Foto Sepur Kluthuk Jaladara

Mesin tua jaman dahulu, seperti lokomotif uap ini, umumnya memang tahan jauh lebih lama alias awet dibanding dengan mesin sejenis yang dibuat di jaman sekarang, apalagi jika perawatannya dilakukan dengan baik. Kayu-kayu bakar tampak menumpuk di atas punggung lokomotifnya. Jika memakai batubara maka asap yang keluar dari cerobong menjadi lebih legam.

Sepur Kluthuk Jaladara

Sebagaimana patung Slamet Riyadi, sepur kluthuk itu pasti menarik perhatian orang ketika pertama kali melihatnya karena sudah langka. Namun setelah dua tiga kali berpapasan maka pemandangannya akan menjadi biasa dan tidak lagi menjadi perhatian. Sama halnya Monumen Slamet Riyadi yang tak dilirik orang lagi setelah lewat di sampingnya beberapa kali.

Sepur Kluthuk Jaladara

Gerbong sepur dari kayu jati yang konon kabarnya masih asli itu, dengan seorang petugas tampak berdiri di tangga gerbong, mungkin untuk berjaga agar tak ada orang yang nekat naik di tengah jalan. Hal yang bisa saja terjadi, oleh karena kecepatan laju lokomotif yang relatif rendah karena meluncur di tengah kota yang ramai kendaraan.

Sepur Kluthuk Jaladara

Masinis kereta tampak tengah menarik tuas untuk membunyikan peluit untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang melintas di depan lokomotif ini. Tumpukan kayu bakar tampak di punggung loko, sebagai persediaan. Selain masinis, ada seorang lagi berada di ruang loko yang bertugas untuk memastikan bahwa api pembakar tungku terus menyala.

Sepur Kluthuk Jaladara

©2021 Ikuti

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.