Ekowisata Petungkriyono Pekalongan

Perjalanan ke kawasan Ekowisata Petungkriyono Pekalongan memakan waktu cukup lama, sekitar satu setengah jam lebih dari Kota Pekalongan dengan menempuh jarak sejauh 42-an km. Ekowisata Petungkriyono berada di ujung selatan Kabupaten Pekalongan, berbatas wilayah Kabupaten Batang, Banjarnegara dan Wonosobo.

Perjalanan menuju Ekowisata Petungkriyono Pekalongan cukup lancar, hanya tersendat di tempat keramaian. Dari Pekalongan kami menuju ke selatan melewati Jl HOS Cokroaminoto. Di daerah Warungasem kami belok kanan ke Jl Lapangan Remaja dan lanjut Jl Raya Wanayasa - Pekalongan.

Setelah melewati Pasar Doro jalanan mulai menanjak, dan akhirnya sampailah kami di jalan simpang dengan tanda "Selamat Datang Ekowisata Petungkriyono" pada mulut cabang jalan menurun di sebelah kanan. Petungkriyono merupakan wilayah kecamatan di Kabupaten Pekalongan yang berada di ketinggian 900 - 1.600 mdpl di lereng Gunung Rogojembangan.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Pepohonan tinggi besar rindang seperti ini terlihat di kiri kanan jalan dan menjadi pemandangan yang menonjol setelah memasuki kawasan Ekowisata Petungkriyono Pekalongan, dengan jalan relatif sempit, naik turun dan berkelok. Berada di dalam lingkungan hutan alam yang sangat luas ini memberi kesan tersendiri, terutama bagi orang kota.

Wilayah Petungkriyono luasnya mencapai 5.000 hektare lebih. Selain hutan alam, di sana ada sejumlah desa yang lokasinya berjauhan dengan lahan persawahan subur. Kami sempat melihat beberapa ekor lutung, kera berbulu hitam, di atas pepohonan tinggi sehingga cukup sulit untuk memotretnya, lantaran selalu bergerak dari dahan ke dahan.

Seekor anak monyet bermain sendirian di atas sebatang dahan pohon yang tinggi di kawasan Ekowisata Petungkriyono Pekalongan. Induknya tak terlihat, mungkin sedang mencari makanan di dekatnya. Induk monyet biasanya sangat protektif dan tidak akan meninggalkan anaknya sendirian terlalu jauh atau terlalu lama.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Hutan Lindung Petungkriyono merupakan hutan hujan tropis dan hutan primer alami dengan kekayaan flora dan fauna tinggi, terdiri dari hutan produksi terbatas berupa pohon pinus dan hutan alam sebagai hutan lindung hidrologis.

Dodi (rental mobil Bimasakti Pekalongan 0856 4004 5111) yang pernah ke sini, membawa kami ke rumah Tasuri di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, di wilayah Ekowisata Petungkriyono Pekalongan ini. Rumah Tasuri menjadi semacam pangkalan bagi LSM dan mereka yang ingin mengeksplorasi fauna dan flora di Hutan Sokokembang, Petungkriyono.

Sebuah poster besar tentang Owa Jawa dan kopi Sokokembang dipasang di rumah Tasuri. Tak ada orang ketika kami tiba di rumah ini, namun Dodi berhasil menghubungi Wawan (Arif Setiawan), pegiat LSM dari Kelompok Studi Pemerhati Primata Yogyakarta, sehingga kami menunggu di rumah Tasuri sampai Wawan dan Anto datang.

Wawan kemudian menyeduh kopi Sokokembang buat Dodi dan Wid, serta untuk saya Gula Aren jahe. Wawan bercerita tentang kegiatan kelompoknya dalam memberdayakan penduduk desa sekitar untuk menjaga Hutan Sokokembang yang menjadi habitat Owa Jawa langka itu, dengan membantu mereka mengembangkan, mengolah dan menjual bubuk dan biji kopi.

Sebagai bagian dari Ekowisata Petungkriyono Pekalongan, Wawan juga menjadi semacam fasilitator bagi peneliti atau peminat yang ingin berburu foto Owa Jawa (Hylobates moloch) dan satwa liar lainnya, seperti Lutung Budeng (Trachypithecus auratus), Rekrekan (Presbytis fredericae), Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Binturong, Luwak, Elang, dll.

