Keramat Solear Tangerang

December 31, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Selepas kondangan di daerah Karawaci, Waze saya nyalakan untuk menuju ke lokasi Keramat Solear Tangerang yang berada di Dusun Solear, Desa Cikasungka, Kecamatan Cisoka, berjarak sekitar 16 km dari Kota Tigaraksa. Tempat ini berada dalam sebuah hutan lindung seluas sekira 4,5 ha yang dihuni oleh sekitar 500-an kera ekor panjang yang dilindungi.

Kami masuk Jalan Tol Tangerang - Merak dan berkendara menuju ke arah barat hingga akhirnya Waze menyuruh keluar di Gerbang Tol Balaraja Barat. Di pertigaan kami belok kiri ke Jl Raya Serang. Setelah mengikuti jalan selama beberapa saat, ketika jalan itu berbelok ke kanan, kami tetap lurus masuk ke Jl Raya Cisoka. Sesudah 7,8 km di Jl Cisoka kami belok kanan di perempatan jalan kecil, tepat di seberang Perumahan Taman Kirana Surya. Sekitar 1,6 km kemudian kami belok kiri, dan setelah menyeberangi jembatan mengambil jalan ke kiri sedikit dan lalu kanan ke Jl Keramat Solear. Lima ratus meter setelah jembatan tadi kami sampai di lokasi Keramat Solear Tangerang.

Di area parkir Keramat Solear ada beberapa lapak warung dan penjual cindera mata. Bangunannya terbuat dari bambu dengan atap terbuat dari asbes, plastik, dan ada juga rumbia. Tak ada satu pun lapak warung yang sedap dipandang mata, kebersihan pun tak terjaga. Di tempat parkir itu sejumlah penjual kacang memang sudah datang mengerumuni, namun saya baru membeli beberapa bungkus setelah masuk, termasuk ke seorang wanita berusia agak lanjut yang menguntit agak lama.

keramat solear tangerang
Monyet betina dan anaknya yang terlihat menggemaskan ini terlihat setelah beberapa puluh langkah kami menelusuri kawasan di dalam area hutan Keramat Solear Tangerang yang luas itu, melewati deretan warung sederhana lagi yang sebagian kosong tanpa penghuni.

Di tengah kawanan monyet kami membeli beberapa bungkus kacang lagi dari dua gadis muda yang lewat dan langsung habis tandas dalam beberapa kejapan mata saja. Ini mengingatkan saya pada Plangon, Cirebon. Tangan monyet yang efisien dan mulut yang mengunyah cepat dan mampu menampung banyak makanan membuat kacang cepat habis.

Ketika hampir sampai di ujung utara kami pun berbalik badan untuk kembali ke area luas di depan bangunan dimana terdapat makam. Selanjutnya kami melangkah menembus area ke bagian tengah hutan melewati jalan setapak yang di beberapa titiknya bertanah becek akibat hujan.

Di sejumlah tempat terdapat gerombolan monyet ekor panjang yang mengharap derma makanan, umumnya kacang, dari para pengunjung Keramat Solear Tangerang. Ada yang sudah menunggu di sekitar jalan berpaving blok sesaat setelah kami membayar parkir dan tiket masuk serta melewati gerbang sederhana.

Sebagian pepohonan di area bagian depan ini terbilang masih cukup muda, namun semakin ke dalam terlihat semakin banyak pohon tua. Kompleks ini dibatasi sungai di sisi barat yang melengkung sepanjang sekitar 330 meter dan jalan kecil di sisi timur sepanjang 267 meter, lebar terpendek 100 meter di sisi selatan dan lebar terpanjang di bagian tengah 200 meter.

Keramat Solear Tangerang sebenarnya cukup menarik, namun masih perlu banyak pembenahan rancang bangunan dan lanskap serta kebersihan. Kadang saya bertanya, kemana saja semua mahasiswa arsitektur dan arsitektur lanskap ber-KKN hingga tempat seperti ini tak tersentuh oleh mereka.

Di sebelah Pohon Kihara yang konon berusia 400 tahun dengan ketinggian 20 meter terdapat sebuah makam yang dibatasi oelh ram besi bercat hitam di bawah cungkup beratap seng tanpa dinding yang sangat sederhana. Sayangnya tak ada tengara nama penghuni kuburnya. Melangkah beberapa meter melewati makam itu kami bertemu cungkup yang belakangnya terdapat makam di bawah pohon sangat besar. Tak pula ada nama. Saat itu hanya ada seorang pria yang tengah mengecat cungkup.

Bangunan berdinding tembok dan beratap seng terlihat di sekitar ujung kiri area Keramat Solear Tangerang, yaitu di ujung dimana jalan berbelok ke arah kanan. Di sekitar bangunan ini ada beberapa pohon besar dan tinggi, menandai tempat itu sebagai makam keramat dan dijaga dua orang sepuh yang menunggui kotak sumbangan. Satu duduk di bawah Pohon Tularak, dan seorang lagi duduk di bawah Pohon Kilangir.

