Pekalongan Mangrove Park

December 21, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Waktu sudah menunjukkan jam setengah enam sore ketika kami tiba di Pekalongan Mangrove Park atau Taman Mangrove Pekalongan, sebuah kawasan restorasi dan pengembangan hutan mangrove di wilayah pantai utara Pekalongan. Pekalongan Mangrove Park diresmikan Menteri Kehutanan RI pada 17 Desember 2013, dan berkembang menjadi kawasan wisata menarik.

Kesan saat tiba di Pekalongan Mangrove Park cukup baik. Terlihat petak air laut luas yang rapi, sebagian ditanami mangrove, sebagian kosong. Jalan di lokasi cukup baik dengan paving blok rapi, dan ada tempat parkir, baik untuk kendaraan roda empat maupun untuk sepeda motor. Yang terlihat belum tertata rapi adalah warung jajanan yang menyediakan minuman dan makanan ringan. Warung itu terlihat menempel di pinggir jalan dan nangkring di atas saluran air. Jika tidak segera diatur, dan disediakan tempat khusus yang tertata rapi buat mereka, maka menjadi potensi masalah jika semakin banyak warung berdiri di sana.

Ada tempat berteduh dan semacam lorong pandang di sisi sebelah kiri dan kanan bagian depan Pekalongan Mangrove Park yang kondisinya cukup baik. Jika saja ada bangku-bangku tempat duduk tentu akan lebih menyenangkan karena suasananya sangat mendukung untuk bersantai. Sejauh yang saya ingat, inilah pertama kalinya saya berkunjung ke tempat restorasi dan pengembangan mangrove yang dikerjakan secara besar dan terkelola baik. Di Jakarta sebenarnya ada, namun belum sempat ke sana.

pekalongan mangrove park

Gerbang masuk ke Pekalongan Mangrove Park yang cukup bagus, apalagi sudah ada sejumlah pohon pinus yang ikut memperindah pemandangan. Akan lebih bagus jika namannya memakai Bahasa Indonesia, dan Inggris menjadi bahasa kedua. Bahasa Inggris penting, namun janganlah dibiasakan mendahulukan bahasa asing ketimbang bahasa sendiri.

Di sebelah kanan adalah loket penjaga Pekalongan Mangrove Park yang hanya menarik bayaran parkir. Tidak ada petugas yang menanyakan apakah saya akan memotret agar bisa memalak bayaran tinggi, dan mudah-mudahan tidak akan pernah ada. Bukan cara elegan untuk memperoleh uang perawatan dan pemeliharaan dengan cara memalak pemotret.

Sebuah pemandangan elok kami nikmati dari lorong berpeneduh di dekat gerbang ke arah menara pandang di ujung sana, saat matahari mulai turun ke cakrawala. Gedung di sebelah kiri lorong adalah Pusat Restorasi Pembelajaran Mangrove Kota Pekalongan, dan di sebelah kanan adalah trek pejalan dengan sejumlah peneduh. Jenis Mangrove lainnya adalah Sia-sia putih (pejapi, nyapi) atau Avicennia marina (Forssk.) Vierh dari Keluarga Avicenniaceae yang juga merupakan komponen utama mangrove sejati.

Jenis Mangrove lainnya yang ada di sini adalah Rhizophora stylosa Griff dari Keluarga Rhizophoraceae, dengan nama lokal bakau, bako-kurap atau slindur. Di ujung kanan area Pekalongan Mangrove Park terlihat bangunan memanjang dengan cerobong asap di tengahnya, yang rupanya adalah fasilitas untuk melakukan pembakaran mayat atau krematorium.

Pemandangan elok jelang matahari terbenam bisa kami lihat dari atas perahu karet bermotor yang melaju di kawasan Pekalongan Mangrove Park dan berpapasan dengan perahu lainnya, setelah sebelumnya saya menerima tawaran untuk berkeliling. Harga tiket perorangnya cukup wajar, dan perahu tetap berangkat meskipun penumpangnya hanya tiga dari 10 tempat duduk yang tersedia.

