Blog Post, Kelenteng

Kitab Suci Ko Ong Kwan Sie Im Keng

Buku kecil berwarna kekuningan berjudul Kitab Suci Ko Ong Kwan Sie Im Keng itu saya peroleh dari kunjungan di sebuah kelenteng yang besar kemungkinannya ada di Tangerang, oleh sebab merupakan sumbangan dari seseorang bernama Hok Sui, dengan keterangan 'Tangerang' dan angka tahun 2007 di bawah namanya. Angka itu tentu adalah tahun buku itu dicetak dan disumbangkan ke klenteng itu.

Lantaran buku itu sudah tersimpan lama dan mulai berwarna kekuningan mengikuti sampulnya, saya pikir sayang jika sampai rusak atau hilang, dan tak ada salahnya jika diterbitkan di blog ini, oleh sebab buku adalah seperti anak panah, yang sering mencari sasarannya sendiri.

Berikut adalah isi buku Kitab Suci Ko Ong Kwan Sie Iem Keng, dengan sedikit editan jika dianggap perlu, yang semoga tidak sampai mengubah makna yang dimaksudkan.

Kitab Suci Ko Ong Kwan Sie Iem Keng

Akan memberikan kesejahteraan dan keseiamatan kepada sekalian umat manusia.

Dahulu kala, pada jaman Cian Ngo Thay Tong Goe, hiduplah seorang Kwan Tjioe (asisten daerah) di Kota Siang Tjoe bernama Kho Hwan, yang sifat perangainya sangat keji dan gemar membunuh.

Pada suatu ketika, ada seorang bernama Sun Keng Tek yang oleh pengadilan dijatuhi hukuman mati karena melanggar undang-undang negara. Sebelum menjalani hukuman mati, Sun Keng Tek dimasukan ke dalam penjara.

Selama disekap dalam penjara, Sun Keng Tek memusatkan perhatian dan pikirannya pada hal-hal rohani, yaitu dengan membaca dengan penuh ketekunan sambil bersujud - menyembah pada kitab Kwan Im Phouw Boen Phien Keng.

Pada suatu malam, Sun Keng Tek di dalam tidurnya mendapat penglihatan didatangi oleh seorang Hwesio yang menyampaikan pesan kepadanya sebagai berikut: Sun Keng Tek, biarpun engkau membaca dan bersujud terus tanpa henti ke kitab itu, tetapi hal itu tidak dapat dan tidak mungkin akan meluputkanmu dari hukuman.

Namun ada satu cara yang paling tepat dan pasti berhasil untuk melepaskan dan membebaskanmu dari hukuman mati, yaitu dengan membaca isi kitab Ko Ong Kwan Sie Im Keng sebanyak seribu kali. Akan tetapi dengan penuh keragu-raguan Sun keng Tek bertanya:
“Sekarang ini saya berada di dalam penjara, bagaimana saya dapat membaca sampai seribu kali dan di mana saya dapat memperoleh kitab tersebut?”.

Hwesio itu menjawab:
“Sun Keng Tek, saya akan mengajarkan kepadamu 10 kali isi kitab itu sekarang ini juga, dan engkau akan mempunyai kemampuan untuk mengingatnya.”

Setelah selesai mengajar kepada Sun Keng Tek, maka gaiblah Hwesio tersebut dari penglihatan Sun Keng Tek, dan berbarengan itu Sun Keng Tek tersadar dan mendusin dari tidurnya.

Sun Keng Tek lalu mencoba untuk mengulangi isi kitab yang baru saja diajarkan oleh Hwesio itu dan ternyata ia dapat menghafalnya sampai habis.

Maka dengan penuh ketekunan ia pun mulai membaca kitab suci itu untuk mencapai jumlah seribu kali sebagaimana syarat yang diberikan oleh sang Hwesio.

