Sepur Kluthuk Jaladara Solo

September 30, 2020. Jawa Tengah, Kereta Api, Solo, Travel. Bagikan: Facebook, Twitter, WhatsApp
aroengBinang.com - Secara tidak sengaja kami sempat melihat lewatnya Sepur Kluthuk Jaladara yang meluncur di tepian Jalan Slamet Riyadi, jalan utama yang berada di Kota Solo atau Surakarta, Jawa Tengah. Saat itu saya sedang hendak memotret Monumen Slamet Riyadi, dengan menepikan kendaraan dan lalu turun untuk mendapatkan sudut pandang yang baik.

Nah ketika sedang memotret monumen itulah Sepur Kluthuk Jaladara meluncur pada arah berlawanan di sisi kanan jalan searah yang sangat lebar itu. Warna lokomotifnya hitam legam, dengan gril dan beberapa bagiannya berwarna merah, asap uap putih yang mengepul dari cerobongnya, tumpukan balok kayu di punggung loko, serta dua gerbong kuno yang diseret di belakangnya menjadi pemandangan yang menarik perhatian.

Ini sempat membawa kenangan masa kecil ketika masih tinggal di Purwokerto. Saat itu Stasiun Timur Purwokerto masih hidup, melayani perjalanan kereta api dengan lokomotif yang digerakkan oleh mesin uap yang menarik gerbong kayu dan tempat duduk dari kayu pula. Sepur kluthuk pada jaman itu berjalan di tepian Jalan Jenderal Sudirman, lewat Sokaraja, menuju ke Banjarnegara. Namun kini relnya sudah tertutup aspal jalan, dan tak ada lagi kereta yang hilir mudik dari Purwokerto ke Banjarnegara, bahkan hingga ke Wonosobo.

Sepur Kluthuk Jaladara Solo

Sepur Kluthuk Jaladara yang sedang melintas di Jalan Slamet Riyadi itu. Pengoperasian kereta wisata antik ini merupakan hasil kerjasama antara PT Kereta Api Indonesia dengan Pemerintah Kota Surakarta. Peresmiannya dilakukan pada tanggal 27 september 2009 oleh Menteri Perhubungan Jusman Syafi’i Djamal, didampingi Gubernur Jawa Tengah dan Walikota Solo Joko Widodo. Seremoni peresmian dilakukan di Loji Gandrung yang menjadi Rumah Dinas Walikota Solo.

Pada jaman dahulu, bukan hanya cerobong lokomotif yang mengeluarkan asap tebal ke langit, namun selalu saja ada asap tebal menghembus susul menyusul dari mulut para penumpang, baik pria maupun wanita, sebagai hasil hisap hembus rokok-rokok klobot atau rokok klembak menyan yang ukurannya tak kalah dari jempol orang dewasa. Tak ada yang mengeluh, karena hal seperti itu sudah menjadi pemandangan yang biasa.

Ketika orde baru berkuasa, dan bermacam produk perusahaan otomotif Jepang dari berbagai merk mulai menyerbu pasar, angkutan kereta api mulai memasuki masa-masa suramnya, hinggak akhirnya sejumlah jalur layanan kereta api terpaksa harus ditutup, dan rel-relnya ditimbun aspal atau dibongkar menjadi besi tua dan lahannya dikuasai oleh warga.

Sepur Kluthuk Jaladara Solo

Lokomotif uap yang digunakan oleh kereta wisata Sepur Kluthuk Jaladara ini adalah dari seri C1218, dibuat di pabrik lokomotif Hartmann Chemnitz Jerman pada tahun 1896 dan pertama kali dioperasikan oleh perusahaan KA milik pemerintah Hindia Belanda Staatspoorwegen (SS) pada tahun itu juga. Lokomotif ini pernah disimpan di Museum Transportasi di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Lokomotif C1218 memiliki tiga roda penggerak dengan dua silinder berbeda ukuran dan terletak terpisah di bagian bawah kanan dan kiri tangki air cadangan. Silinder yang kecil berfungsi untuk memproses uap tekanan tinggi yang kemudian dialirkan ke silinder besar yang lalu memprosesnya menjadi uap bertekanan rendah yang menjadi tenaga penggerak dan asapnya dibuang melalui cerobong

Agar menghasilkan cukup tenaga untuk menggerakkan lokomotif seberat 33,6 ton dan panjang 8575 mm ini dibutuhkan 4 m3 air dan 5 m3 kayu untuk menempuh jarak sejauh 5km dari Stasiun Purwosari di sebelah barat hingga ke Stasiun Sangkrah di sebelah timur. Sedangkan dua buah gerbong kuno yang dipakai oleh Sepur Kluthuk Jaladara itu terbuat dari kayu jati asli buatan tahun 1920 dengan kode CR16 dan CR144, yang masing-masing berkapasitas 40 dan 36 penumpang.

