Jembatan Gantung Karanggayam Bantul Yogyakarta

Jembatan Gantung Karanggayam Bantul Yogyakarta sempat saya lihat dan datangi ketika dalam perjalanan menuju ke Situs Bawong. Sebabnya adalah Pak Agus (rental mobil) harus berhenti beberapa kali untuk menanyakan arah, dan salah satunya di warung yang terletak beberapa puluh meter dari jembatan gantung yang melayang di atas Kali Opak ini.

Ketika Pak Agus tengah bertanya kepada penjaga warung, saya berjalan mendekati Jembatan Gantung Karanggayam , lantaran teringat ramainya pembicaraan tentang jembatan-jembatan gantung yang roboh, dan para siswa sekolah berjibaku untuk melewatinya, serta kisah menarik tentang Kali Opak. Sungai itu memang menyimpan cerita bersejarah terkait perebutan kekuasaan di Jawa setelah berakhirnya riwayat Kerajaan Majapahit.

Jarak dari Makam Cepokosari, yang saya kunjungi sebelumnya, ke Dusun Karanggayam ini sekitar 4 km, arah ke timur. Setelah menyeberangi Kali Opak, belok kanan di perempatan, arah ke Selatan, lalu ke Barat sejajar dengan aliran Kali Opak.

jembatan gantung karanggayam bantul yogyakarta
Jembatan Gantung Karanggayam, itulah nama jembatan yang saya tulis waktu menerbitkan tulisannya pertama kali, karena letak jembatan itu berada di Dusun Karanggayam, sekitar 450 m dari Situs Batu Panah dan Petilasan Kuda Sembrani. Suara berisik terdengar setiap kali motor lewat di atasnya, dan bilah-bilah kayu pun bergoyang-goyang.

Jembatan ini menghubungkan Dusun Karanggayam dengan Dusun Karet, Pleret, Bantul, yang dipisahkan oleh Kali Opak yang kebar. Nama Kali Opak terkenal karena di sungai ini Sutawijaya konon pernah tapa ngeli (bertapa sambil menghanyutkan diri di aliran sungai). Di tepian Kali Opak pula terjadi perang tanding antara Sutawijaya melawan Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan.

jembatan gantung karanggayam bantul yogyakarta
Jika tiang-tiang besi dan kawat baja Jembatan Gantung Karanggayam Bantul Yogyakarta terlihat masih cukup kokoh waktu itu, maka bantalan Jembatan Karang Gayam ini kondisinya tampaknya tinggal sekitar 60%. Jika melihat citra satelit di Google Map, peran Jembatan Karanggayam ini tampaknya cukup penting sebagai penghubung dua desa padat penduduk yang dipisahkan oleh Kali Opak.

Warna air Kali Opak yang keruh terlihat di bawah sana, pertanda rusaknya lingkungan di bagian yang hulu sungai. Rusaknya lingkungan membuat Kali Opak sering banjir di puncak musim penghujan, membuat penyeberangan menjadi berbahaya bagi keselamatan. Perahu warga yang sederhana tampak di bawah sana, yang mungkin sebagai alternatif transportasi ketika jembatan tak bisa digunakan.

jembatan gantung karanggayam bantul yogyakarta
Kondisi Jembatan Gantung Karanggayam Bantul Yogyakarta ketika masih bisa dilalui dengan aman, namun kondisinya kian lama kian parah hingga tersiar kabar pada tahun 2017 bahwa pemerintan setempat akan merenovasi jembatan ini dengan biaya sekitar 10 miliar. Namun belum sempat rencana itu terlaksana, pada Novemver 2017 banjir Kali Opak paska Badai Cempaka telah menghanyutkan Jembatan Gantung Karanggayam dan sejumlah jembatan lainnya di sepanjang aliran sungai.

Adalah roman sejarah seperti kisah Api Di Bukit Menoreh karya SH Mintardja, dan buku-buku lainnya yang membuat nama Kali Opak menjadi tidak asing. Alkisah Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak, memiliki putera sulung bernama Pati Unus yang kemudian menggantikannya menjadi Raja Demak ke-2. Pati Unus dikenal sebagai Pangeran Sabrang Lor karena memimpin armada menyebrang Laut Jawa menuju Malaka untuk mengusir Portugis, namun ia gugur dalam pertempuran itu.

