Candi Sukuh Karanganyar

September 29, 2019. Label:
aroengbinang.com - Jalan menuju Candi Sukuh Karanganyar yang berada di Desa Berjo, Karanganyar, kondisinya cukup baik meski tak begitu lebar, dengan sebuah kelokan sangat tajam sekitar 300 meter sebelum loket tiket masuk. Jalan di depan loket kemudian berkelok lagi ke kiri dan naik tajam, berakhir di area parkir candi yang lumayan luas.

Setelah turun di area parkir saya berjalan balik lagi ke loket tiket masuk yang berjarak 100 m, lantaran gerbang Candi Sukuh Karanganyar ada di seberangnya, sedangkan pintu keluar di seberang area parkir. Jadi kalau ada supir pejalan turun saja di depan loket. Banyak patung dan relief di Candi Sukuh yang secara terbuka memperlihatkan alat vital pria dan wanita, dan itu menjadi ciri khas candi ini. Alat vital adalah netral, hanya konsep dan adat kebiasaan masyarakat yang membedakan perlakuan terhadap organ penting yang menjadi sarana penjamin keberlangsungan kehidupan manusia dan hewan itu.

Inventarisasi di Candi Sukuh dilakukan Verboek pada 1889, dilanjutkan Knebel pada 1910. Usaha pelestarian candi ini telah dilakukan oleh dinas purbakala sejak tahun 1917. Meski Candi Sukuh Karanganyar dibuat tidak sehalus candi lain, mungkin dibuat tergesa-gesa karena dibangun di ujung masa Majapahit, namun daya tarik Candi Sukuh melebihi candi-candi lainnya, setidaknya dibanding semua candi yang pernah saya kunjungi sebelumnya.

candi sukuh karanganyar

Ada tiga teras di Candi Sukuh Karanganyar, dengan sebuah teras awal relatif sempit. Pada teras awal yang tingginya sekitar dua meter dari jalan ada undakan memasuki gerbang utama candi. Ada pula papan pajang berisi poster tentang sejarah candi dalam bahasa Indonesia dan Inggris, serta prasasti pemugaran bertanggal 10 Desember 1982.

Candi Sukuh Karanganyar yang berada di lereng Gunung Lawu ini ditemukan pada 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta saat itu, dalam keadaan runtuh. Pada 1842 van der Vlis membuat buku Prove Eener Beschrijten op Soekoeh en Tjeto. Lalu pada 1864 - 1867 Hoopermans menulis buku Hindoe Oudheiden van Java.

Candi Sukuh Karanganyar merupakan tempat suci bagi penganut Siwa Buddha Tantrayana. Dalam kepercayaan ini, lambang kelamin memiliki arti suci yang diwujudkan dalam penyatuan Siwa (Lingga) dan Durga (Yoni). Karena itu pada lantai gerbang utama terdapat relief pertemuan phallus (penis) dan vagina, yang saya lihat sebelum meninggalkan candi.

Kompleks Candi Sukuh Karanganyar dibuat menghadap ke arah barat, memunggungi gunung. Ketiga teras pada candi yang unik ini melambangkan tingkatan menuju kesempurnaan yang diwujudkan melalui ruwat. Ruwat merupakan salah satu sarana untuk menaikkan derajat seseorang ke tingkat yang lebih suci, yaitu hilangnya mala dari dalam diri, atau moksa.

Dunia paling bawah dilambangkan dengan relief Bima Suci, dunia tengah dilambangkan dengan relief Ramayana, Garudeya, dan kisah Sudhamala, sedangkan dunia atas dilambangkan dengan relief Swargarohanaparwa. Relief yang disebut terakhir menceritakan perjalanan keluarga Pandawa saat menuju surgaloka setelah berakhirnya perang Bharatayudha.

candi sukuh karanganyar

Gerbang utama Candi Sukuh Karanganyar berupa gapura paduraksa unik, dengan undakan sempit dan relief menarik di sekeliling dindingnya. Relief pertama merupakan Candra Sangkala raksasa menelan manusia, gapuro buto abang wong, yang dibaca 9, 5, 3, dan 1, dan dengan dibaca terbalik didapatkan angka tahun 1359 Saka atau 1437 M.

