Makam Citrosoman Sendang Jepara

September 11, 2019. Label:
aroengbinang.com - Perjalanan ke Makam Citrosoman Sendang Jepara, makam kuno para bupati Jepara, boleh dikatakan tidak efisien. Makam ini mestinya dikunjungi ketika dalam perjalanan ke Jepara dari Demak atau Semarang, atau dalam perjalanan meninggalkan Jepara menuju Kudus atau Demak.

Sedangkan kami berangkat dari Jepara ke Sendang, Kalinyamatan, tempat Makam Citrosoman, sekitar 45 menit perjalanan, lalu balik lagi ke Jepara karena menginap di sana. Begitulah, pejalan mesti rajin melihat tempat tersisa yang dikunjungi, dan mengatur ulang rute agar hemat waktu. Begitu pun saya mesti tetap berterima kasih karena bisa berkunjung ke makam tua, dari mulai kubur Citrosoma I (Tjitrosomo I) yang menjadi Bupati Jepara pada periode 1708 - 1742 M, hingga kijing Citrosoma VII yang menjadi bupati Jepara periode 1855 - 1890. Makam Citrosoma I, isteri, dan keluarga dekatnya telah dibuatkan cungkup tersendiri yang tertutup.

Saya sempat mengambil foto secara lebih dekat pada jirat kubur RMAA Sosroningrat, Bupati Jepara 1881 - 1905, yang juga adalah ayah RA Kartini. Di sebelahnya adalah makam ibu kandung RA Kartini, yaitu Mas Ajeng Ngasirah. Kedua kubur itu ada di dalam teras cungkup makam Citrosoma I. Saya tak melihat ada kubur keluarga Sosroningrat lainnya di dekat kedua kubur ini.

makam citrosoman sendang jepara

Akses masuk ke kompleks Makam Citrosoman Sendang Jepara adalah melalui samping masjid ini. Masjid yang aslinya dibangun pada jaman pemerintahan Citrosoma III (1755 - 1778 M) itu kini diberi nama Masjid An Nur. Letaknya memang persis di samping kompleks makam. Hanya bentuknya sudah mengalami banyak perubahan dari aslinya, dan kini terlihat sangat biasa.

Jalan masuk ke dalam kompleks makam dari sisi depan terlihat lebih berbudaya dan membumi, karena di sana ada gerbang masuk berupa gapura paduraksa yang kondisinya masih sangat baik. Jika masuk dari gerbang itu pengunjung akan langsung menuju ke area cungkup rumah dimana jasad Adipati Citrosoma I dan keluarganya dimakamkan.

Arah kedatangan pengunjung kadang bisa menentukan pintu mana yang akan dimasuki, jika tempat seperti ini memiliki lebih dari satu pintu masuk. Meskipun kadang bukan pintu terdekat dari arah kedatangan yang dipilih, namun yang paling mudah untuk mendapatkan tempat parkir, atau jaraknya lebih dekat ke tempat utama yang dituju.

Terlihat deretan jirat kubur yang berada di dalam kompleks Makam Citrosoman Sendang Jepara. Tak begitu beraturan, namun cukup rapi dan bersih. Bentuk nisan dan besarnya ukuran makam bisa memberi indikasi tentang derajat para pemilik makam semasa mereka masih hidup. Namun ibu bumi menerima tubuh setiap mayit, tanpa membedakan pangkat yang disandangnya.

Di ujung adalah cungkup makam Adipati Citrosoma I. Sayangnya ketika ke sana pintunya digembok, dan tak ada juru kunci hingga kami pergi. Jaman ini hampir tak ada orang yang tak punya hp. Tukang las, tukang sayur, bahkan penjual tape kelilingpun punya hp. Lalu, apa susahnya membuat papan kecil dan menulis nomor telepon juru kunci di sana? Entahlah ...

Bisa dimengerti jika kuncen memiliki jam kerja tertentu, agar ia bisa melakukan pekerjaan lain untuk menambah penghasilan, sehingga tak hendak diganggu dengan meninggalkan nomor telepon. Hanya saja jika demikian adanya, maka baik ditunjuk kuncen kedua yang bisa mengisi waktu kosong yang ditinggalkan kuncen pertama agar peziarah bisa terlayani, apalagi jika mereka datang dari jauh.

