Gereja Blenduk Semarang

December 29, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Mengisi waktu tersisa sebelum pulang ke Jakarta kami mampir di Gereja Blenduk Semarang, sebuah bangunan tua peninggalan dari jaman kolonial dengan kubah khas yang kemudian dijadikan sebagai nama julukannya. Blenduk, sering dilafalkan mblenduk, adalah ekspresi Jawa yang menggambarkan bentuk menonjol lengkung setengah bola yang besar. Jika tonjolan lengkungnya kecil maka disebut mlenthung, dan mlenthing kalau lebih kecil lagi.

Kami turun dari kendaraan di dekat taman yang berada di sisi timur gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dulu bernama Koepelkerk ini. Setidaknya ada tiga pohon besar rimbun di taman itu dan satu atau lebih pohon kecil serta tanaman hias lainnya. Bangunan gereja menghadap ke selatan, dengan menara kembar di sisi kiri kanannya, serta kubah besar berwarna tembaga di pusat bangunan yang nama resminya adalah GPIB Immanuel.

Di serambi sisi timur ada penjaga yang mempersilahkan kami masuk ke ruang utama gereja, dengan membayar tiket masuk. Pengurus Gereja Blenduk Semarang rupanya sudah lama menjadikan bangunan cagar budaya itu sebagai tujuan wisata umum. Tata tertib bagi pengunjung menempel pada dinding luar, bersebelahan dengan prasasti yang berbunyi "Kantor Madjelis Djemaat Geredja Protestan di Indonesia Bagian Barat, Djl. Let. Djen. Soeprapto No 32, Semarang".

gereja blenduk semarang
Menara kembar dan kubah khas Gereja Blenduk Semarang yang ditopang 32 balok baja, 8 besar dan 24 kecil. Bangunan warisan kolonial Belanda yang terbuat dari beton tebal dan kokoh semacam ini membuatnya bertahan jauh lebih lama ketimbang bangunan khas Jawa yang sebagian besar berbahan utama kayu. Mungkin karena itu ketika sebuah kerajaan runtuh maka bangunan keratonnya pun hilang tak berbekas, menyisakan umpak batu saja.

Pada masing-masing menara terdapat jam besar yang menempel pada tembok putihnya, dengan penunjuk angka Romawi dan jarum jam berwarna hitam. Diantara kedua menara berkibar Sang Saka Merah Putih. Jendela hawa tampak pada menara dan puncak kubah, serta jendela cahaya ada di bagian bawah kubah. Pada serambi depan terdapat empat pilar tinggi bergaya Romawi yang megah dengan tengara GPIB Immanuel serta lambang salib di puncak atapnya. Satu serambi lagi ada di sisi sebelah barat.

Saat itu seorang pengunjung yang kebetulan masuk beberapa saat sebelumnya tampak tengah memotret bagian atas ruang tengah Gereja Blenduk Semarang dengan deret kursi kayu beralas dan berpunggung rotan, langit-langit yang tinggi, jendela kaca patri yang indah, lampu gantung elok, dan mimbar kayu jati tinggi di ujung sana. Sementara temannya yang berhijab duduk menunggu di kursi. Mereka penggemar gedung tua bersejarah.

Gedung asli Gereja Blenduk dibangun orang Belanda pada 1753 dengan arsitektur Jawa namun dirombak total pada tahun 1787. Kubah dan menaranya baru dibuat saat renovasi tahun 1894-1985 yang dikerjakan oleh arsitek W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde. Prasasti renovasi itu dipasang pada dinding pilar sebelah kanan mimbar. Sedangkan prasasti pada pilar satunya lagi yang ditandatangani Pendeta Rufus Alexander Waney M.Th menyebutkan renovasi tahun 2002-2003. Spanduk tegak di kedua pilar berisi petikan ayat suci.

Organ pipa (orgel) Barok yang sudah tak berfungsi buatan dari tahun 1700-an masih terlihat menawan di ruang utama Gereja Blenduk Semarang, tertutup sebagian oleh lampu gantung yang juga elok. Ada tangga ulir yang dibuat Pletterij den Haag untuk menuju ke lantai dua. Namun sayangnya pengunjung tidak diperbolehkan naik ke atas.