Jelang senja dengan langit cerah merupakan waktu yang sangat tepat untuk berkeliling menyusuri lintasan yang sebagian darinya sepertinya memang dirancang untuk dilewati oleh perahu pelancong. Ada dua perahu karet yang tersedia di sana, dan sekali jalan hingga kembali lagi ke tempat semula memakan waktu sekitar 20 menit.

Saya sempat memotret pemandangan cukup menarik saat kami melaju melewati lorong pepohonan Mangrove yang berkelebatan di kiri kanan perahu karet. Lorong cukup panjang ini menuju ke bagian depan area Pekalongan Mangrove Park untuk kemudian berputar balik. Sama seperti di tempat lain, kami tak melihat ada satwa yang tinggal di sana.

Selain menikmati sensasi melewati lorong mangrove sempit rendah yang nyaris menyerupai lorong gua memanjang, hanya saja tidak terlalu gelap, yang tak kalah menarik adalah kesempatan melihat semburat cahaya matahari di permukaan air laut yang tenang. Kami melewati pula bekas reruntuhan bangunan yang telah terendam air laut.

Pangkalan perahu karet wisata ini berada di dekat bangunan Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove Kota Pekalongan yang dilengkapi ruang pertemuan, ruang pamer dan koleksi buku. Ada pula tempat pembibitan permanen dan semi permanen yang menjadi tempat praktek pembibitan dan penanaman Mangrove. Menara pandang juga tersedia di dekatnya.

Pekalongan Mangrove Park

Alamat : Kelurahan Bandengan dan Kelurahan Kandang Panjang, Kecamatan Pekalongan Utara, Pekalongan. Lokasi GPS : -6.858834, 109.676013, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Pekalongan Mangrove Park

Gerbang masuk ke Pekalongan Mangrove Park yang cukup bagus, apalagi sudah ada sejumlah pohon pinus yang ikut memperindah pemandangan. Akan lebih bagus jika namannya memakai Bahasa Indonesia, dan Inggris menjadi bahasa kedua. Bahasa Inggris penting, namun janganlah dibiasakan mendahulukan bahasa asing ketimbang bahasa sendiri.

pekalongan mangrove park

Pemandangan elok jelang matahari terbenam yang kami lihat dari atas perahu karet bermotor yang melaju di kawasan Pekalongan Mangrove Park, setelah sebelumnya saya menerima tawaran untuk berkeliling. Harga tiket perorangnya cukup wajar, dan perahu tetap berangkat meskipun penumpangnya hanya tiga dari 10 tempat duduk yang tersedia.

pekalongan mangrove park

Sejumlah gerumbul pepohonan yang berada di tepian genangan air laut luas, dengan permukiman penduduk di belakangnya. Banjir rob menjadi momok sejumlah desa di wilayah Utara Pekalongan, dan di wilayah pantai utara di banyak kota lainnya. Selain turunnya permukaan tanah, pemanasan global yang menyumbang pada mencairnya es, juga rusaknya lingkungan yang membuat jauh lebih sedikit air yang tertahan di tanah pada saat hujan, dan langsung mengalir ke laut sehingga permukaan air laut pun naik.

pekalongan mangrove park

Pemandangan pada genangan air laut dan pagar-pagar bambu yang dihubungkan dengan jala sebagai pemisah wilayah. Area ini berada di seberang area Pekalongan Mangrove Park. Area ini adalah daratan yang kemudian terendam oleh naiknya permukaan air laut dan lalu dijadikan sebagai tambak ikan atau udang.

pekalongan mangrove park

Warung sederhana yang menjual makanan ringan dan minuman di pinggir jalan di seberang gerbang masuk Pekalongan Mangrove Park, yang terkesan kurang rapi. Pembatasan dan penataan lokasi warung dan desainnya sejak dari awal, serta menerapkan dengan tegas standard kebersihan dan penanganan sampah akan mencegah tempat ini menjadi kumuh.