Sepeninggal Pati Unus, terjadi perebutan tahta antara Raden Trenggana, adik kandung Pati Unus yang lahir dari permaisuri, dan Raden Kikin yang lahir dari garwa ampeyan, putri Adipati Jipang. Dalam perseteruan itu, Raden Kikin dibunuh di tepi kali seusai sembahyang Jumat oleh Ki Surayata dengan menggunakan Keris Kiai Setan Kober. Ki Surayata adalah orang suruhan Raden Mukmin, putera sulung Raden Trenggana. Raden Kikin kemudian dikenal sebagai Pangeran Sekar Seda Lepen, karena meninggal di tepi kali.

Sultan Trenggana memerintah Demak tahun 1521 - 1546. Pada masanya muncul tokoh Jaka Tingkir, yang kemudian menikahi puteri Trenggana bernama Ratu Mas Cempaka, dan Sultan Trenggana lalu mengangkat Jaka Tingkir menjadi Adipati Pajang bergelar Adipati Hadiwijaya.

Sepeninggal Sultan Trenggana, Raden Mukmin menjadi Raja Demak dan memindahkan pusat kerajaan dari Bintoro ke perbukitan Prawoto, sehingga dikenal sebagai Sunan Prawoto. Namun belum lama memerintah, putera Pangeran Sekar Seda Lepen yang bernama Arya Penangsang, membalas dendam atas kematian ayahnya dengan mengutus orang bernama Rangkud ke Prawoto pada tahun 1549, dan berhasil membunuh Sunan Prawoto di kamar tidurnya. Selanjutnya terjadi perebutan kekuasaan antara Arya Penangsang dengan Adipati Hadiwijaya, yang mendapat dukungan dari Ratu Kalinyamat (adik Sunan Prawoto, yang suaminya juga dibunuh oleh Arya Penangsang) dan Arya Pangiri, putera Sunan Prawoto.

Namun karena Arya Penangsang dan Hadiwijaya sama-sama murid Sunan Kudus, Hadiwijaya segan memeranginya langsung, sehingga membuat sayembara untuk membunuh Arya Penangsang. Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi mengikuti sayembara itu. Dalam pertempuran Pajang melawan Jipang, Ki Gede Pemanahan menugaskan Sutawijaya, anaknya, untuk menghadapi Arya Penangsang. Sutawijaya pun dibekali oleh Adipati Hadiwijaya dengan tombak pusaka Kyai Plered yang sangat ampuh.

Singkat cerita, Arya Penangsang tewas saat kerisnya yang bernama Kyai Setan Kober ditarik dari wrangka olehnya dengan maksud menghabisi Sutawijaya, namun justru memotong ususnya sendiri yang terburai terkena tusukan tombak Kyai Plered Sutawijaya. Tewasnya Arya Penangsang konon karena menyeberang Kali Opak, pantangan yang seharusnya tidak dilakukannya sesuai pesan Sunan Kudus, yang mengakibatkan ilmu kebalnya luntur.

Adalah Ki Juru Martani, kakak ipar Ki Gede Pemanahan, yang mengatur taktik agar dalam pertempuran itu Sutawijaya naik kuda betina, sehingga kuda jantan Arya Penangsang yang bernama Gagak Rimang menjadi berahi, tidak terkendali, dan membawa Arya Penangsang menyeberangi Kali Opak. Sebagai penghargaan atas terbunuhnya Arya Penangsang, Adipati Hadiwijaya yang kemudian menjadi Sultan Pajang, menghadiahkan Pati kepada Ki Penjawi, dan Alas Mentaok kepada Ki Gede Pemanahan, dimana kemudian berdiri Kerajaan Mataram.

Jembatan Gantung Karanggayam Bantul Yogyakarta

Alamat : Dusun Karanggayam, Dusun Karet, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Lokasi GPS : -7.87921, 110.39779, Waze. Rujukan : Tempat Wisata di Bantul, Peta Wisata Bantul, Hotel di Yogyakarta.
Label : . Updated : May 08, 2018.
Author : .
Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Pejalan musiman yang senang tempat bersejarah dan panorama elok. Youtube.
Share   Tweet   WhatsApp   Telegram   Email   Print!