Kursi terlihat berderet sangat rapi membuatnya sedap dipandang mata, bersih dan terawat. Sedangkan lantai gereja dilapisi ubin dengan ornamen dominan warna kuning dibalut warna hitam, dan coklat. Deret bangku di sisi kiri kanan mimbar, menghadap miring ke arah jemaat, tampaknya diperuntukkan bagi paduan suara gereja, dengan sebuah organ modern terlihat di bagian kiri ruangan.

Pandangan dekat pada ornamen organ pipa yang dibuat sangat indah, memperlihatkan seorang peri bersayap yang tengah duduk sambil memainkan harpa bersenar sembilan, sementara di latar belakang sana ada arca yang tengah memainkan terompet panjang. Ada masing-masing satu arca peniup terompet pada kedua ujung orgel.

Benda yang patut dilihat adalah kaca patri sangat indah pada jendela-jendela tinggi dengan bagian atas melengkung. Di puncak lengkung kaca patrinya berbentuk bintang ganda. Tepat di bawahnya ada dua kaca patri setengah lengkung berisi sisik biru muda dan putih. Di bawahnya lagi ada empat lingkar kaca patri dengan ornamen bintang ganda. Sisa kaca patri di bawahnya yang tinggi berisikan bentuk-bentuk geometris sarang lebah berwarna merah marun lemah dan segi empat kecil kekuningan.

Pada sebuah dinding di dalam ruangan utama gereja dipasang plakat hitam dengan tulisan warna keemasan berisi daftar para pendeta yang mengabdi di sana, seluruhnya ada 94 orang pada saat saya berkunjung. Lima yang pertama adalah Johannes Wilhelmus Swemmelaar (1753 – 1760), David Daniel van Vianen (1760 – 1762), Simon Gideon (1762 – 1766), dan Cornelius Coetzier (1766 – 1772).

Sedangkan tiga yang terakhir yang tercantum saat itu adalah Meyer Meindert Pontoh (1998 – 2004), Martha Nanlohy-Latupeirissa (2004 - 2009), dan Robert Williem Maarthin (2009 - ) yang mengabdi sampai 2012 namun saat itu belum ditulis. Dua pendeta yang juga belum ditulis adalah Parlindungan Lumban Gaol (2012 - 2015), dan Helen G.F. Luhulima-Hukom (2015 - sekarang). Sejak 1954 gereja ini telah mulai dilayani oleh pendeta-pendeta GPIB.

Setiap hari Minggu di gereja ini masih diselenggarakan kegiatan ibadah, pertama dimulai pada pukul 06.00, dan kedua dimulai pada pukul 09.00 yang juga melakukan ibadah pelayanan anak dan ibadah persekutuan teruna. Karena elok dan terpelihara, pada Februari 2009 Gereja Blenduk Semarang menerima penghargaan dari Ikatan Arsitek Indonesia cabang Jawa Tengah sebagai Tempat Ibadah Tua yang Terbaik Pemeliharannya.

Gereja Blenduk Semarang

Alamat : Jl. Letjend Suprapto No 32, Semarang. Telp 024-3554271. Lokasi GPS : -6.9683615, 110.4275724, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : 09.00 - 16.00. Minggu 13.00 - 16.00. Harga tiket masuk : Rp.10.000.