Setelah lewat beberapa waktu maka tibalah hari dimana Sun Keng Tek akan menjalani hukuman mati, yang membuat Sun Keng Tek sangat berduka karena kitab Ko Ong Kwan Sie Im Keng baru dibacanya sebanyak sembilan ratus kali.

Sun keng Tek sudah sangat berputus asa, lebih-lebih setelah penjaga membuka pintu penjara dan memerintahkan Sun Keng Tek untuk berjalan menuju tempat di mana dia akan menjalani hukuman mati.

Kepada penjaga penjara Sun Keng Tek bertanya apakah jarak antara penjara dan tempat hukuman jauh atau dekat. Tetapi penjaga itu malah balik bertanya, apakah maksudnya menanyakan jauh dekatnya tempat penghukuman itu. Maka kepada penjaga itu Sun Keng Tek menceritakan tentang penglihatannya sewaktu di dalam penjara dan tentang pesan Hwesio untuk membaca kitab Ko Ong Kwan Sie Im Keng sebanyak seribu kali.

Karena sekarang Sun KengTek baru menyelesaikan pembacaannya sebanyak sembilan ratus kali, oleh sebab itu Sun Keng Tek bermohon agar dalam perjalanan menuju ke tempat hukuman supaya jalannya agak diperlambat untuk memungkinkan ia menyelesaikan bacaan yang masih tersisa seratus kali.

Permintaan Sun Keng Tek dikabulkan oleh penjaga. Bertepatan dengan sampainya mereka di tempat penghukuman maka berhasil pula Sun Keng Tek menyelesaikan pembacaan kitab tersebut sebanyak seribu kali.

Ketika golok diayunkan ke leher untuk memenggal leher Sun Keng Tek, maka terjadilah suatu hal yang sangat mengherankan, karena bukannya leher Sun keng Tek yang putus, malah golok yang patah menjadi tiga potong.

Kejadian tersebut segera dilaporkan kepada Kho Hwan. Setelah mendengar laporan tersebut Kwan Ciu Kho Hwan mengajukan pertanyaan: "Ilmu apakah gerangan yang engkau pakai, sehingga badanmu tidak mempan oleh senjata tajam?"

Maka kepada Kho Hwan, Sun Keng Tek dengan jujur memberikan jawaban:
“Saya tidak mempunyai ilmu, atau mempergunakan ilmu apapun juga, tetapi pada waktu masih ditahan dalam penjara ketika saya sedang membaca buku Kwan Im phouw Bun Phien Keng, saya mendapat penglihatan didatangi oleh seorang Hwesio tua yang menganjurkan dan sekaligus mengajarkan saya kitab Ko Ong Kwan Sie Im Keng.
Syarat yang diajukan oleh Hwesio tersebut yaitu isi kitab itu harus dibaca berulang-ulang sampai 1000 kali, dan apabila syarat tersebut disanggupi dan dipenuhi, maka segala malapetaka akan terhindar dan diganti dengan keselamatan dan keberuntungan.
Karena syarat tersebut saya telah penuhi maka saya boleh terhindar dari kematian.”

Kepada Sun Keng Tek, Kho Hwan berkata:
“Kalau benar seperti yang engkau katakan, maka engkau mempunyai kekuatan yang maha hebat dan jauh melebihi kami dan malah engkau boleh disamakan dengan Budha."

Namun Kwan Ciu Kho Hwan belum mau mempercayai sepenuhnya dan untuk menguji kebenarannya, Kho Hwan memerintahkan kepada semua orang hukuman yang akan menjalani hukuman mati untuk membaca kitab Ko Ong Kwan Sie Im Keng sebanyak seribu kali.

Kenyataannya setiap orang hukuman yang telah selesai membaca kitab tersebut sebanyak seribu kali, pada saat menjalani hukuman ternyata tidak ada satupun senjata tajam yang mempan.

