Kelenteng, Tradisi

Perayaan Malam Tujuh

Selain Sembahyang Besar yang telah disebutkan dan dilaksanakan di Klenteng Hok Tek Bio Purwokerto, juga terdapat Sembahyang Besar lainnya yang merupakan Tradisi Perayaan di kalangan masyarakat, salah satunya adalah Perayaan Malam Tujuh (Qi-Xi). [Awal tulisan: Tradisi, Arti dan Makna Sembahyang Besar di Kelenteng]

Perayaan Malam Tujuh pada Imlek tanggal 7 bulan 7 malam, menurut kepercayaan kuno adalah saat “pertemuan” antara bintang Vega dan bintang Altair.

Pertemuan dua bintang ini adalah fenomena alam yang menunjukkan tempat keberadaan bintang-bintang itu pada peredarannya. Tetapi berkaitan dengan pertemuan dua bintang itu, masyarakat Tionghoa merangkum satu kisah indah tentang cinta-kasih yang tulus.

Kisah cinta abadi itu berkisah tentang seorang bidadari penenun Zhi-Nu, yang diperisteri seorang gembala kerbau, Niu-Lang. Perkawinan ini tak disetujui oleh ibunya, mahadewi Xiwangmu, yang lalu memaksa Zhi-Nu kembali ke istana Langit.

Niu-Lang mengejar ke angkasa sambil membawa dua orang anak mereka yang masih kecil. Karena terharu akan ketulusan cintanya, maka Yuhuang Dadi memperkenankan mereka bertemu sekali tiap tahun di sungai Tian-he (milky-way) dan dengan bantuan ribuan burung mag-pie (qiao) yang menyusun diri menjadi “jembatan penyeberangan”, bertemulah keduanya.

Vega adalah Zhi-Nu dan Altair adalah Niu-Lang. Dari kisah inilah menjadi tradisi setiap tahun bagi muda-mndi uutuk merayakannya sebagai “Hari Kasih Sayang” yang dinamakan Qi-Xi-Jie (Perayaan Malam Tujuh).

Ada satu kebiasaan di Jawa tengah pada masa lalu, yaitu para gadis yang belum menikah, tepat pada Imlek tanggal 7 bulan 7 pukul 19.00 mengadakan sembahyang ritual pada Niu-Lang Zhi-Nu dengan menghadap ke arah rangkaian bintang Bimasakti (milky-way, Tian-he).

Mereka mempersembahkan berbagai peralatan kecantikan, seperti sisir, bedak, alat-alat kosmetik, bunga-bunga yang harum dan tentu saja seperangkat peralatan sulam-menyulam. Mereka bersujud sambil menumpahkan harapan mengenai persoalan asmara mereka, dan ada pula yang berdoa untuk keremajaan dan kecantikan mereka. Sebaliknya tidak ada jejaka yang memohon secara khusus malam itu.

Bagi kaum terpelajar, hari itu juga merupakan perayaan khusus yang disebut “Hari Memohon Keterampilan” (Qi-Qiao-Jie).

Kaum wanita mengadakannya di ruang tengah, sambil menyajikan bunga, bedak dan buah-buahan. Mereka menyediakan benang dan jarum sulam, berdoa, lalu memasukkan benang ke lobang jarum. Kalau berhasil itu pertanda bahwa permohonan mereka dikabulkan, atau ketrampilan yang telah dimilikinya dapat dikembangkan.

Para pelajar pria bersembahyang pada bintang Kui (Kui-Xing), mohon agar berhasil dalam pendidikannya. Hari itu juga dianggap hari kelahiran Kui-Xing Fu-Zi (Roh Bintang Kui, Pelindung Pendidikan). [bersambung ke Hari raya Tiong-yang, La-Ba dan We-Ya]


, seorang pejalan musiman dan penyuka sejarah. Penduduk Jakarta yang sedang tinggal di Cikarang Utara. Traktir BA secangkir kopi. Secangkir saja ya! April 08, 2022.