Mereka mempersilahkan saya masuk ke dalam area Makam Syekh Mas Masaad, yang ternyata bukan di dalam bangunan itu namun justru ada di belakangnya, di bawah sebuah pohon sangat besar, dikelilingi pagar segi empat dari logam tahan karat. Saat itu sejumlah peziarah, pria wanita dan anak-anak tampak tengah duduk membaca tahlil dan doa di Makam Syekh Mas Masaad, Keramat Solear Tangerang.

Menurut cerita yang berkembang dan dipercayai kalangan penduduk Dusun Solear, Syekh Mas Masaad adalah seorang panglima pasukan Kesultanan Banten yang ditugaskan untuk menyebarkan agama dan memperluas wilayah di daerah yang sekarang dikenal bernama Tigaraksa.

Di cikal bakal Tigaraksa itu Mas Masaad harus bertempur melawan Pangeran Jaya Perkasa atau Mas Laeng, patih Kerajaan Pajajaran yang dibantu oleh Ki Seteng. Namun pertempuran berlangsung seimbang sehingga ketiganya sepakat untuk berdamai. Kesepakatan ketiga tokoh itulah yang memberi nama Tigaraksa pada wilayah itu, yaitu tiga yang memelihara (perdamaian).

Setelah sejenak berada di tempat ini, atas petunjuk penjaga kami menelusuri jalan setapak di samping makam dan sampai di tepi sungai dimana terdapat makam Dewi Mayangsari di dalam sebuah kuncup kecil. Hanya saja tak ada keterangan siapa beliau ini, dan apa hubungannya dengan Syekh Mas Massaad.

Untuk ke Keramat Solear Tangerang, pengunjung bisa naik angkutan umum ke terminal Balaraja, dilanjutkan angkot jurusan Perumahan Taman Adiyasa, turun di Perumahan Taman Kirana Surya, dan lanjut ojek. Angkutan umum ke Balaraja dari Bekasi : Bus Aja, Rudi; Kali Deres : Bus Bulan Jaya, Komara, Rudi, dll; Kampung Rambutan : Bus Aja; Pulo Gadung : Bus Aja, Prima Jasa; Tanjung Priok : Bus Prima Jasa; dan Tomang : Omprengan.

Keramat Solear Tangerang

Alamat : Dusun Solear, Desa Cikasungka, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang. Lokasi GPS : -6.286022, 106.394144, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : sepanjang hari dan malam. Harga tiket masuk : parkir mobil Rp 10.000, motor Rp 5.000.

Video Keramat Solear



Galeri Foto Keramat Solear

Gerombolan monyet ekor panjang yang mengharap derma makanan, umumnya kacang, dari para pengunjung Keramat Solear Tangerang, sudah menunggu di sekitar jalan berpaving blok sesaat setelah kami membayar parkir dan tiket masuk serta melewati gerbang sederhana. Sebagian pepohonan di area bagian depan ini terbilang masih cukup muda, namun semakin ke dalam terlihat semakin banyak pohon tua.

keramat solear tangerang

Bangunan berdinding tembok dan beratap seng terlihat di sekitar ujung kiri area Keramat Solear Tangerang di ujung dimana jalan berbelok ke arah kanan. Di sekitar bangunan ini ada beberapa pohon besar dan tinggi, menandai tempat itu sebagai makam keramat dan dijaga dua orang sepuh yang menunggui kotak sumbangan. Satu duduk di bawah Pohon Tularak, dan seorang lagi duduk di bawah Pohon Kilangir.

keramat solear tangerang

Sejumlah peziarah, pria wanita dan anak-anak, tampak tengah duduk membaca tahlil dan doa di Makam Syekh Mas Masaad, Keramat Solear Tangerang. Di cikal bakal Tigaraksa itu Mas Masaad harus bertempur melawan Pangeran Jaya Perkasa atau Mas Laeng, patih Kerajaan Pajajaran yang dibantu oleh Ki Seteng. Namun pertempuran berlangsung seimbang sehingga ketiganya sepakat untuk berdamai. Kesepakatan ketiga tokoh itulah yang memberi nama Tigaraksa pada wilayah itu, yaitu tiga yang memelihara (perdamaian).

keramat solear tangerang

Seekor bos monyet ekor panjang tak kuat menahan kantuk dan menguap. Kabarnya di Keramat Solear ada dua kelompok monyet dengan bos berbeda.

keramat solear tangerang

Si bos pun tak kuat menahan kantuknya dan terlelap selama beberapa kejap. Namun telinganya yang tajam membuatnya cepat terbangun jika ada bunyi

keramat solear tangerang

Panjangnya ekor si monyet bisa dilihat pada foto ini. Kera dengan nama Latin Macaca fascicularis ini merupakan monyet asli Asia Tenggara namun sekarang tersebar di wilayah lain di Asia.

keramat solear tangerang

Jagoan monyet lainnya. Pertempuran satu lawan satu memperebutkan makanan dan pengaruh lazim terjadi di kalangan monyet ekor panjang ini.

keramat solear tangerang

Pemandangan di Makam Syekh Mas Masaad dengan pohon besar di latar belakang serta sejumlah pengunjung yang tengah membaca tahlil dan doa.