Galeri Foto Gereja Blenduk Semarang

Tata tertib bagi pengunjung menempel pada dinding luar, bersebelahan dengan prasasti yang berbunyi “Kantor Madjelis Djemaat Geredja Protestan di Indonesia Bagian Barat, Djl. Let. Djen. Soeprapto No 32, Semarang”.

gereja blenduk semarang

Seorang pengunjung yang kebetulan masuk beberapa saat sebelumnya tampak tengah memotret bagian atas ruang tengah Gereja Blenduk Semarang dengan deret kursi kayu beralas dan berpunggung rotan, langit-langit yang tinggi, jendela kaca patri yang indah, lampu gantung elok, dan mimbar kayu jati tinggi di ujung sana. Sementara temannya yang berhijab duduk menunggu di kursi. Mereka penggemar gedung tua bersejarah.

gereja blenduk semarang

gereja blenduk semarang

Organ pipa (orgel) Barok yang sudah tak berfungsi buatan dari tahun 1700-an masih terlihat menawan di ruang utama Gereja Blenduk Semarang, tertutup sebagian oleh lampu gantung yang juga elok. Ada tangga ulir yang dibuat Pletterij den Haag untuk menuju ke lantai dua. Namun sayangnya pengunjung tidak diperbolehkan naik ke atas.

gereja blenduk semarang

gereja blenduk semarang

Pandangan dekat pada ornamen organ pipa yang dibuat sangat indah, memperlihatkan seorang peri bersayap yang tengah duduk sambil memainkan harpa bersenar sembilan, sementara di latar belakang sana ada arca yang tengah memainkan terompet panjang. Ada masing-masing satu arca peniup terompet pada kedua ujung orgel.

gereja blenduk semarang

gereja blenduk semarang

Penampakan pada bagian dalam kubah Gereja Blenduk yang yang ditopang oleh 32 balok baja, 8 berukuran besar dan 24 lainnya berukuran kecil kecil. Lubang-lubang cahaya di bawah kubah tampak cukup mampu menerangi dalaman ruangan.

gereja blenduk semarang

gereja blenduk semarang

Prasasti yang menandai renovasi gedung Gereja Blenduk yang dilakukan pada tahun 1894-94. Baris paling bawah yang sebagian tertutupi kotoran adalah nama kedua arsiteknya. Predikanten adalah pendeta, Ouderlingen adalah sesepuh, dan Diakenen adalah Diaken, yaitu suatu peran di Gereja Kristen yang umumnya berhubungan dengan pelayanan dalam beberapa bidang menurut tradisi teologis dan kelompok keagamaan.

gereja blenduk semarang

Prasasti yang ditempel pada pilar depan altar ini ditandatangani Pendeta Rufus Alexander Waney M.Th yang menyebutkan renovasi yang dilakukan pada tahun 2002-2003.

gereja blenduk semarang

Kaca patri sangat indah pada jendela-jendela tinggi dengan bagian atas melengkung. Di puncak lengkung kaca patrinya berbentuk bintang ganda. Tepat di bawahnya ada dua kaca patri setengah lengkung berisi sisik biru muda dan putih. Di bawahnya lagi ada empat lingkar kaca patri dengan ornamen bintang ganda. Sisa kaca patri di bawahnya yang tinggi berisikan bentuk-bentuk geometris sarang lebah berwarna merah marun lemah dan segi empat kecil kekuningan.

gereja blenduk semarang

Pandangan dekat pada bagian bawah organ pipa, dengan hiasan yang sangat elok. Ada sepasang peri bersayap yang duduk bermain harpa di sana.

gereja blenduk semarang

Pandangan utuh pada orgel (orgel pipa) yang menjadi daya tarik utama pengunjung karena besarnya ukuran dan kehalusan ornamen serta keindahannya.

gereja blenduk semarang

Mimbar yang sepenuhnya terbuat dari kayu jati dengan anak tangga terbawah berada di bagian depan. Dua kelambu warna hijau di kiri kanannya tampaknya adalah pintu keluar masuknya pendeta.

gereja blenduk semarang

Lampu gantung antik yang elok dengan latar belakang dalaman kubah gereja, membentuk garis-garis konsentris yang ramai.

gereja blenduk semarang

gereja blenduk semarang

Tangga ulir dari besi dengan ornamen indah. Namun sayang ada tulisan dilarang naik, sehingga kami tak bisa melihat benda yang ada di lantai dua. Mungkin karena tangga besi itu sudah terlalu tua untuk ditapaki orang.

