Dongeng Anak : Dori dan sebuah Potret

August 19, 2020. Label:
Dongeng Anak tentang Dori dan sebuah Potret ini merupakan hasil terjemahan bebas dari cerita pendek dalam buku The Sandman's Hour, Stories for Bedtime, yang dikarang oleh Abbie Phillips Walker, dengan ilustrasi oleh Rhoda. C. Chase. Buku ini dimuat di laman Gutenberg Project.

Project Gutenberg adalah sebuah upaya mulia untuk mendigitalkan dan mengarsipkan karya budaya, dan mendorong pembuatan serta distribusi eBook. Perpustakaan ini didirikan pada tahun 1971 oleh penulis Amerika Michael S. Hart dan merupakan perpustakaan digital tertua di dunia. Sebagian besar item dalam koleksinya adalah teks lengkap dari buku-buku di domain publik.

Dori dan sebuah Potret

Dori sangat menyayangi nenek dan kakeknya, dan ia selalu merasa senang ketika berkunjung ke rumah mereka. Hanya saja di tempat kakek dan neneknya tidak ada gadis kecil yang bisa diajaknya untuk bermain, sehingga kadang ia merasa kesepian.

Dongeng Anak Dori dan sebuah Potret

Oleh karena itu Dori biasanya berkeliaran di sekitar rumah untuk mencari hal-hal aneh yang selalu dimiliki nenek di rumahnya. Salah satunya adalah jam ruangan rumah neneknya, yang sangat menarik perhatian Dori.

Jam itu berdiri di atas lantai di puncak tangga, dan Dori sering duduk untuk mendengarkan bunyi tik-toknya yang aneh dan memperhatikan tangan-tangan jam itu yang bergerak dengan lompatan-lompatan kecil yang gugup.

Kemudian di wajah jam itu ada bintang-bintang, bulan dan matahari, dan semuanya terlihat sangat indah bagi Dori.

Pada suatu hari Dori berjalan ke ruang tamu rumah neneknya yang besar, di mana ada foto kakek dan neneknya, dan juga foto kakek buyut dan nenek buyutnya.

Dori berpikir bahwa para leluhurnya yang "hebat" itu tampak sangat tenang, dan ia merasa yakin bahwa mereka pastilah sudah sangat tua untuk menjadi orang tua dari kakeknya.

Tapi lukisan yang paling menarik perhatiannya adalah lukisan besar dari tiga anak, yaitu seorang gadis kecil seusianya, satu lagi lebih tua, dan seorang lagi anak laki-laki, yang mengenakan celana panjang aneh yang dipotong di bawah lutut. Jasnya dari beludru hitam, dan dia memakai stoking putih serta sepatu hitam.

Gadis-gadis kecil itu berpakaian putih. Gaun mereka berlengan pendek dan berleher rendah. Gadis yang lebih tua berambut hitam, tapi gadis kecil yang menurut Dori seusianya punya rambut ikal panjang keemasan seperti miliknya, dan hanya gadis dalam gambar itu yang rambutnya dibelah, dan ikalnya menggantung di seputar wajahnya.

Dori naik ke kursi besar dan duduk memandangi mereka. "Aku berharap mereka bisa bermain denganku," pikirnya, dan dia tersenyum ke gadis kecil berambut emas yang ada dalam potret itu.

Tanpa diduga, dan amat indah untuk diceritakan, gadis dalam gambar itu tersenyum manis kepada Dorothy.

"Oh! Apakah kau masih hidup?" tanya Dori keheranan.

"Tentu saja," jawab gadis kecil itu sambil tersenyum. "Aku akan turun, jika kau menginginkanku untuk mengunjungimu."

"Oh tentu, aku akan sangat senang!" Dori menjawab dengan gembira.

Kemudian si anak laki-laki melangkah ke tepi bingkai potret. Dari sana ia meloncat ke atas kursi besar yang ada di bawah potret, dan lalu berdiri di atas dudukan kursi.

Anak laki-laki itu mengulurkan tangannya ke gadis-gadis kecil itu dan membantu mereka turun ke lantai dengan cara yang sangat sopan. Dori bangkit dari kursinya dan meminta mereka untuk duduk, dan anak lelaki itu menggeser kursi-kursi agar mereka duduk di samping Dorothy.

"Siapa namamu?" tanya gadis berambut emas, karena hanya dialah yang berbicara.

"Itu namaku," kata si gadis berambut emas, ketika Dori memberitahu namanya sendiri. "Aku tinggal di rumah ini," lanjutnya, "dan kami dulu pernah punya masa-masa yang sangat menyenangkan. Ini saudara perempuan dan saudara laki-laki aku."

Anak perempuan dan laki-laki kecil itu tersenyum, tetapi mereka membiarkan saudara perempuannya yang berbicara. "Kami dulu memanggang chestnut (kastanya, sejenis kacang) di perapian," katanya, "Suatu ketika kami mengadakan pesta di ruangan ini, dan bermain semua jenis permainan."

Dori tidak bisa membayangkan bagaimana ruangan yang sepi ini saat dipenuhi oleh anak-anak.