Berdasarkan angka itu, Candi Sukuh Karanganyar diperkirakan merupakan candi peninggalan Kerajaan Majapahit dari masa pemerintahan Ratu Suhita (1429 - 1446). Terdapat dua relief Kala pada sisi berlawanan di atas lorong gerbang. Relief Kala pada sisi depan sebagian mukanya rompal, sedangkan yang di gerbang belakang dalam kondisi baik.

Terdapat pula dua relief Garuda yang sangat menarik pada dua sisi berbeda di gerbang Candi Sukuh Karanganyar, karena bentuk sayapnya yang khas. Pahatan relief Garudeya di teras paling bawah itu, menjadi salah satu cara pengingat pada kehidupan di tingkat paling dasar yang biasanya tidak mudah, disebabkan melekatnya mala dalam diri manusia.

Di teras kedua Candi Sukuh Karanganyar ada relief Pande Besi. Teras ini bagian semi sakral, dimana orang disadarkan untuk menghilangkan kesulitan hidup dengan melakukan upacara penyucian dengan memakai air suci. Pada masyarakat Jawa Kuno, pande besi memiliki status khusus yang dianggap mempunyai kekuatan magis dan bisa memberi air suci.

Di sisi kiri teras ketiga terdapat relief binatang, relief Kidung Sudamala yang terdiri dari lima deret ukir batu, arca tanpa kepala bersayap garuda, arca-arca penjaga, arca kura-kura, lingga, dan banyak lagi relief dan arca lainnya yang sangat menarik. Patung batu kura-kura berukuran besar di depan candi utama merupakan simbol Awatara Visnu.

Di teras ketiga terdapat bangunan induk Candi Sukuh Karanganyar berbentuk piramid terpancung yang belum pernah saya lihat pada candi lainnya di Jawa. Ada banyak relief dan patung menarik di Candi Sukuh Karanganyar ini, dan hampir semuanya saya lampirkan. Begitupun masih ada relief yang terlewat dan tidak saya foto.

Pemandangan di bagian depan candi utama juga saya ambil fotonya. Pada sisi kiri terdapat relief cerita Garudeya, relief cerita Ramayana, relief cerita Sudamala, dan Relief Cerita Bima Suci. Di sebelah kiri kanan depan pada foto terlihat relief Garuda dengan sayap hampir bertemu dan kepala yang mengingatkan pada bentuk kepala arca yang ada pada kebudayaan Mesir kuno.

Di belakangnya terdapat relief oval yang dibentuk oleh ekor dua binatang, mengelilingi relief pria dan wanita yang berdiri di atas kepala dan ekor ular. Di bawahnya ada relief rumah dan wanita memegang anak dan relief dua orang, yang ditafsirkan sebagai manusia yang semula tinggal dalam rahim dan pemeliharaan ibu, kelak ketika dewasa akan mengalami tarik-menarik antara karma baik (Subakarma) dan karma buruk (Asubakarma).

Agak jauh di belakangnya terdapat obelisk dengan relief lima jenis manusia, lima pohon, dan relief burung, trisula serta bale. Juga ada relief kisah Garudeya, bermula dari pertaruhan dua istri Begawan Kasyapa, yaitu Kadru dan Winata, dalam menebak warna kuda Ucchaisrawa pembawa Tirta Amrta yang akan keluar dari lautan saat diaduk oleh para dewa dan raksasa. Begawan Kasyapa adalah putera Begawan Marici, cucu Dewa Brahma.

Winata menebak warna kuda seluruhnya putih, sedangkan Kadru menebak warna kuda putih hanya ekornya saja yang hitam. Warna ekor kuda itu mestinya putih, namun Kadru mengutus anak-anaknya yang berwujud naga untuk memercikkan bisa ke ekor kuda itu sehingga warnanya berubah menjadi hitam. Winata pun menjadi budak Kadru akibat kalah dalam taruhan.

