Dongeng Gembala dan Harimau

December 19, 2019. Label:
Di sebuah dusun bernama Selomerto ada lapangan rumput luas yang berada di tepian kawasan hutan yang lebat. Hutan itu menjadi tempat tinggal rusa, kelinci, ayam, burung Hantu, gajah, banteng, monyet, ular, kelelawar, bangau, musang, serigala, dan ada pula harimau si raja hutan.

Penduduk desa jarang sekali pergi ke hutan, dan jika benar-benar perlu untuk mengambil kayu maka mereka akan masuk ke dalam hutan secara bersama-sama agar bisa saling menolong jika menemui bahaya.

Di desa itu hidup seorang anak gembala bernama Samidi yang setiap pagi menggiring puluhan ekor kambingnya ke lapangan rumput itu, dan menjelang senja ia menggiring pulang kambingnya dan memasukkan mereka ke kandang.

Sambil menunggui kambingnya, Samid sering duduk di bawah pohon yang rindang dan meniup seruling untuk menghibur diri.

Menjelang tengah hari biasanya ia membuka bekal makanan untuk mengisi perutnya yang telah lapar. Semilir angin yang membawa udara sejuk terkadang membuatnya tertidur setelah kekenyangan.

Pada suatu hari, karena merasa bosan, timbul rasa iseng Samidi. Sambil berpura-pura ketakutan, ia meletakkan kedua telapak tangan di mulutnya untuk membentuk corong dan berteriak sekeras-kerasnya, "Tolong...., tolooooong. Ada Harimau!!! Tolong...., tolooooong. Ada Harimau!!! Tolooooong ...."

Seorang penduduk bernama Paimin yang mendengar jeritan Samidi, segera memukul kentongan tanda bahaya untuk mengumpulkan seluruh penduduk desa, dan secara beramai-ramai mereka berlari menuju padang rumput sambil membawa segala macam senjata di tangan.

"Mana Harimaunya..., mana Harimaunya", tanya Paimin dengan nafas terengah-engah. Namun Samidi justru tertawa geli sambil berkata, "Tidak ada Harimau paman, aku tadi cuma bercanda. Maaf ya paman...". Meskipun marah karena telah tertipu, namun mereka masih memaafkan keisengan anak gembala itu.

Beberapa bulan kemudian, timbul lagi keisengan Samidi. Ia berteriak sekeras-kerasnya seperti sedang ketakutan, "Tolong pamaaaaan...., tolooooong ada Harimau!!! Tolong pamaaaan...., tolooooong ...."

Penduduk yang mengira bahwa kali ini benar-benar ada harimau, kembali berlarian menuju ke lapangan rumput di tepi hutan dimana si anak gembala berada. Namun yang mereka lihat hanyalah si anak nakal yang tertawa terpingkal-pingkal karena berhasil lagi menipu penduduk desa.

Sial, beberapa hari kemudian, dari tepi hutan benar-benar muncul seekor Harimau loreng yang sedang kelaparan dan berjalan menuju ke arah gerombolan kambing yang sedang merumput. Samidi sekarang benar-benar merasa ketakutan dan sambil gemetaran ia berteriak sekeras-kerasnya, "Tolong...., tolooooong ada Harimau!!! Tolong pamaaaan...., tolooooong ...., ada Harimau!!!! Tolooooong ...."

Namun apa mau dikata, kali ini tak ada satu pun penduduk pun yang datang menolong, oleh karena mereka telah kapok ditipu si anak gembala. Mereka mengira Samidi hendak menipu mereka lagi. Harimau itu pun menerkam seekor kambing dan membawanya ke dalam hutan.

Paimin yang heran karena Samidi belum juga pulang meskipun hari telah senja akhirnya pergi mencari anak itu. Si anak gembala ternyata sedang duduk menangis sesenggukan di bawah sebuah pohon, dan ketika melihat Paimin datang ia menangis semakin keras sambil berkata terpatah-patah, "Tadi... ada Harimau besar.... Seekor kambingku dibawa ke hutan. Mengapa paman tidak datang menolong? Huuu..... hu.... huu." tangisnya.

"Nak..." jawab Paimin dengan sabar, "kami semua mengira bahwa teriakanmu itu hanya bohong-bohongan, seperti yang kamu lakukan sebelumnya. Maafkan kami ya nak, namun semoga ini bisa menjadi pelajaran buatmu agar tidak pernah lagi menipu orang", begitu nasehat Paimin ke anak gembala itu.

Samidi menganggukkan kepala dengan lemah karena ia menyadari kesalahannya. Sejak saat itu si anak gembala berjanji untuk tidak akan pernah lagi berkata bohong, karena selain merugikan orang lain juga akan merugikan dirinya sendiri.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