pekalongan mangrove park

Perahu karet pertama baru saja berangkat beberapa saat sebelumnya untuk menyusur kawasan pengembangan mangrove. Bisa jadi karena melihat perahu itulah kemudian saya tertarik untuk mecobanya pula. Di latar depan adalah deret tanaman Mangrove yang belum lama ditanam.

pekalongan mangrove park

Buih air terlihat mengekor di belakang perahu yang meluncur. Sistem keamanan perahu karet ini cukup baik. Masing-masing orang dilengkapi dengan jaket pelampung, dan ada pegangan berbentuk setengah bulat di kiri kanan tempat duduk. Perahu karet juga stabil karena ada dua bantalan udara berbentuk menyerupai buah pisang.

pekalongan mangrove park

Area penanaman pohon mangrove ini boleh dikatakan sangat luas, dan masih tersedia area cukup lebar yang belum lagi ditanami. Dalam 3-4 tahun mendatang pemandangan di tempat ini bisa sudah sangat berubah. Diantara jenis Mangrove yang bisa ditemui adalah Sia-sia atau api-api (Avicennia lanata Ridley) yang merupakan komponen utama mangrove sejati dari keluarga Avicenniaceae.

pekalongan mangrove park

Pemandangan dari lorong berpeneduh di dekat gerbang ke arah menara pandang di ujung sana, saat matahari mulai turun ke cakrawala. Gedung di sebelah kiri adalah Pusat Restorasi Pembelajaran Mangrove Kota Pekalongan, dan di sebelah kanan adalah trek pejalan dengan sejumlah peneduh. Jenis Mangrove lainnya adalah Sia-sia putih (pejapi, nyapi) atau Avicennia marina (Forssk.) Vierh dari Keluarga Avicenniaceae yang juga merupakan komponen utama mangrove sejati.

pekalongan mangrove park

Di ujung kanan area Pekalongan Mangrove Park terlihat bangunan memanjang dengan cerobong asap di tengahnya, yang rupanya adalah fasilitas untuk melakukan pembakaran mayat atau krematorium. Jenis Mangrove lainnya yang ada di sini adalah Rhizophora stylosa Griff dari Keluarga Rhizophoraceae, dengan nama lokal bakau, bako-kurap atau slindur.

pekalongan mangrove park

Pandangan lebih dekat ke bangunan krematorium dengan tulisan yang terlihat lebih jelas, serta rupanya ada dua cerobong asap dari semula yang saya kira hanya satu. Jika saja ada kegiatan di sana mungkin pengunjung akan bisa melihat asap yang mengepul keluar dari cerobong asap.

pekalongan mangrove park

Pandangan ke arah trek pengunjung Pekalongan Mangrove Park dengan sejumlah cungkup peneduh. Trek ini bisa menjadi alternatif tempat kunjung untuk menikmati suasana di tengah kawasan perairan, jika pengunjung tidak berminat untuk ikut tur keliling dengan naik perahu karet.

pekalongan mangrove park

Beberapa jenis tanaman Mangrove di area dekat gedung Pusat Restorasi Pembelajaran Mangrove Kota Pekalongan. Ada tanaman Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lam dari Keluarga Rhizophoraceae dengan nama lokal Lindur.

pekalongan mangrove park

Di tempat ini ada pula tanjang-merah, salak-salak, totongkek, tancang, tumu, dan tanjang. Ada Sonneratia alba (pedada). Ditancapkan di dekat tanaman adalah nama-nama jabatan pemkot Pekalongan yang menanam mangrove di tempat ini.

pekalongan mangrove park

Tengara nama Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove yang dikelola oleh Dinas Pertanian Peternakan dan Kehutanan Kota Pekalongan. Bangunannya dirancang cukup baik, namun sore itu saya tak masuk ke dalam gedung untuk melihat isinya karena sudah lewat jam kerja.

pekalongan mangrove park

Sepasang gelembung karet panjang menyerupai pisang yang kami tumpangi tengah membelah air. Meskipun air bukan kegemaran saya, namun melihat permukaan air yang tenang dan stabilnya perahu, serta adanya jaket pelampung, orang yang paling takut air pun akan merasa nyaman berada di atas perahu.