Garuda, anak Winata, menemui para naga yang kemudian setuju untuk membebaskan ibunya asal diganti Tirta Amrta. Pada saat akan mengambil tirta amrta yang dijaga para dewa, Dewa Wisnu memberi ijin asal bersedia menjadi kendaraan dan sekaligus menjadi lambang panji-panjinya. Garuda setuju sehingga akhirnya kemudian ia menjadi kendaraan Dewa Wisnu.

Setelah menukarnya dengan Winata, Garuda berkata bahwa tirta amrta boleh diminum setelah para naga mandi. Namun saat mandi, tirta amrta dibawa kabur Dewa Indra. Para naga hanya bisa menjilati percikan tirta amrta pada daun ilalang yang tajam sehingga lidahnya terbelah. Kisah Garudeya terdapat dalam Adiparwa, buku pertama dari kisah Mahabharata.

Candi Sukuh Karanganyar

Alamat : Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasi GPS : -7.62733, 111.13145, Waze. Jam Buka : 07.00 - 17.00. Harga tiket masuk : Rp 3.000 untuk wisatawan lokal.

Galeri Foto Candi Sukuh Karanganyar

Pandangan pada teras ketiga dimana terdapat bangunan induk Candi Sukuh Karanganyar yang berbentuk piramid terpancung yang belum pernah saya lihat pada candi lainnya di Jawa. Ada banyak relief dan patung menarik di Candi Sukuh Karanganyar ini, dan hampir semuanya saya lampirkan. Begitupun masih ada relief yang terlewat dan tidak saya foto.

candi sukuh karanganyar

Pemandangan di bagian depan candi utama. Pada sisi kiri terdapat relief cerita Garudeya, relief cerita Ramayana, relief cerita Sudamala, dan Relief Cerita Bima Suci. Di sebelah kiri kanan depan pada foto terlihat relief Garuda dengan sayap hampir bertemu dan kepala yang mengingatkan pada bentuk kepala arca yang ada pada kebudayaan Mesir kuno.

candi sukuh karanganyar

Loket Candi Sukuh yang juga memasang jam buka yaitu dari jam 07.00 - 17.00. Pendopo di sebelah kirinya terlihat cukup besar dan lapang, namun kosong.

candi sukuh karanganyar

Prasasti pemugaran Candi Sukuh yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tanggal 10 Desember 1982.

candi sukuh karanganyar

Candi Sukuh berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 910 mdpl dan memiliki pemandangan indah ke arah lembah dimana desa dan kota terdekat berada.

candi sukuh karanganyar

Sebuah lubang menyerupai lumpang dan penutupnya ini berada di sekitar gerbang utama Candi Sukuh, mungkin dahulu digunakan sebagai tempat untuk meletakkan sesaji.

candi sukuh karanganyar

Candra Sangkala berupa raksasa menelan manusia, gapuro buto abang wong, yang dibaca 9, 5, 3, dan 1, dan jika dibalik membacanya maka didapatkan angka tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi. Berdasarkan angka itu, Candi Sukuh diperkirakan merupakan candi peninggalan Kerajaan Majapahit dari masa pemerintahan Ratu Suhita (1429 – 1446).

candi sukuh karanganyar

Salah satu relief pada dinding gapura utama yang tidak jelas benar apa bentuknya namun sepertinya seperti relief burung dengan kepala di bawah dan sayapnya mengembang.

candi sukuh karanganyar

Relief pada gapura utama Candi Sukuh, memperlihatkan orang pada posisi kaki berlari dan mulutnya menggigit ekor ular yang melingkar. K.C. Cruq memberi tafsir relief ini sebagai "gapura buta anahut buntut" atau gapura raksasa menggigit ekor ular, yang dibaca tahun 1359 Saka atau tahun 1437 M.

candi sukuh karanganyar

Relief ini masih ada di gerbang utama Candi Sukuh yang meskipun tak begitu jelas namun sepertinya menggambarkan seorang wanita dalam posisi telungkup dengan bokong terangkat.

