Suku Kajang Ammatoa Sulawesi Selatan

Suku Kajang Ammatoa Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan, tepatnya sekitar 200 kilometer atau waktu tempuh kurang lebih 6 jam dari Kota Makasar. Kabarnya mirip Suku Baduy yang berada di Jawa Barat yang juga terbagi dua yaitu Suku Kajang Luar yang disebut Tau Lembang mereka hidup relatif moderen dan menerima peradaban, dan Suku Kajang Dalam yang hidup di kampung adat disebut Tau Kajang.

Info yang saya peroleh Suku Kajang Dalam menutup diri dari perkembangan zaman, tidak ada listrik dan lebih natural. Setelah beberapa hari berwisata dari pantai ke pantai, akhirnya mendapatkan juga destinasi wisata yang berbeda dan keberadaaan Suku Kajang kami peroleh dari penjelasan beberapa orang saat kami berada di Tanjung Bira.

Mengunjungi Suku Kajang Ammatoa harus pamit terlebih dahulu kepada kepala Desa Ammatoa yang berada di Suku Kajang Luar, rumah kepala desa berbentuk rumah pangggung sekitar 10 meter dari jalan utama. Rumah adat yang sederhana sangat kontradiktif dengan dua mobil sedan yang cukup mewah bersandar di halamannya, entah milik siapa karena sayapun tidak bertanya. Sesampai di pintu rumah panggung kepala desa kami dipersilahkan duduk, sang kepala desapun menjumpai kami dia seorang ibu berumur sekitar 60 tahunan dengan gelang emas yang mentereng sambutannya kurang begitu berkenan di hati kami.

Untuk masuk ke kampung Suku Kajang Dalam Ammatoa dilarang mengenakan pakaian berwarna, yang diperbolehkan masuk hanya yang mengenakan pakaian hitam. Beberapa diantara kami yang mengenakan pakaian berwarna, terpaksa harus menyewa kaos hitam dengan gambar aneka macam seharga 35 ribu rupanya mereka tidak menyediakan pakaian hitam yang layak untuk disewakan.

Tidak hanya itu saja, masuk ke daerah kawasan kampung adat Suku Kajang Dalam di Ammatoa tidak diperkenankan memakai alas kaki baik itu sandal, kaos kaki maupun sepatu hal ini dikarenakan alas kaki adalah bagian dari tehnologi. Diantar oleh seseorang yang ditunjuk oleh Ibu Kepala Desa sebagai pemandu dan sekitar 10 menit dengan mempergunakan mobil, kami tiba di depan gapura Kampung Suku Kajang Dalam segera bergegas khawatir hujan akan turun lagi. Di sebelah gapura ada warung sederhana yang menjual minuman dan makanan dan ada pula semacam bale-bale di mana wisatawan dapat duduk di sekitarnya.


Inilah gambaran rumah yang berderat di Suku Kajang Ammatoa, cukup resik dengan atap dari daun kelapa. Rata-rata rumah di Suku Kajang Dalam di Ammatoa menempatkan posisi dapur dan tempat buang air berada di depan tidak seperti rumah pada umumnya. Hal ini dikarenakan pada zaman perang dahulu prajurit Kajang sering masuk ke dalam rumah penduduk untuk mencari makan, agar mudah mereka menempatkan dapurnya di muka dan para prajurit itu menganggap rumah penduduk seperti layaknya rumah sendiri.

Rumah dalam foto ini adalah bagian yang berdeketan satu sama lain, karena beberapa rumah berdiri sendiri dengan jarak beberapa meter barulah ada rumah lagi. Selaim itu di beberapa rumah terpasang pagar batu alam dengan cara menyusun batu-batu. Kayu pada rumah Suku Kajang Ammatoa terlihat sudah usang dan tua, beberapa diantaranya masih terawat dengan baik, dengan jendela kecil sehingga ventilasi tidak sempurna.

suku kajanh ammatoa sulawesi selatan
Jalanan bebatuan sepanjang kurang lebih 1 kilometer dari gapura masuk hingga menemukan rumah penduduk, terlintas terlihat mudah dan baik-baik saja. Namun bagi orang yang tidak biasa berjalan kaki di atas bebatuan tanpa alas kaki cukup sakit juga apalagi saya telapak kakinya terasa sakit saat kaki menapak di atas batu jalanan Suku Kajang Ammatoa. Ditambah saat kami datang hujan baru saja usai, memilih jalan yang mudah ditapaki karena becek. Anggap saja terapi refleksi gratis dengan beberapa bebatuan yang tajam.

