Foto Kampung Daun

Tengara nama Kampung Daun Parongpong Bandung yang ditata dengan apik sebagai latar panggung. Bunga berwarna merah menjadi tampak serasi dengan latar nama cafe yang berwarna hijau tua. Sebuah bedug tampak diletakkan di sebelah kanan. Tempat ini tampaknya menjadi area penampilan kesenian tradisional Sunda, karena ada nama culture pada nama tempat ini.



Tak jauh dari sana ada sebuah saung yang disediakan bagi tamu untuk melakukan pemesanan tempat di Kampung Daun Parongpong Bandung, dengan papan pengumuman yang kosong. Hari masih sangat pagi, dan belum lagi menerima tamu. Ketika kami pulang, papan ini sudah ditempel dengan sebuah lembar promosi. Sambil menunggu mendapatkan meja, pengunjung bisa membayar artis untuk dilukis, dengan sketsa, gaya realis atau karikatur, hitam putih atau berwarna.



Di ujung sana, agak tertutup saung lainnya, ada sebuah panggung hiburan di bagian tengah kompleks Kampung Daun Culture Gallery & Café, yang sepertinya digunakan untuk tempat penampilan musik tradisional Sunda dalam jumlah penampil yang kecil.



Di ujung kawasan Kampung Daun terdapat air terjun kecil namun elok, dengan sebuah jembatan di atasnya yang menuju ke rumah makan. Sepertinya area ini merupakan tempat yang romantis untuk bersantap malam, di tengah hawa sejuk pegunungan, dan bunyi gemercik air yang jatuh ke batu padas.



Nuansa tradisional mulai terlihat di gerbang masuk Kampung Daun, dengan dua miniatur puncak Gedung Sate, dan ucapan selamat datang dalam bahasa Sunda.



Sebuah pohon rimbun dengan bunga merah memikat terlihat di dekat gerbang masuk Kampung Daun.



Melangkah masuk ke dalam gerbang, akan terlihat sebuah kereta dan deretan gubug tradisional, yang tampaknya dipergunakan sebagai tempat menunggu bagi para tamu. Suatu ketika nanti kereta semacam ini mungkin akan ditarik oleh sebuah motor, bukan lagi oleh seekor kuda.



Sambil menunggu mendapatkan meja, pengunjung bisa membayar artis untuk dilukis, dengan sketsa, gaya realis atau karikatur, hitam putih atau berwarna. Untuk sketsa memerlukan waktu 5-10 menit, sedangkan untuk lukisan realis berwarna bisa membutuhkan waktu 1-1,5 jam.



Tumbuhan paku-pakuan yang rimbun berada di dekat koleksi setrikaan tua yang dipajang di gantung pada sebuah tiang kayu di beranda rumah.



Ada banyak setrika tua lainnya yang diletakkan di sepanjang jendela kaca luar gedung gallery Kampung Daun. Sayang pintunya masih dipalang dan digembok, sehingga kami tidak bisa masuk ke dalam.



Lita, pemilik Villa La Lita Gunung Bunder, di dekat instalasi setrikaan itu. Di Kampung Daun ada banyak tempat menarik bagi penyuka foto selfie.



Masih dengan Lita di dekat setrikaan besi yang dulu harus dipanaskan dengan membakar arang yang diletakkan di dalam setrikanya. Ujung tutupnya dengan pengait di bawahnya biasanya berupa patung ayam jago.



Suasana di ruang terbuka di bagian tengah itu bernuansa tradisional, dengan gubug-gubug terbuat dari bambu beratap rumbia dimana ada pedagang gulali, dodol, dan kue-kue tradisional lainnya.



Masuk lebih ke dalam lagi, terdapat saung-saung di sebelah kiri dan kanan yang dikelilingi rimbun tanaman dan pepohonan, serta tebing tinggi. Kampung Daun memang berada di sebuah lembah yang diapit dua tebing batu alam. Di dalamnya juga mengalir sebuah sungai yang berasal dari Gunung Burangrang.



Air terjun kecil itu dilihat dari jarak yang agak jauh. Tirai airnya di sudut kanan atas sana terlihat sangat jernih.



Di ujung sana adalah sebuah saung dengan rombong di dalamnya. Entah jajanan tradisional apa yang ditawarkan di tempat itu, namun makanannya pastinya menarik jika sudah bisa berjualan di sana.



Mala dan Lita dengan latar air terjun buatan itu. Area ini jika digunakan sebagai tempat foto prewed juga akan terlihat elok dan romantis.



Masih dengan Mala dan Lita. Udara di tempat ini di pagi hari masih terasa sangat dingin, karena letaknya memang di sekitar perbukitan.



Mala di tempat duduk kayu jati antik dengan latar tumbuhan paku-pakuan di kaki lereng bukit yang cukup curam.



Tempat duduk kayu jati antik seperti ini bisa menjadi tempat yang nyaman untuk nongkrong dan menyantap jajanan setelah membelinya di saung-saung yang ada di sana.



©2021 Ikuti

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.