candi sukuh karanganyar

Relief Kala yang sebagian wajahnya sudah rusak ini berada di bagian atas lorong depan gapura paduraksa Candi Sukuh. Kala dengan jenggot panjang menyerupai pertapa itu belum pernah saya lihat sebelumnya di candi lain.

candi sukuh karanganyar

Salah satu dari dua relief garuda pada dinding gapura utama Candi Sukuh dengan cakar mencengkeram naga. Relief Garudeya menceritakan kisah pembebasan Winata (ibu Garuda) oleh Garuda dari perbudakan Kadru dengan menggunakan tirta amrta.

candi sukuh karanganyar

Relief ini masih berada di dinding gapura utama Candi Sukuh, menggambarkan raksasa dengan kapak di tangsn, gigi menggigit kepala ular, posisi kaki terpentang memperlihatkan kemaluannya yang mengacung namun sudah rompal.

candi sukuh karanganyar

Relief Kala pada bagian atas lorong keluar gapura utama Candi Sukuh yang masih utuh, dan terlihat dibuat dengan lebih baik. Jenggot Kala ini juga dibuat pendek. Kala adalah penolak bala dan menjadi penjaga bangunan suci.

candi sukuh karanganyar

Relief pada dinding gapura utama Candi Sukuh yang menggambarkan raksasa dengan senjata kapak di tangan kanan, tangan kiri memegang burung, dalam posisi duduk dengan kaki terpentang menunjukkan kelaminnya yang sayangnya sudah rompal.

candi sukuh karanganyar

Relief Garudeya pada sisi lain gapura utama Candi Sukuh, dengan garis-garis sayap yang sebagian besar masih utuh, hanya saja bagian wajahnya juga sudah terpancung sebagaimana relief garuda sebelumnya.

candi sukuh karanganyar

Beberapa buah Yoni diletakkan pada sisi kiri teras pertama. Beberapa bentuk bulat pendek di bagian belakang mungkin adalah Lingga, meski tidak jelas benar.

candi sukuh karanganyar

Bangunan induk Candi Sukuh yang berbentuk unik trapesium dengan undakan tajam sempit yang hanya leluasa dilalui oleh satu orang, konon melambangkan sempitnya vagina wanita, dan dahulu digunakan sebagai uji keperawanan.

candi sukuh karanganyar

Gapura menuju ke teras kedua Candi Sukuh yang hanya menyisakan kedua pilar. Teras kedua merupakan bagian semi sakral, dimana para penganut disadarkan untuk menghilangkan kesulitan hidup dengan melakukan upacara penyucian dengan memakai tirta amrta atau air suci. Pada masyarakat Jawa Kuno, pande besi memiliki status khusus yang dianggap mempunyai kekuatan magis dan bisa memberi air suci.

candi sukuh karanganyar

Pandangan indah ke persawahan terasering dan rumah-rumah penduduk dari area Candi Sukuh. Letak candi yang berada di lereng Gunung Lawu memang memiliki panorama alam sekitar yang elok.

candi sukuh karanganyar

Liuk trek jalan yang membelah terasering perbukitan menjadi panorama yang menyejukkan selagi berkunjung ke Candi Sukuh.

candi sukuh karanganyar

Pandangan dari sudut yang memperlihatkan luas area pada teras pertama Candi Sukuh yang berujung pada gapura kedua, lanjut gapura ketiga, dan berakhir pada bangunan candi induk yang berbentuk trapesium.

candi sukuh karanganyar

Pandangan sudut pada teras pertama yang memperlihatkan bagian atas gapura utama Candi Sukuh yang cukup kaya dengan relief menarik dan memiliki makna masa dan kisah filosofis.

candi sukuh karanganyar

Dua orang pengunjung tampak tengah berjalan mendaki undakan tajam pada lorong sempit menuju ke puncak bangunan induk Candi Sukuh, dilihat dari undakan gapura ketiga. Dari atas pengunjung bisa melihat area sekeliling candi utama yang indah.

