Posisi Ketiga dalam Poligami

Oleh Bambang Aroengbinang. October 29, 2017
Rasa sakit di hati dan kemarahan banyak wanita serta para isteri mungkin akan bertahan sangat lama dan bahkan tak dapat disembuhkan ketika seorang pengkhotbah terkenal yang pengikut dan pengagumnya kebanyakan wanita dari berbagai agama, telah memutuskan untuk menikahi wanita kedua. Itu seperti gempa besar.

Wanita merasa dikhianati, beberapa pria juga, karena impian agar ia menjadi panutan bagi keluarga monogami yang bahagia telah hancur total, juga menimbulkan kekhawatiran bahwa suami dan pria pada umumnya akan mengikutinya. Debu bisa terbang dan lenyap tak terlihat mata, tapi rasa takut dalam hati dan derita rasa akan tetap ada.

Kejadian itu sudah lama berselang, namun perbincangan tentang Poligami tidak akan pernah menjadi masalah usang. Beberapa dari Anda mungkin akan atau telah menghadapi dan mengalaminya, atau mungkin telah mempengaruhi salah satu kerabat atau teman dekat.

poligami
Poligami memiliki sisi gelap dan terang. Namun, orang memiliki pendapat berbeda yang mana yang lebih dominan, dan itu biasa. Pendapat bodoh saya mengatakan bahwa gelap terangnya poligami sangat kontekstual, dan karenanya harus dilihat sebagai kasus per kasus. Sebuah generalisasi hanya akan melahirkan tirani opini mayoritas atau minoritas.

Apakah saya mendukung poligami atau menentangnya?

Jawabnya adalah menghormati keduanya. Itulah posisi ketiga dalam debat poligami. Saya menghormati mereka yang telah memutuskan untuk melakukan poligami, karena mereka memiliki hak untuk melakukannya. Saya percaya bahwa itu bukanlah keputusan mudah bagi semua yang terlibat dan bagi keluarga besarnya juga. Beberapa mungkin memiliki alasan yang benar, yang lain hanya membuat pembenaran. Namun, ini keputusan yang keras dan berani.

Demikian juga, saya hormati mereka yang tidak mau mempraktikkannya. Ini pilihan individu, kehidupan individu, bukan kelompok atau gerombolan. Poligami jelas bukan situasi yang benar-benar cerah atau sebaliknya. Di tempat dimana hanya ada cahaya dan tidak ada unsur kegelapan, orang akan benar-benar buta. Tidak ada yang bisa dilihat, karena semuanya putih. Kegelapan total membuat orang buta juga.

Kita bisa membuat daftar panjang sisi gelap pernikahan poligami. Ada banyak contoh menghebohkan juga. Namun, bisa pula dibuat daftar panjang lain dari sisi terangnya. Kedua daftar tersebut benar, namun keduanya sangat bergantung pada konteksnya. Bagi saya, tidak ada yang mutlak salah atau benar, bila dikaitkan dengan pendapat dan / atau interpretasi orang.

Manakah yang terbaik diantara yang buruk, apakah melakukan poligami, nikah siri, memiliki pil wil, pelakor pebinor, membayar tanpa ikatan ibarat membeli sate tanpa memelihara kambing, atau selamanya beronani dan bermasturbasi? Jawabnya ada pada diri masing-masing. Pilihan individu, lagipula jalan hidup sering tak terduga.

Nah, oleh sebab poligami adalah pilihan individu dan baik benarnya sangat kontekstual, bisakah kita membiarkan orang memilih jalan hidup mereka sendiri, dan menghormati keputusannya, apapun itu, atau sungguh tidak bisa kah? (Terbit pertama kali 12 Juni 2007)
Label : .
Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Pejalan musiman yang senang tempat bersejarah dan panorama elok.