Kopi bubuk dan kopi biji produk masyarakat Sokokembang Ekowisata Petungkriyono Pekalongan dibuat sebagai hasil kerjasama dengan LSM Wawan, perhutani, dan pemda Kabupaten Pekalongan. Jenis kopi yang dikembangkan adalah Kopi Robusta. Wawan juga membuat situsweb SwaraOwa dan Twitter @swaraOwa untuk mencatat kegiatan yang mereka lakukan.

Ekowisata Petungkriyono Pekalongan rupanya masih dalam proses menemukan bentuknya, meskipun telah dirintis mulai tahun 2005 dan diresmikan mulai 21 Januari 2006. Penambahan dan perawatan fasilitas, peningkatan standar pelayanan, dan promosi tampaknya masih merupakan tantangan, meskipun ada banyak sekali titik yang layak kunjung.

Setelah berbincang agak lama, kami kemudian diantar Anto ke desa sebelah yang lumayan jauh dimana terdapat salah seorang warganya mengelola paket rafting River Tubing dan River Treking sepanjang sekitar 2 km di Sungai Welo di kawasan Ekowisata Petungkriyono Pekalongan. Ban-ban besar dan jaket pelampung tampak bergeletakan di rumahnya.

Ekowisata Petungkriyono Pekalongan memiliki obyek yang tersebar di sejumlah tempat, seperti curug, serta benda peninggalan bersejarah menarik. Meskipun lokasinya cukup berjauhan, namun pemandangan alam yang luar biasa indah membuat obyek-obyek di Ekowisata Petungkriyono Pekalongan ini mesti dikunjungi. Liputannya ada di catatan berikutnya ...

Ekowisata Petungkriyono Pekalongan

Alamat : Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan.