candi sukuh karanganyar

Undakan pada gapura ketiga Candi Sukuh yang juga tinggal kedua tiang, dan tak lengkap pula, mengarah pandangan pada undakan bangunan induk Candi Sukuh yang terdiri dari dua kelompok trap. Meskipun terlihat dekat, namun teras ketiga dimana terdapat candi induk itu memiliki halaman yang luas.

candi sukuh karanganyar

Seorang anak tampak tengah melongok undakan sempit dengan kemiringan tajam menuju puncak bangunan induk Candi Sukuh. Ada tiga kura-kura raksasa dengan punggung rata di depan candi induk, diduga sebagai tempat meletakkan sesajian. Keberadaan kura-kura juga dikaitkan dengan jelmaan Wisnu pada kisah pencarian Tirta Amrta.

candi sukuh karanganyar

Arca yang bertubuh manusia, bersayap rusak, dan kepala garudanya sudah hilang ini masih terlihat cukup elok dengan tulisan pada kain di pinggangnya. Arca kecil di sebelah kanannya juga sudah tidak memiliki kepala.

candi sukuh karanganyar

Arca Garuda di sebelah kanan arca Garuda sebelumnya itu bernasib sama, tanpa kepala, dan sayap kanan terpotong. Posisi kedua kakinya yang berjalu tajam itu menekuk, dan tidak ada tulisan pada kain di pinggangnya.

candi sukuh karanganyar

Sebuah arca raksasa tanpa badan memegang gada dengan kedua belah tangannya. Tak jelas apakah hanya arca penjaga atau ada hubungannya dengan Aruna, anak Winata yang menetas tak sempurna lantaran telurnya dipecahkan Winata sebelum waktunya. Aruna kemudian kusir Dewa Surya, berwujud sinar merah yang bersinar di ufuk timur pada pagi hari.

candi sukuh karanganyar

Sebuah lingga pada bidang datar di depan kiri candi induk, dan bentuk seperti Yoni pada puncak piramid kecil di sebelah kirinya. Di sisi bawah piramid itu ada relief lingkaran yang di dalamnya terdapat relief pendeta memegang senjata trisula di kedua tangannya.

candi sukuh karanganyar

Relief dua ekor badak pada ujung awal deretan batu yang berada di sisi kiri pelataran ketiga Candi Sukuh. Pasangan simetris batu di sebelah kanannya tak jelas bentuknya.

candi sukuh karanganyar

Arca Gajah yang ekor serta bagian depan wajahnya telah hilang, dengan butiran kalung melingkari lehernya. Posisi badan gajah mengingatkan pada kesiapan berhubungan badan dalam gaya anjing.

candi sukuh karanganyar

Relief binatang ini memiliki tanduk seperti kerbau, namun mulutnya menyerupai celeng. Pada punggungnya terdapat benda seperti pelana, dan di lehernya melingkar tali yang menjadi cantelan genta. Alat kelaminnya tegang memanjang di bawah badannya, sementara ekornya terangkat dan dua buah pelirnya menonjol di belakang kaki.

candi sukuh karanganyar

Relief seekor gajah tunggang dengan pelana pada punggung dan aksesori melingkar pada lehernya. Penisnya yang nyaris sebesar kaki mengacung tegak ke bawah.

candi sukuh karanganyar

Relief pertama Kidung Sudamala yang menggambarkan Sadewa dan punakawan, mungkin Semar, berjongkok menghadap Durga dan punakawan di belakangnya. Sadewa adalah kembaran Nakula, bungsu Pandawa. Sebelum perang Bharatayudha, Dewi Kunti ibu tiri Sadewa memohon pada Batari Durga untuk memusnahkan dua raksasa jelmaan Citraganda dan Citrasena bernama Kalantaka dan Kalanjaya. Durga menyanggupi namun meminta Sadewa sebagai tumbal, yang ditolak Kunti. Sekembalinya di Amarta, Kunti kerasukan Kalika, jin anak buah Durga, dan menyuruh Sadewa menjadi tumbal. Sadewa yang patuh menyanggupi permintaan ibunya. Sadewa menyerahkan diri kepada Durga yang meminta untuk meruwatnya menjadi putri cantik. Sadewa tidak bisa menyanggupi permintaan itu, yang membuat Durga marah.

