Jokowi, Mandalika

Mandalika, Keindahan Sinar Bulan dan Buruknya Lumpur Becek

Pertamina Mandalika International Street Circuit, atau singkatnya Sirkuit Internasional Mandalika, menjadi buah bibir, buah tulis, dan buah video, dalam beberapa hari terakhir ini. Youtube, Instagram, Twitter, TikTok, TV, media online, dan entah apalagi, ramai memberitakannya.

Itu tentu tak lepas dari rangkaian peristiwa yang banyak menyedot perhatian. Dimulai dari peresmian sirkuit dan jalan baypass bandara ke sirkuit oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), hingga penyelenggaraan sampai kelarnya gelaran Balapan Idemitsu Asia Tallent Cup (IATC) dan Balapan World Superbike (WSBK) atau Race WSBK Mandalika 2021.

Peristiwa yang lumayan langka itu sepertinya akan menjadi salah satu tonggak dan bukti sahih keberhasilan dan ketidakpamrihan Jokowi dalam membangun negri ini, tanpa bermaksud mengecilkan peran besar banyak pihak yang membuat sirkuit itu mewujud.

Kesaksian TGB, mantan gubernur NTB, tentang bagaimana Jokowi menyelesaikan masalah yang membuat proyek Mandalika mangkrak selama 29 tahun, hanya dengan sekali rapat terbatas, kembali menjadi bukti keseriusan dan kemampuan kepemimpinannya, yang membuat begitu banyak proyek mangkrak di era pemerintahan sebelumnya berhasil ia selesaikan. Belum lagi selesainya proyek pembangunan yang memang diinisiasi di era Jokowi sendiri.

Ketidakpamrihan Jokowi untuk membangun seluruh wilayah Indonesia tanpa kecuali, termasuk di provinsi NTB dimana ia kalah telak di pilpres 2014 (27,55%), dan kalah lagi di pilpres 2019 (32.11% suara), membuktikan bahwa ia adalah pemimpin yang menghormati demokrasi dan bukan dari jenis yang pendendam kepada rakyat yang tidak memilihnya.

Selain itu, gelaran balapan bergengsi di Sirkuit Mandalika ini tampaknya juga menjadi contoh telanjang tentang bagaimana setelah hujan turun dan malam jatuh, ada yang dengan gembira dan bahagia menikmati keindahan sinar bulan di langit bersih yang berhias kerlip bintang, namun ada pula yang bersungut-sungut karena penglihatannya hanya tertuju pada lumpur becek di bumi, padahal mereka melihat dari jendela yang sama.

Kelompok pertama adalah tentu mereka yang memiliki hati bebas dengki dan pikiran positif, yang sebagiannya adalah mantan pembenci Jokowi yang telah siuman. Mereka bergembira dan bersyukur dengan apa yang telah dicapai hingga gelaran balapan berkelas dunia di Sirkuit Mandalika itu bisa diselenggarakan, meski mengakui masih ada yang memang harus diperbaiki.

Kelompok kedua adalah mereka yang memelihara sirik di hati dan beternak pikiran negatif, yang tertawa gembira ketika ada persoalan marshall yang membuat balapan IATC sempat ditunda, mengejek pula tanah tergenang dan becek karena hujan deras yang juga membuat balapan WSBK sempat ditunda. Mereka menutup mata dan telinga pada banyak hal baik di Mandalika yang mestinya layak mendapat apresiasi.

Namun begitulah hidup yang selalu bergoyang dari satu kutub ke kutub yang lain, dalam paradoks yang selalu ada: baik vs buruk, NKRI vs khilafah, Islam Nusantara vs Islam NgArab, pecinta damai vs pecinta teroris, gubernur pintar kerja vs gubernur pintar tata kata, dst.

Sirkuit Internasional Mandalika adalah drama keseharian hidup, dan ketersediaan pilihan yang semua orang punya. Pilihan yang bisa merubah jalan hidup ke arah yang lebih baik, atau membuat orang tetap berada di kubangan lumpur pikir dan hati yang kotor.

Mandalika juga pembuka mata, bahwa dibangunnya infrastruktur terbukti telah bisa menjadi penggerak roda ekonomi daerah, dan bukan saja membawa nama Mandalika serta Lombok menjadi lebih dikenal di tingkat nasional, namun juga membawanya ke dunia internasional. Nama yang baik membawa cuan datang, dan cuan (pada saatnya) membawa kemakmuran.

Soal cuan, jadi teringat tentang persoalan marshall. Bahwa benar ada kesalahan dan keteledoran dari pihak manajemen, setidaknya dalam pelatihan, pendampingan, dan evaluasi lapangan, namun adalah kesalahan fatal ketika sejumlah marshall melakukan mogok kerja.

Meski nama Sirkuit Mandalika, dan Indonesia, sempat tercoreng dengan kejadian itu, namun corengan itu tak berlangsung lama, dan orang akan akan melupakannya setelah ajang balapan berakhir dengan sukses. Lebih banyak kenangan manis yang dibawa mereka pulang.

Yang sulit dilupakan adalah soal marshall yang mudah patah, yang betapapun sahihnya keluhan mereka dan kenyataan bahwa mereka adalah sukarelawan yang tak dibayar, namun selamanya akan sulit untuk bisa mempercayai mereka sebagai marshall lagi dalam sebuah ajang balap internasional. Terlalu beresiko jika menggunakan mereka lagi.

Meski tak dibayar, namun bahwa menjadi marshall mestinya merupakan kebanggaan tersendiri, oleh sebab bisa menjadi bagian dari sebuah gelaran tingkat internasional yang membantu peningkatan perekonomian daerah mereka. Jika uang semata yang dicari, dan mudah patah, maka marshall memang bukan untuk mereka. Jangan dipaksakan.

Di lain pihak, dengan segala keterbatasannya, salut kepada marshall yang tetap bertahan dan tidak patah oleh sebab sadar akan tanggung jawabnya; bahwa mereka bukan hanya membawa nama Mandalika dan NTB, namun juga nama Indonesia.

Mereka layak dipertahankan dan terus ditingkatkan kemampuan dan bahasanya, agar suatu waktu bisa dikirim ke sirkuit lain, di dalam dan luar negri, yang sedang memerlukan dukungan dan bantuan. Mental mereka telah terbukti tidak gampang patah.

Bagaimana pun, ke depan kita percaya bahwa gelaran balapan di Sirkuit Mandalika akan terus mengalami perbaikan dan penyempurnaan, bukan hanya dari kesiapan SDM-nya, namun juga fasilitas dan infrastruktur pendukungnya yang masih akan terus dibangun dan diperluas.

Belajar dari Bali yang bukan hanya menawarkan keindahan alam namun juga keunikan budayanya, maka Lombok juga tentunya tidak hanya menjual Sirkuit Mandalika dan keindahan alamnya, namun terutama harus menjadikan budaya lokal sebagai daya tarik utamanya, yang bisa membuat orang hormat dan menjadi buah cerita.

Sukses terus buat Mandalika, dan akhir tulis, hanya Allah yang Mahatahu dan Mahabenar dalam segala hal. Salah-salah dan kekurangan tulisan ini mohon dimaafkan ya Dul, anggap saja remahan mendoan yang tercecer. Terima kasih telah membaca, dan sampai bertemu di tulisan nirfaedah berikutnya, salim.

, seorang pejalan musiman dan penyuka sejarah yang lahir di Desa Mersi - Purwokerto, dan sekarang tinggal di Jakarta. Diperbarui: November 22, 2021.

Tulis Komentar

Ketik dulu, lalu klik "Masuk ..." atau "Posting".

« Baru©2021 IkutiLama »

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.