Dongeng

Si Benar dan Si Salah

Dahulu kala ada dua bersaudara; satu bernama Benar, dan yang lainnya Salah. Si Benar selalu lurus dan baik terhadap semua orang, tetapi Si Salah berperangai buruk dan perkataannya selalu penuh kebohongan, sehingga tidak ada yang bisa mempercayai apa yang ia katakan.

Ibu mereka sudah menjanda, dan tidak punya cukup uang untuk membiayai hidup yang layak; jadi ketika kedua anaknya telah dewasa, si ibu terpaksa meminta mereka untuk pergi merantau, agar dapat mencari nafkah sendiri. Masing-masing mendapat bekal kecil dengan beberapa makanan di dalamnya, dan kemudian mereka pun pergi meninggalkan rumah untuk memulai perantauannya.

Setelah berjalan sepanjang hari sampailah mereka ke sebuah hutan saat malam hampir tiba. Mereka lalu mencari tempat yang cukup enak untuk beristirahat dan masing-masing mengeluarkan sisa bekal makanan yang mereka bawa dari rumah.

“Jika setuju denganku”, kata Salah, “Bagaimana kalau kita makan dari bekalmu saja, dan setelah habis barulah kita ambil dari bekal makananku.”

Tanpa berpikir panjang, Si Benar menyatakan setuju dengan usul Salah. Mereka pun mulai makan, namun Si Salah mengambil semua bagian makanan yang terbaik untuk dirinya sendiri, sedangkan Benar hanya mendapat remahan sisanya.

Keesokan paginya mereka makan dari bekal makanan Si Benar lagi hingga tak ada lagi yang tersisa. Oleh karena itu setelah berjalan sampai larut malam dan siap untuk makan lagi, Si Benar pun hendak mengambil makanan dari bekal saudaranya, tetapi tiba-tiba Si Salah menghardik,

"Tidak boleh! Makanan ini milikku, dan hanya cukup untuk diriku sendiri."

"Kenapa begitu, bukankah kau memakan makanan dari bekalku hingga habis tak tersisa?", kata Si Benar.

“Salahmu sendiri”, jawab Salah mengejek, “jika kau begitu bodoh hingga membiarkan orang lain memakan bekal makananmu di depan mukamu, maka kau harus menerima resikonya; sekarang duduk saja kamu di situ dan rasakan kelaparanmu.”

"Baiklah," jawab Benar, “perbuatanmu itu salah seperti namamu, dan salah sepertinya memang sudah jadi sifatmu; itulah dirimu, dan kamu akan seperti itu selamanya.”

Mendengar itu Salah menjadi sangat marah, dengan kasar ia menyerang saudaranya dan mencungkil kedua matanya.

"Coba lihat sekarang, apakah yang dikatakan kalian itu benar atau tidak, dasar tikus buta!" dan setelah berkata demikian Salah buru-buru pergi, meninggalkan Benar sendirian.

Kasihan Si Benar. Ia terpaksa berjalan terseok-seok sambil meraba-raba di hutan yang lebat. Ia tidak tahu ke mana harus berjalan ketika tiba-tiba tangannya memegang batang pohon yang cukup besar. Timbul keinginannya untuk memanjat pohon itu dan duduk berlindung di atas sana sampai malam berakhir agar terhindar dari serangan binatang buas.

“Jika burung mulai berkicau”, dia berkata pada dirinya sendiri, “itu tandanya hari sudah pagi, dan aku akan bisa mulai meraba-raba jalan di depanku.”

Maka ia pun naik ke atas pohon itu. Setelah duduk di sana selama beberapa saat, tiba-tiba ia mendengar ada yang datang dan sepertinya sedang mengerjakan sesuatu di bawah pohon tempat ia berlindung. Tak berapa lama kemudian yang lain datang, dan ketika mereka saling sapa, tahulah dia bahwa mereka adalah si Beruang, si Serigala, si Rubah, dan si Kelinci yang datang untuk mengadakan pesta di tempat itu.

Mereka pun mulai makan, minum dan bergembira selayaknya sebuah pesta. Ketika selesai makan dan minum, mereka mulai bergunjing. Rubah berkata:

“Bagaimana kalau masing-masing dari kita berbagi sedikit cerita?”