candi sukuh karanganyar

Relief Kedua Sudamala dimana Durga telah berubah menjadi raseksi berwajah mengerikan lantaran murka dan mengancam dengan pedang akan membunuh Sadewa, di belakangnya ikut Kalantaka dan Kalañjaya jelmaan bidadara yang dikutuk karena tidak menghormati Dewa. Di belakang Sadewa terlihat Semar. Ada pula wujud hantu melayang-layang dan di puncak dahan pohon sebelah kanan ada dua ekor burung hantu. Beruntung Sang Hyang Narada datang menolong dan meruwat Batari Durga. Sadewa pun tidak dimangsa oleh Durga.

candi sukuh karanganyar

Relief ketiga Sudamala ini menggambarkan Sadewa bersama Semar berjongkok dihadapan pertapa buta bernama Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa di pertapaan Prangalas. Sadewa kemudian menyembuhkan Tambrapetra dari penyakit kebutaannya.

candi sukuh karanganyar

Relief keempat Sudamala ini menggambarkan suasana di sebuah taman di pertapaan Prangalas dimana Sadewa tengah bercengkerama dengan Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa serta seorang punakawan. Tambrapetra berterima kasih telah disembuhkan dari kebutaan dan memberikan putrinya kepada Sadewa untuk dijadikan istri.

candi sukuh karanganyar

Relief kelima Sudamala yang menggambarkan pertempuran antara Bima dan Kalantaka dan Kalañjaya dimana Bima mengangkat salah satu raksasa itu untuk dibunuh dengan kuku pañcanaka. Di sisi kiri atas terdapat tulisan dalam huruf Kawi "pedamel rikang buku tirta sunya" yang dibaca tahun 1361 Saka ata 1439 M.

candi sukuh karanganyar

Di sekeliling bangunan kecil di depan candi utama yang disebut candi perwara terdapat relief manusia berbagai bentuk. Di bagian depan terdapat lubang yang di dalamnya terdapat patung tanpa kepala dengan tangan kanan menekuk di atas dada.

candi sukuh karanganyar

Patung Garuda berbadan manusia yang masih dalam kondisi sangat baik, dengan sayap mengembang dan lima bulu ekornya mencuat ke atas. Wajah Garuda yang tirus terlihat khas, dengan anting bulat menggantung di telinga.

candi sukuh karanganyar

Arca Garuda lainnya namun dengan tubuh manusia dan wajah juga manusia namun buruk rupa, sedang memanggul Dewa Wisnu di pundaknya. Pengerjaan arca yang tidak halus ini membuat orang menduga bahwa pembuatnya bukan seorang ahli patung, atau dibuat dengan tergesa-gesa.

candi sukuh karanganyar

Relief yang menggambarkan seorang ksatria dengan gendewa di tangan kiri dan anak panah digenggam di tangan kanan, sementara di depannya ada orang berlari dengan membawa umbul-umbul bergambar ksatria.

candi sukuh karanganyar

Penampakan puncak di bagian depan bangunan induk Candi Sukuh yang tidak jelas benar bentuknya menggambarkan apa, meski ada semacama lilitan yang menyerupai badan seekor naga. Dilihat dari atas pun sulit mengenali rupanya.

candi sukuh karanganyar

Perbandingan antara kura-kura raksasa dengan dua orang yang akan lewat di depannya. Mata kura-kura seolah-olah sedang mengawasi kedua orang itu. Punggungnya yang datar diduga sebagai tempat untuk meletakkan sesaji atau bisa juga sebagai tempat duduk bagi para pendeta bersemedi.

candi sukuh karanganyar

Relief oval menyerupai tapal kuda yang dibentuk ekor dua binatang menyerupai ayam atau burung. Relief ini ditafsirkan sebagai perjalanan manusia yang semula berada dalam rahim dan diperlihara sang ibu, lalu kelak setelah dewasa akan mengalami tarik-menarik antara karma baik (Subakarma) dan karma buruk (Asubakarma).