Adalah Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), sebuah perusahaan swasta di jaman kolonial yang membangun jalan kereta di tengah kota Solo yang panjangnya 5,6 kilomater ini. Konon inilah satu-satunya rel kereta api di tengah kota yang masih tersisa di seluruh wilayah Indonesia. Di jaman penjajahan, rel ini juga dipakai untuk lintasa kereta kencana raja Solo dan trem pengangkut tuan dan noni Belanda yang ditarik kuda.

Sepur Kluthuk Jaladara Solo

Pada awal bulan Februari 2020 lalu, Sepur Kluthuk Jaladara telah kedatangan lokomotif uap seri D1410 keluaran tahun 1921 buatan Hanomag Hannover, Linden, Jerman, sedangkan sasisnya buatan Werkspoor Belanda dengan panjang 12,65 m, lebar 3 m, tinggi maksimum 3,78 m, yang direstorasi oleh PT KAI di Balai Yasa Yogyakarta.

Loko yang baru datang itu mempunyai kekuatan 268 daya kuda, memakai sistem uap lokomotif kering (superheated) yang terkenal di jalur pegunungan dan sistem pengereman vakum, serta kecepatannya bisa mencapai 70km/jam (loko C1218 hanya mampu 50km/jam), sehingga trek wisatanya bisa diperpanjang hingga Sukoharjo atau Wonogiri. Pada saat pertama kali digunakan di Solo, loko ini menarik gerbong Joko Kendhil, berbeda dengan gerbong kayu jati yang biasa ditarik oleh Sepur Kluthuk Jaladara.

Loko uap D1410 ini sebenarnya telah didatangkan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun tahun 2016, namun karena komponennya susah didapatkan sehingga sempat mangkrak selama beberapa bulan, sebelum akhirnya bisa mulai direstorasi di Balai Yasa dari tanggal 18 April hingga 5 November 2019 dengan biaya Rp2 miliar.

Loko seri D1410 rupanya juga punya riwayat yang bersejarah, oleh sebab pernah digunakan untuk menarik gerbong kereta yang ditumpangi Presiden Soekarno, saat masih beroperasi dengan rute Jakarta - Bandung melewati Bogor, Sukabumi, dan Cianjur. Menurut catatan, Loko D1410 dioperasikan sejak tahun 1920-an hingga pensiun pada tahun 1977.

Nama Jaladara sendiri diambil dari nama kereta kuda Batara Kresna dalam kisah Mahabharata. Sebelum perang Mahabharata terjadi, Sri Batara Kresna menjadi duta para Pandawa untuk melakukan perundingan dengan Duryudana di Astina. Kresna mengendarai Kereta Jaladara yang ditarik oleh empat ekor kuda yang masing-masing berwarna merah, putih, hitam dan kuning, simbol kendaraan Dewa Wisnu. Saisnya adalah Setiyaki, putra Prabu Setyajid (Ugrasena, raja negara Lesanpura) dengan Dewi Sini (Wresini, putri Prabu Sanaprabawa). Kakak kandung Setiyaki, Dewi Setyaboma, adalah istri Kresna.

Untuk melayani para pelancong yang datang ke Kota Solo, sepur Kluthuk Jaladara bisa disewa borongan dengan melakukan pemesanan terlebih dahulu ke Dinas Perhubungan Kota Solo, dan dapat berhenti di mana saja sesuai permintaan penyewa. Biaya sewa normal adalah Rp3,75 juta. Ada pula pilihan paket paket wisata batik, kuliner, pernikahan, dan VIP.

Untuk umum, kereta wisata ini hanya beroperasi pada Sabtu, Minggu, dan Hari Libur Nasional, dengan jumlah penumpang minimal 60 orang. Perjalanan bisa batal jika jumlah penumpang tidak mencukupi, kecuali ada yang bersedia menutup kekurangan biaya akibat tidak tercapainya kuota jumlah penumpang. Harga tiket bagi pelancong adalah Rp200.000,00 per orang, dimana penumpang mendapat sajian minuman jamu gendong, jajan pasar, dan diiringi suara musik tradisional. Warga Kota Solo dan eks-Karesidenan Solo sepertinya bisa naik Kereta Uap Jaladara dengan harga tiket yang lebih murah.

Kereta uap Jaladara bisa berhenti di Diamond Convention Center, Solo Grand Mall, Loji Gandrung, House of Danar Hadi, Museum Radya Pustaka, Sriwedari, Ngarsopura, Kampung Seniman Kemlayan, Kampung Batik Kauman, Gladag Langen Bogan, Stasiun Solo Kota, atau menyesuaikan dengan kondisi.


Sepur Kluthuk Jaladara

Kota Solo, Jawa Tengah. Reservasi kereta: (0271) 7096111, dishub@surakarta.go.id, 08112654322. Hotel di Solo, Tempat Wisata di Solo, Peta Wisata Solo.
, Pejalan musiman. Bagikan: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print! Follow aroengBinang! aroengBinang.com adalah blog tulisan foto perjalanan dan catatan seputar wisata Indonesia, peta wisata, hotel, seni budaya, opini, percik pikir, hiburan, serta tips blogger. Kunjungi sitemap untuk mesin pencarian dan isi blog selengkapnya. Balik ke atas ↑