"Apa kau ingat bagaimana kita telah membuat takut Paman Zack tua yang malang itu di ruangan ini?" katanya kepada kakak dan adiknya, lalu mereka semua tertawa.

"Ceritakan padaku tentang itu," kata Dori tertarik.

"Pintu kaca dekat perapian ini tidak punya tirai di zaman kami," kata gadis kecil itu, "dan ada kerang serta benda-benda lain dari laut di sebuah lemari. Di lemari lainnya ada pedang dan helm serta sepasang sarung tangan.

Kakakku membungkus tubuhnya dengan selimut dan lalu memakai helm serta sarung tangan, memegang pedang di tangannya, lalu naik atas ke lemari dan duduk di sana.

Kami para gadis menutup pintu dan bersembunyi di balik sofa. Tak lama kemudian Paman Zack datang untuk menambah kayu di perapian, dan saudara laki-lakiku itu memanggil namanya dengan suara keras.

Karena kaget, Paman Zack yang malang menjatuhkan kayu yang dibawanya dan jatuh berlutut. Badannya gemetar karena ketakutan. Pintu tidak dikunci dan saudara laki-lakiku mendorongnya terbuka, lalu menodongkan pedangnya ke Paman Zack yang malang.

'Jangan menyakiti seorang negro tua yang sangat miskin,' kata paman Zack dengan suara yang sangat lemah.' Aku tidak melakukan kesalahan apa-apa, aku tidak melakukan apa-apa'.

'Ya, tapi kau telah menceritakan tentang selai yang dimakan oleh anak-anak,' kata saudara laki-lakiku dengan suara yang dalam, 'dan aku tahu kau telah meminum tetes terakhir rum Mammy Sue yang ia pakai untuk mengobati rematiknya, dan untuk kesalahanmu itu kau harus dihukum,' dan saudara laki-lakiku memukulkan pedangnya ke permukaan lemari dengan suara keras.

Paman Zack yang malang jatuh tertelungkup ketakutan. Itu pemandangan yang sungguh sangat menggelikan bagiku dan kakakku, dan kami pun tertawa, yang membuat Paman Zack sadar bahwa ia telah dikelabui.

Kau tidak akan pernah melihat ada orang yang bisa bergerak secepat Paman Zack. Dia melompat berdiri dan kami pun lari keluar pintu, tapi saudara laki-lakiku harus mengakhiri penyamarannya karena Paman Zack berhasil menangkapnya. Akhirnya Paman Zack setuju untuk tidak memberi tahu ayah tentang kenakalan kami jika kami tidak menceritakan apa yang telah dilakukannya. Kami setuju, sehingga kami lolos dari hukuman ayah dan paman Zack juga tidak mendapat teguran."

"Ceritakan lebih banyak tentang hidup kalian di rumah tua ini," kata Dori semakin tertarik setelah gadis kecil itu menyelesaikan ceritanya. Tapi saat itu potret nenek buyut Dori bergerak dan lalu keluar dari bingkainya.

Ia berjalan dengan cara sangat anggun menuju ke tempat anak-anak itu dan meletakkan tangannya di bahu gadis kecil yang tadi bercerita, dan ia berkata: "Lebih baik kau kembali ke dalam pigura sekarang."

"Ya ampun!" kata gadis kecil itu. "Aku sangat tidak suka menjadi orang dewasa, dan aku telah melupakan semua masa-masa itu, apalagi ketika aku yang sudah dewasa mengingatkan diriku sendiri. Itulah masalahnya ketika kau berada di ruangan bersama dengan foto dirimu yang sudah dewasa," katanya pada Dori. "Soalnya, aku harus begitu tenang dan sabar setelah menikah sehingga aku bahkan tidak pernah berani untuk memikirkan masa kecilku, tapi jika kau datang ke sini lagi suatu hari nanti maka aku akan bercerita lebih banyak lagi tentang saat-saat indah yang kami alami."

Anak laki-laki itu kemudian naik ke atas kursi lebih dulu dan membantu saudara-saudara perempuannya untuk kembali ke dalam bingkai potret. Dori mencari nenek buyutnya, tapi dia juga sudah kembali ke dalam bingkai potretnya, dan terlihat tenang seperti biasanya.

Keesokan harinya Dori bertanya kepada neneknya siapa anak-anak yang di dalam potret besar itu.

"Yang ini," katanya, menunjuk ke gadis kecil berambut emas, "adalah nenek buyutmu; kau diberi nama seperti namanya; dan anak perempuan dan laki-laki lainnya itu adalah bibi dan paman kakekmu. Mereka adalah bibi buyut dan paman buyutmu."

Dori tidak begitu mengerti arti kata "buyut", tetapi dia senang setelah mengetahui bahwa nenek buyutnya yang tampak sangat anggun itu pernah menjadi gadis kecil seperti dia, dan suatu hari, ketika foto nenek buyutnya tidak melihatnya, Dori berharap untuk mendengar lebih banyak tentang kesenangan yang dialami oleh anak-anak itu di hari-hari mereka di masa yang lalu.