Dengan kenyataan ini barulah Kwan Ciu Kho Hwan percaya dan menyadarinya bahwa kitab Ko Ong Kwan Sie Im Keng adalah kitab yang sangat bermanfaat, sehingga kepada setiap orang yang membutuhkan pertolongan dan kepada seluruh warga kotanya ia anjurkan untuk bersujud dan membaca kitab tersebut.

Kemanjuran kitab ini bukan hanya pada jaman dahulu saja, tetepi sampai saat ini masih tetap berlaku. Untuk siapa saja yang dalam keadaan bahaya atau menghadapi keadaan dimana jiwanya terancam, dengan membaca kitab Ko Ong Kwan Sie Iem Keng sebanayk seribu kali, maka pasti akan terhindar dari bahaya.

Kitab ini bukan saja manjur hanya untuk menghindarkan diri dari bahaya-bahaya yang mengancam jiwa, tetapi juga sangat manjur pada hal-hal yang lain seperti kesembuhan dari berbagai macam penyakit, mengharapkan cita-cita terkabul, memohonkan keselamatan bagi orang tua dan sanak keluarga, mengiginkan kehidupan yang makmur dan bahagia, asalkan kita penuh ketekunan dan sembah-sujud membaca kitab Ko ong kwan Sie Im Keng sebanyak seribu kali.

Siapa yang sudah merasakan dan menerima berkat dan keberhasilan dari kitab ini, dimintakan kerelaan dan kemampuan dari orang bersangkutan untuk disumbangkan dan dibagi-bagi kepada siapa saja yang berhasrat dan bersujud dengan ketulusan hati pada kitab ini.

Kepada barang siapa yang berminat mengambil kitab ini, lebih dahulu seluruh tubuhnya harus dibersihkan, begitu juga hatinya harus bersih dan tulus serta bersujud-sembah dan pasang Hio. Ada hal yang sangat penting perlu diperhatikan, yaitu pada waktu bersujud dan membaca, dilarang berhati dan berpikiran jahat dan kotor, dan tidak diperbolehkan membaca sambil bertiduran.

Doanya sewaktu pasang Hio atau dupa:
Loo hiang Ca jiat.
Hwat Kay Bong Hoen.
Coe Hoet Hay Hwee Soet Yauw Boen.
Swie Chie Kiat Siang Ien.
Seng Ie Hong Ien.
Coe Hoet Hiang Cwan Sien.

Di bawah ini baca 3 kali lagi:
Lam Boe Hiang Ien Kay.
Phouw Sat Mo hoo Sat.

Doa mensucikan mulut:
Siu li Siu, Mo Ho Siu Li, Siu Siu Li, Sat Po Ho.

Doa mensucikan badan:
Siu To Li. Siu To Li Siu Mo Li, Sat Po ho.

Doa pada Malaikat Bumi:
Lam Bu Sam Boan To, But To Lam, Am To Lo
To Lo, Te Bie Sat po Ho.

Setelah mambaca muntram tersebui diatas, bacalah Keng pembukaan di bawah ini tiga kali sebelum membaca Ko Ong Kwan Sie Im Keng . Bu Siang Sim Cim Bi Biau Hoaat, Pek Ciann ban
Kiap Lan Coo Gi, Ngo Kim Kian Bun Tek Liu Ti,
Goan Kay Jie Lay Cin Sit Lie.