Yang lainnya menyatakan persetujuannya. Pasti menyenangkan, kata mereka, dan si Beruang mulai yang pertama karena ia berbadan paling besar dan menjadi boss dari kawanan itu.

“Raja kita”, kata Beruang, “penglihatannya sangat buruk. Dia hampir tidak bisa melihat apa yang ada di depannya. Jika saja ia datang ke pohon ini di pagi hari, lalu mengambil embun yang ada di atas dedaunannya dan menggosokkan ke matanya maka ia akan bisa melihat kembali dengan jelas.”

"Benar sekali!" kata Serigala. “Raja juga punya seorang putri yang tuli dan bisu. Jika saja ia tahu apa yang aku tahu, maka ia akan bisa segera sembuh. Tahun lalu ketika sang putri pergi ke kuil, ia membiarkan remah roti jatuh dari mulutnya yang kemudian ditelan oleh seekor kodok besar.

Jika menggali lantai yang ada di kuil, mereka akan menemukan kodok itu di bawah altar dengan remah roti masih di tenggorokannya. Yang mereka harus lakukan adalah mengambil remahan roti itu dari leher kodok dan memberikannya kepada sang putri, maka sang putri akan bisa berbicara dan tidak tuli lagi.”

"Petunjukmu sungguh sangat berharga", kata Rubah, “tetapi jika raja tahu apa yang aku tahu, maka dia tidak akan kekurangan air di istananya, karena di bawah batu besar di halaman istana ada sumber mata air dengan air paling jernih dari semua mata air yang ada di negeri ini.”

"Ah, sungguh mengagumkan!" kata Si Kelinci dengan suaranya yang kecil; “Sekarang cerita dariku adalah, raja kita memiliki taman yang terbaik di seluruh negeri, tetapi ada yang jauh lebih berharga dari itu karena di taman itu ada rantai terbuat dari emas berbobot sangat berat yang terbenam di dalam tanah. Jika ia menggali dan mengambil rantai emas yang sangat berharga itu, maka taman kerajaan akan menjadi jauh lebih subur dan indah, dan tak akan ada yang seperti itu di seluruh kerajaannya.”

"Luar biasa sekali kawan", kata Rubah, "Tapi sekarang malam sudah sangat larut, dan sebaiknya kita pulang."

Maka mereka semua pergi meninggalkan tempat itu.

Mendengar semua itu Si Benar merasa sangat gembira dan berterima kasih kepada Yang Mahapemurah dan Mahapengasih karena ia telah diberi kesempatan untuk mengetahui rahasia yang sangat berharga itu. Dengan hati senang dan penuh rasa syukur, Si Benar memeluk batang pohon, memejamkan mata dan tertidur dengan nyenyak.

Ketika burung mulai berkicau saat fajar tiba, Si Benar terbangun dan segera mengambil embun dari dedaunan pohon itu. Digosokkannya embun itu ke kedua matanya, dan ajaib penglihatannya telah kembali seperti semula!

Si Benar kemudian turun dari pohon dan berjalan pergi meninggalkan hutan untuk menuju ke istana raja. Sesampainya di sana ia memohon untuk bisa bekerja menjadi tukang kebun di taman, dan beruntung ia diterima karena kebetulan tukang kebun yang lama sudah sangat tua dan lemah.

Pada suatu hari sang raja keluar ke halaman istananya yang luas. Hari itu udara cukup panas sehingga raja merasa haus dan ingin minum untuk menghilangkan dahaganya. Namun ketika pelayan istana menuang ke dalam gelas dari keran yang ada di halaman, ternyata airnya keruh berlumpur dan berbau busuk, membuat raja merasa sangat kesal.

“Aku yakin tak ada seorang pun di seluruh kerajaan ini yang memiliki air begitu buruk di halamannya seperti di istana ini, padahal kita mendatangkannya dengan pipa dari tempat yang jauh, melewati bukit dan lembah”, sungut raja dengan geram.

Si Benar yang kebetulan sedang berada tak jauh dari tempat itu memberanikan diri untuk mendekat.

