin akan bisa menghasilkan foto yang lebih menarik, meski harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

curug dago bandung

Pandangan pada aliran sungai. Panjang Sungai Cikapundung diperkirakan mencapai 28 km dengan debit air minimum 6 m3 per detik. Karena membelah kota Bandung membuat sungai ini menjadi tempat pembuangan sampah warga dan berakibat banjir besar di musim hujan, yang terutama melanda daerah Dayeuhkolot, Bale Endah dan Bojongsoang.

curug dago bandung

Meski agak kabur namun pada foto ini pondok kecil di bawah sana bisa terlihat lebih jelas, dengan area di sekitarnya yang tak begitu luas.

curug dago bandung

Pandangan curug pada posisi agak lebih ke atas dan ke kiri. Batu gunung hitam yang menjadi tebing itu tak licin sehingga pengunjung bisa berdiri di atasnya dengan cukup aman. meski harus tetap berhati-hati.

curug dago bandung

Pemandangan pada bagian atas curug yang rimbun dengan pepohonan serta gerumbul bambu yang rimbun.

curug dago bandung

Curug Dago dari sela tumbuhan perdu dan batang bambu kecil yang roboh menyamping.

curug dago bandung

Besarnya debit Curug Dago bisa terlihat dari sela batang bambu ini, yang saya temukan lubangnya setelah menyeruak perdu dan menyisir tepian tebing sungai.

curug dago bandung

Pandangan tegak pada curug dari sela batang bambu yang sudah besar, memperlihatkan kedung air yang ada di bawah air terjun.

curug dago bandung

Masih dengan sudut pandang yang sama hanya lebih tinggi sedikit di bagian atas. Karena membentur dinding batu maka sebagian aliran airnya terlihat melintir sebelum jatuh ke bawah.

curug dago bandung

Saat itu Curug Dago masih belum mendapat perhatian yang memadai dari pemerintah kota, membuat pengunjung masih agak kesulitan untuk menikmatinya. Semoga kondisinya sekarang sudah jauh lebih baik.

curug dago bandung

Pandangan lainnya pada aliran air Curug Dago yang terlihat seperti melintir oleh sebab adanya batuan di bagian ata tebing curug. Akan sangat elok jika dibuat dek pandang di beberapa titik di tepian tebing sungai.

curug dago bandung

Pandangan dekat pada ujung bawah Curug Dago, yang jika dilihat dari debit airnya maka di kolam bawah curug mestinya ada palung yang cukup dalam dengan pusaran air kuat.

curug dago bandung

Adanya pohon bambu di tepian sungai memang menghalangi panorama curug, namun mungkin sangat bermanfaat dalam memperkuat tebing sungai agar tak mudah longsor. Ada baiknya dibuat jembatan pandang yang melintang di atas sungai, di sekitar cungkup prasasti.

curug dago bandung

Info Bandung

Rute Bandros, Hotel di Lembang, Tempat Wisata di Bandung, Peta Wisata Bandung, Hotel di Bandung, Hotel Murah di Bandung.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