Foto Galactica Dufan

Berpose di depan tengara nama Wahana Galactica Dufan, yang mengambil episode “A Battle for Mars”, pertempuran luar angkasa melawan para Alien untuk memperebutkan kekuasaan atas Planet Mars. Di sebelahnya berdiri tegak patung sesosok manusia berukuran tinggi besar, boleh jadi Alien, yang menggunakan kelengkapan pakaian ala serdadu luar angkasa.



Antrian di dermaga wahana luar angkasa Galactica Dufan Ancol. Antrian itu tinggal tersisa beberapa orang setelah sebagian besar orang naik ke wahana yang datang dari lorong di ujung sana melewati rel di sisi sebelah kanan foto.



Salah satu mahluk Alien (Mantide) di wahana Galactica Dufan dengan tempat duduk melingkar tanpa atap. Setiap orang memegang pistol laser untuk menembak sasaran dengan setting Mars di tahun 2020.



Lorong wahana Galactica Dufan Ancol Jakarta Utara saat kapsul bergerak sambil berputar 360 derajat beberapa kali. Di ruangan dengan cahaya temaran di dalam wahana bergerak lumayan susah mendapat foto yang baik.



Ruangan teater kecil di gedung Galactica Dufan Ancol dimana pengunjung disajikan tontonan tentang mahluk Alien, sebelum kami berjalan cepat menuju ke “dermaga wahana luar angkasa”.



Wahana kapsul luar angkasa itu, yang beberapa saat sebelumnya ditinggalkan oleh para “serdadunya”, dan siap untuk digunakan para serdadu baru yang sudah tak sabar berdiri dalam antrian yang lumayan panjang. Setiap wahana kapsul ini bisa muat 6 orang, namun kadang dibiarkan ada kursi yang kosong jika ada rombongan yang datang dengan jumlah ganjil.



Penampakan beberapa mahluk Alien di dalam permainan Galactica, A Battle for Mars. Entah mengapa orang hampir selalu menggambarkan mahluk Alien dengan bentuk yang aneh seperti ini, meskipun juga digambarkan bahwa mereka telah menguasai teknologi yang jauh lebih canggih dari manusia.



Instalasi futuristik pada dinding sepanjang lorong permainan Galactica Dufan Ancol, dengan lintasan trek yang berbelok ke kanan. Wahana yang kami tumpangi juga sering berputar 360 derajat yang membuat lebih sulit untuk menembak, baik untuk menembakkan pistol laser maupun untuk menembakkan shutter kamera.



Pemandangan lainnya pada trek Galactica, A Battle for Mars, yang selain memasang figur Alien di banyak titik sepanjang lorong juga menghiasi dinding dengan aneka jenis tumbuhan aneh yang ditimpa sinar lampu warna-warni, menghasilkan nuansa yang enak dilihat.



Mahluk Alien kecil lainnya yang terlihat patut dikasihani ketimbang harus ditembak untuk menambah skor. Mahluk maju boleh jadi mengalami evolusi ke arah ekstrem yang berlawanan. Yang pertama badannya semakin mengecil karena anggota badannya lebih jarang dipakai namun otaknya membesar karena sebagian besar kerja memakai organ ini. Yang kedua semakin besar badannya karena asupan nutrisi yang semakin hebat, dan otaknya pun berkembang semakin baik.



Pemandangan sesaat sebelum berakhirnya petualangan Galactic, A Battle for Mars, setelah menyusuri lorong sepanjang 225 meter. Ini adalah pertempuran yang tak pernah berujung, karena tak jelas siapa kah yang menang dan siapa yang kalah. Yang pasti, mahluk Alien itu tetap nongkrong di sana, sampai suatu saat nanti dibongkar manakala jumlah pengunjungnya menyusut untuk digantikan dengan wahana dengan dekor baru yang sedang ngehit.



Tengara nama Galactica, A Battle for Mars, dengan patung orang yang mengenakan dandanan serdadu di jaman perang bintang. Masa depan selalu memiliki daya tarik kuat, yang membuat imajinasi liar orang mampu menciptakan banyak hal yang dianggap sangat mustahil untuk dicapai hari ini. Namun banyak hal pula yang telah kita nikmati hari ini adalah merupakan hasil imajinasi masa lalu yang pada jamannya juga dianggap sangat muskil.



Pemandangan dari jarak yang ditarik lebih ke belakang lagi pada bangunan wahana Galactica, A Battle for Mars. Berbeda dengan di Bumi, suhu terendah di Mars bisa mencapai -95 derajat Cesius, sedangkan suhu tertinggi hanya sekitar 20 derajat Celcius di puncak musim panas. Mars juga mengalami 4 musim, sebagaimana di sebagian permukaan Bumi.



Berfoto dengan pandangan lebih dekat ke patung mahluk dengan pakaian luar angkasa itu. Melihat wajahnya, mahluk ini memang bukan sebangsa manusia karena ada mencuat paruh di wajahnya, menyerupai paruh burung Rajawali. Saat ini pesawat tanpa awak menempuh waktu 6 bulan untuk sampai ke Mars, dan orang berpikir untuk membuat pesawat antariksa bagi orang yang hendak ikut tur ke Mars dengan waktu tempuh 8 bulan, dengan kemungkin paling cepat 3 bulan ketika teknologi telah memungkinkannya. Berminat untuk ikut?



©2021 Ikuti

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.