Dongeng Anak : Si Ciwek

August 11, 2020. Label:
Dongeng anak si Ciwek ini merupakan alih bahasa bebas dari cerita pendek karangan Abbie Phillips Walker, dengan ilustrasi oleh Rhoda. C. Chase yang diterbitkan oleh Harper & Brothers. Kumpulan cerita pengantar tidur ini dimuat di lamanweb Gutenberg Project yang merupakan perpustakaan online dengan lebih dari 60.000 eBook gratis.

Moral kisah yang aselinya ditulis dalam bahasa Inggris ini adalah janganlah mudah menangis karena hal-hal kecil yang tidak penting, dan bahkan untuk hal-hal penting sekalipun belum tentu hal yang kita tangisi itu akan kita sukai saat sudah memilikinya.

Lebih banyak tersenyum dan tertawa akan membuat anak gadis menjadi terlihat lebih cantik dan menyenangkan, serta memberi perasaan nyaman dan bahagia yang jauh lebih baik daripada menangis.

Dongeng Anak luar negeri Si Ciwek

Si Ciwek

Suatu ketika ada seorang anak gadis kecil bernama Ciwek, karena dia mudah merajuk dan sering menangis.

Jika ia tidak bisa melakukan sesuatu dengan caranya sendiri, ia menangis; jika tidak bisa mendapatkan sesuatu yang ia inginkan, ia menangis.

Suatu hari ibunya berkata kepadanya bahwa lama-lama ia akan meleleh jika sering menangis.

"Kamu seperti anak laki-laki yang menangis meminta bulan," katanya, "dan jika bulan diberikan kepadanya, itu tidak akan membuatnya bahagia, karena bulan tidak akan bermanfaat bagi siapa pun jika berada di tempat yang tidak semestinya. "

Dan begitulah caramu; separuh hal yang membuatmu menangis tidak akan berguna jika pun kamu mendapatkannya."

Ciwek tidak mengindahkan kata-kata bijak ibunya, dan terus saja mudah menangis.

Suatu pagi ketika Ciwek menangis saat berjalan ke sekolah karena ia ingin di rumah saja, ia melihat seekor katak melompat di sampingnya.

"Mengapa kau mengikuti aku?" tanyanya, menatap si katak dari balik air matanya yang berderai.

"Karena kau akan segera membuat kolam di sekitarmu dengan air matamu," jawab katak, "dan aku selalu menginginkan kolam untukku sendiri."

"Aku tidak akan membuat kolam untukmu," kata Ciwek, "dan aku juga tidak mau kau mengikutiku."

Katak itu terus melompat di sampingnya. Ciwek berhenti menangis dan mulai berlari, tetapi katak itu melompat lebih cepat, dan Ciwek tidak bisa menjauh darinya, jadi ia mulai menangis lagi.

"Pergi, dasar katak hijau yang mengerikan!" ia berkata dengan ketus.

Akhirnya Ciwek merasa sangat lelah sehingga ia pun duduk di atas sebuah batu di pinggir jalan, menangis sepanjang waktu.

"Sekarang," jawab katak, "Aku akan segera mendapatkan kolamku."

Ciwek menangis lebih keras lagi dari sebelumnya sampai ia tidak bisa melihat. Air matanya jatuh begitu cepat, dan ia mendengar suara percikan. Ketika membuka matanya, ia melihat air di sekelilingnya.

Ciwek berada di sebuah pulau kecil di tengah kolam; katak itu melompat keluar dari kolam, membuat seringai yang mengerikan saat dia duduk di sampingnya.

"Semoga kau puas," kata Ciwek. "Kau telah mendapatkan kolammu; mengapa kau tidak tinggal di dalamnya?"

"Sayang!" jawab katak, "Rupanya aku mengharapkan sesuatu yang tak dapat aku gunakan setelah aku memilikinya. Air matamu adalah garam dan kolam yang kumiliki ini begitu asin sehingga aku tidak dapat menikmatinya. Seandainya air matamu segar tentu aku adalah binatang yang paling beruntung. "

"Kau tidak perlu tinggal di situ jika tidak menyukainya," kata Ciwek, "dan kau juga tidak perlu mencari-cari kesalahan dengan air mataku," katanya, mulai menangis lagi.

"Berhenti berhenti!" seru katak, melompat-lompat sekuatnya; "Kau akan kebanjiran jika terus menangis."