Ada jirat kubur Adipati Citrosoma VII (Tjitrosomo VII), dengan nisan yang berbentuk seperti makuta gepeng. Nama lahirnya adalah Soedargo, dengan gelar ningrat raden mas sebelum menjadi adipati. Sang ayah, Adipati Citrosoma VI (semula bernama Ki Noto, memerintah Jepara pada periode 1810 - 1850 M, namun pada kijing tertulis 1800 - 1836.

Selain yang sudah disebutkan, menurut poster yang menempel pada dinding serambi cungkup makam Citrosoma I, disebut juga bahwa Citrosoma IV menjadi Bupati Jepara pada 1778 - 1784 M, Citrosoma V tahun 1784 - 1810, dan Citrosoma VI tahun 1810 - 1850. Tak disebutkan tentang tahun menjabat Adipati Citrosoma II dan Citrosoma VIII, serta dimana makamnya.

Tjitrosomo I (Ki Wuragil Djiwosoeto) adalah putra Reksodjiwo (Bupati Kedung Kiwo), atau cucu Judonegoro (Bupati Sedayu). Ki Wuragil menggantikan ayahnya menjadi Bupati Kedung Kiwo, dan oleh PB I, raja ke-3 Keraton Kartosuro, ia dianugerahi keris Kyai Bethok dan gelar Bupati Prangwadono, dengan tugas menumpas pengacau di pesisir utara Jawa yang didukung Kompeni.

Lantaran berhasil dalam tugas itu, PB I memberinya gelar Citrosoma dan mengangkatnya menjadi Bupati Jepara pada 1708, menggantikan Adipati Soedjonopoera. Citrosoma menikahi puteri Amangkurat I dan puteri Ki Soedjonopoera. Sesuai titah Paku Buwono, gelar Citrosoma hanya boleh digunakan sampai keturunan ke-9. Citrosoma IX menjabat Bupati Tuban tahun 1879 - 1892.

Makam Citrosoman Sendang Jepara

Alamat : Desa Sendang, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara. Lokasi GPS : -6.72824, 110.70919, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : kapan saja ada juru kunci. Harga tiket masuk : gratis.

Galeri Foto Makam Citrosoman Sendang Jepara

Deretan jirat kubur yang berada di dalam kompleks Makam Citrosoman Sendang Jepara. Tak begitu beraturan, namun cukup rapi dan bersih. Bentuk nisan dan besarnya ukuran makam bisa memberi indikasi tentang derajat para pemilik makam semasa mereka masih hidup. Namun ibu bumi menerima tubuh setiap mayit, tanpa membedakan pangkat yang disandangnya.

makam citrosoman sendang jepara

Deretan jirat kubur yang berada di dalam kompleks Makam Citrosoman Sendang Jepara. Tak begitu beraturan, namun cukup rapi dan bersih. Bentuk nisan dan besarnya ukuran makam bisa memberi indikasi tentang derajat para pemilik makam semasa mereka masih hidup. Namun ibu bumi menerima tubuh setiap mayit, tanpa membedakan pangkat yang disandangnya.

makam citrosoman sendang jepara

Jirat kubur Adipati Citrosoma VII (Tjitrosomo VII), dengan nisan yang berbentuk seperti makuta gepeng. Nama lahirnya adalah Soedargo, dengan gelar ningrat raden mas sebelum menjadi adipati. Sang ayah, Adipati Citrosoma VI (semula bernama Ki Noto, memerintah Jepara pada periode 1810 - 1850 M, namun pada kijing tertulis 1800 - 1836.

makam citrosoman sendang jepara

Jirat kubur Ki Adipati Citrosoma VI (Ki Notowidjojo), putra ke-8 dari RMAA Surodiningrat, yang berada di area terbuka bersama sejumlah makam tak bernama. Pada makam tertulis ia menjadi bupati Jepara tahun 1800 - 1836, namun tulisan pada dinding serambi cungkup makam menyebutkan tahun yang berbeda.