"Ampun, Yang Mulia", kata Benar dengan sikap sangat hormat, "Jika Tuanku Raja mengizinkan saya meminta bantuan beberapa orang abdi istana untuk menggali tanah di bawah batu besar yang terletak di tengah halaman ini, Tuanku akan bisa mendapatkan air yang sangat jernih, dan berlimpah." Tentu saja raja mengijinkan. Dibantu beberapa orang, Benar menggeser batu besar itu dan setelah menggali tanah selama beberapa saat tiba-tiba air yang sangat jernih menyembur tinggi ke udara. Di seluruh kerajaan, tak pernah ada air yang sejernih ini. Raja merasa sangat senang dan memberi hadiah sekantung uang emas kepada Benar sebagai ungkap terima kasihnya.

Beberapa hari kemudian ketika sang raja keluar lagi ke halaman istana, datanglah seekor elang besar yang terbang rendah mengejar ayam jago kesayangannya. Para pengawal raja berusaha mengusir elang itu, namun tak berhasil. Sang Raja pun mengambil senjatanya dan mencoba menembak elang itu, namun tembakannya meleset karena matanya tidak bisa melihat dengan jelas. Raja merasa sangat sedih.

“Ya Tuhan”, kata raja, “semoga ada orang yang bisa memberi tahu obat untuk mataku ini, karena jika tidak segera diobati maka mungkin aku akan segera menjadi orang buta!”

"Ampun Tuanku, mungkin saya bisa membantu", kata Benar yang kebetulan sedang membersihkan halaman. Si Benar kemudian memberi tahu raja bagaimana caranya ia menyembuhkan matanya sendiri yang sebelumnya malah telah buta.

Raja merasa sangat senang dan berterima kasih kepada Benar. Tanpa membuang waktu, dengan diiringi para pengawal, sang raja berangkat hari itu juga menuju ke pohon yang ada di hutan, dengan dipandu oleh Benar. Sesaat setelah fajar esok harinya tiba, mata raja sudah sembuh seperti sedia kala segera setelah ia menggosoknya dengan embun yang ada di daun pohon itu.

Sejak saat itu, tidak ada seorang pun yang lebih disayang raja selain Si Benar, dan Benar harus mengiringinya ke mana pun ia pergi, baik di dalam maupun di luar wilayah kerajaan.

Pada suatu hari ketika mereka sedang berjalan bersama di dalam kebun, raja berkata, “Tak ada seorang pun di kerajaan ini yang menghabiskan begitu banyak uang dan waktu untuk mempercantik kebunnya seperti aku, namun yang membuatku sedih adalah pohon-pohon terbaik di taman ini tidak bisa menghasilkan buah yang banyak.”

"Tuanku," kata Benar,"jika paduka mengijinkan saya untuk memiliki benda yang tersimpan di bawah tanah kebun ini, dan memperbolehkan orang-orang membantu hamba untuk menggalinya, maka kebun ini akan menjadi seperti yang selama ini Paduka kehendaki."

Setelah Raja memberi ijin dan meluluskan permintaannya, maka Benar mulai menggali tanah di taman itu dibantu para abdi dalem kerajaan, hingga akhirnya ia berhasil mengangkat dari dalam tanah di taman itu seluruh rantai emas yang sangat tinggi nilainya.

Sekarang Benar telah menjadi kaya raya, bahkan lebih kaya daripada raja sendiri. Namun raja tetap merasa senang, karena kebunnya telah berubah menjadi sangat subur dan membuat dahan-dahan pohonnya menjuntai hingga ke tanah dengan buah yang berlimpah.

Di hari lain, ketika raja dan Si Benar sedang berjalan-jalan sambil berbincang santai, sang putri berjalan melintas di taman, yang membuat raja sangat sedih ketika melihatnya.

“Sayang sekali, putriku yang begitu cantik itu bisu dan tuli”, kata raja kepada Si Benar. “Ampun yang Mulia, ijinkan saya untuk mendapatkan obatnya”, kata Si Benar. Ketika mendengar itu, raja merasa sangat senang dan berjanji untuk menikahkan Benar dengan putrinya dan menganugerahinya separuh wilayah kerajaan, jika putrinya benar-benar bisa sembuh.

