Rebranding Indonesia

Saat kita membaca, mendengar atau memikirkan Bali, ada kesan kilat di benak kita. Persepsi dibangun dari waktu ke waktu dari berita atau cerita tentang Bali dan pengalaman pribadi saat mengunjungi tempat-tempat di pulau ini, dan interaksi yang kita hadapi dengan orang-orang dan budayanya.

Ini seperti tabungan. Cerita bagus dan pengalaman menyenangkan yang berhubungan dengan Bali akan menambah tabungan di bank memori, dan menguatkan citra. Pengalaman buruk tentang pulau ini akan menarik simpanan di tabungan dan melemahkan citranya. Saldonya akan menentukan persepsi masyarakat terhadap Bali.

Contoh lainnya adalah kabar buruk yang baru-baru ini kita terima mengenai budaya kekerasan yang membawa kematian di IPDN. Berita tersebut telah menarik banyak tabungan di bank memori rakyat tentang IPDN, yang saldonya sudah negatif karena insiden kematian sebelumnya.
Namun, dipecatnya rektor dan pembentukan tim antar departemen yang akan mulai mereformasi IPDN dalam waktu dua bulan, telah menambah simpanan ke bank memori. Saldonya, bagaimanapun, masih negatif.

Kecelakaan mematikan yang berulang kali dengan maskapai penerbangan murah telah mengirim pesan negatif kepada penumpang mengenai keamanan layanan murah semacam itu. Hal ini juga menyebabkan pengalaman yang sangat menyakitkan bagi keluarga dan teman-teman yang terkena dampak insiden tersebut. Saldo tabungannya negatif. Citra merk itu buruk.

Berita terakhir bahwa penerbangan Garuda mendarat dengan ban meledak di Makassar, meski dengan aman, telah mengambil simpanan lebih banyak dari ingatan orang-orang terhadap Garuda setelah kecelakaan Yogya. Saldonya, bagaimanapun, masih positif bagi saya.

Dalam kasus Indonesia, namanya sering dikaitkan dengan korupsi, ketidakefisienan, ketidakpastian hukum, kesalahan pengelolaan sumber daya alam yang melimpah, hutang luar negeri yang besar, surga produk palsu, bentrokan etnik, kemiskinan, banjir, bencana, dll. Citranya tidak bagus.

Sebuah perusahaan dapat mengubah nama, simbol atau logo, dan sebagainya. Ketika eksekutif ingin membangun kembali citra perusahaan, seperti yang dilakukan Pertamina sekarang.

Mayoritas orang Indonesia, bagaimanapun, tidak akan pernah mau mengubah nama Indonesia, simbol, lagu kebangsaannya, atau benderanya. Oleh karena itu, Indonesia tidak dapat terlepas sepenuhnya dari citra saat ini, dan oleh karena itu dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk memperbaikinya. Selain itu, tidak mudah mengubah pola pikir dan kebiasaan orang.

Untuk memperbaiki citra Indonesia, pesan positif harus diterima secara konsisten oleh orang-orang di dalam dan di luar negeri, misalnya mengenai kemajuan tindakan pemerintah dan sektor swasta untuk mengatasi hal-hal tersebut di atas, seperti kerja KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan upaya anti korupsi lainnya, peraturan baru tentang investasi, resolusi Aceh dan konflik sektarian lainnya, pengurangan dari hutang luar negeri, penggerebekan ke mal dan tempat-tempat yang menjual produk palsu, perbaikan dalam manajemen bencana, dll.

Berita tentang perbaikan harus dibuktikan dengan pengalaman pribadi yang dimiliki oleh komunitas bisnis dan masyarakat umum saat menghadapi birokrat, petugas polisi, pengacara, hakim, dan lain-lain. Perbaikan persepsi akan jauh lebih baik bila orang dapat menggunakan kelima indera, mungkin juga indra keenam, untuk menilai kemajuan.

Terlepas dari tantangan besar yang masih kita hadapi, kita harus terus menghormati negara. Karena tidak ada yang akan menghormati negara kecuali warganya tahu bagaimana menghormati diri mereka sendiri dan negara tempat mereka tinggal. (Terbit 13 April 2007)
Label : . Updated : October 28, 2017.
Author : .
Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Pejalan musiman yang senang tempat bersejarah dan panorama elok. Follow, Youtube.
Share   Tweet   WhatsApp   Telegram   Email   Print!