pekalongan mangrove park

Cungkup peneduh dan trek pejalan di sebelah kiri yang kami lewati saat berperahu. Sebelumnya kami sempat berbelak-belok beberapa kali di dalam lorong Mangrove, sebelum sampai pada area terbuka ini, dengan pandangan lurus ke arah matahari tenggelam.

pekalongan mangrove park

Bayang pohon Mangrove terlihat jelas pada permukaan air laut yang tenang, yang sesaat lagi akan kami terjang. Memandang buih air yang tercipta dari perahu karet memberi pemandangan dan hiburan tersendiri selama berkeliling di kawasan Mangrove ini.

pekalongan mangrove park

Selain buih air yang tercipta karena terobosan perahu karet di permukaan air laut yang tenang, bayang matahari yang semburat sinarnya memantul pada permukaan air juga menjadi pemandangan yang mempesona. Beruntung cuaca sangat mendukung pada saat kami berkunjung.

pekalongan mangrove park

Waktu pada saat kami berkeliling di kawasan restorasi Mangrove ini boleh dikatakan pas sekali, karena jika saja beberapa menit lebih cepat atau ebih lambat maka kami tidak akan bisa menikmati pemandangan elok seperti ini.

pekalongan mangrove park

Benda-benda kehitaman di sebelah kiri adalah beton-beton berbentuk bulat dengan diameter cukup besar, yang mungkin akan dijadikan trek pejalan yang dilengkapi dengan cungkup peneduh. Pengembangan kawasan ini tampaknya dilakukan dengan cukup baik. Dari sini kami berbelok ke kanan untuk masuk ke dalam lorong Mangrove.

pekalongan mangrove park

Sepenggal lorong Mangrove yang masih cukup lebar dan tinggi. Lorong ini tidak begitu panjang namun tetap membawa suasana tersendiri ketika kami melewatinya. Sayangnya saya tak menemui satupun satwa penghuni Mangrove di sana.

pekalongan mangrove park

Pada beberapa penggal lorong, tanaman Mangrove membentuk seperti lengkungan atau payung di atas perahu karet yang kami lewati. Saya sengaja mengambil foto ini dengan kecepatan rendah untuk memperlihatkan gerak laju perahu ke arah depan sana.

pekalongan mangrove park

Kami kembali ke area terbuka dengan bentang permukaan laut yang luas setelah sempat masuk ke dalam hutan Mangrove yang tak begitu besar. Perahu karet yang berangkat terlebih dahulu dari perahu kami tampak sudah pada arah yang berlawanan sehingga sebentar lagi kami akan berpapasan.

pekalongan mangrove park

Buih air yang diciptakan perahu karet itu tampaknya cukup melebar dan besar membuat saya sempat berpikir. Yang menyebabkan mungkin karena jumlah penumpangnya yang lebih banyak dari perahu kami, ada 7 orang di sana, serta mereka melaju dengan lebih cepat. Bayang pohon di sisi kiri tampak cantik.

pekalongan mangrove park

Rombongan pada perahu karet yang pertama itu telah semakin dekat dengan kami, namun sebenarnya jarak kedua perahu karet yang kami tumpangi lumayan jauh, sehingga gelombang yang ditimbulkan karena lewatnya perahu itu tidak begitu kami rasakan.

pekalongan mangrove park

Pandangan lanskap pada jejak buih yang panjang dari perahu karet yang berpapasan dengan kami, sementara di ujung sana matahari telah bersembunyi dibalik pepohonan bakau.

pekalongan mangrove park

Kami semakin mendekati gerumbul pepohonan yang menyembunyikan matahari dibalik rimbun daunnya. Tonggak-tonggak kayu tampak mencuat di latar depan. Harap maklum bahwa dahulunya tanah ini merupakan tanah kering daratan, yang kemudian terendam oleh air laut dan ditinggalkan oleh penduduk.

pekalongan mangrove park

Sesaat sebelum berbelok ke kiri kami sempat melihat lagi bulatan matahari yang indah di ujung sana. Kami baru saja melewati kira-kira separuh perjalanan, dan selanjutnya kami berbalik arah namun melewati lintasan yang berbeda dengan yang sudah dilewati.