Kami beriringan menyusuri jalanan bebatuan dengan pakaian hitam, anehnya kami menemukan jemuran pakaian berwarna bertengger di sisi rumah. Saat kami datang ada rombongan mahasiswa dari Makasar yang sedang berkunjung ke rumah kepala Suku Kajang Dalam, sehingga kami tidak sempat mampir karena rumah pemuka adat tersebut penuh tamu. Karena hari mendung setelah mengelilingi kampung Suku Kajang Dalam di Ammatoa kamipun segera kembali, ternyata benar saja gerimis turun dan jalananpun lebih becek dari sebelumnya.

suku kajang ammatoa sulawesi selatan
Salah satu rumah di kampung Suku Kajang Dalam yang saya perhatikan, rumah ini terpisah dari rumah lain yang berdampingan. Atapnya tumbuh tanaman liar dan kayunya terlihat lebih usang dari rumah sebelumnya. Masyarakat adat yang tinggal di kawasan Kajang dalam masih berpegang teguh kepada adat Ammatoa dan kehidupan mereka sangat sederhana dengan menolak segala sesuatu yang berbau teknologi. Segala hal yang berbau tehnologi akan merusak keseimbangan alam dan lingkungan tetapi mereka sangat terbuka terhadap tamu pendatang yang ingin mengetahui kehidupan mereka.

Rumah adat Suku Kajang sama halnya seperti rumah adat yang tersebar Sulawesi Selatan berbentuk rumah panggung, tidak jauh berbeda bentuknya dengan rumah adat suku Bugis Makassar. Namun menurut pemandu yang mengantarkan kami perbedaannya yaitu rata-rata rumah di Suku Kajang menghadap ke arah barat tenggelamnya matahari yang dipercayai masyarakat adat setempat memberikan berkah bagi penghuninya.

suku kajang ammatoa sulawesi selatan
Di perjalanan batas dusun di kampung Suku Kajang Dalam Ammatoa, terdapat jembatan pendek dari bambu sejenak beristirahat dari bebatuan dan pakaian hitam yang kami kenakan basah oleh gerimis. Warna hitam dikaitkan dengan kesakralan, hitam mempunyai makna bagi masyarakat adat Ammatoa sebagai simbol kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari dalam kesederhanaan. Selain itu hitam menggambarkan keteguhan hati dan kekuatan, setiap orang mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Sang Pencipta. Begitulah filosofi warna hitam yang diyakini oleh masyarakat adat Suku Kajang Ammatoa.

Melestarikan lingkungan terutama hutan dijaga keasliannnya, sebagai sumber kehidupan juga sumber mata air disekitarnya. Hukum adat lainnya yang dijaga oleh masyarakat adat setempat adalah mengenai perkawinan, masyarakat adat Kajang mengharuskan menikah dengan sesama orang dalam kawasan adat, jika mereka menikah dengan orang di luar kawasan adatnya, maka harus keluar dari kampung adat Suku Kajang. Hal serupa ini juga berlaku di sebagian masyarakat adat lainnya di Indonesia.

Karena saya aktif di seni budaya, tentunya ingin mengetahui seni tradisional yang berada di Suku Kajang. Memanfaatkan kebaikan alam sekitar alat musik di Suku Kajang berupa alat musik tiup seperti suling yang terbuat dari bambu, namanya adalah Basing yang biasanya ditampilkan setelah upacara pemakaman warga suku Kajang di Sulawesi Selatan. Sedangkan tariannya bernama Pabitte Passapu sebuah tarian yang mengadu ikat kepala. Sayang sekali saya tidak melihat seni tradisi Kajang ditampilkan, sehingga hanya mengira-ngira dari penjelasan pemandu wisata. Begitulah Suku Kajang Ammatoa Sulawesi Selatan yang memperkaya budaya bumi pertiwi, siapa tahu setelah membaca tulisan ini anda berminat untuk mengunjungnya dan jangan lupa untuk membawa pakaian hitam ya. Salam budaya!.

Suku Kajang Ammatoa

Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Disarankan untuk Anda