Kelenteng, Tradisi

Makna Hari Raya Makan Dingin

Hari Raya Makan Dingin berlangsung sebelum Ceng Beng, yakni dengan tidak menyalakan api selama sehari penuh. [Awal tulisan: Tradisi, Arti dan Makna Sembahyang Besar di Kelenteng]

Hal ini telah dimulai kira-kira satu abad sebelum lahirnya Nabi Khongcu, yakni pada masa pemerintahan Cien Bun Kong. Raja Bun dari negeri Cien yang sebelumnya menjadi raja muda sempat terlunta-lunta selama 19 tabun mengembara dari negeri yang satu ke negeri yang lain sebagai pelarian politik. Ayahnya, Chien Hian Kong, pada hari tuanya sangat dipengaruhi oleh seorang selirnya (Li Ki) yang kemudian berhasil menjadi permaisuri. Li Ki ini sangat berambisi untuk menjadikan putranya sebagai putra mahkota, sehingga ia memfitnah Sien Sing (putra mahkota yang sesungguhnya) yang dituduh hendak meracuni ayahnya (Cien Hian Kong).

Akibatnya Sien Sing bunuh diri dan ayahnya semakin percaya pada Li Ki dan mencurigai putra-putranya yang lain, maka beberapa putranya pun melarikan diri, salah satunya ialah Tiong Ji, yang pandai dan dicintai banyak menterinya, sehingga mereka ikut pergi menyertai Tiong Ji.

Berbulan-bulan mereka hanya makan dedaunan, sebab para menteri yang mengiringinya tidak ada yang pandai berburu. Keinginan Tiong Ji untuk makan daging membuat salah seorang menterinya yang mengiringinya yaitu Kai Cu Chiu mengorbankan daging pahanya untuk disajikan kepada Tiong Ji. Hong Ji baru menyadari bahwa daging yang dinikmatinya itu adalah paha menterinya, ketika melihat Kai Cu Chui berjalan timpang.

Lebih kurang setelah 19 tahun terlunta-lunta mengembara ke negeri Cee, Siong, Cho dan Chien, akhirnya ia berhasil kembali ke negeri sendiri dan menjadi raja muda bergelar Cien Bun Kong, atas bantuan Chien Bok Kong (Raja Muda negeri Chien).

Setelah menjadi raja muda, para menteri yang menyertai pelariannya dan telah berjasa, dianugerahi kedudukan tinggi, hanya Kai Cu Chui yang terlupakan karena tidak muncul ke istana mengemukakan jasa-jasanya.

Kai Cu Chui yang terlupakan ini menjadi amat kecewa dan oleh dorongan ibunya, ia hidup menyepi ke hutan lebat pegunungan Bian San. Salah seorang kawan Khi Cu Chui yang bemama Hai Tiang tidak rela melihat ketidakadilan perlakuan raja itu dan kemudian menuliskan sebuah sajak yang ditempelkan pada pintu istana.

Sajak itu berbunyi:
Adalah seekor naga, dari barat lari ke timur
berapa banyak ular membantunya, berbuat pahala,
naga terbang naik ke langit, ular-ular mendapatkan guanya,
ada seekor, terlunta jatuh di gunung.

Membaca sajak itu Cien Bun Kong sadar menyesali diri, sehingga ia memerintahkan utusan untuk mencari dan mengundang Kai Cu Chui, tetapi utusan itu dengan tangan hampa kembali, hutan Bian San sangat lebat, sukar dijelajahi.

Salah seorang menteri Cien Bun Kong mengambil jalan mudahnya saja, mengusulkan agar membakar hutan, dengan harapan agar Kai Cu Chui yang sangat beibakti itu akan keluar menyelamatkan ibunya yang sangat dihormati dan dicintainya itu, maka usul itu pun segera dilaksanakan. Hutan dibakar sampai habis, tetapi tidak menjumpai Kai Cu Chui.

Setelah api padam dan dilanjutkan usaha mencarinya, akhimya ditemukan jenazah Kai Cu Chui bersama ibunya di sebuah gua di bawah sebatang pohon Yang Liu dalam keadaan telah hangus dalam posisi memeluk, melindungi jenazah ibunya.

Setelah mendapatkan laporan tentang peristiwa itu, raja muda merasa sangat menyesal, tetapi semuanya sudah terlanjur.

Tahun berikutnya pada saat menjelang Hari Ceng Beng, Cien Bun Kong berpantang makan daging dan memberi amanat kepada rakyat agar pada hari itu tidak menyalakan api, segala makanan dimakan dingin-dingin, demikianlah berlangsung setiap tahun.

Di bukit Bian San dibangun sebuah kuil untuk memperingati dan menghormati Kai Cu Chui.

Demikianlah munculnya upacara Han Siet Ciat menjelang Hari Suci Ceng Beng, yakni untuk memperingati seorang yang berjiwa suci, satya dan berbakti kepada orang tuanya.

Riwayat ini menunjukkan kepada kita bahwa upacara ziarah ke makam pada Hari Ceng Beng itu sudah mempunyai sejarah yang tua dan mengundang umat untuk berbakti. [bersambung ke Hari Raya Twan Yang Ciat]

, seorang pejalan musiman dan penyuka sejarah yang sedang tinggal di Cikarang Utara. Traktir BA secangkir kopi. Secangkir saja ya! April 04, 2022.

Tulis Komentar

Ketik dulu, lalu klik "Masuk ..." atau "Posting".