Si Benar lalu pergi ke kuil, dan dibantu beberapa abdi dalem ia menggali bagian bawah altar dimana kodok besar itu berada. Setelah kodok itu ditemukan, Benar mengambil roti yang ada di tenggorokan kodok dan lalu memberikannya kepada sang putri. Keajaiban pun terjadi setelah sang putri memakan remahan roti itu. Ia sembuh seperti sediakala, dan bisa berbicara serta tidak tuli lagi. Raja merasa sangat gembira dan bersyukur sekali. Ia memenuhi janjinya untuk mengawinkan putrinya dengan Si Benar dan memberi hadiah separuh wilayah kerajaan. Berita yang sangat membahagiakan itu menyebar ke seluruh kerajaan: sang putri telah sembuh dari penyakitnya, dan akan segera menikah. Seluruh penduduk kerajaan pun sibuk bersiap-siap untuk menyambut penyelenggaraan pesta perkawinan Si Benar dang sang putri.

Hari yang di tunggu pun tiba, dan prosesi perkawinan Si Benar dan Putri merupakan pesta sangat megah yang belum pernah terjadi sebelumnya di kerajaan itu.

Ketika orang-orang sedang bergemberi ria, berpesta dengan makanan lezat berlimpah, diiringi musik serta nyanyian dan tarian indah yang memukau, seorang pengemis berpakaian compang-camping, rambut riap-riapan dan wajah kotor, tiba-tiba datang meminta sedekah makanan. Semua orang merasa risih melihat orang itu, namun Si Benar langsung mengenalinya karena orang itu tidak laian adalah Si Salah, saudaranya sendiri.

"Apakah kamu masih mengenaliku" kata Benar.

"Oh! Bagaimana mungkin orang seperti saya pernah melihat tuan yang begitu agung”, jawab Si Salah.

“Akulah saudaramu yang matanya kamu cungkil setahun lalu. Itu perbuatan yang salah seperti namamu, dan salah menuruti sifatmu; seperti yang sudah pernah kukatakan kepadamu. Tapi kamu masih saudaraku, jadi kamu harus makan sampai kenyang, dan aku akan memberikanmu pakaian dan bekal. Setelah itu, kamu bisa pergi ke pohon tempat aku duduk di sana setahun lalu. Jika kamu bisa mendengar sesuatu yang dapat membantumu berhasil seperti aku, maka kamu akan beruntung.”

Si Salah tidak menunggu untuk diberitahu dua kali.
“Jika Si Benar mendapatkan begitu banyak kebaikan dengan duduk di pohon itu, sehingga dalam satu tahun dia menjadi raja di separuh wilayah kerajaan, kebaikan apa yang mungkin tidak aku dapatkan”, pikirnya.

Setelah makan kenyang dan mendapatkan pakaian bagus serta bekal yang banyak, Si Salah segera berangkat menuju hutan dan segera naik ke pohon yang disebut oleh saudaranya itu.

Tak lama kemudian semua binatang pun datang, mengadakan pesta makan dan minum di bawah pohon itu. Ketika mereka selesai makan, Rubah ingin mereka mulai bercerita lagi, dan Si Salah bersiap-siap untuk mendengarkan rahasia besar apa yang akan merubah nasibnya.

Tapi Si Beruang menggeram dengan suara keras dan berkata dengan nada marah:

“Seseorang telah mengoceh tentang apa yang kita katakan tahun lalu di sini, dan sekarang kita harus menahan lidah agar tidak lagi menceritakan rahasia besar lainnya yang kita ketahui”.

Setelah mendengar perkataan Beruang yang sangat tegas itu mereka pun saling mengucapkan "Selamat malam", dan berpisah.

Begitulah, nasib si Salah tidak berubah. Sebabnya adalah karena ia bernama Salah, dan perangainya pun juga selalu salah. Tamat.

Disadur dari Popular Tales from the Norse oleh Sir George Webbe Dasent, yang dimuat di situweb gutenberg.org.

, seorang pejalan musiman dan penyuka sejarah yang lahir di Desa Mersi - Purwokerto, dan sekarang tinggal di Jakarta. Diperbarui: Oktober 24, 2021.

Tulis Komentar

Ketik dulu, lalu klik "Masuk ..." atau "Posting".

« Baru©2021 IkutiLama »

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.