Candi Tegowangi Kediri

Candi Tegowangi Kediri merupakan sebuah candi Hindu tua di wilayah Kabupaten Kediri yang kami kunjungi beberapa waktu lalu, sekitar 30 menit selepas meninggalkan Bendung Gerak Waru Turi di aliran Kali Brantas. Candi Tegowangi lokasinya berada di Dusun Candirejo, Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kediri, berjarak 28,8 km dari Alun-alun Kediri atau 16,6 km dari Simpang Lima Gumul.

Setelah kira-kira 1 kilometer dari Jl. Papar di wilayah Pare, kami masuk ke Jl. Balung Jeruk, dan lalu berbelok masuk ke sebuah jalan kecil sejauh 100 meter dan menjumpai papan nama Candi Tegowangi Kediri. Bangunan candi berada agak jauh di belakang papan nama itu, di tengah sebuah pertamanan yang ditumbuhi pepohonan di sekelilingnya.

Candi Tegowangi Kediri dipercayai merupakan tempat Pendharmaan Bhre Matahun, atau tempat suci yang digunakan sebagai penyimpanan abu jenazah setelah jasadnya selesai dingaben atau dibakar. Bhre Matahun adalah suami dari Bhre Lasem, yang melahirkan Nagarawardhani yang kemudian menikah dengan Bhre Wirabhumi, putra Hayam Wuruk. Nama Matahun belakangan juga digunakan oleh Patih Jipang Panolan semasa pemerintahan Arya Penangsang.

candi tegowangi kediri
Lintasan menuju Candi Tegowangi Kediri telah dibuat dengan rapi, ditanam tumbuhan perdu di kiri kanannya yang menyegarkan pandangan. Bangunan candi berada di tempat terbuka tanpa pelindung sebagaimana umumnya candi lainnya, dan satu-satunya tempat duduk adalah di rumah penjaga yang berada di mulut kompleks. Karenanya baik siapkan topi atau payung jika tidak suka dengan sengat matahari yang bisa membakar kulit.

Tengara nama candi dipasang di halaman pinggir jalan, yang saat itu sudah terlihat menua, serta di sisi sebelah kanan di area dekat dengan candi. Di halaman Candi Tegowangi Kediri yang cukup luas ini terdapat sejumlah arca, diantaranya adalah arca Parwati, dan Ardhanari. Dewi Parwati dianggap sebagai pasangan kedua dari Dewa Siwa, yang merupakan ibu dari Ganesha dan Kartikeya (Skanda). Dewi Parwati juga dihormati umat Hindu sebagai perwujudan dari Sakti atau Durga.

Undakan Candi Tegowangi saat itu masih berupa reruntuhan yang belum direstorasi secara sempurna. Saya kira sudah waktunya dinas purbakala dan pemerintah setempat untuk mulai melakukan pekerjaan restorasi terhadap candi ini, sehingga nantinya menjadi sebuah candi yang utuh, elegan, indah, dan lebih mengesankan saat dikunjungi.

Sudut bawah Candi Tegowangi Kediri dihias ukiran berupa relief berupa dedaunan dan sulur-suluran. Bangunan candi ini bentuknya bujur sangkar sempurna berukuran 11,2 m x 11,2 m, dengan tinggi 4,35 m, menghadap ke arah barat. Pondasi candi terbuat dari bata, dengan batur kaki dan bagian lainnya terbuat dari batu andesit.

Sebuah relief Raksasa, yang dikenal dengan sebutan Gana, terlihat duduk dengan lutut tertekuk, sementara kedua tangannya menyorong ke atas seperti menopang bangunan candi. Di setiap sisi Candi Tegowangi Kediri terdapat relief Gana ini dengan bentuk yang sedikit berbeda. Gana, atau Siwaduta, adalah makhluk kecil pengiring Siwa.

Di atas relief Gana terdapat tonjolan batu berukir yang melingkari kaki candi, dan di atasnya ada genta berhias relief. Candi Tegowangi Kediri sangat kaya dengan relief yang melingkari dindingnya. Seluruhnya ada 14 panel, dengan 3 panel di sisi Utara, 8 panel di sisi Barat dan 3 panel di sisi Selatan, yang berisi cerita Sudamala.

Relief Candi Tegowangi Kediri merupakan sebagian dari relief Kakawin Sudamala yang berisi cerita tentang ruwat (pensucian) Dewi Durga dari bentuk raseksi jelek dan jahat menjadi Dewi Uma dalam bentuknya yang cantik jelita dan baik. Ritual pensucian ini dilakukan oleh Sadewa, bungsu dari Pendawa, dengan bantuan Betara Guru. Relief dan cerita menarik tentang kakawin ini bisa dibaca di galeri foto di akhir tulisan, pastikan membacanya.

Pada bilik yang ada dalam tubuh Candi Tegowangi Kediri mestinya terdapat Yoni dengan cerat (pancuran) berbentuk naga, namun sayang saya tidak melihatnya saat itu. Di sisi tenggara kompleks ada reruntuhan batu candi, mungkin bekas candi perwara. Ada baiknya jika reruntuhan candi itu juga direstorasi dengan mendatangkan ahlinya ke tempat ini.

Dalam Negarakertagama, kitab yang ditulis oleh Mpu Prapanca, Bhre Matahun meninggal pada tahun 1310 Saka (1388 M), sehingga diperkirakan Candi Tegowangi Kediri dibuat pada tahun 1400 M, karena pendharmaan seseorang biasanya dilakukan 12 tahun setelah ia meninggal dunia, dengan melakukan upacara srada untuk menghormati arwah nenek moyang.

Candi Tegowangi Kediri

23 foto di sini. Alamat : Dusun Candirejo, Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kediri, Jawa Timur. Lokasi GPS : -7.73462, 112.16111, Waze. Rujukan : Hotel di Kediri, Tempat Wisata di Kediri, Peta Wisata Kediri.

Disarankan untuk Anda