candi sukuh karanganyar

Bagian dari relief Ramayana, mengisahkan penculikan Sinta oleh Rahwana yang kemudian bisa dibebaskan oleh Rama berkat bantuan Laksamana dan Anoman yang memimpin pasukan kera untuk menyerbu Alengka. Kesucian Sinta dibuktikan dengan berubahnya api menjadi teratai saat ia membakar diri hidup-hidup.

candi sukuh karanganyar

Meskipun arca kura-kura raksasa ini boleh dikatakan dibuat dengan kasar tanpa detail ukiran yang indah, namun tetap saja menarik untuk dilihat. Setidaknya kepalanya dibuat dengan cukup baik dan seolah-olah hidup.

candi sukuh karanganyar

Sebuah arca tanpa kepala dengan badan gempal, tangan kanan memegang semacam kain, dan tangan kiri menggenggam pangkal batang penisnya yang tegang tegak mengacung. Penis dan buah pelir arca ini dalam keadaan yang masih relatif utuh.

candi sukuh karanganyar

Arca penjaga yang agak kurus dan dikerjakan dengan kasar, dengan satu kaku menekuk pada lutut, tangan kanan memegang gada, dan tangan kiri memegang buah pelir, sementara penisnya tampak sudah rompal.

candi sukuh karanganyar

Sebuah relief yang dibuat dengan wajah tak begitu sempurna, mulut tanpa bibir membentuk sebuah lubang bundar, rambutnya putih keriting, tangan kiri menggenggam sebuah benda, dan tangan kanan menggenggam sangkakala. Kedua kakinya yang terpentang menonjolkan buah pelir dan penisnya yang tegak. Di sebelahnya, tak terlihat pada foto, terdapat Candra Sengkala yang berangka tahun 1363 Saka.

candi sukuh karanganyar

Relief pada sisi lain candi perwara yang berada di depan candi induk. Tak jelas relief ini menceritakan kisah apa, namun relief di keempat sisi candi perwara ini tampaknya merupakan satu kesatuan cerita.

candi sukuh karanganyar

Seorang ibu berkerudung tersenyum saat berjalan bersama anaknya melintas di depan arca Garuda yang masih dalam kondisi sangat baik. Satu kaki Garuda berdiri di atas seekor gajah, sedang kaki kirinya tidak jelas berdiri di atas apa.

candi sukuh karanganyar

Punggung salah satu arca Garuda dengan inskripsi yang disebut prasasti Sukuh. Sedangkan punggung patung satunya lagi rata, tak berukir.

candi sukuh karanganyar

Pandangan dari samping ke arah bangunan induk Candi Sukuh yang memperlihatkan konstruksi bagian atas candi, serta bangunan simetris di depannya. Arca penjaga yang berdiri sendirian juga dibuat dengan bagian bawah terbuka.

candi sukuh karanganyar

Pandangan pada pelataran puncak Candi Sukuh, dengan tempat pedupaan di sekitar lubang yang mungkin sebelumnya menjadi tempat lingga. Lubang yang menganga adalah undakan menuju dan jalan turun dari pelataran puncak candi.

candi sukuh karanganyar

Lorong undakan bangunan induk Candi Sukuh yang terdiri dari dua kelompok trap. Akan sangat sulit berpapasan di lorong ini, kecuali anak kecil atau orang dengan badan sangat kurus. Tidak ada ornamen pada lorong ini.

candi sukuh karanganyar

Sisi kanan bangunan induk Candi Sukuh dilihat dari puncak pelataran candi memperlihatkan dua kelompok batuan yang kecil serta lapangan rumput subur.

candi sukuh karanganyar

Pandangan dari puncak pelataran candi induk ke arah sisi kiri, memperlihatkan teras kedua, serta jalan keluar menuju ke area parkir kendaraan.

candi sukuh karanganyar

Pandangan ke arah depan dari puncak pelataran bangunan induk Candi Sukuh, memperlihatkan bentuk uliran pada puncak candi, ketiga kura-kura, candi perwara, obelisk di sisi kanan, arca-arca di halaman, teras kedua, dan di ujung sana adalah gerbang utama candi.

