Dewa Gitar Finger Style Itu Bernama Alip Ba Ta

Sudah agak lama saya mengikuti channel Alip Ba Ta lantaran melihat sebuah retweet di Twitter yang menyebut namanya dan kemudian membuka channel-nya serta menonton beberapa finger style guitar cover yang diunggah olehnya. Agak lama mengikuti, karena memang baru mengikuti Alip Ba Ta ketika subscribernya sudah sekitar 500-600 ribuan.

Retweet itu seingat saya adalah dari twit musisi Addie MS yang begitu terkesan dengan permainan gitar Alip Ba Ta, selain karena penampilan sosoknya yang sederhana. Sejak saat itu saya cukup rutin menonton setiap video yang diunggah di channel Alip Ba Ta ini.

Sebagian besar video yang ia buat adalah finger style guitar cover dari lagu populer, baik yang pernah dibawakan grup musik terkenal dari luar maupun lokal. Sesekali ia mengunggah versi guitar style yang tak melulu petikan jari, sesekali bernyanyi, beberapa tutorial dan tips. Ada pula karya original yang ia bawakan.

alip ba ta finger style guitar

Keistimewaan dewa finger style guitar yang nama aslinya Alif Gustakhiyat ini adalah permainannya yang nyaris 100% mulus, dengan cara yang kadang tak terpikir oleh pemain gitar kawakan sekalipun. Aransemen ia buat sendiri, sekali take video dengan kamera ponsel statis, pilihan nada yang membuat gitarnya seperti punya ruh dan bernyanyi, serta ia bermain di ruang sederhana dengan rokok yang kadang menyala, asbak dari kaleng bekas, dan segelas kopi hitam.

Salah satu yang tak mudah ditiru adalah ia gunakan jari kelingking tangan kanan untuk mengetuk badan gitar sebagai perkusi dan menjaga tempo, selagi jari lainnya terus bermain, seperti di Bohemian Rhapsody. Ini adalah salah satu finger style guitar covernya yang fenomenal dan dipuji gitaris aslinya, Brian May. Kelingkingnya nyaris sepenuhnya independen dari gerakan ketiga jari lain dan jempolnya, seolah punya engsel terpisah.


Sependek ingatan, Arijit Singh - Tum Hi Ho (fingerstyle cover) Alip Ba Ta di atas adalah video pertama yang saya tonton pada bulan September 2019, sekitaran tanggal dimana saya membaca cuitan tentang kehebatan permainan gitar pria kelahiran Ponorogo ini.

Siapa pun yang mendengar Alip Ba Ta memainkan lagu ini pasti terkesan dan, seperti saya, bakal berkali-kali memutarnya sambil membaca komentar yang tak bakal tuntas dibaca. Kali itulah saya mengenal teknik false harmonics, dimana telunjuk menempel pada senar tanpa menekan dan jempol memetiknya, keduanya tangan kanan, menghasilkan getar dawai yang sedap ditelinga.

Di cover lagu ini Alif juga menggunakan teknik sliding bolak balik yang cepat, tapping pada senar kecil maupun senar bas dengan telunjuk kanan, dan slapping setengah mati pada senar bas dengan jempol yang menghasilkan suara perkusi yang sedap didengar. Selain lagunya memang indah, nama teknik dan cara Alip Ba Ta membawakan lagu Tum Hi Ho ini menjadikannya seperti suara yang datang dari jantung Surga. Sangat indah.

Kekhasan lainnya adalah cara Alip Ba Ta menekan senar di luar atas fret gitar, seperti di cover Lingsir Wengi, yang menghasilkan suara bending meliuk yang khas. Kecepatan berpindahnya jari di telapak tangan kirinya untuk menekan senar di lokasi di atas fret itu dan kemudian kembali bermain di atas fret berlangsung sangat mulus dan sempurna. Sayang, cover yang mengundang decak kagum itu sudah tak bisa dilihat lagi di Channel Alip Ba Ta.

Setidaknya 12 finger style guitar cover dari Alip Ba Ta dengan jutaan views yang dihapus karena klaim hak cipta, yaitu Bengawan Solo, Black Or White, Canon Rock, Dear God, Hotel California, Ibu, Kiss The Rain, Kidung Wahyu Kolosebo, Lingsir Wengi, Semua Tentang Kita, Still Got The Blues, dan WInd of Change. Viewers Dear God bahkan telah di atas 8 jutaan.

