Upside Down World Alam Sutera Tangerang Selatan

Tempat mejeng foto terbolak-balik bernama Upside Down World Alam Sutera di Tangerang Selatan kami kunjungi beberapa waktu lalu, untuk melampiaskan rasa penasaran saja lantaran sebelumnya sudah pernah mengunjungi Upside Down World yang ada di Kota Bandung. Rasa penasaran terkadang membunuh, setidaknya mampu menipiskan isi dompet dan membuang waktu yang berharga. Namun meletuptuntaskan rasa penasaran juga bisa menenangkan pikir, setelah terlampias. Begitulah tabiat manusia.

Ini kunjungan yang memang sangat diniatkan, lantaran jaraknya dari rumah tak kurang dari 42,3 km, dan hanya Upside Down World Alam Sutera di sekitar Serpong yang kami tuju waktu itu. Meski kunjungan kami lakukan setelah sebelumnya mampir untuk melihat Museum Macan di Jakarta Barat. Pun dari museum yang memikat anak muda itu kami masih menempuh jarak sekira 17,2 km untuk sampai ke tujuan, melewati Jl Tol Jakarta Merak, dan lalu mengambil jalan keluar 15 menuju ke arah Kunciran - Alam Sutera - Serpong.

Selanjutnya kami melaju di atas Jl Jalur Sutera, nama yang mengingatkan pada jalur perdagangan kuno yang menghubungkan dunia Timur dan Barat yang dilalui para pedagang, pengembara, pendeta, pasukan, yang menghubungkan Chang'an di Tiongkok dengan Antiokhia di Suriah. Kemudian ada jalur sutera rute utara melewati Bulgar-Kipchak ke Eropa Timur dan Semenanjung Crimea, lalu ke Laut Hitam, Laut Marmara, dan Semenanjung Balkan hingga ke Venezia. Rute selatan melewati Turkestan-Khorasan menuju Mesopotamia dan Anatolia, lanjut ke Antiokia menuju Laut Tengah atau melalui Levant ke Mesir dan Afrika Utara. Akan halnya rute Jalan Sutera yang kami lalui hanya sampai di Upside Down World saja.

upside down world alam sutera
Salah satu foto jungkir balik di Upside Down World Alam Sutera dengan tempat tidur anak menyerupai kapsul dan dinding yang dipenuhi dengan berbagai planet, bintang dan benda-benda langit lainnya, alien, astronout serta stasiun luar angkasa. Kamar anak-anak yang dirancang cukup baik sebagai latar foto "ngapung", layaknya sedang berada di tempat hampa udara di luar angkasa.

Berbeda dengan yang di Bandung yang lokasinya tak membuat saya kaget karena agak sedikit "berkelas", lokasi yang di Alam Sutera ini berada di dalam deretan ruko. Sempat ragu pula apakah masuk ke tempat yang benar saat sudah berada di area ruko oleh sebab Waze menyebut telah sampai di tempat namun bangunannya baru terlihat setelah belok ke kiri, dekat loket keluar parkiran. Kesan pertama saya, serambi ruko sudah perlu disegarkan agar tampak lebih cantik dan ramah.

Foto "ngapung" lainnya kami ambil di ruang keluarga yang ditata cukup apik, hanya saja pintu birunya agak tidak nyambung karena mengesankan seperti pintu gudang, bukan pintu rumah. Begitu pun secara umum, desain interior di Upside Down World Alam Sutera ini cukup baik, atau paling tidak sama dengan yang ada di Bandung, meski lebih sederhana. Kondisi furnitur dan pernak-pernik aksesori ruangannya juga bisa dibilang masih baik, layak foto.

Sebagaimana umumnya ruko, ruangan yang ditempati Upside Down World Alam Sutera itu tak begitu luas, meski ketiga lantainya sudah digunakan semua. Kesan saya, karenanya, pilihan tempat untuk berfoto sepertinya lebih sedikit ketimbang yang ada di Bandung, walau sama-sama mahal, Rp 100.000 dan untuk anak Rp 50.000. Angka yang sempat membuat saya berpikir, namun karena sudah jauh-jauh datang maka saya tarik juga uang Rp 250.000 dari dompet untuk membayar tiket dua dewasa dan satu anak.

Kami sempat mengambil foto di area yang sama namun dengan latar yang berbeda, yaitu ada meja bufet berisi berbagai pajangan cindera mata, dan sebuah pesawat televisi yang tengah menayangkan acara dari stasiun televisi lokal. Adanya jendela-jendela tinggi yang seolah menyajikan pemandangan pepohonan di luar sana menjadikan pemandangan di ruangan terkesan lega. Sebuah tipuan ilusi yang bagus.

Sebagaimana di Bandung, di Alam Sutera juga ada petugas pria dan wanita yang memandu pengunjung saat mengambil foto. Mereka bisa membantu memotretkan atau setidaknya memberi petunjuk dari arah mana foto sebaiknya diambil dan bagaimana baiknya posisi orang yang hendak difoto supaya sedap dipandang. Ini akan sangat membantu terutama bagi pengunjung yang datang sendirian atau berdua, atau yang ingin semua anggota rombongan terlihat di dalam foto.

Sudut ruang lainnya ada peralatan kebun, pppk dan aksesori lain yang terlihat sederhana namun rapih. Ruangan yang terbatas membuat pembuatnya harus berpikir keras bagaimana meletakkan barang-barang properti itu agar tak saling tumpang tindih saat difoto dari berbagai posisi. Praktis hanya dua lantai ruko yang menjadi andalan Upside Down World Alam Sutera, ditambah dengan ilusi tangga yang ada di lantai satu. Semuanya ada 13 spot foto.

Datang untuk kedua kalinya ke tempat seperti ini tentu kesannya berbeda dengan jika datang untuk pertama kalinya, meski di lokasi dan dengan properti yang berbeda. Getar sensasinya sudah jauh berkurang. Apalagi saat itu, mungkin karena hari sudah menjelang sore, kebetulan hanya kami bertiga yang ada di Upside Down World Alam Sutera, sehingga tak bisa melihat tingkah polah seru orang-orang yang tengah bergaya.

Meski lokasinya berada di dalam kompleks ruko, namun tempat dimana Upside Down World Alam Sutera ini berada sesungguhnya sangat strategis karena persis berada di seberang mal Living World Alam Sutera yang keren, serta dikelilingi banyak tempat berkelas lainnya. Oleh sebab itu, jika senang berfoto seru-seruan dan tak keberatan membayar tiket sedikit mahal, boleh dicoba datang ke tempat ini untuk mengisi akhir pekan nanti, sebelum atau sesudah ngemal di seberang jalan.

Upside Down World Alam Sutera

22 (dua puluh dua) foto lainnya di sini. Alamat : Ruko di Jl. Alam Sutera Boulevard, Pakulonan, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Banten. Lokasi GPS : -6.24211, 106.65276, Waze. Jam buka : 10.00 - 20.00. Harga tiket masuk : Rp 100.000, dan untuk anak Rp 50.000.