Hoed Soat Ko Ong Kwan Soe Im Keng

Kwan Sie Im Po Sat, Lam Bu Hut, Lam Bu Hoat, Lam Bu Ceng, Hut Kok Yu Yan, Hut Hoat Siang In, Siang Lokk Ngo Ceng, Yu Yan Hut Hoat, Lam Bu Mo ho Phoan Jiak Po Lo Bit, Sie Tai Sin Cu, Lam Bu Mo ho Phoan Jiak Po Lo Bit, Sie Tai Beng Ciu, Lam Bu Mo Ho Phoan Jiak Po Lo Bit, Sie Bu Siang Ciu, Lam Bu Mo Ho Phoan Jiak Po Lo Bit, Sie Bu Teng Teng Ciu, Lam Bu Ceng Kong Pie Bit Hut Hoat Cong Hut, Su Cu Kong Hut, Ciok Hek Hut, Kim Kong Cong Su Cu Yu Hi Hut, Po Sin Hut, Sin Tong Hut, Yok Su Cu Yu Hi Hut, Po Sin Hut, Kim Kong Cong Su Cu Yu Hi Hut, Po Sin Hut, Sin Tong Hut, Yok Su Liu Lie Kong Hut, Pau Kong Kong Tek San Ong Hut, Bie Lai Hian Kiap Cian Hut, Cian Ngo Pek Hut, Ban Ngo Cian Hut, Ngo Pek Hoa Sin Hut, Pek Ek Kim Kong Cong Hut, Teng Kong Hut, Liok Hong Liok Hut, Beng Ho Tng Hong Po Kong Giat Tian Goat Biaw Cun Im Ong Hut, Lam Hong Sie Kin Hoa Ong Hut, Se Hong Co Ong Sin Tong Ham Hoa Ong Hut, Pak Hong Goat Tian Ceng Ceng Hut, Siang Hong Bu Sou Ceng Cin Po Siu Hut, He Hong Sian Siok Goat Im Ong Hut, Bu Liang Cu Hut, To Po Hut, Sik Ka Mo Ni Hut, Mi Lek Hut, 0 Che Hut, 0 Mi Tho Hut, Tiong Yang It Ciat Ciong Seng, Cay Hut Kai Tiong Cia, Heng Cu Le Te Siang, Kip Cay Hi Kong Tiong, Cu Ching Yu le Ciat Ciong Seng, Kok Leng An In Hiu Sit, Tiu Ya Siu Ti Sim, Lim Siang Siong Cu Keng, Leng Biat Seng Se Kou, Siau Hok Iew To Hay, Na Mo Tay Beng Kwan Sie Im, Kwan Beng Kwan Sie Im, Ko Beng Kwan Sie Ln, Kay Beng Kwan Sie Im, Yo Ong Po Sat, Yo Siang Po Sat, Bun Cu Siu Lie Po Sat, Phou Hian Po Sat, Hie Kong Cong Po Sat, The Cong Ong Po Sat, Ceng Liang Pe San It Ban Po Sat, Pau Kong Ong Jie Lay Hoa Sin Po Sat, Liam Liam Siong Cu Keng, Cit Hut Sie Cun, Cek Soat Cia Uat, Li Po Li Po Te, Liu Ho Kiu Ho Te, To Lo Ni Te, Ni Ho Lo Te, Pin Li Ni Te, Mo Ho Ka Te. Cin Leng Kian Te, So Po Ho.

Kemudian Pujaan Berikut Ini:
Sip Hong Kwan Sie Im, It Ciat Cu Po Sat, Sie Goan Kiu Ciong Seng, Ceng Beng Sit Kay Toat, Jiak Yu Hok Pok Cia, In Kin Wia Kay Soat, Tan Sin Yu In Yan, Tok Siang Kou Put Toat, Siong Keng Boan Cian Phian, Liam Liam Sim Put Coat, Hwe Ham Put Leng Siang, To Peng Lip Cui Ciat, Hwe No Seng Hwan Hi, Su Cia Pian Seng Hout, Bok Gan Cu Si Hin, Cu Hut Put Bong Soat, Ko Ong Kwan Sie Im, Leng Kiu Cu Khou Ek.

Artinya

Sepuluh penjuru Buddha yang mulia,
dan semua Pou Sat yang mulia,
Maksudnya hendak menolong manusia,
Jangau mendapat segala bahaya,
Jika orang-orang yang bodoh,
Kita beritahukan pengertiannya,
Jika orang yang peruntungannya bagus, Tentu ia baca tiada hentinya,
Jika membaca 1000 jurus,
Tersirat kebaikan dalam hatinya,
Bahaya api tak akan mendekatinya,
Senjata tajam tidak mempan,
Kemarahan berbalik jadi kesukaan,
Kematian menjadi kehidupan.