makam citrosoman sendang jepara

Jirat kubur Ki Adipati Citrosoma V yang semula bernama RT Mangkuwidjojo atau Djojosendiko. Ia yang menjadi bupati Jepara pada tahun 1784 - 1800 adalah putera ke-4 dari Ki Adipati Citrosoma III. Ada perbedaan tahun menjabat dengan tulisan pada poster di serambi cungkup, yang menyebut angka 1984 - 1810 sebagai masa jabatannya.

makam citrosoman sendang jepara

Deret makam dengan bentuk kijing dan nisan yang sama, di area terbuka kompleks Makam Citrosoman Sendang Jepara. Dari kiri ke kanan adalah Makam Citrosoma V, VI dan VII. Di latar depan adalah deretan makam tua yang tak bernama, atau namanya sudah terkikis oleh waktu, dan mungkin sudah dilupakan oleh keturunannya.

makam citrosoman sendang jepara

Jirat kubur Ki Adipati Citrosoma III, yang sebelumnya bergelar RT Kromowidjojo, dan menjadi Bupati Jepara pada periode 1745 - 1778. Beliau adalah putra Adipati Citrosoma I dan pendiri Masjid Sendang (Purwogondo). Nisan yang di bagian ujung sana tampak telah patah, mungkin tertimpa pohon tumbang.

makam citrosoman sendang jepara

Jirat kubur Ki Adipati Citrosoma (Tjitrosomo) IV, yang gelar sebelumnya RT Sumodiwiryo Purbodiwiryo. Ia menjabat Bupati Jepara pada 1778 - 1784. Beliau adalah putra Ki Adipati Citrosoma III. Pelafalan huruf yang berbunyi setengah a dan setengah o dalam bahasa Jawa, yang tak ada dalam huruf Latin yang kita adopsi, membuat penulisan Citrosoma dan Citrosomo bisa dilafalkan secara salah.

makam citrosoman sendang jepara

Catatan yang ditempelkan pada dinding cungkup makam Citrosoma I, yang menceritakan sekelumit riwayat Ki Wuragil Djiwosoeto, yang kemudian diberi gelar Adipati Citrosoma oleh Paku Buwono I (Pangeran Poeger) setelah berhasil menumpas kerusuhan yang melanda wilayah pesisir utara Pulau Jawa.

makam citrosoman sendang jepara

Prasasti pemugaran kompleks Makam Citrosoman Sendang Jepara yang diresmikan oleh Daoed Joesoef pada 10 Desember 1982 saat ia masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kompleks makam ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya, hanya sayangnya rancangan cungkup makam tak mencerminkan budaya dan seni ukir Jepara yang tinggi.

makam citrosoman sendang jepara

Tulisan lainnya yang dipasang pada dinding cungkup makam, yang dibuat oleh cicit Adipati Citrosoma VII. Tulisan ini melengkapi tulisan sebelumnya, dan yang menarik adalah penyebutan nama Pangeran Reksodjiwo, ayah Citrosoma I, sebagai arsitek Makam Raja-Raja Mataram Imogiri sehingga makamnya di Imogiri disejajarkan dengan makam Sunan Paku Buwono.

makam citrosoman sendang jepara

Pandangan dekat pada makam RMAA Sosroningrat, ayah RA Kartini, yang berada di serambi cungkup makam Adipati Citrosoma I. Di sebelah kanan belakang adalah makam Ngasirah, ibunda kandung RA Kartini, dan sebelah kiri belakang adalah makam dengan tengara nama sudah agak pudar dan nyaris tak terbaca

makam citrosoman sendang jepara

Poster yang mendokumentasikan pekerjaan pemugaran Cagar Budaya Kompleks Makam Citrosoman Sendang Jepara yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah pada tahun 2011. Di sebelah kiri adalah catatan riwayat Citrosoman, yang tahun jabatan bupatinya sebagian ada yang berbeda dengan yang tertera pada nisan kubur.