candi sukuh karanganyar

Pandangan dari salah satu anak tangga di trap kedua undakan yang memberi pandangan jelas terhadap bagian depan candi utama sampai ke gerbang candi di teras pertama.

candi sukuh karanganyar

Tampak muka bangunan induk Candi Sukuh dengan candi perwara serta arca-arca dan relief lainnya yang berada di pelataran depan candi.

candi sukuh karanganyar

Pandangan dari sisi kiri ke arah bangunan induk Candi Sukuh, memperlihatkan dua struktur bangunan yang mungkin merupakan candi perwara namun tinggal fondasinya saja dan permukaannya telah ditumbuhi rumput.

candi sukuh karanganyar

Deretan batu dengan relief yang bercerita tentang kisah Sudamala yang telah diceritakan pada foto-foto sebelumnya, terletak di sisi kiri teras ketiga. Relief-relief binatang berada di ujung sebelah sana.

candi sukuh karanganyar

Pandangan yang memperlihatkan teras kedua Candi Sukuh dengan gerbangnya yang hanya tinggal kedua tiang batu, serta area pada teras pertama dengan gapura utama candi yang masih utuh.

candi sukuh karanganyar

Prasasti Sukuh yang berada di punggung arca Garuda ini berukuran 75x56 cm, ditulis memakai aksara kuadrat Jawa Kuno bercorak khusus, berbahasa Jawa Pertengahan. Pembacaan prasasti oleh Muusses pada 1923: lawase rajeg wesi | duk pinerkp kapeteg dene wongmedang | ki hempu rama karubuh alabuh geni harebut bumi | kacaritane babajang mara | mari setra hanang tang bango. Sedangkan oleh Darmosoetopo dibaca: (1) lawase rajeg wesi du (2) k pinekp kapeteg de (3) ne wong medang ki hempu ra (4) ma karubuh alabuh geni ha (5) kbut bumi kacaritane (6) babajang mara mari setra (7) hanang tang bango (8) 1363. Yang dialihbahasakan: "Lamanya Rajegwesi ketika diserang (dan) ditekan oleh orang Medang. Ki Hempu Rama terkalahkan (dan) menerjukan diri ke api. (Orang) saling berebutan tanah. Ceritanya babajang datang di tempat pengruwatan ada bango 1363."

candi sukuh karanganyar

Tampak muka bangunan induk Candi Sukuh ditarik lagi agak ke belakang memperlihatkan pelataran candi yang luas.

candi sukuh karanganyar

Relief bertemunya penis dan vagina yang berada di dalam gerbang utama Candi Sukuh yang nyaris terlewatkan jika saja saya tidak berbincang dengan seorang penjaga candi. Tanpa perlu membuka gembok, pengunjung bisa melihat relief ini dengan sangat jelas dari balik pagar.

candi sukuh karanganyar

Pandangan ke arah bangunan induk Candi Sukuh dilihat dari belakang gerbang utama candi. Baiknya pengunjung rajin berkeliling melihat satu per satu patung serta relief, sehingga tidak bakal terlewatkan satu peninggalan menarik pun di Candi Sukuh yang unik ini.

candi sukuh karanganyar

Agak sulit mengira-ngira, arca apa sebenarnya ini, karena bentuknya yang tak khas, dan separuh mukanya sudah rusak. Namun saya kira ini adalah arca harimau, binatang buas yang masih banyak dijumpai ketika itu, meskipun ada punuk pada punggungnya.

candi sukuh karanganyar

Arca tanpa kepala yang ada di dalam relung candi, dengan relief pada dinding batu di bagian luarnya. Tebaran bebungaan terlihat pada lantai batu di bagian depannya. Candi Sukuh Karanganyar diperkirakan merupakan candi peninggalan Kerajaan Majapahit dari masa pemerintahan Ratu Suhita (1429 – 1446).

candi sukuh karanganyar

Info Karanganyar

Peta Wisata Karanganyar, Tempat Wisata di Karanganyar, Hotel di Tawangmangu.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengbinang !
Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.