Ini tentu bukan hanya merupakan pukulan bagi Alif, meski ia sendiri sepertinya berusaha untuk tidak begitu mempermasalahkannya, namun penggemarnya tentu merasakan kehilangan besar dengan lenyapnya karya-karya masterpiece Alip Ba Ta dari channel-nya.

Penggemar Alip Ba Ta ada yang berkelompok dan menamakan diri mereka sebagai Alipers Indonesia. Bisa dibilang para Alipers ini sangat fanatik dan agresif dalam mendukung dan mempromosikan channel Ali Ba Ta dengan diantaranya meminta para Youtuber, terutama dari luar, untuk melakukan reaction. Permainan gitar Alif, didukung Alipers, membuat subscriber channel-nya terus menanjak yang hingga saat tulisan ini dibuat sudah melebihi 1,8 juta orang.

Tak hanya mendukung dengan tak pernah skip iklan ketika menonton videonya dan aktif mempromosikan channel Ali Ba Ta, para Alipers juga ikut membantu Alif ketika ada yang melakukan klaim terhadap hak cipta lagu-lagunya secara tidak sah, serta membantu meluruskan salah persepsi tentang sejumlah hal tentang Alip Ba Ta.

Channel video reaction lagu-lagu Alip Ba Ta yang telah dihapuslah yang kini sepertinya menuai berkah limpahan viewers dengan hilangnya video aslinya. Namun, keberhasilan mendunianya permainan finger style guitar Alip Ba Ta juga tak lepas dari peran para video reactor itu, meski tak banyak yang benar-benar memahami teknik bermain gitar dan sanggup memberi pencerahan kepada penontonnya.

Kenyataan bahwa Alif belajar bermain gitar secara otodidak, pekerjaannya sebagai operator fork lift, dengan gitar dan peralatan rekam biasa, dan keengganannya untuk tampil menjadi selebriti di TV, membuat Alip Ba Ta memiliki tempat istimewa diantara para dewa gitar finger style dunia. Ia adalah representasi dari sosok yang menuai keberhasilan dalam mengolah bakat dengan ketekunan berlatih keras secara kreatif, dan tetap sederhana.

Menuju kemanakah perjalanan karya musik Alif Gustakhiyat dengan channel Alip Ba Ta-nya? Hanya dia seorang yang tahu. Pengalaman tak menyenangkan karena di-take down-nya video finger style cover-nya, tentu membuat ruang gerak Alif dalam berkreasi menjadi terbatas dalam membuat cover lagu. Jika ini berlanjut, dunia bisa kehilangan peluang untuk menonton karya aransemen finger style-nya yang hebat, yang mestinya bisa lahir dari tangannya.

Meski Alif punya kemampuan mengaransemen yang baik dan mampu membuat karya musik sendiri, namun tentu tak mudah untuk menciptakan komposisi original setiap minggu untuk diterbitkan di channel-nya. Apakah Alif akan tetap lurus bermain gitar sebagai hobi, atau akan serius menekuninya untuk menapak jalur pro juga ia sendiri yang memutuskan. Yang pasti, dunia sudah terbuka lebar untuknya jika ia hendak masuk menjadi pemain pro.

Saya sendiri berharap Alif mendapatkan beasiswa untuk mendalami teknik dan nyawa permainan gitarnya di sebuah sekolah musik bergengsi di luar negeri, selama setahun atau dua tahun. Entah di Australia, Eropa, atau Amerika, sehingga bakatnya benar-benar bisa diasah sampai potensi maksimalnya mekar sempurna.

Pemerintah dan negara Indonesia sebenarnya sudah berhutang pada Alif, yang tanpa dibayar sepeser pun telah berhasil ikut mengharumkan nama Indonesia di banyak negara di dunia, lewat permainan finger style guitar fenomenalnya yang banyak direaksi oleh Youtuber asing.

Memberi beasiswa kepada Alif untuk mengasah bakatnya di sekolah musik terbaik di dunia adalah salah satu cara untuk membalas budi itu. Biaya yang ia terima tentunya termasuk tunjangan untuk menghidupi keluarganya, baik apakah keluarganya ikut dengannya atau tetap tinggal di Indonesia.

Lihat Video

Namun pada akhirnya semuanya kembali ke tujuan hidup Alif sendiri, dan jalan gitar seperti apa yang ia hendak tempuh untuk menemaninya mencapai tujuannya itu. Apa pun itu, kita berharap yang terbaik untuknya dan terbaik untuk perkembangan finger style guitar dunia.