Kelenteng, Tradisi

Hari Raya Tiong-yang, La-Ba dan We-Ya

Hari raya Tiong-yang (Chong-Yang-Jie) dirayakan pada tanggal 9 bulan 9 Imlek. Perayaan ini sebenamya sudah tua sekali, mulai dikenal sejak dinasti Jin, dihitung sampai sekarang sudah berselang 1700 tahun. [Awal tulisan: Tradisi, Arti dan Makna Sembahyang Besar di Kelenteng]

Ada sebab mengapa hari raya ini dinamakan Chong-Yang. Orang kuno menganggap angka 9 bersifat Yang, sebab itu tanggal 9 bulan 9 disebut chong-yang atau yang rangkap.

Angka-angka ganjil 1,3,5,7,9 adalah Yang, sedangkan 2,4,6,8 adalah Yin. Angka 9 adalah angka yang paling tinggi, paling akhir, titik balik, sebab itu disebut Lao-Yang (yang tua).

Menurut ilmu gwamia (nujum), angka ini melambangkan perubahan dari berlimpahan menuju kekurangan, dari jaya menjadi melarat, melambangkan suatu alamat jelek, apalagi angka 9-9. Saking jeleknya, sehingga pada tanggal itu diperkirakan akan terjadi malapetaka.

Sebab itu pada zaman kuno, untuk menghindari bencana, menjelang hari itu banyak orang naik gunung, atau membawa dogwood (semacam tanaman yang dianggap bisa menangkal pengaruh buruk), atau menikmati keindahan bunga seruni (ju).

Bunga seruni mekar pada bulan 9, sebab itu bulan 9 imlek sering dikatakan sebagai “bulan seruni” (Ju-Yue). Selain itu seruni juga disebut “Bunga Panjang Umur” (chang-shou-hua). Sebab itu menikmati keindahan seruni di tanggal 9 bulan 9 bermakna “Selamat”.

Makanan khas untuk perayaan ini adalah kue hua-gao yang terbuat dari gandum dan buah-buahan kering. Tapi selain itu juga ada kue chongyang-gao yang konon rasanya mirip kue keranjang, dan sering pula dikirim kepada para handai-taulan disertai semua harapan yang baik-baik. Entah apakah kedua nama ini menunjuk ke kue yang sama atau berbeda.

Sembahyang Tiong-yang biasanya ditujukan pada roh leluhur di depan altar daiam rumah dan dilakukan menjelang tengah hari.


La-Ba (Lappat)

Festival La-Ba (La-Ba-Jie) jatuh pada tanggal 8 bulan 12 Imlek.

Umat Buddhis China menyepakati tanggal ini sebagai hari sang Buddha Shakyamuni memperoleh pencerahannya.

Makanan khas untuk hari ini adalah bubur la-ba-zhou, yaitu bubur “lima rasa” yang dibuat dari beras dengan campuran jamur hioko (xiang-gu), kacang-kacangan dan buah-buahan.

Mulanya bubur ini hanya dibuat di wihara untuk sesajian memperingati hari yang istimewa ini, sebab itu bubur ini juga dinamakan “Bubur Buddha” (fo-zhou) atau “Bubur Delapan Mustika” (ba-bao-zhou).

Barangkali karena rasanya enak orang awam pun ikut-ikutan membuatnya di rumah, sehingga akhirnya tradisi Buddhis ini meluas menjadi tradisi rakyat.


We-Ya (Bwee-Gee

Setelah Dongzhi, pada tanggal 16 bulan 12 Imlek, diadakan Sembahyang Bwee-Gee (wei-ya).

Rumah tangga dan kelenteng mengadakan sembahyang syukuran pada Tudigong.

Pemilik toko biasanya menyelengarakan sembahyang di altar yang tersedia di tokonya, setelah itu makan bersama seluruh karyawannya sebagai ucapan terima-kasih atas jerih payah mereka selama setahun.

Kebiasaan ini baik sekali, karena menjadikan hubungan antara bos dan karyawannya lebih akrab, dan kerja-sama untuk meningkatkan kinerja perusahaan bisa lebih berhasil. Sayang tradisi ini tak dilestarikan di Indonesia.

, seorang pejalan musiman dan penyuka sejarah yang sedang tinggal di Cikarang Utara. Traktir BA secangkir kopi. Secangkir saja ya! April 08, 2022.

Tulis Komentar

Ketik dulu, lalu klik "Masuk ..." atau "Posting".