Dongeng Roro Jonggrang dan Candi Sewu

December 19, 2019. Label:
Pada jaman dahulu kala, di Pulau Jawa ada sebuah tanah perdikan bernama Pengging yang dikepalai oleh seorang sakti bernama Ki Gede Damarmaya. Puteranya yang bernama Bandung adalah pemuda yang juga sangat sakti, dan ketika berhasil mengalahkan seorang gembong perampok bernama Bondowoso, ia lalu dikenal sebagai Bandung Bondowoso.

Tidak terlalu jauh dari Pengging, di puncak sebuah perbukitan terdapat Keraton Baka yang kerajaannya diperintah oleh Prabu Baka dan seorang patih bernama Gupala. Prabu Baka adalah seorang raksasa, namun memiliki putri berparas sangat cantik bernama Roro Jonggrang atau Rara Jonggrang.

Merasa iri dengan kesuburan tanah daerah Pengging, Prabu Baka bersama patih dan pasukannya menyerbu Pengging untuk menguasainya. Namun pasukan Pengging yang perkasa tidak bisa dikalahkan oleh para prajurit raksasa dari Kerajaan Baka itu, dan bahkan Prabu Baka tewas di tangan Bandung Bondowoso.

Melihat junjungannya mati, Patih Gupala segera melarikan diri dari medan pertempuran dan membawa kabar kematian Prabu Baka kepada Rara Jongrang yang membuat sang putri merasa sangat bersedih.

Bandung Bondowoso dengan diiringi pasukannya akhirnya menduduki Keraton Baka. Saat itulah ia bertemu dengan Rara Jonggrang, dan langsung jatuh hati. Bandung Bondowoso pun bermaksud memboyong sang putri untuk dijadikan isterinya.

Merasa tak bisa menolak permintaan dari orang yang telah membunuh ayahnya itu, Roro Jonggrang menyatakan bersedia diperistri asalkan Bandung Bondowoso bisa memenuhi dua syarat, yang sangat mustahil akan bisa dipenuhi oleh pemuda itu.

Yang pertama adalah membuat sumur raksasa di atas bukit dengan kedalaman 55 depa (sekitar 100 meter). Selanjutnya dalam semalam harus bisa membuat seribu buah candi. Jika fajar menyingsing dan candi belum selesai dibuat, maka Bandung Bondowoso gagal untuk memperisteri sang puteri.

Dengan kesaktiannya, dalam sekejap sumur berukuran raksasa dan sangat dalam itu selesai dibuat oleh Bandung Bondowoso. Sumur itu kemudian dikenal sebagai Sumur Jalatunda. Meskipun Patih Gupala berusaha mencelakai Bandung Bondowoso ketika ia berada di Sumur Jalatunda, namun sang pemuda mampu menggagalkan upaya sang patih.

Untuk membuat seribu candi dalam semalam, Bandung Bondowoso meminta bantuan jin dan lelembut yang hanya bisa bekerja di kegelapan malam, karena sinar matahari bisa membuat badan mereka terbakar hangus.

Sepanjang malam, Bandung Bondowoso bekerja keras dengan dibantu oleh jin serta lelembut lainnya, dan berhasil membuat ratusan candi di Prambanan. Roro Jonggrang yang melihat begitu cepatnya candi itu berdiri menjadi sangat khawatir.

Sang puteri akhirnya meminta para abdi dalem dan dayang istana untuk secara beramai-ramai menumbuk lesung dengan alu. Ayam jantan yang mendengar suara lesung mengira bahwa hari sudah pagi, maka mereka pun berkokok bersahut-sahutan.

Suara kokok ayam jantan yang menandai munculnya fajar membuat kaget dan menimbulkan ketakutan kawanan jin dan lelembut yang saat itu masih sibuk bekerja. Tanpa pamit mereka kabur meninggalkan Bandung Bondowoso sendirian.

Setelah dihitung, dari 1000 candi yang harus dibuat ternyata masih kurang satu. Karena merasa dicurangi, Bandung Bondowoso menjadi sangat marah, dan dalam kemurkaaannya ia pun mengutuk Rara Jonggrang menjadi arca batu.

Candi yang dibuat oleh Bandung Bondowoso itu kemudian dikenal dengan nama Candi Sewu meskipun jumlahnya tidak sampai seribu, dan arca Roro Jonggrang disebut-sebut sebagai arca Durga Mahisasuramardini yang berada di Candi Prambanan.

Kisah ini mengajarkan agar jangan mudah memaksakan kehendak kepada orang lain dengan mengandalkan kekuatan, dan jangan pula berbuat curang meskipun dalam keadaan terdesak, oleh karena keduanya bisa berakibat sangat buruk.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