Hiburan, Tonight Show, VDHE

Nobar VDHE dan Tonight Show is Back, Pilih Mana?

Tanggal 1 Juni 2020 kemarin adalah tayangan perdana Tonight Show di Net TV setelah istirahat sebulan penuh selama bulan puasa. Ada ekspektasi bahwa TNS akan tampil lebih menggigit, apalagi tayang di prime time yang harus bersaing ketat dengan program di tv lain.

Ekspektasi itu wajar, oleh karena alasan utama pengistirahatan TNS adalah rendahnya jumlah penonton di layar TV. Oleh karena itu mestinya team kreatif TNS sudah bekerja habis-habisan selama bulan puasa untuk merancang program yang lebih segar, padat, berisi, sekaligus menghibur.

Sayangnya, rancangan tayangan perdana Tonight Show ternyata jauh dari ekspektasi, yang bagian terbesarnya merupakan tanggung jawab manajemen dan produsernya. Sebabnya saya kira mepetnya kerja tim kreatif karena keputusan manajemen yang lambat, dan/atau masih hijaunya tim kreatif yang direkrut.

Nobar VDHE dan Tonight Show is Back, Pilih Mana?

Tak bisa diremehkan pentingnya kesan penonton terhadap tayang perdana Tonight Show is Back, baik bagi fanatik TNS mania yang telah 'disakiti' selama sebulan penuh (walau agak terhibur dengan Vincent & Desta Show with Hesti Enzy), maupun penonton 'tengahan' yang tak begitu fanatik namun juga tak negatif terhadap TNS, asal bagus acaranya.

Pemilihan bintang tamu Rina Nose merupakan blunder pertama, kalau tak bisa dibilang fatal, apalagi menghabiskan waktu dengan menyanyikan dua buah lagu sebagai impersonator HKE dan YS. RN terlalu mainstream dan sudah sangat sering muncul di acara TV lain. Siapa pun yang punya ide ini, baiknya dikeluarkan dari tim atau dibatasi perannya, sebelum melakukan blunder lain yang lebih fatal.

Blunder kedua adalah terlalu dini menambah host pendukung, apa pun alasan yang dipakai untuk menjustifikasi keberadaannya. Ketika memutuskan hal ini, tampaknya manajemen dan produser tak menenggang perasaan TNS mania yang mestinya ingin 'kangenan' dulu dengan keempat host, tanpa ada orang kelima yang 'mengganggu'.

Blunder ketiga adalah menampilkan segmen sketsa, apalagi sampai dua babak dengan tema berbeda, namun masih mengeksploitasi sekitaran Desta-Enzy. Sketsa jarang menjadi kekuatan TNS, kecuali saat ada bintang tamu yang asik dan klop mainnya bersama mereka. TNS baiknya keluar dari sketsa model OVJ, agar tak ada kesan latah meniru dan buang durasi.

Durasi satu jam memang terasa kurang, namun bisa dipahami karena relatif pendek persiapannya agar tidak kedodoran, selain menjadi semacam tes uci coba bagi TNS. Jika mampu menarik penonton akan lanjut dan tambah durasi, atau dihapus jika gagal. Namun resep berhasil adalah menggunakan tim kreatif yang kuat dan matang, bukan yang masih hijau.

Adakah yang bagus dari tayangan perdana TNS is Back? Dipertahankannya grup band pendukung adalah hal yang baik. Hanya saja tim kreatif perlu melibatkan mereka lebih intens dalam acara, apalagi ketika belum ada penonton studio. Soal penonton, baiknya ada lagi dengan jumlah separuh kapasitas untuk mendukung jarak fisik.


Sebelum tayangan TNS is Back, saya sempat menonton streaming Nobar Vincent Desta Show with Hesti Enzy (VDHE) live dari rumah Desta, yang sebelum ditutup jumlah penontonnya menembus angka 50 ribu. Jumlah yang lumayan, meski kurang dari separuh rekor penonton mereka. Walau tak ada rancangan acara apa-apa, namun tontonan asal-asalan ini justru malah lebih menghibur ketimbang TNS is Back.

Hemat saya acara nobar sejam sebelum acara TNS ini baiknya terus dilanjutkan setiap hari, jika memang pada jam itu mereka tidak shooting TNS. Jika ada acara lain, baiknya waktu ini diblokir oleh keempat host untuk acara nobar. Ini bisa jadi kompensasi durasi TNS yang satu jam, sekaligus mengisi konten kanal VDHE.

Buat Vincent, Desta, Hesti, Enzy, aset terbesar kalian adalah kompaknya kebersamaan dan talenta. Jangan pernah berpikir untuk maju atau mundur sendirian. Wajar jika stasiun tv 'memakai' kalian selagi dinilai menguntungkan secara bisnis. Wajar pula jika kalian pun mempersiapkan rumah yang bagus jika sewaktu-waktu diusir dari layar orang.

Saran saya, kalian memakai three pronged strategy, strategi trisula. Sula pertama adalah mati2an membuat konten terbaik di TNS, dan 'fight' untuk mendapatkan tim kreatif kelas satu, bukan kelas festival yang belum cukup merasakan asam garam dunia kang-ouw. Tim kreatif akan jadi kunci sukses atau kuburan kalian.

Sula kedua, perkuat tim kreatif dan tim produksi kanal VDHE, karena inilah rumah yang sesungguhnya. Kalian bisa diusir atau pindah layar tv, namun VDHE adalah rumah tempat kalian kembali, dan rumah itu haruslah bagus. Sula ketiga adalah bisnis pendukung, entah cafe n merchandise atau bisnis lainnya.

Lihat Video

Monmaaf, hanya sekadar ide, karena kalianlah yang mestinya lebih tahu soal beginian. Selamat berjuang, lohu hanya bisa mengamati kiprah kalian dari jauh.


Bagikan ke:
Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.

, seorang pejalan musiman dan penyuka sejarah. Penduduk Jakarta yang sedang tinggal di Cikarang Utara. Traktir BA secangkir kopi. Secangkir saja ya! Juni 02, 2020.