keramat solear tangerang

Makam Dewi Mayang Sari yang berada di dalam sebuah cungkup kecil di dekat sungai. Tak jelas benar siapa sosok wanita ini, namun melihat gelaran tikar dan karpet tampaknya ada juga yang datang membaca tahlil di sanai.

keramat solear tangerang

Sebagian pohon di sana diberi tanda bertulis nama, usia dan tingginya. Seperti Pohon Bayur ini yang disebut berusia 85 tahun dengan tinggi 15 meter.

keramat solear tangerang

Pandangan pada jalan yang sejajar sungai, meski berjarak agar jauh, yang menghubungkan sisi utara dan sisi selatan kawasan hutan Solear. Bisa dilihat di ujung sana gubug-gubug warung sangat sederhana yang terkesan kumuh. Jika saja bersih dan rapi tentu akan lebih sedap dipandang mata.

keramat solear tangerang

Si anak monyet yang wajahnya lucu namun memelas tampak memandangi dari jauh. Mungkin merasa aman dalam dekapan induknya, atau memang sudah biasa melihat orang, ia terlihat tenang saja dalam dekapan induknya.

keramat solear tangerang

Lengan seekor monyet tampak pitak bekas luka gigitan. Monyet memang tampaknya suka berkelahi memperubutkan makanan, betina, dan wilayah.

keramat solear tangerang

Pohon Kihara yang konon berusia 400 tahun dengan ketinggian 20 meter ini terdapat di sebelah makam ketiga yang dibatasi ram besi bercat hitam.

keramat solear tangerang

Di sebelah Pohon Kihara yang konon berusia 400 tahun dengan ketinggian 20 meter ini terdapat makam dibatasi ram besi bercat hitam di bawah cungkup beratap seng tanpa dinding yang sangat sederhana. Tak ada nama. Melangkah beberapa meter melewati makam itu kami bertemu cungkup yang belakangnya terdapat makam di bawah pohon sangat besar. Tak pula ada nama. Saat itu ada seorang pria yang tengah mengecat cungkup.

keramat solear tangerang

Makam yang ada di tengah hutan Solear, di belakang bangunan cungkup yang lebih kecil dari cungkup yang ada di bagian depan. Sayang tak ada informasi, selain mungkin adalah makam pengikut Syekh Mas Saad.

keramat solear tangerang

Serombongan peziarah yang membawa anak-anak mereka tampak tengah berjalan meninggalkan area Keramat Solear melewati kawanan monyet.

keramat solear tangerang

Anak-anak itu ketika mereka dewasa dan menikah pada gilirannya akan mengajak anak-anaknya lagi untuk berziarah ke makam seperti ini.

keramat solear tangerang

Bos kecil seperti ini biasanya maunya menang sendiri saat berebut makanan dan baru berhenti setelah kekenyangan dan mengantuk. Namun di Keramat Solear tak saya lihat ada monyet yang bisa minum dari teh botol seperti yang saya lihat di Plangon.

keramat solear tangerang

Beberapa orang ibu-ibu peziarah tampak tengah berada di dekat sebuah kios sederhana yang menjual jam tangan, aksesori, dan cindera mata lainnya.

keramat solear tangerang

Dua diantara warung sederhana lainnya yang mengapit gerbang selatan kawasan Keramat Solear. Dengan menarik karcis parkir Rp 10.000 mestinya bisa untuk membayar petugas kebersihan. Belum lagi sumbangan yang dikumpulkan dari peziarah di dekat makam. Persoalannya pertama-tama memang bukan ada tidaknya uang, namun kesadaran.

keramat solear tangerang

Dua orang pengunjung tampak berdiri di depan akses masuk ke tempat parkir yang hanya bisa dilewati sebuah mobil. Ada baiknya jika lubang masuk ini diperlebar dua kali lipatnya. Di sebelah kanan terlihat sawah dengan padi muda yang menghijau.

keramat solear tangerang

Serak sampah dan deret warung yang kurang sedap dipandang mata. Para pemilik lapak itu perlu dibantu dengan desain warung yang baik, bersih dan rapi. Meski dibuat dari bambu dan rumbia sekalipun jika dirancang dengan baik tentu akan jauh lebih elok dan berkelas.

keramat solear tangerang

Bertengger di atas dudukan batang bambu si induk merasa nyaman memeluk anaknya yang masih kecil, dengan bulu badan yang lebih gelap.

keramat solear tangerang

Berbaring di dekat si induk monyet dan anaknya ada monyet ekor panjang lainnya, yang mungkin masih ada hubungan dengan si induk monyet, setidaknya berasal dari satu gerombolan.

keramat solear tangerang

Pandangan lebih dekat pada anak monyet yang terlihat masih sangat ringkih dengan induknya yang menjaganya dengan ketat. Dengan minimnya pohon buah-buahan di hutan Solear, monyet-monyet itu sepertinya menggantungkan hidup dari derma pengunjung dan dari warga sekitar.

keramat solear tangerang

Info Tangerang

Hotel di Tangerang, Hotel di Tangerang Selatan, Tempat Wisata di Tangerang, Peta Wisata Tangerang.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.