Ciwek melihat air mulai naik di sekelilingnya, maka dia berhenti menangis sebentar. "Apa yang harus kulakukan?" ia bertanya. "Aku tidak bisa berenang, dan aku akan mati jika tetap di sini," dan kemudian ia mulai menangis lagi.

Katak itu melompat-lompat di depannya, melambaikan kaki depannya dan menyuruhnya untuk diam. "Jika kau mau berhenti menangis," katanya, "aku mungkin bisa membantumu, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa jika kau menutupi aku dengan air mata garammu."

Ciwek akhirnya mau mendengarkan kata-kata katak, dan berjanji tidak akan menangis lagi jika katak membawanya pergi dari pulau.

"Hanya ada satu cara yang aku tahu," kata katak; "kau harus tersenyum; itu akan mengeringkan kolam dan kita bisa keluar dari sini."

"Tapi aku tidak ingin tersenyum," kata Ciwek, dan matanya kembali berkaca-kaca.

"Lihat!" kata katak; "Kau pasti akan tenggelam di dalam air matamu sendiri jika menangis lagi."

Ciwek mulai tertawa. "Aneh bukan, tenggelam di dalam air mataku sendiri?" ia berkata.

"Benar, tetaplah tersenyum," kata katak; "kolamnya sudah lebih kecil." Dan dia berdiri dengan kaki belakangnya dan mulai menari kegirangan.

Ciwek tertawa lagi. "Oh, kamu lucu sekali!" ia berkata. "Seandainya aku bisa memotretmu. Aku belum pernah melihat katak menari sebelumnya."

"Kau punya alat tulis dan buku gambar di tasmu," kata katak. "Mengapa kau tidak menggambar diriku?" Katak itu mengambil sebatang tongkat dan menancapkannya di tanah. Kemudian ia bersandar pada tongkat itu dengan satu kaki depannya, dan menyilangkan kaki belakangnya, ia berdiri diam.

Ciwek pun menggambar si katak dalam posisi itu, dan kemudian si katak menendangkan kakinya seolah-olah dia sedang menari, dan Ciwek mencoba menggambar saat katak dalam seperti itu, namun tak begitu mirip.

"Apakah kau suka gambarku ini?" ia bertanya kepada katak sambi memegang hasil lukisannya. Si katak tampak begitu terkejut hingga Ciwek tertawa lagi. "Kau tidak mengira kamu tampan, kan?" ikatanya.

"Aku tidak pernah berpikir kalau aku terlihat seburuk gambarmu itu," jawab katak. "Biar aku mencoba menggambar dirimu," katanya.

"Sekarang, perlihatkan wajahmua yang menyenangkan," katanya, saat katak duduk di depan Ciwek, "dan tersenyum."

Ciwek melakukan apa yang diminta, dan dalam beberapa menit katak pun memperlihatkan hasil karyanya. "Dimana hidungku?" tanya Ciwek tertawa.

"Oh, aku lupa hidungnya!" kata katak. "Tapi bukankah menurutmu matamu bagus dan besar, dan mulutmu juga bagus?"

"Pastinya besar dalam gambar ini," kata Ciwek. "Aku harap aku tidak terlihat seperti itu."

"Menurutku tidak satupun dari kita adalah seniman," jawab katak.

Ciwek melihat sekelilingnya. "Loh, di mana kolamnya?" ia bertanya. "Kolamnya hilang!"

"Kolam itu mengering jika kau tersenyum," kata katak, "dan kita berdua telah mendapat sebuah pelajaran berharga. Aku tidak akan pernah lagi menginginkan kolam sendiri. Aku bisa kesepian tanpa temanku, dan mungkin akan jadi asin, seperti kolam ini tadi. Dan kau tentunya tidak akan pernah menangis lagi karena hal-hal kecil, karena kau telah melihat hal buruk apa yang bisa terjadi pada dirimu, dan kau terlihat jauh lebih cantik saat tersenyum."

"Mungkin kau benar," kata Ciwek, "hanya saja gambarmu membuatku aku tak begitu yakin. Namun, aku merasa jauh lebih bahagia saat tersenyum, dan aku tidak ingin berada di pulau lagi, meskipun dengan teman yang menyenangkan seperti dirimu."

"Kalau bgitu, hati-hati dengan air matamu," kata katak sambil melompat menjauh.
: Pejalan musiman. Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print! Follow aroengBinang! Balik ke atas ↑