makam citrosoman sendang jepara

Dari sela kisi jendela cungkup makam yang terbuka saya bisa melihat jirat kubur dari Garwo Padmi (isteri utama) Ki Adipati Citrosoma I, yang adalah puteri dari Pangeran Sujonopuro, bupati Jepara yang tewas dalam peperangan melawan para perusuh dan yang kedudukannya digantikan oleh Adipati Citrosoma I.

makam citrosoman sendang jepara

Masih dari kisi jendela, dengan sudut pandang yang sangat terbatas, saya juga masih bisa melihat jirat kubur Garwo Padmi Ki Adipati Citrosoma I, yang adalah puteri dari Sunan Amangkurat I. Dengan demikian sang Adipati memiliki dua garwo padmi, hal yang tak lazim jika keduanya sama-sama hidup pada satu masa yang sama.

makam citrosoman sendang jepara

Masih dari sela kisi jendela terlihat bagian bawah jirat kubur Ki Adipati Citrosoma I, namun tengara namanya tertutup oleh kotak kayu. Nama mudanya adalah R. Wuragil, putera dari R. Garbo atau Pangeran Reksodjiwo. Ki Citrosoma mempunyai 14 putera, dan 33 puteri. Delapan diantaranya menjadi bupati di Blora, Gresik, Surabaya, Juwana, dan Magetan.

makam citrosoman sendang jepara

Sebuah jirat kubur yang dikelilingi pagar kisi besi dan tengara namanya sudah mulai kusam dan agak sulit dibaca. Ini adalah makam Habib Muhammad bin Abdurrahman Assegaf, yang disebut sebagai salah satu wali di Jawa, dan setiap tahun haulnya selalu diperingati. Beliau adalah pendamping spiritual dari Ki Adipati Citrosoma I semasa hidupnya.

makam citrosoman sendang jepara

Jirat kubur yang separuh berada di serambi dan separuh lagi di luarnya, yang tengara namanya nyaris tak terbaca itu ternyata adalah makam Ki Tumenggung Setjodirono. Beliau adalah Bupati Juwana, dan putera ke-16 dari Adipati Citrosoma I. Juwana sekarang menjadi bagian dari Pati, dan merupakan kota terbesar kedua di kabupaten itu setelah kota Pati.

makam citrosoman sendang jepara

Pemandangan ke arah gerbang masuk ke kompleks Makam Citrosoman Sendang Jepara dari arah depan yang berupa gapura paduraksa. Saya tak sempat berjalan ke dekat gapura untuk menengok keluar gerbang, namun di sana tampaknya adalah sebuah lapangan terbuka yang cukup luas.

makam citrosoman sendang jepara

Pandangan tegak dan lurus yang memperlihatkan seluruh bagian kepala jirat kubur Ki Adipati Tjitrosomo VII yang merupakan putera dari Bupati Jepara Ki Adipati Tjitrosomo VI. Letaknya yang berada di luar ruang menyebabkan kubur ini dan kubur lainnya menjadi mudah kotor dan lebih cepat rusak.

makam citrosoman sendang jepara

Bedug dan kentongan yang ada di bagian serambi Masjid Sendang (Masjid An Nur), yang jika melihat rupa kentongannya maka keduanya sudah berusia cukup tua. Di sebelah kanan bedug ada lagi kentongan lebih kecil, mungkin agar kentongan tua itu bisa lebih awet. Bagian depan masjid cukup teduh karena ada deretan pohon Glodogan Tiang yang cukup tinggi dan rimbun.

makam citrosoman sendang jepara

Sejenis pohon Glodokan Tiang (Polyalthia longifolia) yang ditanam di area halaman masjid di kompleks makam Citrosoman Sendang Jepara. Pohon ini bisa tumbuh dengan tanpa terpengaruh perubahan cuaca dan iklim, dengan ciri khasnya yaitu tumbuh tinggi tegak lurus mencapai 30 hingga 35 meter dan menjadi salah satu tanaman sumber antioksidan yang elok dipandang.

makam citrosoman sendang jepara

Info Jepara

Hotel di Jepara, Tempat Wisata di Jepara, Peta Wisata Jepara.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengbinang ! Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.