Galeri Foto Ekowisata Petungkriyono Pekalongan

Sebuah poster besar tentang Owa Jawa dan kopi Sokokembang yang dipasang di rumah Tasuri. Tak ada orang ketika kami tiba di rumah ini, namun Dodi berhasil menghubungi Wawan (Arif Setiawan), pegiat LSM dari Kelompok Studi Pemerhati Primata Yogyakarta, sehingga kami menunggu di rumah Tasuri sampai Wawan dan Anto datang.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Di Hutan Lindung Sokokembang Petungkriyono seperti inilah hidup binatang langka Owa Jawa yang dilindungi Undang-undang. Owa Jawa atau Javan gibbon (Hylobates moloch) merupakan primata endemik Pulau Jawa yang populasi tinggal 4000-an saja.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Kopi bubuk dan kopi biji produk masyarakat Sokokembang Ekowisata Petungkriyono Pekalongan, bekerjasama dengan LSM Wawan, perhutani, dan pemda Kabupaten Pekalongan. Jenis kopi yang dikembangkan adalah Kopi Robusta.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Hutan alam dengan pepohonan besar tinggi dengan dahan yang banyak semacam ini menjadi surga bagi lutung dan monyet ekor panjang. Karena habitat yang masih terjaga dan makanan yang tampaknya masih memadai, lutung dan kera itu sama sekali tak mendekat ketika melihat orang lewat.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Di sebelah kiri adalah pohon besar dengan tumbuhan merambat yang memenuhi batang pohonnya yang besar dan tinggi. Di sebelahnya terdapat pohon besar lainnya dengan bentuk yang cantik. Jika di sebelah kiri adalah perbukitan, maka di sebalah kanan saya berdiri adalah jurang yang dalam.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Pohon tua berusia ratusan tahun dengan batang yang terlihat antik ini. Saya sering berdecak kagum ketika Dodi berkendara melewati lintasan di dalam kawasan hutan Petungkriyono yang sangat kaya dengan pohon-pohon besar semacam ini. Jangan sampai orang kota yang rakus menjarah pohon-pohon raksasa tua ini untuk menghiasi rumah mereka.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Sisi pandang lain pada pohon yang ditumbuhi tanaman rambat yang lebat serta pohon antik itu. Pepohonan ini ada di pinggiran jalan sewaktu kami dalam perjalana menuju ke rumah Kasuri di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Petungkriyono.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Perhatikan jalan yang menurun berkelok serta lembah di belakang pohon besar cantik di ujung sana. Jika saja ada investor yang memasang kereta gantung kabel melewati kawasan hutan di Petungkriyono ini tentulah akan memberi pemandangan yang sangat indah bagi pejalan.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Kemasan Gula Semut atau gula aren dengan rasa jahe yang dibuat oleh masyarakat di wilayah Petungkriyono. Dengan adanya usaha kopi dan gula ini membuat masyarakat setempat bisa ikut menjaga kelestarian hutan dan satwa yang ada di dalamnya.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Bagian poster yang memperlihatkan sejumlah dukungan yang diperoleh masyarakat Sokokembang, Petungkriyono yang dibantu juga oleh Kelompok Studi Pemerhati Primata Yogyakarta, perhutani dan juga pemerintah Kabupaten Pekalongan.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Seekor Lutung Budeng (Trachypithecus auratus) di Petungkriyono tampak tengah berada di sebuah cabang pohon yang tinggi, yang sayangnya mukanya tertutup oleh dahan.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Lutung lainnya tampak mendekati lutung pertama, dan meskipun sudah memakai focal length 200 mm namun tetap saja hasilnya belum memuaskan. Kesabaran dan ketersediaan waktu yang panjang sangat penting untuk berburu foto satwa liar, selain tentunya usaha keras dan keberuntungan.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Seekor anak monyet bermain sendirian di atas sebatang dahan pohon yang tinggi. Induknya mungkin sedang mencari makanan di dekatnya. Induk monyet biasanya tidak akan meninggalkan anaknya terlalu jauh atau terlalu lama.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Berkas sinar yang menyorot pepohonan ketika kami lewat di jalanan di dalam kawasan Ekowisata Petungkriyono Pekalongan. Jika saja di sepanjang jalan disediakan beberapa tempat pemberhentian dengan gazebo dan tempat duduk, tentu akan sangat menyenangkan pejalan untuk bisa menikmati suasana hutan sekitar.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Lutung-lutung ini sepertinya memang menghindari tatapan mata langsung dengan orang, sehingga keberadaannya di belakang batang pohon membuatnya betah duduk agak lama di sana. Lagipula pohonnya sangat tinggi untuk dijangkau manusia.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Buah-buahan dengan warna krem menyala yang entah bisa dimakan manusia entah tidak. Namun jika hewan seperti monyet atau codot memakan buah ini, boleh jadi enak pula untuk dimakan manusia. Ketersediaan buah dan dedaunan yang cukup sangat membantu bagi kelangsungan hidup satwa liar langka di hutan ini.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Suasana Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, yang sepi saat kami meninggalkan rumah Kasuri karena rumahnya kosong. Sebagian besar penduduk pergi ke sawah atau ladang, sedagkan anak-anak bermain entah kemana. Orang tua pun tak terlihat di sana. Beberapa saat kemudian kami balik lagi setelah Dodi bisa menghubungi Wawan.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Anto di kiri, dan Wawan sedang menyeduh kopi yang menjadi andalan pemasukan tambahan bagi penduduk Dusun Sokokembang dan sekitarnya, dan dengan itu mereka bisa ikut membantu menjaga kelestarian hutan dan kehidupan hewan langka Owa Jawa yang hidup di dalamnya.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Perlengkapan river tubing dan river treking yang ada di rumah pengelolanya. Jika musim kemarau maka kegiatan ini terpaksa dihentikan oleh karena debit air sungai yang kurang memadai.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Berbincang dengan Anto (Mei Ardhy Mujiato) yang menjadi community development specialist di grup-nya Wawan, dan pengelola river treking, dengan suguhan teh hangat. Grup mereka saling bekerjasama untuk mengembangkan Ekowisata Petungkriyono.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Poster River Treking dengan foto-foto saat kegiatan itu dilakukan di Sungai Welo sepanjang 2 km dengan waktu tempuh sekitar 2-3 jam. Disebut river treking karena di beberapa tempat peserta harus berjalan di darat sebelum mencebur kembali ke sungai.

ekowisata petungkriyono pekalongan

Poster untuk kegiatan yang sama dengan nama yang berbeda. Hujan besar dan kemarau adalah waktu-waktu dimana kegiatan ini tidak bisa dilakukan. Peserta harus datang dengan rombongan yang cukup untuk bisa menikmati kegiatan ini, atau membayar sejumlah minimal peserta, jika tetap ingin melakukannya.

ekowisata petungkriyono pekalongan

ekowisata petungkriyono pekalongan

ekowisata petungkriyono pekalongan

ekowisata petungkriyono pekalongan

ekowisata petungkriyono pekalongan

ekowisata petungkriyono pekalongan

ekowisata petungkriyono pekalongan

ekowisata petungkriyono pekalongan

ekowisata petungkriyono pekalongan

ekowisata petungkriyono pekalongan

Info Pekalongan

Hotel di Pekalongan, Tempat Wisata di Pekalongan, Peta Wisata Pekalongan.

: Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengbinang ! Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.