Doa Kwan Sie Iem Phouw Sat yang selalu berpakaian putih

Lam boe, Tay Coe Pie Siem Seng
Kioe Kho Kioe Lan, Kong Tay Ling Kam
Kwan Sie Im Phouw Sat, Mo Hoo Sat

Lam bu hut
Ie Hoet You Ien, Ie Hoet Yoe Yan
Hoet Hwat Siang Ien, Siang Lok Ngo Cing
Tiau Liam Kwan Sie Iem, Bouw Liam Kwan Sie Iem
Liam Liam Ciong Siem Khie, Liam Hoet Poet Lie Siem

Lam Boe Hoet, Lam Boe Hwat, Lam Boe Cing
Ta Cit Too Am, Ka Loo Hwat Too
Ka Hoo Hwat Too
Loo Ka Hwat Too, Loo Ka Hwat Too
Swa Hoo, Thian Loo Sin, Tee Loo Sin
Jin Lie Lan, Lan Lie Sin
Iet Chie Cay Yang Hwa Wie Tien

Tambahan

Kisah Teng Tay

Di Kota Hang Ciu, Tiongkok, ada seorang yang bernama Teng Tay, yang tinggal berdua saja dengan istrinya. Sejak pernikahannya, hingga sudah mencapai umur 50 tahun, belum juga dikaruniai seorang anak pun.

Suatu hari, pada waktu Teng Tay sedang berjulan-jalan di tengah-tengah keramaian kota, ia bertemu dengan seorang Hwesio, dan dalam tegur sapanya Teng Tay menceritakan persoalan dirinya yang telah mencapai umur setinggi itu belum mempunyai keturunan, serta menyampaikan keinginannya untuk bisa mendapatkannya.

Mendengar hal itu, Hwesio tersebut lalu memberi nasehat-nasehat, dan menghadiahkan sebuah kitab Ko Ong Kwan Sie Im Keng serta berpesan agar Teng Tay membaea kitab tersebut dengan sungguh-sungguh dan tekun, sambil memohon kepada jang Maha Kuasa atas niatnya itu.

Sesampainya di rumah, ia lalu menuruti nasihat Hwesio itu, serta pada hari itu juga ia mulai membaca kitab yang didapatnya itu, dengan tekun siang dan malam tak henti hentinva. Ia lalu mencetak kitab Ko Ong Kwan Sie Im Keng sebanyak 1.300 buah , dan dibagi-bagikannja kepada semua orang yang membutuhkannya.

Tidak lama setalah itu. suatu hal yang sangat mengembirakan Teng Tay telah terjadi, yaitu istrinya sudah mulai hamil dan tak lama kemudian lahirlah seorang putra yang sangat diidam-idamkannya.

Dengan adanya doa dan memohon dengan membaca Ko Ong Kwan Sie Im Keng, 16 tahun kemudian anaknya sudah mendapatkan pekerjaan dan kedudukan yang mulia, serta hidup rukun dan bahagia bersama kedua orang tuanya.

Kisah Pwe Cie To

Di dalam kola An Hwie, berdiam seorang pekerja kasar yang hidupnya amat miski bernama Pwe Cie To. Walaupun sehari-harinya kerja membanting tulang memeras keringat, kadang-kadang untuk makan seharipun tak cukup.

Pada suatu hari, karena perkenalannya dengan seorang yang bernama Teng Kong, Pwe Cie To mendpatkan kitab Ko Ong Kwan Sie Im Keng. Sejak saat itu siang malam membaca ia kitab itu, dan karena ketekunan serta kesungguhan hatinya, setengah tahun kemudian ia telah dianugerahi jabatan dengan pangkat Hin Hwa Kwan (setingkat kepala kampung) yang hidupnya cukup dan bahagia.