gereja blenduk semarang

Pandangan tegak pada arah yang sama dengan foto sebelumnya, memperlihatkan lampu gantung yang bersusun dua serta sepasang pilar dengan ornamen keemasan di bagian atasnya.

gereja blenduk semarang

Pandangan samping pada bagian depan deret kursi dengan balkon di ujung sana. Meski ada tangga namun entah mengapa saya melewatkannya dan tak naik ke atas balkon. Organ dan sistem suara tampak di pojok kanan ruangan.

gereja blenduk semarang

gereja blenduk semarang

Pandangan menyudut yang memperlihatkan deretan bangku, di depan jendela kaca patri elok, yang sepertinya digunakan untuk paduan suara gereja. Ornamen pada lantai bisa terlihat pada foto ini.

gereja blenduk semarang

Tempat anggur dan roti untuk ritual Perjamuan Kudus. Dalam ritual ini roti melambangkan tubuh Yesus yang disalibkan, sedangkan anggur melambangkan darah Yesus yang mengalir saat terpaku di kayu salib untuk menyucikan dosa-dosa manusia.

gereja blenduk semarang

Pandangan ke arah akses masuk dengan daun pintu kembar terbuat dari kayu jati. Di belakang deretan kursi rotan adalah bangku-bangku kayu panjang yang kelihatan sudah berumur tua.

gereja blenduk semarang

Pandangan samping pada orgel yang meskipun setidaknya telah berusia lebih dari 250 tahun namun masih terlihat sangat elok dan terawat, walau sudah tidak bisa dibunyikan lagi.

gereja blenduk semarang

Pandangan lebih dekat pada salah satu peri yang tengah duduk sambil meniup terompet panjang. Benda di sebelah kirinya berbentuk seperti piala dengan gumpalan di tengahnya yang mirip kuncup bunga berukuran besar.

gereja blenduk semarang

gereja blenduk semarang

Ornamen pada bagian tengah orgel yang meskipun masih elok namun di beberapa bagian telah terlihat mulai retak dan rusak, yang hanya akan terlihat dari jarak yang dekat. Maklum sudah berumur sangat tua.

gereja blenduk semarang

gereja blenduk semarang

Ornamen pada bagian atas pilar dengan lekuk dan lengkung simetris berwarna keemasan. Cornice berupa garis-garis datar bertingkat memperindah bagian atas dinding ruangan.

gereja blenduk semarang

Pandangan tegak pada arah ke mimbar, memperlihatkan bangku, kursi, prasasti di kiri dan kanan dinding pilar, lampu gantung, serta spanduk tegak berisi kutipan ayat suci.

gereja blenduk semarang

Salah satu dari menara kembar dilihat dari bagian belakang. Tak jelas kapan jendela-jendela di atas sana itu terakhir dibuka dan dipakai untuk melihat pemandangan sekitar yang mestinya menarik.

gereja blenduk semarang

Kubah blenduk, menara kembar dan serambi selatan yang di bagian depannya terdapat empat pilar besar tinggi megah bergaya Romawi (tak terlihat pada foto).

gereja blenduk semarang

Tengara nama GPIB Immanuel Semarang dengan jam-jam ibadah Minggu yang masih rutin diselenggarakan di sana.

gereja blenduk semarang

Sudut pandang bagian depan Gereja Blenduk Semarang dari barat mengarah ke timur, memperlihatkan tengara gereja yang berada di sisi menara. Pohon-pohon palm yang ditanam di sekeliling bangunan gereja memberi kesejukan bagi mata pengunjung.

gereja blenduk semarang

Salah satu pohon besar di taman sisi timur Gereja Blenduk yang sedang berbunga. Keberadaan taman sangat membantu memberi suasana teduh di wilayah kota lama Semarang yang dipadati dengan bangunan kuno itu.

gereja blenduk semarang

gereja blenduk semarang

gereja blenduk semarang

gereja blenduk semarang

gereja blenduk semarang

gereja blenduk semarang

gereja blenduk semarang

gereja blenduk semarang

Info Semarang

Hotel di Semarang, Tempat Wisata di Semarang, Peta Wisata Semarang.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.