pekalongan mangrove park

Jika sebelumnya menara pandang itu kami berada di sisi kiri kami ketika berangkat, sekarang menara itu berada di sisi kiri kami lagi namun di tempat yang berseberangan, dan kami mengarah ke bagian depan hanya saja dengan jalur berbeda.

pekalongan mangrove park

Pandangan lebih jelas pada cungkup-cungkup peneduh serta menara pandang yang cukup tinggi. Bangunan di sebelahnya adalah gedung Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove. Jauh di ujung sana adalah peneduh yang pertama kami lihat, yang berada di dekat gerbang.

pekalongan mangrove park

Di ujung sana adalah lorong hutan bakau yang cukup lebat, rapat dan pendek. Lorong ini menuju ke bagian depan area Pekalongan Mangrove Park. Panjangnya lorong ini bisa dilihat dari cungkup peneduh yang terlihat di sebelah kiri. Di ujung sana lah lorong ini berakhir.

pekalongan mangrove park

Kami sudah mulai masuk ke dalam lorong hutan bakau yang cukup rapat, pendek, dan panjang. Di lorong inilah saya merasakan sensasi keberadaan di dalam hutan bakau yang sebenarnya, sementara sebelumnya saya bisa menikmati panorama matahari tenggelam ketika meluncur di permukaan air laut yang sangat tenang.

pekalongan mangrove park

Pemandangan saat kami melaju melewati lorong pepohonan Mangrove yang berkelebatan di kiri kanan perahu karet. Sama seperti di tempat lain, kami tak melihat ada satwa yang tinggal di sana.

pekalongan mangrove park

Ujung lorong pepohonan Mangrove telah terlihat di ujung sana. Jika ke kiri akan menuju ke cungkup peneduh dekat ke gerbang, namun di ujung sana kami berbelok ke kanan.

pekalongan mangrove park

Calon hutan Mangrove yang berada di sisi kiri Pekalongan Mangrove Park yang kami lihat saat kami berbalik arah lagi. Setelah melaju ke depan sejau beberapa puluh meter, kami berbalik arah lagi, dan memutar ke kiri untuk masuk ke dalam lorong Mangrove yang baru saja kami lewati tadi.

pekalongan mangrove park

Bukti bahwa tempat ini dahulunya adalah daratan terlihat dengan sisa-sisa reruntuhan rumah yang belum lagi dibersihkan. Sebagian sisa rumah itu mungkin nantinya akan dijadikan monumen kenangan.

pekalongan mangrove park

Pemandangan yang kami lihat saat berbalik arah lagi untuk kembali ke dermaga dimana kami tadi berangkat. Dari lokasi ini kami akan berbelok sedikit ke kiri, lalu lurus, dan kemudian menyusuri jalur berkelok.

pekalongan mangrove park

Beton-beton pondasi bulat yang masih diikat dengan tiang-tiang bambu menunggu padat sebelum ditimpa dengan beton lain sebagai trek bagi pelancong. Barangkali setelah trek ini selesai, pengunjung baru ditarik bayaran. Saya hanya berpesan agar pengelola tidak tergoda untuk meminta pengunjung yang membawa kamera DSLR untuk membayar lebih. Itu akan menjadi promosi yang sangat buruk.

pekalongan mangrove park

Di sinilah dermaga atau pangkalan perahu karet, tempat kami naik ke dan turun dari perahu. Di sana pula kami membayar ongkos kepada tukang perahu. Ke depan ada baiknya dibuat peneduh dan tempat duduk di tempat ini untuk lebih membuat nyaman mereka yang menunggu giliran untuk berkeliling.

pekalongan mangrove park

pekalongan mangrove park

pekalongan mangrove park

pekalongan mangrove park

pekalongan mangrove park

pekalongan mangrove park

pekalongan mangrove park

pekalongan mangrove park

Info Pekalongan

Hotel di Pekalongan, Tempat Wisata di Pekalongan, Peta Wisata Pekalongan.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.