Kisah Lie It Bing

Lie It Bing adalah seorang dari dusun Siang Hiang Ting yang sedari kecil sudah yatim. Ibunya sudah mencapai umur 70 tahun, dan menderita suatu penyakit yang berat. Bermacam-macam obat telah dicoba untuk mengobatinya, akan tetapi tidak juga ada manfaatnya. Penyakitnya tetap saja tidak ada perobahan sedikitpun, sehingga makin membuat gelisah hati Lie It Bing.

Karena itu ia lalu berusaha mendapatkan sin-she yang lebih baik untuk dapat mengobati penyakit ibunya yang sangat ia cintai itu. Ia kemudian pergi menuju desa terdekat, yaitu ke kampung Teng Tee.

Di tengah perjalanan, ia mampir ke sebuah Bio (Klenteng) dan bermaksud untuk bersembahvang memohon kesembuhan ibunya kepada Dewi Kwan Im Phouw Sat. Ketika berjalan sampai ke meja sembahyang, ia menemukan kitab Ko Ong Kwan Sie Im Keng yang terletak di meja sembahyang tersebut.

Ia lalu mengambil kitab itu serta membacanya. Selesai membaca terus saja ia melakukan niatnya bersembahyang dan memohon sambil berjanji kalau penyakit ibunya sembuh, maka ia akan mencetak kitab Ko Ong Kwan Sie Im Keng sebanyak 1.300 buah, sebagai tanda terima kasihnya.

Hari itu Lie Bing membatalkan niatnya mencari sin-she, dan langsung membawa kitab itu pulang kerumah. Sesampainya di rumah hari sudah malam, dan langsung saja ia menuju ke tempat dimana ibunya berbaring.

Alangkah kaget dan senang hatinya, karena melihat ibunya walaupun masih berbaring, tapi dengan wajah berseri-seri tersenyum menyambut kedatangannya. Padahal sebelumnya ibunya sehari-hari hanya merintih dan memejamkan mata merasakan sakitnya.

Melihat perubahan itu ia yakin bahwa permohonannya di klenteng siang tadi dikabulkan, walaupun ibunya belum sembuh betul. Ia pun bercerita kepada ibunya semua pengalaman yang ia alami tadi siang, hingga ibunya pun amat gembira dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Keesokan harinya, Lie It Bing karena gembiranya begitu bangun tidur tanpa cuci muka terlebih dulu, langsung saja lari ke perusahaan percetakan, untuk dengan segera mencetak kitab yang ia janjikan pada waktu ia sembahyang di Bio kemarin.

Belum setengah bulan setelah peristiwa itu, ternyata ibu Lie It Bing telah sembuh sama sekali dari penyakitnya, dan mengerjakan pekerjaan rumah kembali, dan hidup sehat dan selamat bersama Lie It Bing.

Kisah Ek Sing

Di daerah Kang Lam, di sebelah Selatan Sungai Tiang Kang, Tongkok, ada seorang pelajar muda berumur 23 tahun bernama Ek Sing. Telah beberapa kali ia menempuh ujian Negara untuk mendapatkan gelar dan ingin mencapai kedudukan dalam pemerintahan pada waktu itu, akan tetapi tak juga lulus.

Kemudian dia mencetak 1.000 buah Kitab Ko Ong Kwan Sie Im Keng dan dibagi-bagikan ke bio-bio (klenteng) dan orang-orang yang membutuhkannya.

Dalam tahun Ka Sin (masa pemerintahan raja Ka Sin), waktu untuk ujian Negara telah tiba. Sekali lagi ia mengikuti ujian dan ternyata soal-soal dalam ujian itu tidak menyulitkannya. Bahkan ia mencapai prestasi yang bagus sekali, sesuai dengan angan-angannya dan tak sia-sia belajarnya selama ini

Kisah Ong Tian Sek

Ada lagi pengalaman seorang saudagar bernama Ong Tian Sek, di daerah yang sama (Kang Lam) ia berdagang dari suatu tempat ke tempat lain sebagai pedagang keliling.

