Dongeng Angin dan Matahari

December 20, 2019. Label:
aroengbinang.com - Pada suatu hari Angin Gurun Sahara yang sangat panas dan Angin Kutub Selatan yang sangat dingin bertemu di sebuah dataran yang sangat luas. Tempat tinggal mereka sangat berjauhan sehingga amat jarang bertemu, bahkan bisa dikatakan hampir tidak pernah.

Mereka juga jarang membaca dan jarang pergi ke tempat jauh, yang membuat pengetahuan mereka menjadi sangat sempit. Tak heran jika masing-masing merasa dirinya yang paling kuat dan paling perkasa di muka bumi.

Kutub adalah poros Bumi yang sangat jarang terkena sinar Matahari, dan bahkan ada bagian kutub yang tidak pernah terkena sinar Matahari sama sekali. Karena itu kutub terselimuti es dan hawanya sangat dingin.

Kutub Selatan merupakan kutub yang suhunya jauh lebih dingin dibanding Kutub Utara dengan selisih sekitar 15 derajat Celcius. Karena itulah Angin Kutub Selatan berani menyombongkan diri.

Sedangkan Gurun adalah daerah padang pasir yang sangat panas, oleh karena sangat sedikit turun hujan. Gurun Sahara merupkan gurun panas terbesar di dunia yang ada di benua Afrika. Karena itulah Angin Gurun Sahara menjadi sombong dan merasa dirinya paling hebat. Meskipun, gurun terpanas di dunia sesungguhnya adalah Gurun Lut di Iran, yang suhunya bisa mencapai 70 derajat Celcius.

Matahari yang baru saja bangun dari tidurnya dan mulai merangkak naik ke langit diam-diam menyaksikan pertengkaran antara Angin Gurun Sahara dan Angin Kutub Selatan.

"Aku yang paling kuat!" geram Angin Gurun Sahara, "angin panasku sanggup menerbangkan ribuan pasir hingga membuat langit menjadi gelap".

"Aku lebih kuat!" sergah Angin Kutub Selatan, "angin yang kutiup bisa membawa ribuan butiran salju yang akan membuat orang membeku kedinginan"

Karena terus saja bertengkar dan tidak ada yang mau mengalah, akhirnya Matahari berkata, "Bagaimana kalau kita melakukan perlombaan saja. Siapa yang bisa membuka pakaian orang dengan kekuatannya maka dialah yang paling hebat di muka Bumi."

Karena sudah lelah bertengkar, Angin Gurun Sahara dan Angin Kutub Selatan setuju dengan usul Matahari.

Mereka bertiga melakukan hong ping pah. Angin Gurun Sahara menang dan mendapat giliran pertama. Setelah suit, Angin Kutub Selatan menang sehingga Matahari mendapat giliran yang terakhir.

Kebetulan saat itu ada seorang pria yang sedang berjalan kaki sendirian di tempat itu. Angin Gurun Sahara pun mengumpulkan tenaga dan menghembuskan angin panas sekuatnya ke arah orang itu dengan membawa debu pasir.

Melihat ada badai pasir datang, orang itu pun segera menjatuhkan diri dan menutup seluruh badannya dengan pakain dan memegangnya erat-erat agar tidak terbang terbawa oleh angin.

"Kamu gagal!", teriak Angin Kutub Selatan. "Lihat, sekarang giliranku...", ujarnya dengan sombong.

Angin Kutub Selatan pun menghembuskan angin sangat dingin bercampur butiran salju sekuat-kuatnya ke pria itu.

Melihat ada badai salju datang, pria itu segera menutup seluruh badannya dengan mantel bulu yang tebal, sambil menjatuhkan diri ke arah datangnya angin.

"Kalian berdua telah gagal", kata Matahari. "Giliranku sekarang", lanjutnya.

Ketika angin berhenti bertiup, Matahari memancarkan sinarnya yang sangat panas ke Bumi. Seluruh badan dan kepala pria itu pun mengucurkan keringat yang deras saking kering dan panasnya udara. Oleh karena tak tahan, akhirnya ia membuka bajunya dan mencebur ke dalam air untuk mendinginkan badannya.

Angin Kutub Selatan dan Angin Gurun Sahara akhirnya mengakui kehebatan Matahari. Sejak saat itu mereka tidak berani lagi menyombongkan diri, oleh karena mereka sadar bahwa di atas gunung masih ada gunung yang lebih tinggi lagi, dan di atas langit masih ada langit yang lebih tinggi lagi.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengbinang ! Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.