Pada suatu hari ia melakukan perjalanan dengan menumpang sebuah perahu besar menuju ke kota Hu Kauw.

Ketika sedang di tengah-tengah perjalanannya, mendadak datang angin kencang dan ombak besar tak henti-hentinya, sehingga perahu tersebut terombang-ambing yang sangat menakutkan semua penumpang yang ada di dalamnya, sebab angin dan ombak yang sangat besar itu sewaktu-waktu dapat meneggelamakn perahu mereka.

Dalam keadaan seperti itu, penumpang-penumpang laki-laki menjadi bingung, perempuan-perempuan dan anak-anak manangis dan menjerit-jerit ketakutan. Untung pada saat itu di dalam perahu ada Ong Tian Sek yang telah sering membaca & hafal sekali isi kitab Ko Ong Kwan Sie Im Keng.

Setelah dengan tekun ia membaca hingga mencapai 1000 kali, maka angin dan ombak yang mulanya begitu kencang dan menakutkan, seketika menjadi reda dan lambat laun menjadi tenang kembali sehingga perahu dapat mencapai tujuan dengan selamat.

Lie Siaw Teng

Demikian juga dengan pengalaman seorang hartawan di kota Tang Sa yang bernama Lie Siaw Teng. Ia telah berusia 70 tahun namun tidak mempunyai putera maupun puteri, dan walaupun istrinya dan Lie Siaw Teng sendiri sangat mengiginkannya, namun ia hanya mempunyai seorang cucu keponakan laki-laki yang sejak kecil ia pelihara.

Dengan sendirinya kasih sayang mereka tercurahkan sepenuhnya kepada cucu keponakan tersebut. Pada waktu mencapai umur 4 tahun, cucu keponkannya itu terkena suatu penyakit yang mana apabila musim dingin tiba, penyakitnya makin berat dan makin lama makin membahayakan jiwanya.

Segala usaha pengobatan telah dilakukan oleh Liaw Siaw Teng. Tabib dan sin-she ternama dari berbagai tempat telah didatangkan akan tetapi tak juga ada hasilnya.

Kemudian dari seorang temannya ia mendapatkan sebuah kitab Ko Ong Kwan Sie Im Keng, dan sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang ada dalam kitab itu, tak bosan-bosannya dia siang malam mcmbakar hio (dupa) wangi dan membaca kitab Ko Ong Kwan Sie Im Keng serta mencetak kitab itu, untuk dibagi-bagikan kepada siapa saja serta dititip-titipkan ke Bio-bio (klenteng) agar orang yang membutuhkannya dapat sewaktu-waktu mendapatkannya.

Lima enam bulan kemudian, ternyata bukan saja cucu keponakannya telah sembuh sama sekali dari penyakitnya, bahkan belum satu tahun sejak dia membaca kitab Ko Ong Kwan Sie Im Keng, istrinya telah melahirkan seorang anak laki-laki. Lie Siaw Teng sendiri sampai mencapai umur 98 tahun baru meninggal dunia.

Ketika anaknya umur 20 tahun dan cucu keponakannya umur 25 tahun, keduanya mengikuti ujian negara. Mereka lulus mendapatkan gelar kesarjanaan dan mendapat kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan waktu itu.

Di akhir buku kuning kecil itu ada catatan bahwa bukunya dicetak kembali dari kitab terjemahan lama serta disesuaikan kalimat dan kata-katanya oleh seseorang yang bernama The Tjing Djin.

Kitab Suci Koo Ong Kwan Sie Im Keng

, seorang pejalan musiman dan penyuka sejarah yang lahir di Desa Mersi - Purwokerto, dan sekarang tinggal di Jakarta. Diperbarui: April 02, 2021.

Tulis Komentar

Ketik dulu, lalu klik "Masuk ..." atau "Posting".

« Baru©2021 IkutiLama »

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.